
Selama hamil Susan rajin kontrol dan selalu makan makanan yang bergizi karna dia sadar makanan yang dia makan bukan hanya untuk dirinya melainkan untuk anak kembarnya.
Berat badannya semakin naik dan perutnya lebih besar dari wanita hamil normal, ya pasti lebih besar karna dia hamil anak kembar.
Bulan ini adalah bulan perkiraan persalinan menurut hitungan dokter.
Rey semakin menjadi suami yang siaga, bahkan dia rela membatalkan semua acara kerja luar kota. Rey tidak ingin meninggalkan istrinya, Rey hanya ke kantor bila ada yang perlu dia tandatangani saja bahkan terkadang karyawannya yang datang ke rumahnya hanya sekedar menyerahkan dokumen penting.
Semua orang memaklumi sikap Rey terlebih keluarga dan Aldo. Aldo pun memberikan cuti pada Susan jauh sebelum masa cuti yang sebenarnya agar dia dapat beristirahat dan mempersiapkan persalinan.
Aldo sendiri sering mengunjunginya bersama Ana istrinya. Ana selalu memberikan dukungan sebagai seorang wanita yang pernah melahirkan.
"Apa kamu tetap mau melahirkan normal San?" tanya Ana.
"Iya Mbak."
"Kalau menurutku lebih baik SC saja karna bayimu kembar."
"Dokter juga menyarankan SC mbak, tapi aku pingin normal."
"Terlalu beresiko untuk lahir normal, sebaiknya lakukan apa kata dokter."
"Iya Mbak. Rey juga maunya aku operasi SC saja. Rey terlalu khawatir Mbak."
"Wajar saja dia khawatir, Rey pernah mengalami hal yang buruk saat istrinya melahirkan. Jangan buat dia lebih takut lagi."
"Iya."
"Kapan perkiraan persalinan mu San?"
"Minggu depan Mbak."
"Aku yakin kamu kuat, mas Aldo juga sangat khawatir padamu tapi dia berusaha tenang."
"Iya Mbak, aku tau."
Aldo memang sangat khawatir pada kehamilan Susan melebihi kekhawatirannya saat Ana hamil. Pada saat istrinya hamil Aldo selalu siaga dan selalu memberi yang terbaik bagi Ana, istrinya juga selalu sehat dan rajin senam hamil berbeda dengan Susan, dia hamil anak kembar dan jarang melakukan senam hamil karna Susan wanita karir.
Malam ini seperti biasa, Rey selalu menemani istrinya untuk bercengkerama di balkon kamar.
"Sayang, kira - kira nanti anak kita namanya siapa ya? ucap Rey sambil memainkan jemari lentik Susan.
Meskipun berat badan istrinya naik tapi jemarinya masih terlihat lentik.
"Rey, kita khan belum tau anak kita cowok atau cewek."
"Lagian kamu sih larang Nelsa ngasih tau jenis kelamin anak kita."
"Aku hanya ingin jenis kelaminnya jadi kejutan waktu aku ngelahirin nanti Rey," ucap Susan mengelus perut besarnya.
"Aku percaya padamu sayang, apa pun jenis kelaminnya nanti yang penting mereka sehat dan kamu juga sehat."
"Pasti sayang."
"Sayang, kamu jangan tinggalin aku ya? Aku ga mau kehilangan wanita yang aku sayangi untuk kedua kalinya."
Susan memegang pipi Rey dengan kedua tangannya.
"Rey, aku janji tidak akan meninggalkan kamu, aku janji tidak akan meninggalkan siapapun, kamu, Elina, Aldo dan Mbak Ana. Aku akan tetap bersama kalian jadi jangan terlalu khawatir ya! Aku tau kalian sangat khawatir padaku terlebih kamu dan Aldo. Aldo memang terlihat tenang saat di depanku tapi aku tau dia juga mengkhawatirkan aku, bahkan dia tidak pernah memberiku pekerjaan yang berat."
Rey mencium kening istrinya dengan sangat lembut dan lama, tak terasa air matanya menetes.
"I Love You sayang."
"I Love You too, Rey."
__ADS_1
"Sudah malam sebaiknya kita tidur," ucap Rey.
"Gendong....." ucap Susan manja sambil mengangkat tangannya layaknya anak kecil minta gendong.
"Sayang, bukannya aku ga mau gendong tapi badanmu sekarang berat mana kuat aku gendong kamu."
Susan bukannya marah malah tertawa, dia sadar memang berat badannya meningkat drastis dan Rey pasti tidak kuat menggendongnya.
Rey menuntun istrinya untuk berbaring di tempat tidur, dengan sangat hati - hati Susan membaringkan diri.
Pagi hari saat Susan bangun, dia merasa basah di seluruh bajunya bagian bawah bahkan di tempat tidurnya.
Susan membangunkan Rey.
"Rey, bangun," Susan menggoyang tubuh suaminya agar bangun.
"Kenapa sayang?" Rey mengucek matanya.
"Rey, kenapa basah ya?"
Rey mengecek apa yang di katakan istrinya.
"Apa perutmu sakit sayang?" Rey mulai panik.
"Tidak."
"Apa kamu ngompol?"
"Tidak Rey."
"Terus ini air apa?"
"Aku juga tidak tau Rey."
Rey yang tidak pernah mengalami dan tidak tau itu air apa memanggil Bibik.
"Nyonya, apa perut Nyonya sakit?" tanyanya cemas.
"Tidak Bik, perutku tidak sakit."
"Bik, air apa itu?" tanya Rey semakin cemas.
"Maaf Tuan, sepertinya ini air ketuban Tuan. Nyonya harus segera dibawa ke Rumah Sakit Tuan."
"Apa Bibik yakin?"
"Yakin Tuan."
Tanpa menunggu lama Rey membawa istrinya ke Rumah Sakit.
"Bibik tolong siapkan semua perlengkapannya ya! Nanti suruh antar supir saja! Aku harus segera bawa Nyonya ke Rumah Sakit."
"Baik Tuan."
Sepanjang perjalanan Rey sangat cemas.
"Pak, bisa lebih cepat ga bawa mobilnya?!"
"Rey, jangan cepat - cepat! Aku tidak apa - apa, perutku juga tidak sakit kok."
"Tapi sayang air ketubanmu sudah keluar mungkin itu akan berbahaya."
"Tidak Rey."
Belum lama Susan mengatakan bahwa perutnya tidak sakit, tapi tiba - tiba dia merasakan mules yang kuat dan luar biasa.
__ADS_1
Tangan Susan mencengkeram lengan suaminya dengan sangat kuat menahan sakit.
"Auw!!! Rey sakit...!!!!" teriaknya.
Rey semakin panik.
"Pak, buruan!!"
"Baik Tuan."
"Sayang tahan ya, sebentar lagi kita sampai ya."
"Sakit Rey...." ucap Susan sambil menangis.
"Aku tau sayang."
"Sakit....."
"Sabar ya sayang."
Setibanya di Rumah Sakit Rey langsung mencari pertolongan dan petugas medis langsung memberikan pertolongan pada Susan.
Untungnya saat itu dokter Nelsa sedang jaga, jadi Susan langsung mendapat penanganan dengan cepat.
Rey menghubungi Aldo dan orang tuanya.
"Rey," panggil Nelsa.
"Bagaimana keadaan Susan?"
"Sepertinya Susan harus segera dilakukan operasi Rey, dia tidak akan bisa melahirkan normal karna air ketubannya sudah habis, aku takut bayinya akan mengalami distres."
"Bagaimana dengan Susan?" Rey sangat cemas dan takut, tubuhnya bergetar.
"Rey, kami akan berusaha sebaik mungkin untuk istri dan anakmu," Nelsa menepuk pundak Rey, dia tau apa yang dirasakan Rey saat ini.
"Tolong selamatkan mereka! selamatkan istriku! Aku tidak mau kehilangan mereka."
"Aku tau Rey, Aku akan berusaha, kamu bantu doa ya."
Rey hanya bisa mengangguk lemas.
Rey berjalan mendekati Susan yang masih menangis menahan sakit.
"Rey, sakit...." suara Susan menyayat hati Rey.
"Sayang, kamu harus kuat ya! jangan menyerah!"
Rey mencium kening istrinya dan menggenggam erat tangan istrinya.
"Rey, kamu tidak boleh nangis! Kamu tidak boleh menyerah juga! Jangan khawatir ya! Aku pasti bisa, aku pasti kuat."
Disaat kesakitan pun Susan masih mampu memberi semangat pada suaminya.
Susan merasakan betapa khawatir dan takutnya Rey akan keadaannya.
"Jangan tinggalin aku sayang."
"Aku tidak akan kemana - mana Rey."
"Rey, sekarang waktunya Susan untuk menjalani operasi," ucap Nelsa.
"Tolong selamatkan istriku Dokter!"
"Rey, aku baik - baik saja kok. Kamu masih ingat janjiku khan?"
__ADS_1
"Aku percaya kamu pasti kuat sayang, aku akan menunggumu di sini."
Rey mencium kening istrinya sebelum perawat membawanya masuk ke dalam kamar operasi.