
Aldo melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, matanya sesekali melirik ke arah spion.
"Aldo, bisakah lebih cepat lagi?!" ucap Rey panik.
"Tidak bisa, ini sudah cepet"
Rey memeluk erat tubuh Susan di dalam pangkuannya, tubuh itu pucat dan darah masih mengalir dari kepalanya.
"Susan, aku mohon bertahanlah. Jangan pernah tinggalkan aku," ucap Rey dalam tangisnya.
Aldo menghentikan mobilnya tepat di depan pintu masuk UGD, petugas dengan cepat dan terampil menerima pasien.
Susan segera mendapat penanganan dari tenaga medis.
"Rey, berhentilah mondar - mandir seperti itu! aku pusing melihatmu"
"Aku kawatir, apakah Susan akan selamat?."
"Dia pasti selamat, percayalah"
"Dasar wanita sialan!!. Harusnya aku membunuhmu dari awal," ucap Rey geram.
"Pelankan suaramu Rey!! apa kamu mau jadi pusat perhatian seisi rumah sakit ini?"
Rey mengedarkan matanya, benar saja orang - orang yang ada di situ memperhatikan dia.
Dino berlari kecil mendekati mereka.
"Bagaimana keadaan Susan?," tanya Dino napasnya masih belum stabil.
"Masih ditangani oleh dokter," jawab Aldo.
"Apakah parah?"
"Kepalanya terbentur tembok sangat kuat," jelas Rey.
"Bagaimana keadaan nona itu?," tanya Aldo.
"Dia sudah sadar dan sudah ku antar pulang."
"Baguslah"
Susan sudah dipindahkan ke ruang perawatan tapi dia belum sadarkan diri.
Aldo dan Rey mendekatkan diri pada tubuh gadis itu.
"San, bangunlah! bukannya kamu pernah bilang padaku tidak akan pernah meninggalkan aku dan Ana. Apa kamu melupakan janji itu? Bangunlah!"
Aldo menggenggam tangan Susan dan mencium punggung tangan yang halus itu.
Rey memperhatikan Aldo, ada rasa iri dalam hatinya.
Betapa beruntungnya Aldo, dia mempunyai dua wanita yang sangat dia sayangi.
Dia beruntung bisa sangat dekat denganmu Susan.
"Aldo, sebaiknya kamu pulang kasihan Ana kawatir padamu," ucap Dino menepuk pundak Aldo.
"Bagaimana kamu tau?"
__ADS_1
"Tadi Ana menghubungiku, dia kawatir karna kamu pergi dengan buru - buru dan cemas."
"Lebih baik kamu pulang saja!. Aku yang akan menjaga Susan di sini," ucap Rey.
"Baiklah. Rey, aku titip Susan kalau dia sudah sadar tolong kabari aku"
"Pasti. Aku akan memberitahumu"
Aldo menyentuh wajah Susan dengan lembut lalu mencium dahinya.
"Aku pulang dulu, kamu jangan lama - lama tidurnya. Aku memyayangimu."
Sebenarnya Aldo enggan meninggalkan Susan tapi dia juga tidak bisa membiarkan Ana menunggunya di rumah dengan kawatir.
Aldo membuka pintu, dilihatnya Ana sedang duduk di sofa menunggunya.
"Mas....kamu sudah pulang?" ucap Ana menghampiri Aldo.
"Iya sayang. Maaf ya sudah membuatmu kawatir begini," ucap Aldo mengecup kening istrinya.
"Apa yang terjadi Mas? kenapa tubuhmu kucel begini dan bau amis?"
"Nanti akan ku ceritakan. Sekarang bolehkah aku mandi dulu?"
"Tapi Mas...."
"Sayang...apa kamu mau aku peluk dengan tubuh yang bau ini? Bagaimana nanti kalau si kecil ini menendangku?," ucap Aldo sambil mengelus perut besar Ana.
Ana tersenyum dan membiarkan suaminya mandi.
Seperti janjinya, setelah selesai mandi Aldo menceritakan semua yang terjadi pada istrinya.
"Bagaimana keadaan Susan sekarang Mas?," tanya Ana kawatir.
"Apa kamu mau ke sana lagi Mas?"
"Tidak sayang, sudah ada Rey dan Dino di sana. Aku di sini saja memelukmu."
Aldo memeluk erat tubuh Ana.
"Mas....jangan kuat - kuat kasihan si kecil tidak bisa napas."
"Tapi si kecil yang di sini ingin bermain dengannya sayang," ucap Aldo sambil menunjuk miliknya.
"Mas....kenapa kamu nakal sekali?"
"Bagaimana sayang? apa boleh aku memainkannya?"
Ana menganggukkan kepalanya.
"Tapi pelan - pelan ya? aku takut karna sudah mendekati bulannya"
"Pasti sayang, aku akan melakukannya dengan lembut agar tidak menyakitinya."
Tanpa menunggu aba - aba, Aldo langsung melakukan aksinya.
Aksi yang membutuhkan energi ekstra.
Sementara di rumah sakit, Rey masih setia menggenggam tangan wanita yang terdiam lemah.
__ADS_1
"Seharusnya dari awal aku membereskan wanita itu jadi dia tidak akan menyakitimu seperti ini. Semua ini salahku, aku yang melarangku untuk menjauhiku. Seandainya kamu pergi jauh dariku pasti wanita itu tidak akan menyakitimu dan kamu tidak akan menderita seperti ini. Aku memang bodoh."
Rey mulai menyalahkan diri sendiri atas kejadian yang menimpa Susan.
"Maafkan aku.....aku sudah bodoh membiarkanmu seperti ini."
Rey menangis, tangannya tak pernah dia lepaskan menggenggam tangan Susan yang terkulai lemas.
Dino tidak tega melihat Rey seperti itu.
"Rey...ini bukan salahmu, semua ini sudah takdir," ucap Dino mencoba menenangkan Rey.
"Ini salahku. Aku yang melarang dia menjauhiku. Seandainya aku menuruti kata - kata Aldo, mungkin semua ini tidak terjadi."
"Memang apa yang Aldo katakan?"
"Aldo bilang Susan harus di pindahkan ke kota B untuk sementara waktu sampai wanita sialan itu kita bereskan. Bahkan Aldo akan menjamin keselamatannya dengan mengirim anak buahnya bersama Susan. Tapi aku bodoh, aku melarangnya. Sebenarnya Aldo tetap mau mengirim Susan ke sana tanpa sepengetahuanku hanya tinggal menunggu surat pindahnya."
Rey merasa menyesal.
Dino menepuk punggung Rey, dia sangat paham dengan sahabatnya itu.
"Rey, tidakkah sebaiknya kamu pulang dan mandi? lihatlah tubuhmu kucel begitu!"
"Aku tidak akan meninggalkannya. Aku mau saat dia membuka mata, aku ada di sampingnya."
"Jangan egois Rey. Apa kamu tidak memikirkan putrimu juga?"
Rey menatap Dino.
Benar yang dikatakan Dino, dia mempunyai seorang putri yang harus dia perhatikan juga.
"Apa kamu mau menjaganya untukku?" tanya Rey pada Dino.
"Pasti. Aku akan menjaganya untukmu."
"Susan sayang, bolehkah aku memanggilmu sayang?"
Rey membelai rambut Susan dengan lembut.
"Sebenarnya aku tidak mau meninggalkanmu seperti ini, aku ingin saat kamu membuka mata orang pertama yang kamu lihat adalah aku. Tapi Elina juga membutuhkanku, aku sudah meninggalkannya sejak kemarin. Sayang, aku janji akan segera menemuimu setelah aku menemui putri kita. Aku mencintaimu, kamu harus berjanji untuk bangun."
Rey mencium tangan Susan lalu berganti mencium pucuk kepalanya.
Dengan sangat berat hati Rey harus merelakan Dino yang menemaninya di rumah sakit.
Saat pulang ke rumah ternyata Elina sudah tertidur pulas di kamarnya.
Rey memandangi wajah polos putrinya lalu menciumnya dengan lembut dan lama.
"Sayang, papa janji akan membawa mamamu kembali."
Sekali lagi Rey mencium wajah putrinya lalu meninggalkannya.
Rey duduk di tepi tempat tidur, di ambilnya bingkai foto yang ada di atas meja tempat tidur.
"Sayang, apa kamu akan mengajak Susan bersamamu juga? apa kamu tidak mengijinkanku bersamanya? sayang, aku sangat merindukan dan mencintaimu tapi aku juga mencintai wanita itu. Apa aku boleh bersamanya? apa kamu bisa merestui kami? Aku janji, walaupun aku bersamanya tapi percayalah aku akan tetap mencintai dan merindukanmu sayang."
Rey memeluk foto Susi dengan erat.
__ADS_1
Ada kepedihan dalam hati pria itu.
Ketakutan yang sangat besar pada sebuah kehilangan.