
Pesta ulang tahun temannya Elina diadakan di alam terbuka.
Banyak anak - anak yang menghadiri acara itu tidak terkecuali dengan para mama.
Elina pun ikut menghadiri ditemani oleh Susan.
"Ini anaknya ya mbak? cantik banget sama kayak mamanya," ucap seorang ibu yang menemani putranya.
"Iya."
"Pasti suaminya juga tampan,"
Susan menanggapi wanita itu dengan senyuman.
Suami? Rey belum menjadi suamiku. Tapi bagaimana wajah anakku ya nanti kalau aku jadi menikah dengan Rey? Pasti dia akan tampan kayak Papanya. Hhhmmm.... Aku jadi pingin cepet nikah, biar cepat punya anak ganteng.
Susan menghayal sambil senyum - senyum sendiri.
"Mbak.... Mbaknya kenapa senyum sendiri?" wanita itu heran melihat Susan.
"He...he... ga apa - apa kok Bu, saya hanya berhayal punya anak ganteng kayak Papanya." Susan nyengir.
"Ya sudah, nanti pulang dari sini langsung buat, dari pada senyum sendiri."
"Ha..!!!! Buat apa Bu?!" mata Susan terbuka sempurna.
"Ya buat anaklah, mosok buat bolu!"
"Caranya Bu?" tanya Susan polos.
"Emang kamu belum pernah buat?"
Susan menggelengkan kepalanya.
"Lha..?! Waktu buat anak cewekmu itu bagaimana?"
"Dia bukan anak kandungku Bu. Aku juga belum menikah, jadi ga tau bagaimana cara buatnya," ucap Susan tanpa dosa.
"Jadi kamu masih gadis?!"
Susan menganggukan kepala.
"Ya sudah buruan nikah, terus buat anak deh!"
"Emang kalau buat anak itu enak ya Bu?"
"Enak bangets. Kamu pasti ketagihan."
"Baiklah nanti saya coba."
"Hey....!! Buat anak ga boleh coba - coba, harus nikah dulu!"
"He...he...he... iya Bu."
Wanita itu menggelengkan kepalanya heran dengan kepolosan Susan.
"Mama....!! Tolong Adit..!!"
Semua orang yang ada di tempat itu menoleh ke arah suara.
Mereka terkejut melihat seorang anak laki - laki sedang di sandera oleh pria bertubuh kekar.
"Mama...!!" teriak anak itu ketakutan.
"Tolong lepaskan anakku!" ucap mama anak itu memohon sambil menangis.
"Aku tidak akan melepaskannya sebelum kamu menyerahkan uang padaku?!"
"Berapa yang kamu inginkan? Tapi tolong lepaskan dia!"
"Siapkan seratus juta! Ingat jangan lapor polisi! Nanti saya hubungi kamu lagi!" ucap lelaki itu dengan menarik tubuh anak itu masuk ke dalam mobil.
Buukkk....
Tubuh lelaki itu seketika limbung, dipegangnya tengkuk kepalanya yang terasa sakit, dia bangkit berdiri dan matanya langsung menatap tajam pada orang yang telah memukulnya.
__ADS_1
Sedangkan anak yang menjadi sanderanya lari menghambur ke pelukan mamanya sambil menangis.
"Dasar wanita sialan!!" ucap pria itu marah.
Susan menyingkapkan gaunnya diatas lutut dengan sikap kuda - kudanya siap memberi pukulan yang kedua pada pria itu.
Seketika keanggunan gadis itu tertutupi oleh ketangguhan dan keberaniannya.
Semua orang tertegun melihatnya.
"Ternyata kamu cari mati ya!!"
Pria itu mulai menyerang Susan tapi dengan gesit dia bisa melumpuhkan pria kekar itu.
Begitu pria itu jatuh dan roboh, para mama langsung memukulinya, ada yang menggunakan tas, sepatu, tendang, pukul pokoknya bertempur ala emak deh.
Tidak berselang lama polisi datang dan menangkapnya.
Rey yang baru datang heran melihat keributan yang terjadi.
Dilihatnya Susan sangat berantakan dan napasnya cepat.
"Sayang, apa kamu baik - baik saja? Apa yang terjadi? Kenapa kamu berantakan sekali seperti habis berkelahi?"
Rey terus memberondong Susan dengan beberapa pertanyaan.
"Mama hebat..!" ucap Elina.
"Hebat?" Rey bingung.
"Iya Pa, Mama hebat bisa mengalahkan Om jahat itu." ucap Elina menunjuk pada pria kekar yang digiring polisi.
"Sayang, apa itu benar?" Rey masih tak percaya.
"Rey, jangan banyak bicara! Aku masih gemetar."
Susan memegang dadanya, napasnya masih ngos - ngosan, badannya setengah membungkuk.
"Mbak, terimakasih sudah menyelamatkan Putra saya," ucap mama dari anak yang disandera.
"Lain kali hati - hati Bu! Jaman sekarang banyak orang jahat."
"Tante hebat. Kalau sudah besar aku mau seperti Tante. buk...buk..buk.." Anak itu memperagakan gerakan Susan saat melumpuhkan pria itu.
"Kamu harus lebih hebat dari Tante." Susan mengelus kepala bocah itu.
"Sayang, beneran kamu mengalahkan pria itu?" Rey masih tidak percaya.
"Ih... Papa ini lho, Papa sih ga lihat tadi."
"Kan Papa baru datang Elina sayang."
"Papa sih telat."
"Sekarang kita pulang ya."
Sepanjang perjalanan pikiran Rey masih tertuju dengan apa yang dia lewatkan.
Apa Susan setangguh itu? selama ini yang aku kenal dia itu wanita manja dan lemah tapi ternyata aku salah.
Sampai rumah Susan langsung mengajak Elina untuk istirahat.
Rey menarik tangan Susan yang sedang berbaring di samping Elina untuk keluar dari kamar putrinya dan membawa ke kamar miliknya.
Rey menutup pintu dan menyandarkan tubuh Susan di balik pintu dan mengunci tubuhnya dengan kedua tangannya.
"Katakan padaku apa yang terjadi?!" ucap Rey.
"Seperti yang kamu dengar, aku melumpuhkan pria itu?"
"Apa kamu tidak berpikir panjang sebelum melakukan hal itu?!" suara Rey sedikit keras.
"Aku sudah berpikir, makanya aku melakukan itu." Susan santai.
"Bagaimana kalau pria itu menyakitimu?!"
__ADS_1
"Tidak akan terjadi. Dia tidak akan bisa menyakitiku."
"Dari mana kamu tau?"
"Buktinya dia tidak menyakitiku, aku masih ada bersamamu sekarang."
"Susan!!" Rey meninggikan suaranya dan meninjukan tangannya pada daun pintu tepat di samping wajah Susan.
Susan terkejut dan memejamkan matanya.
Rey menarik napas dalam dan mengeluarkannya dengan kasar.
"Apa kamu tau bahwa aku sangat mengkhawatirkan keselamatanmu?," ucap Rey menyentuh lembut wajah Susan yang masih terpejam.
Susan berlahan membuka matanya dan memandang Rey.
"Aku tidak mau hal ini terulang lagi!"
"Aku tidak bisa membiarkan anak itu."
"Aku tau, tapi hal itu sangat berbahaya. Apa kamu tidak memikirkan keselamatanmu?"
"Tidak. Aku hanya ingin menyelamatkan anak itu."
"Kenapa kamu bodoh sekali?!"
"Rey.... Kamu tidak perlu kawatir!"
"Bagaimana aku tidak kawatir? Aku tidak mau kehilanganmu."
"Kamu tidak akan kehilangan siapapun terutama aku."
Susan mendekap wajah Rey dengan kedua tangannya.
"Aku bisa jaga diri."
Rey mencium pucuk kepala Susan, turun ke pipi dan berlabuh di bibir merah milik Susan.
Mereka saling menikmati di setiap geraknya.
tangan Susan melingkar sempurna pada leher Rey. Sedangkan tangan Rey melingkar erat pada pinggang langsing Susan.
"Berjanjilah padaku untuk tidak mengulanginya lagi! Berjanjilah untuk memikirkan keselamatanmu! Berjanjilah demi aku dan Elina!" ucap Rey menghentikan aksinya sejenak.
"Aku berjanji."
Rey semakin mengeratkan tangannya dan menarik erat tubuh Susan, melanjutkan aksinya bermain dengan bibir sexy milik Susan.
"Rey..." ucap Susan di sela pengambilan napas yang hampir habis.
"Katanya buat anak itu enak?" lanjutnya.
"Siapa yang bilang?"
"Tadi ada ibu - ibu bilang kalau buat anak itu rasanya enak banget, apa iya Rey?"
Rey kembali mencium bibir Susan dan bermain sejenak.
"Bagaimana rasanya?" tanya Rey menghentikan ciumannya.
"Enak."
"Rasanya lebih nikmat dari ini."
"Apa aku boleh mencobanya?" tanyanya polos.
Mata Rey terbelalak sempurna.
"Apa kamu sebodoh itu?! Kita tidak boleh melakukannya sekarang sayang, tunggu sampai aku menikahimu!"
Susan tersenyum dan menggangguk manja.
"Aku sangat mencintaimu." ucap Rey kembali membungkam bibir wanita itu dengan lembut.
Susan menikmati apa yang dilakukan Rey padanya dan mengimbangi permainan Rey.
__ADS_1
Dua insan yang sedang di mabuk asmara meleburkan rasa kekhawatiran.
Hari ini Rey melihat sisi lain dari wanita yang dicintainya. Wanita yang selama ini dia kenal sebagai wanita yang lemah lembut, anggun dan manja ternyata adalah wanita yang tangguh dan pemberani.