
Hari ini adalah akhir pekan. Pagi - pagi Susan sudah bangun. Dia membereskan rumah dan memasak.
Susan memasak lumayan banyak karna hari ini dia berencana ke rumah Elina. Dia ingin memberikan masakan istimewa untuk putri kesayangannya itu.
Setelah mandi dan merapikan diri, Susan mencari taksi.
Susan memasuki rumah besar dan mewah itu . Disambut senang oleh putri kecilnya.
"Sayang apa kamu sudah makan?"
"Belum Ma. Elina tidak mau makan."
"Bagaimana kalau makan ini?"
Susan mengangkat kotak makan yang dia bawa.
"Apa Mama yang masak?"
"Iya sayang. Mama masak khusus untuk Elina."
"Elina mau makan Ma."
Susan menyuapi Elina dengan sabar. Susan memang pantas disebut mama. Dia sangat telaten dengan anak kecil, sabar dan penyayang.
Sebuah mobil mewah memasuki halaman rumah besar itu.
Sepasang suami istri turun. Mereka berjalan memasuki rumah.
Dua pasang mata itu tertuju pada Susan dan Elina. Mereka tersenyum melihat keakraban dua orang itu.
"Mereka seperti anak dan ibu," ucap salah satu dari mereka.
"Iya Opa. Mereka sangat cocok dan terlihat bahagia."
"Aku baru melihatnya saja sudah merasa suka pada wanita itu. Nampaknya dia wanita baik dan sangat menyayangi cucu kita."
"Oma yakin dia akan menjadi ibu yang baik bagi Elina."
"Bagaimana dengan Rey? Apa dia kekasih Rey?"
"Kalau dia ada di sini berarti itu kekasih Rey, Opa. Kalau bukan kekasihnya mana mungkin Elina sedekat itu dengannya."
Setelah puas mengamati dan berbincang, mereka mendekat.
"Halo cucu Oma."
Susan dan Elina menengok ke sumber suara.
"Oma...." Elin berlari memeluk Omanya.
"Apa cucu Opa ini tidak rindu pada Opa?"
Opa merentangkan tangannya, Elina langsung memeluknya.
Susan yang menyaksikannya tersenyum.
"Oma apa kabar?" ucapnya sembari mencium punggung tangan wanita itu.
"Baik sayang. Susan ini Opanya Elina."
"Selamat pagi Opa."
"Kamu cantik sekali Nak," ucap pria itu sembari memegang pundak Susan.
"Terimakasih Opa, Opa juga masih kelihatan gagah."
"Apa yang kalian lakukan?"
"Elina lagi makan masakan Mama, opa. Mama pinter masak opa. Masakan Mama enak. Elina suka," ucap Elina senang.
"O ya..?? apa Opa boleh memintanya?"
"Boleh Opa. Mama bawanya banyak sekali."
Susan menyiapkan piring agar mereka bisa makan bersama.
"Elin, dimana Papamu?"
"Papa lagi pergi ke luar kota Oma?"
"Dari kapan tuan ke luar kota bik?" tanya Oma pada bibik.
"Kemarin sore nyonya"
__ADS_1
"Anak itu masih saja sibuk dengan pekerjaannya. Kapan dia akan memikirkan diri nya dan anaknya," ucap Opa berbicara pada dirinya sendiri.
"San nanti kalau kamu sudah menikah. Suamimu jangan boleh bekerja di akhir pekan. Kalian harus menikmati liburan bersama keluarga."
"Iya Opa."
Mereka menikmati sarapan yang sudah siang.
"Apa kamu bekerja Nak?"
"Iya opa. Aku kerja di CAN Sanjaya Group"
"Opa. Apa Opa nanti tidur di sini?" tanya Elina.
"Tidak sayang. Nanti sore Opa dan Oma harus pulang. Karna malam Opa ada undangan kerabat Opa," ucap pria itu mengelus rambut Elina.
"Ya.....Elina sendirian lagi," wajahnya cemberut.
"Sayang... nanti mama yang temenin Elin. Mama nanti nginep di sini," ucap Susan memegang lembut pipi gadis kecil itu dengan kedua tangannya.
"Bener Ma?"
Raut wajah bocah kecil itu sontak merubah ceria.
"Iya sayang."
"Terimakasih ya Nak," ucap oma memeluk Susan dari samping.
"Iya Oma. Aku seneng kok bisa menemani Elin"
"Ehem....ehem..." seorang pria berdehem di belakang mereka.
Menoleh serempak.
"Oma Reka......" teriak Elina sembari bertolak memeluk Oma Reka.
"Jeng Reka?!"
Mereka saling berpelukan dan saling mencium.
Susan hanya berdiri mengamati.
Sepertinya aku pernah melihat ibu ini tapi di mana ya...
"Baru sampai kami Jeng, bagaimana kabar jeng Riana?"
"Baik. O ya Jeng kenalkan ini Susan."
Oma Riana memeluk pundak Susan dari samping.
"Selamat siang bu,"
"Susan. Jeng Reka ini Omanya Elina juga. Mereka orang tua dari mamanya Elina."
Reka pelan - pelan mendekati Susan.
Dia memeluknya erat, Susan membalas pelukan wanita itu.
Kembali dia merasakan adanya kerinduan yang dirasakan wanita itu.
Susan baru ingat kalau wanita itu adalah wanita yang sama yang memeluknya waktu itu.
"Ibu....apakah ibu baik - baik saja."
Susan merasa heran karna Ibu itu tidak melepaskan pelukannya.
"Biarkan Oma memelukmu lebih lama Nak."
Wanita itu mengeratkan kembali pelukannya.
Begitu pun dengan Susan.
Oma Riana dan yang lain terharu melihat mereka.
Opa Fredy mendekati mereka dan memegang pundak istrinya.
"Sudah Oma. Kasihan Susan ga bisa napas."
Wanita itu mengendurkan tangannya dan memegang pipi Susan dengan kedua tangannya.
"Maafkan Oma ya sayang. Mulai sekarang kamu juga harus memanggilku Oma. Karna aku juga Omanya Elina."
"Iya Oma."
__ADS_1
"Mumpung kita kumpul, bagaimana kalau kita rayakan hari ini?" usul Oma Riana.
"Boleh juga jeng. Bagaimana kalau kita makan - makan?"
"Kalau begitu saya akan menyiapkannya," ucap Susan.
"Kita masak bareng ya?"
Suasana rumah itu kini ramai, tidak seperti hari - hari biasanya.
Para bibik yang ada di situ ikut merasakan merasakan kebahagian yang mereka rasakan.
Flasback on
Seorang wanita sedang ngobrol lewat telepon selularnya. Tangan kanannya memegang alat semprot bunga. Wanita itu ngobrol sambil merawat bunga - bunga di halaman rumahnya.
"Apa jeng Reka tidak salah orang? " ucap wanita itu, sejenak menghentikan aktifitasnya.
" Yakin Jeng, gadis itu mirip dengan susi. Saya lihat sendiri di toko buah dekat rumah. Dia sedang membeli buah," jelas suara di seberang.
"Terus Jeng?"
"Spontan aku memeluknya. Dia sepertinya bingung saat itu. Tidak lama papa Fredy datang. Dan gadis itu pergi. Mungkin karna aku sangat merindukan putriku jadi melihat gadis itu serasa mirip dengannya."
"Tidak jeng. Aku juga pernah ketemu gadis yang mirip dengan Susi."
"O ya...?? dimana Jeng?"
"Di rumah Rey"
"Apa jeng Riana serius?"
"Aku juga awalnya juga kaget jeng pertama melihat dia. Aku pun sama dengan jeng Reka, aku memeluknya dia juga bingung saat aku peluk jeng."
"Apa dia sering datang ke rumah Rey jeng?"
"Mungkin jeng. Karna Elina memanggilnya mama."
"Aku pingin ketemu dia lagi jeng. Aku pingin memeluknya lebih lama," ucap suara di seberang penuh harap.
"Kapan - kapan kalau aku ketemu dia di rumah Rey, aku kasih kabar ke jeng Reka. Biar jeng Reka datang dan ketemu dia ya jeng."
"Benar ya jeng?. Aku tunggu kabarnya."
"Iya Jeng. Pasti aku kabari."
" .Terimakasih ya Jeng Riana."
"Sama - sama Keng Reka."
Wanita itu menutup teleponnya.
Aku juga tidak tau siapa gadis itu. Tapi siapa pun dia, yang jelas dia sangat menyayangi cucuku. Dan pertama ketemu dia, aku langsung suka.
Dan hari ini saat Riana melihat Susan di rumah Rey. Dia langsung memberitau Reka untuk datang ke rumah Rey tanpa sepengetahuan Susan dan suaminya.
Flasback on
"Apa kamu suka masak Nak?" tanya Oma Reka.
"Di rumah aku masak sendiri Oma."
" Kamu tinggal dengan siapa Nak ? "
"Tinggal sendiri Oma. Orang tuaku tinggal di kota L."
"Kenapa kamu tidak tinggal bersama orang tua mu?"
"Susan pingin mandiri Oma. Dari kuliah Susan sudah tinggal di kota ini."
"Orang tua mu pasti bangga denganmu."
Susan tersenyum.
"Semoga begitu Oma."
Setelah semua makanan matang dan selesai Susan menata rapi di atas meja makan yang ada di halaman belakang. Meja makan itu sangat besar terletak di ruangan terbuka tapi tetap pada tempat yang teduh.
Semua penghuni rumah itu termasuk para bibik dan pegawai rumah yang lain berkumpul menikmati santapan siang itu.
Keluarga Rey memang tidak pernah membedakan makanan baik untuk tuannya atau pun pegawainya. Kalau pun beda mungkin hanya beberapa macam saja itu pun kalau ada permintaan khusus.
Hari itu adalah hari yang membahagiakan hanya satu yang kurang, Rey papanya Elina tidak hadir di sana.
__ADS_1