
Aldo, Rey dan Susan berjalan ke luar kantor.
Mereka berencana pergi makan siang di jam istirahat.
Saat di pintu keluar mereka bertemu dengan Riko. Siang itu Riko ingin mengajak makan Susan dan menjelaskan semua tentang kejadian hari itu.
"Susan, kita harus bicara!"
"Tidak ada yang perlu kita bicarakan," ucap Susan tetap berjalan.
"Aku bisa jelaskan semuanya. Ini hanya salah paham!"
Susan menghentikan langkahnya dan membalikkan tubuhnya menghadap Riko.
"Ya. Ini semua memang salah paham. Aku salah memahamimu selama ini. Yang aku pahami selama ini kita saling menjaga kesetiaan kita tapi itu hanya berlaku untukku, bukan untukmu."
"Aku mencintaimu. Akan ku putuskan dia dan kita bisa bersama lagi," Riko meraih tangan Susan.
"Kamu tidak perlu memutuskan dia. Karna aku tidak mencintaimu."
"Kamu bohong!. Aku tau siapa kamu. Kamu tidak akan mudah melupakan cinta kita."
"Aku memang tidak melupakan cinta. Tapi cintaku padamu sudah hilang sejak kamu menghianatiku."
Rey dan Aldo hanya berdiri diam menyaksikan pertengkaran mereka. Tadinya Rey ingin memberi pelajaran pada pria itu tapi di cegah oleh Aldo.
"Jangan ikut campur!"
Rey sedikit kesal dengan sikap Aldo. Tapi Aldo benar juga, itu bukan urusannya. Tapi dia tidak mau melihat Susan di sakiti.
"Susan, aku tidak mau putus denganmu. Aku masih mencintaimu."
"Maaf Riko. Aku tidak bisa."
Susan menghempaskan tangan pria itu dari tanggannya. Dan berjalan pergi.
Riko berusaha mengejarnya dan menarik tangannya.
"Lepaskan Riko!"
"Tidak. Aku tidak akan melepaskanmu. Kamu harus jadi milikku!"
"Aku tidak mau!"
Riko semakin menguatkan tangannya.
"Auw....lepaskan tanganku sakit!"
Aldo tidak bisa menahan diri lagi. Dia berjalan mendekati mereka.
"Lepaskan tangannya!" ucapnya dingin.
"Aku tau kau bosnya tapi jangan ikut campur urusan kami!" ucap Riko pada Aldo.
"Tapi kamu menyakiti tangannya."
"Kalau dia menuruti perkataan ku, aku tidak akan menyakitinya."
Rey maju dan memegang tangan Susan.
"Lepaskan tangannya!!! " ucap Rey penuh penekanan.
Riko menatap Rey. Lalu melepaskan tangan gadis itu. Riko tau siapa Rey, dia tidak ingin membuat masalah dengan laki - laki itu atau dia akan hancur sendiri.
Susan yang merasa tanggannya sudah lepas mendekat pada Aldo.
Rey memberi kode pada Aldo untuk membawa Susan ke dalam mobil.
__ADS_1
"Mulai sekarang jangan pernah ganggu dia lagi!"
"Tapi dia milikku tuan."
"Mungkin kemarin dia memang milikmu. Tapi tidak lagi mulai hari ini. Dan jangan pernah berpikir macam - macam! Atau kamu tidak akan pernah menikmati dunia ini lagi."
Rey memberi peringatan keras pada Riko.
Rey berjalan meninggalkan Riko yang masih terdiam karna ucapan Rey.
Di restauran mereka duduk dan menikmati makan siang.
"Apa kamu yakin san putus dengan Riko?" ucap Aldo.
"Aku yakin. Dia sudah menghianatiku."
"Apa kau yakin itu pacar Riko?. Kamu hanya bertemu sekali. Mungkin saja gadis itu asal mengaku saja."
"Aku sudah lama mengetahuinya."
"Maksudmu, kamu sudah mengetahui kalau Riko selama ini selingkuh?" tanya Rey.
"Sejak kapan?" Aldo menatapnya.
"Saat kita melakukan peninjauan lahan di kota B"
Susan mengambil gelas di depannya dan minum.
"Kamu ingat saat kita makan dan bajumu basah Rey?"
"Ya"
"Aku tau bajumu basah karna di siram oleh wanita itu.
"Apa kamu..." ucapan Rey terputus
"Kenapa waktu itu kamu tidak mengatakan padaku kalau itu pacarmu?"
"Aku berharap apa yang aku lihat dan aku dengar itu salah. Aku mencari tau dan semua itu benar."
Susan mengaduk - aduk isi gelas dengan sendok.
"Apa kamu baik - baik saja san?" ucap Aldo kawatir.
"Aku baik. Tenang saja, aku tidak akan bunuh diri hanya karna laki - laki brengsek seperti dia."
"Maafkan aku, aku tidak memberitaumu soal Riko."
"Apa maksudmu Aldo?"
"Sebenarnya aku sudah mengetahui sejak lama kalau Riko itu selingkuh. Aku menyelidikinya. Aku curiga sejak kamu bilang Riko selalu lembur ke luar kota. Tapi aku tidak tega mengatakan padamu. Aku tidak mau melihatmu bersedih."
"Apa kamu juga sudah mengetahui Rey?"
"Ya. Aldo memberitauku."
"Kalian ini jahat sekali padaku!"
"Maaf. Aku tidak bermaksud menutupinya," ucap Aldo menyesal.
"Kalian sekongkol!" Susan mencubit lengan Aldo.
"Aku khan sudah minta maaf kenapa kamu mencubitku?"
"Karna kamu tidak jujur padaku."
"Aku selalu jujur padamu kecuali soal Riko."
__ADS_1
"Jujur apa?"
"Jujur kalau aku menyayangimu..." ucapnya sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Susan.
"Eehhhh...bukan itu...."
Aldo dan Susan terlibat saling mengejek dan bergurau layaknya kakak yang sedang menjaili adeknya.
Rey tersenyum senang melihat tingkah kedua orang itu. Sebenarnya ada rasa iri dalam hati Rey melihat kedekatan Aldo pada Susan.
Aldo bisa bebas melakukan apapun pada gadis itu, dia bisa memeluknya, memanjakannya, melindunginya, menyayanginya bahkan bisa memarahinya juga.
Bagi Aldo Susan adalah malaikatnya. Dia rela melakukan apapun demi kebahagian sekertarisnya itu.
"Rey, apa Elina sudah kembali?" tanya Susan.
"Mungkin Minggu depan."
"Lama sekali. Aku sudah rindu padanya."
"Kamu rindu anaknya apa rindu papanya?" ucap Aldo menggodanya.
"Aldo apaan sih..." Susan meninju lengan Aldo.
Wajahnya berubah semu merah.
"Kamu lucu, kayak bunglon...wajahnya bisa berubah warna pink."
Aldo mencubit pipi Susan dengan kedua tangannya.
"Aldo sakit...!"
"Biarkan saja, habisnya kamu tuh gemesin banget. Lagi pula nanti kalau kamu sudah jadi istri orang, aku ga bisa cubit pipimu lagi. Pasti akan dihajar sama suamimu," ucap Aldo, matanya melirik ke arah Rey.
"Apa maksudmu melihatku seperti itu?!"
"Susan. Besok kalau kamu cari suami, jangan cari yang duda, kamu harus cari yang masih perjaka ting - ting. Biar kamu bisa merasakan kejantanan perjaka," ucap Aldo sambil tertawa kecil.
"Enak aja. Biarpun aku duda tapi kejantananku masih ok, malah melebihi yang perjaka," Rey tidak terima dengan perkataan Aldo.
"Jadi kamu jangan kawatir san. Aku pasti akan memuaskan mu di atas ranjang melebihi perjaka," lanjutnya sambil mencondongkan wajahnya ke arah Susan.
"Hey...!! kalian ini ngomongin apa sih?. Jangan menodaiku dengan omongan kotor kalian!"
Aldo dan Rey tertawa.
"Lagian siapa juga yang mau menikah denganmu Rey," lanjutnya
Rey langsung menekuk mukanya mendengar ucapan Susan.
Aldo tertawa melihat muka Rey.
"Ha.. h....h ... Kasihan ada yang di tolak sebelum nembak," Aldo meledek Rey.
"Puas kamu ya!"
"Sudah - sudah kalian ini sama saja! dan kamu Rey....kamu harus stok obat kuat kalau mau memuaskan ku di atas ranjang!"
"Hey...kamu pikir aku tidak kuat ya...kamu mau berapa ronde? Sampai pagi juga aku masih mampu."
"Susan, kamu jangan memancing Rey. Kasihan sudah lama tidak di sentuh wanita. Bisa - bisa kamu yang jadi pelampiasan," ucap Aldo.
"Biarpun tidak pernah disentuh tapi dia masih aktif, masih tegak berdiri."
"Kalian ini ngomongin apa sih?!. Malu tau di denger orang. Emang yang tegak berdiri apanya?" ucap Susan tidak mengerti dengan apa yang mereka maksud.
Rey dan Aldo saling pandang. Mereka tertawa melihat Susan bingung.
__ADS_1
"Anak di bawah umur belum boleh tau," ucap Aldo.