Mutiara Hati

Mutiara Hati
Pertengkaran Kecil 2


__ADS_3

Di pusat perbelanjaan terlihat dua wanita sedang berjalan sambil tertawa.


Susan dan Mela sepulang kerja melancong dulu ke mall.


Susan lagi males pulang. Dia tidak ingin sendirian sore ini. Kalau sendirian pasti akan teringat kejadian bersama Riko siang tadi.


Mela sebagai sahabatnya selalu setia menemaninya.


Bagaimana tidak setia, setiap kali diajak jalan pasti minta traktir makan. Wajar saja kalau badannya sedikit berisi karna dia doyan makan.


Tapi akhir - akhir ini dia mencoba untuk diet.


Dan berhasil.


Tapi jangan bangga dulu karna walaupun dia mengurangi makan dan tidak minta traktir makan, tetep saja dia minta imbalan.


"San...lihat baju di sana itu!" Mela menunjuk sebuah butik.


"Ayok kita lihat!"


Mereka berjalan menuju butik yang ditunjuk Mela.


Mela mengambil satu gaun warna biru.


"Susan...lihat ini!. Cantik banget."


"Itu cocok untukmu."


"Benarkah? boleh aku mengambilnya?"


"Ambil saja! tapi bayar sendiri."


Mata Mela memandang Susan seolah meminta di bayarin.


"Aku kan hanya bilang mau traktir kamu makan."


"Tapi aku lagi diet. Jadi uangnya untuk beli ini ya...ya..ya..."


"Gajimu sama dengan gajiku."


"Bedalah. Ok Susan yang cantik?. Bayarin ya...??"


"Hanya kali ini saja ya!"


"Ok. Terimakasih Susan sayang."


Mela menggandeng lengan sahabatnya itu dan bergelayut senang.


"Aku heran buat apa uangmu kalau semua - semua minta bayarin?"


"Buat modal nikah."


Mereka melanjutkan jalan - jalan lagi.


Tiba - tiba hp Mela berbunyi. Mela menjawab telepon dan berbicara dengan seseorang.


Setelah menutup teleponnya Mela menghampiri Susan.


"San ...maaf aku harus pulang. Ayah Dandi sakit. Dia mengajakku ke rumah sakit."


Dandi adalah tunangan Mela. Mereka sebentar lagi akan melangsungkan pernikahan.


"Terus aku sama siapa donk?"


"Bagaimana kalau aku antar kamu pulang dulu?"


"Aku lagi males di rumah Mel. Kamu pulang saja dulu nanti biar aku pulang sendiri naik taksi."


"Beneran kamu ga apa - apa aku tinggal?"


"Bener."


Mela meninggalkan Susan sendiri.


Susan berjalan santai. Sesekali dia mampir ke toko - toko hanya sekedar melihat - lihat saja.


Saat tiba di toko boneka Susan teringat pada Elina. Anak itu suka banget sama boneka.


Susan masuk dan melihat - lihat semua boneka.


Mana ya yang cocok untuk gadis kecil itu?


Susan memilih - milih.


"Ambil yang kamu suka!"


Susan menoleh ke sumber suara.


"Aldo??" dia terkejut melihat Aldo di depannya.


"Sejak kapan kamu di sini?"


"Sejak dunia ada," candanya


"Sama siapa kamu?"


Mata Susan ke sana ke mari mencari seseorang yang mungkin bersama Aldo.


"Sama kamu."


"Aku serius Aldo."

__ADS_1


"Aku sendiri."


"Terus ngapain kamu di sini sendirian?"


"Karna aku tau kalau kamu sedang di sini makanya aku ke sini."


"Kamu cocok dijuluki raja gombal. Serius, kamu ke sini cari apa?"


"Ana minta di belikan kembang gula tapi harus dari mall ini."


"Ibu hamil aneh - aneh ya maunya?. Apa sudah dapat kembang gulanya?"


"Sudah. Besok kalau kamu hamil juga pasti seperti itu. Dan aku siap mencarikan apapun demi kamu."


"Ye....emang situ bapaknya?"


"Apa kamu tidak mau kalau besok kamu hamil dan anakmu tampan seperti aku?"


"Anakku pasti tampan seperti bapaknya, tapi bukan seperti kamu."


Susan mentoyor kepala Aldo dengan telunjuknya. Aldo hanya terkekeh.


Mereka berjalan sambil bercanda. Tidak jarang mereka saling mencubit dan beradu mulut. Orang melihat mereka, pasti berpikir bahwa mereka adalah pasangan kekasih.


"Bagaimana kalau kita duduk di sana sambil minum jus?"


Aldo menunjuk tempat nongkrong.


Mereka berdua berjalan dan duduk di situ.


Jus yang mereka pesan sudah datang dan siap dinikmati.


"Kenapa kamu keluyuran sendiri?"


"Tadinya aku sama Mela. Tapi dia pulang duluan. Ayah Dandi masuk rumah sakit jadi dia pulang duluan."


"Kok kamu ga pulang?"


"Aku lagi males pulang."


"Apa lagi ada masalah?"


"Tidak. Hanya males saja."


Mereka asyik ngobrol sampai - sampai tidak menyadari kehadiran Riko di belakang mereka.


"Jadi seperti ini hubungan antara bos dan sekertaris yang katanya hanya sebatas rekan kerja?!"


"Riko...???"


Mereka terkejut terlebih Susan. Aldo tetap menunjukkan sikap santai dan tenang.


Susan meraih tangan Riko.


"Apanya yang mau di jelaskan?. Semua sudah jelas."


"Riko aku mohon!. Kami tidak sengaja bertemu di sini. Tadi aku kesini sama Mela."


"Jangan mencari kambing hitam. Sekarang mana Mela?"


"Mela pulang duluan karna ayah Dandi sakit."


"Sebelumnya kamu bukan orang yang suka bohong. Tapi sejak kamu dengan pria itu kamu semakin mahir berbohong."


"Riko ...aku tidak pernah berbohong sama kamu."


Riko menepis tangan Susan.


Aldo yang melihat kelakuan Riko sudah tidak tahan lagi.


"Hai bung..kita bisa berbicara baik - baik!!"


"Jangan ikut campur urusan kami!!. Apa anda tidak malu seorang suami jalan berdua dengan wanita lain selain istri anda?!"


"Tolong jaga ucapan anda tuan!"


Aldo menarik kerah Riko.


Susan berusaha melerai mereka.


"Aldo, Riko..stop..!! Ku mohon hentikan!"


Aldo melepaskan tangannya. Riko merapikan kembali bajunya.


"Sekarang kamu pulang denganku!"


Riko menarik tangan Susan kasar.


"Aku tidak mau," Susan berusaha melepaskan tangannya tapi gagal.


"Lepaskan tangannya tuan!" ucap Aldo penuh penekanan.


"Ternyata kamu lebih memilih dia?. Baiklah. Kamu hutang penjelasan padaku!"


Riko berjalan meninggalkan mereka.


"Riko...!!"


Susan bermaksud ingin mengejar Riko tapi dihalangi oleh Aldo.


"Biarkan saja!"

__ADS_1


Mereka kembali duduk.


Susan menangis. Dia tidak menyangka akan terjadi seperti ini.


Aldo hanya terdiam membiarkan Susan mengekspresikan perasaan hatinya.


Aldo mendekatkan diri dan duduk di samping Susan. Mengelus rambutnya lembut.


Susan menyandarkan kepalanya pada pundak Aldo dan masih menangis.


"Semua akan baik - baik saja!" ucap Aldo.


"Dia salah paham," ucapnya dalam tangis.


"Bukan."


Dia bukan salah paham. Tapi ini awal dari permainannya. gumam Aldo dalam hati.


"Dia memintaku untuk keluar dari perusahaan dan menjauh dari mu."


"Aku peringatkan padamu. Jangan pernah melakukan itu!"


"Tapi aku mencintainya."


"Kamu tidak mencintainya dan dia tidak pantas menerima cintamu."


"Apa maksudmu?"


"Nanti kamu akan tau sendiri. Sekarang tenangkan dirimu!"


Susan masih dalam posisinya.


Aldo menggenggam tangannya lembut.


"Bagaimana kalau malam ini kamu tidur di rumahku saja?. Ana pasti senang."


"Apa tidak apa - apa?"


Susan mengangkat kepalanya dan melihat ke wajah Aldo.


Aldo tersenyum.


"Ana yang memintanya. Tadi siang dia telepon aku. Makanya aku mengikutimu."


"Kenapa kamu tidak bilang dari tadi?"


Susan memukul dada Aldo.


"Mana aku tau kalau jadi seperti ini?. Tapi kamu tambah cantik kalau seperti ini."


Aldo mencubit kedua pipi Susan.


Susan tersenyum menerima perlakuan Aldo.


"Nah gitu donk senyum. Air matamu terlalu berharga untuk laki - laki seperti Riko."


Mereka meninggalkan tempat itu.


Sementara di rumah Aldo.


Ana sibuk berkutik di dapur. Dia menyiapkan makan malam di bantu oleh pembantu yang biasa masak.


Suara mobil Aldo masuk ke parkiran rumahnya.


Ana segera menghampiri suaminya yang baru masuk rumah bersama Ana.


Aldo memberi kecupan manis pada istrinya.


"Hay Susan.."


"Halo mbak."


Mereka saling berpelukan.


"Apa kamu baik - baik saja san?"


"Aku baik mbak. Mbak Ana sendiri gimana? Apa kabar dedek kecil?" Susan mengelus perut Ana.


"Baik san. Ayo masuk!"


"Iya mbak."


"Mas kamu mandi dulu sana!, bau asem"


"Siap sayang," kembali Aldo mencium kening istrinya.


Susan tersenyum senang melihat kemesraan mereka berdua.


"Susan, kamu juga mandi dulu. setelah itu kita makan malam bersama."


"Iya mbak."


Susan berjalan menuju ke kamar yang sering dia tempati. Susan memang sering menginap di rumah Aldo karna permintaan Ana.


Bagi Susan, Ana dan Aldo sudah seperti keluarga sendiri. Susan mengganggap mereka sebagai kakak sendiri. Bagitu juga dengan Ana dan Aldo.


Ana tidak pernah mempermasalahkan kedekatan Aldo dan Susan. Karna Ana tau dan percaya pada Aldo. Aldo menyayangi Susan seperti adiknya sendiri karna Susan mengingatkan Aldo pada adiknya yang meninggal karna kecelakaan.


Ana Meralda


__ADS_1


__ADS_2