Mutiara Hati

Mutiara Hati
Permintaan khusus


__ADS_3

Jadwal Aldo hari ini adalah berkunjung ke kantor Rey untuk membicarakan tentang proyek pembangunan hotel di kota B tapi kali ini dia tidak ditemani oleh sekertarisnya karna dia paham betul kalaupun sekertarisnya ikut pasti dia tidak akan mau ikut masuk ke ruangan Presdir DJ Company.


" Dino..." panggilnya ketika melihat asisten Rey sedang berjalan di koridor.


"Aldo, tumben sendirian?" heran melihat Aldo sendirian tanpa sekertaris.


"Ya. bagaimana kabarmu?"


"Baik."


"Aku pikir kamu sudah tidak disini lagi dan mengurus bisnis ayahmu."


"Tidak sekarang. Aku masih mau santai dan tidak mau pusing."


"Emang sekarang kamu tidak pusing menjadi asisten Rey?"


"Bukan pusing lagi bahkan aku hampir gila."


Mereka serempak tertawa bersama - sama.


Rey, Aldo dan Dino adalah sahabat dari mereka kecil.


Dino sebenarnya bukanlah tidak punya perusahaan sendiri bahkan perusahaannya termasuk dalam kategori kalangan elit tapi untuk saat ini dia tidak ingin terjun langsung


dan memimpinnya dia merasa harus mencari pengalaman yang lebih agar kelak dia bisa meneruskan bisinis ayahnya dengan baik dan berkembang karna berada dalam dunia bisnis tidaklah mudah.


Selama ini dia berpikir bahwa ayahnya masih sanggup untuk memimpin dan menjalankan perusahaan itu.


Ceklek...


"Apa yang sedang kalian bicarakan?" ucap Rey yang sedari tadi memperhatikan mereka dari balik kaca ruangannya.


"Tidak ada. Kami hanya ngobrol kosong saja tidak ada yang penting," jawab Aldo


Rey menatap Dino seolah mencari kebenaran akan ucapan Aldo.


"Apa kamu tidak percaya lagi dengan asistenmu ini?" ucap Dino yang mengerti maksud Rey.


"Kalian berdua itu sama saja!"


"Hey...!! jangan samakan aku dengan dia ya, aku sudah menikah dan sebentar lagi menjadi seorang ayah, tidak seperti dia masih jomblo,"


sanggah Aldo tak terima.


"Jangan bawa - bawa status jomblo disini bukan hanya aku yang jomblo!"


Dino membela diri sendiri dan matanya melirik ke arah Rey.


"Apa maksudmu menatapku seperti itu, biarpun aku jomblo tapi aku sudah pernah menikah dan sudah jadi seorang ayah. Sudah terbukti kalo aku ini jantan dan perkasa tidak seperti dirimu."


"Sudahlah aku masih banyak pekerjaan," ucap Dino sambil berjalan keluar meninggalkan mereka.


"Hey Jangan menghindar!!" Rey senang bisa menggoda sahabatnya itu.


Dino hanya melambaikan tangannya tanpa menghiraukan apa yang mereka katakan.


"Bagaimana persiapan lahan di kota B?"


"Itu alasan aku kesini. Apakah kita akan meninjaunya sendiri kesana?"


"Sepertinya memang harus begitu. Kapan rencananya? Bagaimana kalo Minggu ini?"


"Tapi sepertinya aku tidak bisa ikut denganmu kalo Minggu ini karna rencananya Ana mau mengunjungi orang tuanya," lanjut Aldo.


"Apa kita tunda Minggu depan?"

__ADS_1


"Jangan! lebih cepat lebih baik. Aku akan mengirimkan perwakilan dari perusahaan."


"Baiklah kalo begitu, aku ikut kau saja."


"Aku akan cari orang yang tepat untuk proyek ini agar kau tidak kecewa."


"Bagaimana kalo sekertarismu?" usul Rey dengan senyum.


"Hey...!! kenapa harus dia?, masih banyak karyawan terbaikku yang mampu menangani proyek ini."


"Sepertinya kamu benar - benar tidak rela dia pergi bersamaku?" jawab Rey santai


"Pilih karyawan yang lain saja jangan dia!"


"Kamu pilih dia atau kamu sendiri yang berangkat bersamaku?"


"Akan ku bicarakan dulu dengannya."


"Itu baru sahabatku," ucap Rey sambil menepuk pundak Aldo.


"Ingat...jangan pernah menyakitinya!"


"Hey...!!! apa kamu pikir aku ini sakit jiwa suka menyakiti orang lain?"


"Kamu bukan sakit jiwa tapi sudah gila!"


Rey tersenyum senang Karna dia merasa menang.


Berbeda dengan Aldo dia merasa tidak pernah menang bila berdebat dengan Rey.


Aldo memasuki ruangan yang dingin dan sejuk karna sirkulasi udara dari AC di ruang kerjanya.


Disenderkan kepalanya pada punggung kursi dan sesaat matanya terpejam.


Susan menghampiri bosnya


"Tidak hanya ingin terpejam sebentar," ucapnya tanpa membuka mata.


"Apa perlu aku buatkan kopi?"


"Tidak terimakasih. Apa kamu mau membantuku?"


"Apa?"


"Bisa kau pijit leherku?" ucapnya sambil membuka matanya sedikit untuk melihat reaksi sekertarisnya itu.


"Pijit saja sendiri atau perlu aku panggilkan mbok - mbok tukang pijit!" ucapnya kesal dengan kelakuan bosnya yang suka sekali menggodanya.


Aldo tertawa terkekeh mendengar jawaban dari Susan.


Dia membuka mata dan berdiri mendekati sekertarisnya.


"Minggu ini Presdir DJ Company akan meninjau lahan proyek pembangunan hotel di kota B dan dia meminta ada perwakilan dari pihak kita juga."


"Bagaimana kalo kirim salah satu kandidat yang terpilih kemarin biar lebih paham dengan proyek ini?"


"Awalnya aku juga ingin seperti itu."


"Lalu apa masalahnya?"


"Masalahnya Presdir itu tidak mau ditemani orang lain selain aku atau kamu."


"Apa?!! Aku??!!" Susan terkejut dengan ucapan Aldo.


"Ya. Kalo aku tidak bisa dia memilih kamu."

__ADS_1


"Aku tidak mau!" Susan melipat tangannya di dada.


"Tolonglah untuk kali ini saja!. Karna Minggu ini Ana berencana mengunjungi orangtuanya tidak mungkin aku menolaknya."


"Tapi aku tidak mau pergi, apalagi bersama pria tua dan buncit itu."


Aldo tertawa mendengar jawaban sekertarisnya itu.


"Apa yang lucu?" sambil cemberut


"Kamu yang lucu"


"Aldo...aku tidak mau pergi sama orang itu."


Susan merajuk manja kepada Aldo seperti anak kecil.


"Apa kamu tega aku pergi dengan pria tua itu?" lanjutnya tetap dengan wajah merajuknya.


"Tidak ada pilihan. Aku janji hanya kali ini saja. Aku yakin kamu akan melakukannya untukku. Please...." ucap Aldo sembari mengatupkan tangannya memohon.


"Baiklah. Tapi hanya kali ini saja ya!"


"Aku janji. Terimakasih ya," ucapnya tersenyum sambil mengacak rambut Susan dengan lembut.


Susan pun tersenyum dan tidak menolak perlakuan Aldo terhadapnya.


Selama ini dia merasa terlindungi dan nyaman bila bersama dengan bosnya itu bahkan tak segan - segan untuk bermanja ria.


"Jumat sore berangkat, sampai disana kamu akan dijemput sendiri oleh Presdir DJ Company karna dia sudah disana sejak hari kamis dan kalian menginap di mension miliknya."


"Apa tidak ada fasilitas hotel sehingga harus menginap disana?. Aku tidak mau, Aku akan bayar hotel sendiri."


"Bukan masalah bayar hotel tapi ini permintaan khusus darinya."


"Kamu tega mengorbankanku. pertama harus pergi dengannya dan yang lebih parah lagi harus tinggal satu atap sama dia."


Hik hik hik...


Susan pun menangis membayangkan nasibnya.


"Hey...ini tidak seburuk yang kau bayangkan, aku yakin kamu akan menikmati pekerjaan ini dan dapat ku pastikan kamu akan senang."


"Baiklah untuk menebus semua ini bagaimana kalo sekarang aku ajak kamu jalan - jalan?" lanjutnya


"Kamu mau menyogokku?"


"Kalo tidak mau ya sudah."


Aldo berdiri dan berjalan ke arah meja.


"Aku mau."


Susan meraih lengan Aldo dan menggandengnya dari samping bergelayut manja sambil tersenyum.


Aldo yang melihat tingkah sekertarisnya itu pun tersenyum senang dan kembali mengacak rambut gadis itu dengan penuh kasih sayang.


Kamu memang sama persis dengan Reni adikku, aku senang kamu manja seperti ini dan aku harap ini semua tidak akan pernah berakhir sampai kapanpun.


Aku menyayangimu san ucapnya dalam hati.



Susan Anggraini


__ADS_1


Aldoanda Sanjaya


Semoga visualnya tidak mengecewakan*.


__ADS_2