
"Weekend kamu ada acara?."
Berbaring di samping Bian, Selsa masih memejamkan matanya. Seperti nya ada rasa tak minat ketika melihat wajah tampan Bian.
"Sa jawab pertanyaanku, Weekend ada acara? Kalau tidak ayo kita habiskan waktu bersama."
Bian jengah, Selsa belum juga menjawab pertanyaan nya. Jangan pernah sebut ia Bian kalau pertanyaan itu sampai saat ini belum terhenti. Bian masih bertanya kepada Selsa untuk weekend, perempuan cantik itu ada acara atau tidak.
"Sa please untuk kali ini aja kamu jangan bikin emosi aku tersulut. Aku tanya kamu baik-baik loh ini."
Selsa bergerak merenggangkan ototnya, mengusap kedua matanya sebentar lalu mengalihkan perhatiannya kepada Bian yang ada di samping nya.
"Memang kenapa kalau aku tidak ada acara?."
"Aku akan ajak kamu jalan-jalan,"
"Maaf aku ada jadwal dengan kekasihku, pergilah dengan Yumi. Bukan kah dia calon Istrimu?."
Bian mendengus di samping Selsa. Tangan Bian mengarah ke tubuh Selsa, dilingkarkannya pada perut ramping Selsa. Perempuan itu memekik kala Bian menarik tubuh nya yang semakin menempel dengan Bian.
"Lepas Bian! Apa yang kamu lakukan? Jangan macam-macam dengan ku, atau aku akan teriak." Ancam Selsa takut.
Saling berhadapan dengan jarak yang sangat dekat, Bian tersenyum. Manis sekali sehingga membuat Selsa tertegun di tempatnya. Tangan Bian tak lagi melingkar di perut Selsa, diarahkan ke sisi wajah Selsa yang belum terpoles Make up sama sekali. Bian mengusap pipi gembung Selsa berarah ke surai Blonde Selsa.
"Pegang kata-kata ku Selsa! Aku tidak akan pernah menyentuh kamu sebelum janji suci itu terucap dari bibir ku. Kalau aku mau, semalam aku bisa saja menerkam mu, tapi seribu kali aku berfikir kalau itu akan menyakiti kamu. Dan pada akhirnya kamu akan meninggalkan aku untuk kedua kalinya." Pelan nan lembut, kalimat Bian baru saja menghipnotis seorang Selsa yang keras kepala.
"Selsa- kamu tidak usah takut denganku. Bukan nya dulu kita pernah bersama? Kamu cukup tau seperti apa aku, tiga tahun kita bersama Selsa dan aku rasa waktu itu cukup buat kamu paham tentang aku."
Selsa tercenung. Matanya memerah menatap Bian yang juga menatap nya. Selsa hanyut oleh sorot mata Bian. Selsa tidak bisa jika terus-terusan di tatap Bian seperti ini. Namun Selsa kembali mengingat seperti apa hubungan nya dulu berakhir, karena apa hubungan nya dulu berakhir dan siapa yang membuatnua berakhir. Selsa mengingat nya dan tidak akan mudah melupakan itu semua.
"Ya aku tau kamu seperti apa. Kamu Bajingan Bian! Suka meniduri Perempuan manapun lalu habis itu membuangnya. Aku tidak percaya dengan kata-katamu tadi, bisa saja kamu nanti menjebakku dengan seribu cara. Buktinya sejak pertemuan pertama kita, kamu selalu saja bertanya berapa harga ku semalam. Itu bukti yang cukup menurut aku, bukti kalau kamu itu laki-laki brengsek."
Bian lagi-lagi tersenyum. Wajah nya mendekat ke wajah Selsa, disatukan kening keduanya. Selsa merasakan hangatnya hembusan nafas Bian.
"Perc-"
"Sudahlah Bian. Semuanya terasa sia-sia! Mau kamu mengembalikan semuanya seperti dan dengan cara apapun aku tetap teguh dengan keputusanku. Aku tidak akan kembali bersama kamu."
Hati Bian seketika lepas dari tempatnya. Dengan jarak sedekat ini, ia juga merasakan hembusan nafas pasrah dari seorang Selsa. Tangan nya masih bertengger di pipi Selsa dengan satu jarinya yang mengusap pipi polos itu.
"Sebesar itu rasa benci kamu terhadapku? Apa tidak ada kesempatan satu kali lagi untuk kita bersama? Cukup dan berhenti untuk menyiksa aku Selsa, aku ingin bahagia dan itu bersama kamu."
__ADS_1
Selsa menutup matanya. Menikmati usapan jari Bian di pipi nya, "Aku tidak menyiksa kamu Bian. Kamu yang menyiksa diri kamu sendiri dengan terus berharap bisa kembali pada ku. Apa yang kamu harapkan dari ku? Yang ada aku malah membuat kamu malu."
Kata-kata yang selalu diingat Selsa, Selsa cuma buat kamu malu Bian! Sedangkan aku-, aku tidak akan pernah buat kamu malu. Aku juga bisa memberikan apapun yang kamu mau. Selsa membuka matanya, Ia melihat Bian masih menatap mata nya yang tadi terpejam.
"Kamu tidak pernah membuat aku malu. Kata siapa-, kata siapa Selsa? Aku tidak pernah berkata kalau kamu membuat ku malu."
Selsa tertawa getir, Kata kekasih oh ralat, Selingkuhan kamu dulu.
"Aku mohon sama kamu, Berhenti perduli sama aku Bian. Aku tidak bisa terus-terusan seperti ini. Bagaimana pun hidupmu dan Hidupku terus berjalan. Kamu maupun aku tidak bisa terus berhenti dititik yang seperti ini. Mari mulai semuanya, aku dan kamu sebagai Teman. Sahabat."
Bian menggeleng di tempat nya. Selsa melihat mata Bian juga memerah, mungkin laki-laki itu menahan tangis. Kali ini saja, Selsa tanpa ragu meletakkan tangan nya di rahang kokoh Bian. Sama seperti yang Bian lakukan, Selsa mengusap rahang kokoh itu menuju pipi rata Bian.
"Makannya kamu berhenti menyiksa diri kamu sendiri. Percuma Bian, cara kamu yang seperti ini tidak akan mengembalikan semua nya. Aku tahu seperti apa kamu, Tolong jangan pernah tunjukin sisi Lemah kamu dihadapan aku."
Bian menjauh kan kening nya dari Selsa, menunudukkan kepalanya tak lagi menatap manik mata Selsa. Punggung nya bergetar, kalimat Selsa yang membuatnya seperti ini. Kalimat Selsa yang membuatnya menangis dan juga tentunya Selsa juga membuatnya seperti ini.
Selsa tak tega, di pelukanya Bian. Selsa janji ini untuk yang terakhir.
"Berhenti ya Bian." Lirih Selsa pelan. Suaranya bahkan bergetar. Dan untuk pagi ini kedua nya kembali tenggelam dalam tangis, mengingat pertemuan juga pertengakaran hebat mereka beberapa tahun yang lalu. Namun suasana itu rusak karena dering ponsel Bian yang menggema. Menampilkan nama perempuan yang dijaga hatinya juga oleh Bian. Selsa sadar? Maka dari itu ia menarik tangannya kembali. Ia bodoh, kenapa harus memeluk laki-laki itu? Bukankah ini menambah rasa harap antara keduanya?.
Nadia.
-
-
-
Laki-laki bertubuh besar juga botak itu mengangguk paham. Mendengarkan ucapan Bos-nya dan memahami setiap perintah yang diberikan untuknya.
"Baik. Nampak nya itu bukan hal yang sulit, beri aku duapuluh Juta. Kirim ke rekeningku, aku akan memberimu informasi lengkap tentang Selsaniva Kania."
"Sialan kamu. Belum juga bekerja sudah meminta bayaran."
"Kalau kamu tidak mau ya sudah. Aku per-,"
"Fine! Siang ini ku transfer ke rekening mu. Puas?."
"Sangat Puas Nona."
Perempuan itu tersenyum licik. Ia menjalankan peran nya dengan bagus dan sebentar lagi ia akan menghancurkan Selsaniva Kania, orang yang menurutnya sombong, semena-mena dan patut di permalukan.
__ADS_1
-
-
-
Seperti janjinya waktu itu, Weekend telah tiba. Bian menepati janjinya, mengajak sang Mantan untuk mencari hiburan di luar. Terlepas dari aktivitas pelik yang mereka berdua lalui, hari ini keduanya ingin bersenang-senang menikmati suasana ibu kota yang cerah ini.
Mengenakan jeans berwarna Navi juga atasan floral dengan pundak model Sabrina, Selsa menemui Bian dengan wajah yang teramat datar. Pasalnya, acara Weekend ini adalah paksaan dari seorang Fabian. Ditempatnya laki-laki itu terkekeh melihat ekpresi flat Selsa.
"Sudahlah jangan memasang tampang seperti itu, aku tahu nanti kamu akan menikmati jalan-jalannya."
Bian tanpa ijin menarik tangan Selsa menuju basement Apartemen. Selsa tak berontak, hanya pasrah ketika tangan nya ditarik.
"Seharusnya kamu pakai kemeja saja,"
Keduanya sudah berada di mobil, perlahan Fabian melajukan mobilnya meninggalkan pekarangan Apartemen.
Selsa menggernyit, "Masalahnya dengan kamu?."
"Masalah karena kamu memamerkan pundak kamu."
Selsa menghembuskan nafas jengah nya, "Please Fabian, untuk kali ini kamu jangan ajak aku debat! Gara-gara pakaian saja kamu permasalahkan?."
Fabian tetap mengoperasikan setirnya, sambil terkekeh tangannya diarah kan ke tangan kanan Selsa. Sembari menyetir dengan tangan Kanan, tangan kiri nya menggenggam tangan Selsa.
"Iya untuk kali ini aku tidak mempersalahkan."
Tidak nyaman- Selsa mengalihkan perhatiannya, menatap lurus pada objek yang ada didepan mobil. Sedangkan Fabian masih mengoperasikan mobilnya menuju sebuah Taman yang akhir-akhir ini Viral dan banyam dikunjungi khayalak ramai. Mobilnya berhenti pada tepi jalan raya. Fabian maupun Selsa meninggalkan tempatnya. Berjalan menuju Taman yang dipenuhi berbagai macam bunga.
Tanpa persetujuan sang empu, Fabian menggandeng tangan mungil milik Selsa. Memasuki kawasan Taman, membeli tiket untuk bisa menikmati lebih dalam dan mencari apa ada yang menarik di Taman tersebut, Keduanya sudah mendpaatkan dua Tiket. Selsa sengaja tak memberontak atau melakukan perlawanan, ia tak mau merusak acara Weekend nya bersama Fabian. Ia menghormati cara Laki-laki itu untuk membuatnya senang.
"Kita akan berkeliling di Taman ini. Dan aku akan mengambil gambar mu sebanyak mungkin."
"Jangan lebay, cukup berkeliling saja. Aku tidak akan mengijinkan mu mengambil gambar ku." Ujarnya datar.
Fabian terkekeh gemas, kedua pasang kaki itu tetap menelusuri Taman Bunga yang sangat indah itu. "Tanpa persetujuan atau tidak darimu, aku akan tetap memotretmu diam-diam."
"Kalau begitu lepaskan tangan ku. Aku sudah berbaik hati dengan membiarkan kamu menggenggam tangan ku. Dasar tidak tahu diri,"
Bukannya marah atau apa, Fabian tetap menunjukkan kekehan gemasnya. Namun Laki-laki itu tak melepaskan tautan tabgannya barang sedetik pun. Tangan itu masih setia menggenggam erat tangan Selsa yang lembut.
__ADS_1
"Hilangkan perdebatan kita untuk hari ini. Aku ingin mengajak mu berdamai barang sehari. Kita nikmati Weekend ini dengan santai, setelah itu esok terserah dengan mu."
Selsa mencibik sebal, namun sedetik ia menyetujui nya. Tetap berkeliling mengitari area Taman Bunga. Dengan harap tak ada yang mengganggu, perkiraan Fabian maupun Selsa salah. Kegiatan Weekend mereka harus terganggu karena kedatangan seseorang yang mampu menghancurkan mood salah satu diantara Fabian maupun Selsa.