My (Ex) Boyfriend

My (Ex) Boyfriend
Tiga puluh delapan


__ADS_3

Langkahnya beberapa kali terhenti. Dalam hati merapal banyak kata, dirinya bersugesti kalau hal buruk tidak akan pernah terjadi. Tubuh statisnya sedikit membeku dan matanya melirik kearah belakang, tidak ada siapa-siapa, kepalanya menggeleng mengusir pikiran aneh lantas melanjutkan berjalan.


Walaupun siang hari, jalanan sekitar gedung tua yang usang itu agak sepi dan sepertinya jarang ada pengendara melintasi daerah ini. Selsa mempercepat langkahnya untuk sampai gedung tua yang usang, hari ini seseorang mengiriminya pesan singkat, kalau Selsa ingin tahu siapa penerornya selama ini Selsa disuruh datang ke gedung itu.


Gedung tua sudah ada dihadapannya sekarang. Selsa mengamati sekitar gedung dengan sedikit ancang-ancang jika terjadi sesuatu, tegukan ludahnya terdengar ketakutan, atmosfer terlihat sangat mencekam. Perlahan langkahnya memasuki lantai dasar gedung, membuka pintu yang dihinggapi beberapa sawang.


Pertama kali yang ditemukan adalah aroma debu yang menyeruak penciumannya hingga perempuan itu terbatuk beberapa kali. Pelan-pelan langkahnya melebar menelusuri ruangan yang dipenuhi barang-barang bekas yang sudah usang.


"Permisi, ada orang disini?" Teriak Selsa kecil hingga pantulan suaranya terdengar.


Tak ada sahutan, Selsa menelisik setiap sudut ruangan dengan hati yang berdebar. Atau jangan-jangan dirinya dijebak? Tanyanya dalam hati. Matanya membelalak, pasti, ini pasti dijebak. Untuk itu langkahnya kembali menuju pintu yang sedikit terbuka, sebelum tangannya meraih gagang pintu, kayu kotak nan kokoh itu tertutup tanpa diminta. Jantung Selsa semakin berdebar tak karuan, pancaran matanya begitu ketakutan.


"Hei buka! Tolong buka pintunya!" Teriak Selsa menggedor-gedor pintu dari dalam.


"Bagaimana ini? Astaga kenapa aku tidak berpikir sejauh itu sih?" Makinya pada dirinya sendiri.


Rasa panik menggelayuti Selsa, tubuhnya mondar-mandir mencari ide bagaiamana caranya keluar dari gedung ini. "Pikir Selsa, ayo berpikir bagaimana caranya keluar dari sini." Gumamnya pelan.


Demi apapun ruangan ini sama sekali tidak ada ventilasi dan semacamnya, hanya ada dua pintu; satu pintu yang dilalui Selsa dan satu pintu lagi yang belum Selsa sadari. Jadi bagaimana Selsa harus keluar? Dirinya sudah terjebak dalam ruangan sialan ini.


"Hei siapapun tolong! Buka pintunya!" Teriak Selsa lagi tak kalah keras.


Ah ia baru ingat! Ia kan membawa ponsel, jadi ia bisa minta tolong dengan siapapun. Tangannya cekatan merogoh ponsel yang ada dalam tas jinjingnya, mencari beberapa nama yang sekiranya Selsa kenal. Tunggu-tunggu, kenapa jaringannya justru tidak ada? Sial, Selsa benar-benar terjebak.


Tubuh Selsa membeku seketika mendapati sebuah suara sapaan yang mengerikan. Pelan namun mematikan dan Selsa sampai saat ini belum berani menoleh kebelakang.


"Selamat datang Selsa, bagaimana kabarmu?"


Semaunya baik-baik saja Selsa, itu pasti hanya orang jahil.


"Sudah siap untuk mati Selsa?" Desisnya kejam.


Selsa membalikkan badan ketika mendengar pertanyaan gila dari orang yang ada dibelakangnya. Netranya menemukan seorang, yang ia yakini perempuan, mengenakan masker juga jaket berkupluk dan yang Selsa lihat hanya sorot mata perempaun itu.


T-tunggu, sorot mata itu.


"Bagaimana rasanya dicampakkan?"


"M-maksudmu?"


Pelan-pelan langkahnya mendekat dan Selsa semakin mundur. "Aku tidak suka basa-basi, Fabian mengabaikanmu kan sekarang? Untuk itu mari berpesta dengan air mata Selsa, mau kutemani?"


"Jangan sok tahu, Siapa sebenarnya dirimu?" Tanya Selsa ketus.


"Penasaran dengan diriku? Sebentar lagi juga akan tahu."


"Buka pintunya sekarang dan aku akan pergi, berada disini membuang waktuku saja."


Selsa semakin ketakutan, perempuan licik itu semakin mendekat dan Selsa tidak tahu harus menghindar kemana lagi.


"Aryo!" Teriak perempuan itu hingga beberapa lelaki berbadan kekar, sekitar lima orang, berdiri dibelakang Selsa.


"Ikat Selsa dikursi itu," tunjuknya pada sebuah kursi yang diatasnya ada beberapa tali rami.


"Baik bos." Hanya tiga lelaki yang menghampiri Selsa dan menyeret Selsa kasar menuju kursi yang ada disudut ruangan.


Selsa memggeleng ketika lelaki berbadan kekar menghampirinya, "Lepaskan, lepaskan ****." Teriak Selsa meronta.


"DIAM." Bentak ketiga lelaki itu.


"Aku tidak mau, lepaskan."


Selsa diikat kencang dikursi. Dengan lelaki itu yang sudah kembali kebelakang bosnya, Selsa meronta agar bisa terlepas namun nihil. Ikatan sangat kuat dan tenaga Selsa tak seberapa.


"Apa mau kamu? Tolong lepaskan aku."


"Bukannya aku sudah memperingatimu untuk menjauhi Fabian? Jangan merasa paling dicintai Fabian Selsa, nyatanya masih ada seseorang yang dicintai Fabian lebih dari apapun."


Selsa bisa menyimpulkan. Apa benar itu Nadia? Bukankah perempuan itu selalu terlihat baik ketika Selsa memakinya? Tapi kenapa kali ini perempuan itu sangat kejam dan licik?

__ADS_1


"N-nadia? Ini kamu kan Nadia?" Tanya Selsa berkali-kali, "Nadia tolong lepaskan aku." Pintanya tak digubris.


Perempuan itu menoleh pada sang pesuruh.


"Mad tolong ambilkan pisau yang kuletkkan dimeja belakang, sekarang." Ujarnya memerintah, seornag lelaki agak pendek mengangguk menurut.


"T-tolong lepaskan aku. Jangan meyakitiku, aku mohon."


Mata tajamnya membisukan Selsa, "Diam atau kurobek mulutmu." Katanya ketus.


"Ini bos."


Perempuan itu mendekat pada Selsa, dengan pisau super tajam yang sudah diasah beberapa kali. Selsa menggeleng memohon, untuk kali ini jangan sampai dia mati sebelum Fabian memaafknnya.


-


-


-


-


"Cepat Mina, temanku mengetahui dimana keberadaan Selsa."


Vano berteriak keras. Salah satu temannya mengatakan kalau Selsa tengah dalam keadaan bahaya, untuk itu Vano menjelaskan pada Mina dan mengajak Mina mencari Selsa.


"V-van ayo, a-aku tidak ingin Selsa kenapa-kenapa."


Vano menganguk, menggandeng Mina menuju mobil dan melajukannya dengan kencang. Lokasi yang dikirim Andre, sangat jauh dari rumah Vano, untuk itu Vano melajukan mobilnya diatas rata-rata.


"Astaga kenapa Selsa bertindak bodoh Mina? Padahal aku tahu Semalam dia sedang bertengakar dengan Fabian? Kamu juga kenapa tidak mengajak Selsa ke rumah Mina?" Katanya dengan tangan yang sibuk mengoperasikan stir mobil.


"Selsa marah dengan Kita Van, dia tahu kalau aku dan kamu menghampiri Nadia," jelas Mina.


Kepalanya menoleh, "Maksud kamu?" Tanyanya pada Mina.


"Fabian marah karena Fabian kira yang memaki-maki Nadia adalah Selsa, padahal itu aku Van."


"Dan dari mana kamu tahu kalau Selsa sedang bertengkar dengan Fabian, Van?" Tanya Mina.


"Semalam dia pergi ke kelab, entah dengan siapa, aku menemukan Selsa mabuk berat. Minum Vodka, jadi Fabian langsung saja kuhubungi." Jawab Vano.


"Ya ampun Selsa, sudah tahu sensitif dengan Alkohol tapi masih saja."


Mobil Vano tetap melaju kencang. Perasaan sepasang suami istri itu sama was-was dan khawatir jika Selsa diapa-apakan. Emosi Vano tersulut ketika jalanan ikut andil dalam kepadatan dan dikekang lampu merah berkali-kali. Butuh waktu dua jam untuk sampai disana, dan belum lagi jalanan yang super macet.


Hiruk pikuk kendaraan saling membunyikan klakson didengar Vano dan Mina hingga perbatasan kota yang akan dikunjungi. Mobilnya memasuki area jalanan yang sepi pengendara, mencari-cari dimana letak gudang tua yang dimaksud. Sesekali Vano dan Mina mengamati ponsel yang menunjukkan lokasi.


"Itu disana, ayo Vano! Selsa pasti disana." Tangan Mina menunjuk bangunan tua.


"Sst hati-hati Mina! Aku akan menghubungi teman-teman Andre untuk meminta bantuan. Kamu di mobil saja, aku yang-"


"Tidak bisa Vano, aku ingin menyelamatkan Selsa." Sela Mina cepat.


"Aku tahu Mina, tapi tolong jangan macam-macam. Ini bukan wilayah kita dan ini sangat berbahaya untuk kamu."


"Tetap tidak bisa, aku akan kesana sendiri kalau kamu tidak mau."


Vano sehati-hati mungkin meletakkan mobilnya agar tidak terlihat siapapun, dibalik pohon besar yang kiranya jauh dari sana. Namun bibirnya masoh saja menyahuti perkataan snag istri.


"Fine!! Kamu boleh kesana asalkan bersamaku."


-


-


-


-

__ADS_1


Perempuan itu berjongkok didepan Selsa yang sudah menangis. Ini tidak seperti penculikan yang sering Selsa tonton di televisi, Selsa tidak dibekap hanya diikat tangannya. Dengan perempuan didepannya itu mengarahkan pisaunya mengitari wajah Selsa.


Senyum licik perempuan itu terbit dibalik masker yang dikenakan. Tak butuh banyak tenaga untuk menangkap Selsa, perempuan bodoh itu dengan sendirinya menyerahkan diri.


Sebentar lagi Selsa, sebentar lagi aku akan menghancurkan wajahmu agar Fabian tak sudi lagi melihatmu.


Hatinya kembali terbakar mengingat perasaan yang tak terbalaskan. Alasan perasaan tak terbalasnya adalah seorang Selsa, si cupu yang patut di musnahkan. Cupu yang tak pantas disandingkan dengan Fabian.


"Kalau kamu berani berteriak, aku tidak segan menggores wajah cantikmu dengan pisauku. Aku tidak main-main dengan ucapanku Selsa."


Selsa tak bisa berbuat apa-apa, bergerak sedikit saja pisau itu pasti akan melukai bagian wajahnya. Tangisnya semakin mendera dengan isakan kecil, sedangkan perempuan dihadapannya tanpa belas kasih itu melemparinya sorot kepuasan.


"Bos gawat, ada orang yang datang."


Mata perempuan itu membelalak, menatap tajam Selsa yang masih ketakutan ditempatnya.


"Ini pasti ulahmu kan? Kanu sengaja membawa beberapa teman untuk menangkapku? Tidak semudah itu Selsa! Aryo buka pintu belakang, siapkan mobil dan kita bawa perempuan ini jauh-jauh." Pintanya pada salah satu pesuruh.


"Tidak bisa bos, kita sudah dikepung."


Terimakasih Tuhan, tapi siapa mereka?


Perempuan licik itu mengomando beberapa pesuruh untuk melepaskan ikatan Selsa.


"Baiklah kalau itu mau kamu Selsa! Kamu sudah berani membawa beberapa teman dan itu artinya aku akan menyakitimu, bersiaplah."


"T-tolong jangan! Aku tidak tahu siapa mereka." Lirih Selsa.


"Ingin mengucapkan apa sebelum aku menggores wajahmu?"


"Jangan," Selsa menggeleng kuat hingga perempuan itu menariknya. Mencekal leher Selsa dengan lengannya dan mengarahkan pisau disana.


Pintu terdorong kuat hingga terlepas dari tempatnya. Beberapa orang berbaju hitam mulai melancarkan aksinya untuk menyelamatkan tuan puteri dari sandraan penyihir.


"Sial, ayo ikut aku." Ujarnya menyeret Selsa yang masih dicekal lehernya.


Selsa menggeleng kuat, kedua tangannya digunakan untuk melepaskan lengan perempuan itu yang bertanggar dilehernya. "Tidak, lepaskan!" Pekik Selsa.


"Kamu bergerak, aku akan bernar-benar menyayat lehermu." Ancamnya yang berhasil membuat Selsa diam.


Hingga salah satu pesuruh dari perempuan itu maju dan memulai aksi berkelahi dan diladeni teman-teman Vano.


"Kalian mendekat aku akan menghabisi perempuan ini." Ancam perempuan itu yang melihat Beberapa pseuruh masih mencoba mengambil Selsa.


"Tolong lepaskan Selsa."


Vano dan Mina muncul dari balik pintu. Wajahnya pucat melihat Selsa seperti itu, apalagi Mina. Keduanya sulit sekali mengenali peneror karena hanya meluhat sorot mata saja.


"Wah pahlawan kesiangan datang. Tidak sekalian mengajak Fabian?"


Selsa yang menutup mata sayup-sayup mendengar suara Mina dan Vano, iya juga sesekali membuka mata walau tak lebar dan menemukan dua objek yang ia kenal.


"Jangan banyak bicara, lepaskan Selsa sekarang juga." Gertak Vano yang maju beberpaa langkah. Beda dengan Mina yang sepertinya syok.


"Vano berhenti disana! Aku akan menyayat leher Selsa kalau kamu mendekat." Ancamnya semakin memundurkan langkah.


"Argh! Apa mau kamu? Kalau yang kamu inginkan uang, aku akan mengirimkanya dalam jumlah banyak." Teriak Vano menggebu-gebu.


"Aku tidak butuh uang. Yang aku mau hanya perempuan ini mati."


Hingga perempuan itu merasakan punggungnya dipukul sesuatu, cekalannya terlepas dan tanpa sengaja pisau menyayat leher Selsa hingga perempuan itu memekik. Darah segar mengucur melintasi leher Selsa, merambah ke kemeja warna putih yang dikenakan. Tangan Selsa otomatis menyentuh lehernya yang tersayat. Selsa lemas, terhuyung dan Vano cekatan menangkapnya.


Selsa takut melihat darah sebenarnya, untuk itu matanya seketika tertutup dan bibirnya meringis kesakitan.


"Sa ini aku dan Mina."


Perlahan Selsa benar-benar menatap keduanya. Tangisnya kembali pecah sekaligus menahan rintihan kesakitan, ini benar-benar Vano dan Mina? Selsa bersyukur, setidaknya ada orang yang mau menyelamatkannnya dari perempuan licik entah siapa.


"Tolong besihkan semuanya, aku akan membawa Selsa ke rumah Sakit."

__ADS_1


Selsa dipapah Mina juga Vano menuju mobil yang sialnya terletak agak jauh dari tempat kejadian. Seiring perjalanan menuju rumah sakit, Mina maupun Vano tak henti-hentinya memberikan asupan kalimat pada Selsa agar perempuan itu tak terpejam. Agar perempuan itu tetap membuka mata dan menangis kesakitan. Karena Mina jauh lebih takut jika Selsa memejamkan mata dan merintih diam-diam, itu jauh lebih tersiksa.


Dan yang jadi pertanyaan Vano dalam hati, kemana Fabian disaat Selsa seperti ini? Tidak adakah usaha mencari tahu keberadaan Selsa? Vano tahu Fabian bukan orang bodoh, Vano tahu Fabian setiap hari mengikuti kemanapun Selsa pergi walau keduanya sedang tak baik-baik saja, dan rasanya Vano juga tahu kalau Fabian mengetahui Selsa sedang tidak baik-baik saja. Lantas kenapa tidak mencoba untuk sekedar menolong dan memberitahu Vano untuk menyelamatkan Selsa? Kenapa Vano harus tahu dari Andre yang notabennya tidak begitu dekat dengan Vano?


__ADS_2