My (Ex) Boyfriend

My (Ex) Boyfriend
Lima Puluh


__ADS_3

Silir angin malam menerbangkan beberapa helai anak rambut yang tidak beraturan, menenangkan jiwa namun membuat diri menggigil kedinginan juga mengeringkan air yang meleleh dari mata mereka.


Setelah tangisan hebat mereka, keduanya memutuskan untuk menyudahi suasana sendu dengan saling menggenggam satu sama lain. Kemudian sang lelaki memeluk si perempuan dari samping dan menyandarkan kepala si perempuan dengan nyaman di pundaknya, sesekali menyusup dicelah lehernya yang hangat.


Fabian dan Selsa, mereka sama kalutnya dan juga emosi. Penyamapaiannya tidak wajar, hanya saling menggenggam, menangis dan memberikam dekapan hangat.


Sedangkan si anak Wardhana sedari tadi hanya mengeluarkan wacana mengingat beberapa hal bodoh yang pernah dilakukan. Tangannya tak mau diam, mengusap pundak kecil itu dengan sayang juga tangan lainnya di pergunakan untuk mengusap pipi Selsa pelan-pelan.


"Kalau dilihat dan dirasakan, kita berdua cukup egois ya," katanya lirih, seulas senyum sendu ditampakkan walau singkat.


"Kita egois karena ingin mempertahankan satu sama lain, kita egois untuk melawan semua praduga yang ada dipikiran kita, aku egois juga karena aku ingin kamu tetap disampingku, Sa."


Selsa masih belum bisa bersuara, semuanya terjadi tiba-tiba. Fabian pergi bersama Nadia dan sekarang kembali hanya untuk memberi warta tentang lelaki itu yang ingin menikahi Nadia. Sinting, ini sangat sinting.


"Sungguh, aku merasa aku adalah lelaki paling bodoh yang pernah ada. Aku melepaskan perempuan setulus kamu, setelah itu baru menyesalinya. Coba ingat saat kamu mabuk dan aku mengguyurmu dibawah air dingin," matanya menerawang jauh kedepan sana, tatapannya kosong namun bibirnya masih mengucapkan wacana.


"Sebenarnya aku tidak tega, tapi melihat kemarahan yang kamu lampiaskan dengan minum aku jadi semakin kalut."


Netranya dipaksa melihat Selsa yang masih bersandar nyaman di pundaknya. Tangannya berganti mengusap lembut rambut yang nampaknya sudah pure hitam, sejak tak bersamanya, dikecupnya pucuk kepala Selsa cukup lama.


"Sa, mari memperjuangkan hak kita. Mari memperjuangkan kembali relasi kita," ajaknya membuat Selsa tersentak.


Mata merah dan membengkan itu menatap Fabian penuh pertanyaan. Apa maksud lelaki ini mengajaknya memperjuangkan semuanya, bukankah katanya tadi ia akan menikahi Nadia?


Tatapannya sangat memohon serta kedua tangannya menggenggam erat tangan mungil Selsa, "Setelah ini aku akan menemui Renald. Aku akan membawanya kesini dan memaksa dia untuk menikahi Nadia, dengan itu aku bisa hidup bersama kamu."


"Tidak semudah itu Fabian. Nadia pasti tidak mau, sudah ku bilang sebelumnya, dia mencintai kamu Fabian." Selsa menghapus paksa air mata yang tidak sengaja jatuh, perempuan itu menggeleng singkat bahkan suaranya sudah seserak ini.


"Sekarang aku tidak perduli Selsa, aku sudah lelah dengan semuanya, aku hanya ingin kamu. Itu saja." Pekik Fabian frustasi.


Hembusan nafas lelah berkali-kali Fabian tampakkan. Lelaki itu benar-benar kacau dan hampir gila, masalah yang begitu rumit membuat otaknya sulit sekali berpikir positif.


Ditengah aktivitasnya yang saling bertukar wacana yang bagaimana cara keduanya bertahan dan bisa bersama, serta silir angin malam yang selalu ikut menyeruakkan, pekikan dari pintu belakang rumah Vano terdengar nyaring.


"FABIAN, SELSA!"


Keduanya mengalihkan pandangan mereka pada pintu belakang rumah Vano, menampilkan perempuan yang tengah dibicarakan. Dengan penampilannya yang setengah rapih, wajah menahan amarah juga tangan terkepal erat, perempuan itu sedikit berlari menghampiri Fabian dan Selsa.


Tanpa aba-aba perempuan itu menarik tangan Selsa yang digenggam Fabian hingga terlepas, dengan satu sentakan-


Plak!


Tamparan yang didapatkan beberapa hari lalu terulang kembali. Kali ini lebih keras dan rasa panas juga perih menjalar sampai sekujur tubuh. Emosinya yang sudah teredam kini kembali mencuat sampai ubun-ubun. Begitupun perempuan gila yang ada didepannya.


Sedangkan si anak Wardhana seketika terkejut meliha itu. Tindakan tiba-tiba yang membuat Selsa menahan rasa sakit yang menjalar kemana-mana, Fabian tidak bisa terus berdiam diri.


"NADIA APA YANG KAMU LAKUKAN?" Pekik Fabian lantas menjauhkan Selsa dari jangkauan Nadia.

__ADS_1


"Keparat kalian, Sialan kalian. Selsa bukannya kamu sudah bilang untuk menjauhi Fabian? Bukannya kamu bilang tidak akan sudi kembali dengan Fabian dan kamu sudah tidak perduli lagi padanya, tapi kenapa kamu berbuat ini dibelakangku?" Tatapan Nadia begitu tajam, dengan rengekan serta air mata yang sudah mengalir deras perempuan itu seolah berakting didepan Fabian.


"Kamu juga Fabian, bukannya kamu juga sudah berjanji untuk meninggalkan Selsa? Bukannya kamu sudah berjanji untuk hidup bersamaku dan membantuku sembuh dari penyakitku? Mana janji kamu?"


"Nadia tolong tenangkan dirimu. Jangan menggunakan kekerasan seperti ini, aku bisa menjelaskannya."


Nadia semakin brutal, mencoba meraih Selsa dan seakan ingin mengacak-acak ataupun menghancurkan wajah perempuan itu saat ini juga. Fabian juga sampai rela berada ditengah-tengah keduanya untuk memisahkan Nadia supaya tidak menerjang Selsa.


"Nadia berhenti, jangan seperti ini atau aku akan meninggalkanmu."


Ucapan itu bagaikan mantra. Nyatanya Nadia seketika berhenti dan mandang kosong Fabian, seolah tinggal karangka tubuhnya saja yang berdiri disana.


"Kamu ini apa-apaan, kenapa menampar Selsa seperti itu? Nadia aku tidak suka dengan sifat kamu yang seperti ini,"


Sedangkan Selsa masih menundukkan kepala dengan tangan memegangi pipinya yang perih. Sialan, Nadia segila ini.


"Kalau kamu menjauhi Selsa aku tidak akan berbuat seperti ini, Fabian. Mana janji kamu yang ingin meninggalkan Selsa, jangan kira aku tidak tahu selama ini kamu mengirim bunga untuk mantan kekasihmu itu."


"Aku memang mengirim bunga untuk dia Nad, apa itu salah? Aku bersamamu bukan berarti aku mencintaimu, aku hanya menganggapmu sebagai adikku saja."


"Tapi aku mencintai kamu Fabian," teriak Nadia membuat Fabian tercengang.


Jadi benar selama ini apa yang dikatakan mereka, Selsa, kalau Nadia mencintainya? Astaga ini lebih rumit dari apapun.


"Jangan pernah mencintai aku, karena kamu sudah tahu jawabannya. Aku selalu mencintai Selsa, Nadia." Jujur Fabian membuat perempuan bernama Nadia kembali dilingkupi emosi.


Firasat Fabian tidak enak, praduganya kalau Nadia tengah kambuh sekarang.


"Sialan, minggir! Biarkan aku menghancurkan wajahnya."


Ini bahaya, Selsa merasa Nadia sudah berada dibatas Normal karena berbicara seperti ini. Peerempuan itu melirik sebentar Nadia yang seperti orang kesetanan ingin mengacak-acak wajahnya.


Begitu sekali sentakan Fabian terpental akibat dorongan Nadia, Selsa begitu ketakutan ketika langkah Nadia semakin mendekat.


Perempuan itu gila, sangat gila, tawa licik terbit diwajahnya semakin membuat Selsa ketakutan. Ketika langkah Nadia semakin dekat, Selsa otomatis mundur dan mengambil ancang-ancang untuk pergi.


Fabian berusaha bangkit namun perutnya terlalu sakit akibat tendangan Nadia yang mungkin kencang sekali. Astaga Selsanya.


"Mati kamu Selsa," desis Nadia diiringi tawa jahatnya.


Menjulurkan tangan menarik Selsa, kedua tangannya reflek mencekik leher perempuan itu kuat-kuat.


Keparat, Selsa sulit bernafas. Sedangkan si perempuan gila itu semakin kuat mencekik leher Selsa tanpa ampun.


"Bukannya sudah aku katakan Sa, aku tidak segan-segan menghancurkanmu. Ini akibatnya kalau kamu melawanku."


Selsa semakin tergagap begitu tangan Nadia semakin kencang dilehernya, demi apapun Selsa takut sekarang. Nadia tidak waras, sinting, gila dan harus masuk rumah sakit jiwa. Maniknya yang bersirobok dengan Nadia memberi sinyal kalau pandangan perempuan itu begitu kosong nan hampa.

__ADS_1


"N-n-nadi-a, l-lep-as-kan."


Air mata jatuh dari sudut matanya, wajahnya semakin memerah ketika sulit sekali menghirup udara banyak-banyak. Jika dirinya mati hari ini, orang pertama yang akan dihantui adalah Nadia.


"Lepaskan Nadia, kamu sudah tidak waras." Akhirnya pribadi Wardhana itu berdiri dengan menahan segala kesakitannya, menarik tangan Nadia mencoba untuk melepaskan cekikannya di leher Selsa.


Nadia tetap tidak melepaskan, semakin kuat mencengkeram disana. Sampai ketika sebuah tubuh sengaja membentur Nadia dan membuat pertahanan perempuan itu oleng, cekikan terlepas dan Selsa seketika menghirup pasokan udara dengan serakah. Nadia tegeletak disana, tentu dengan memegangi perutnya yang tadi sakit.


Bahkan rasanya tenggorokan juga lehernya begitu sakit sampai tidak bisa menahan air mata yang kembali jatuh, jantungnya berdetak jauh lebih kencang tidak seperti biasa. Begitupun batuk-batuk yang semakin membuat tenggorokannya perih.


Fabian menahan Selsa yang lemas dan hampir meluruh direrumputan, memeluk perempuan itu dari samping dan mengecek setiap inci wajah Selsa.


"Katakan apa yang sakit,"


Dengan keadaan yang masih terkejut, respon Selsa hanya menggeleng. Namun tangannya mencengkeram erat ujung bajunya hingga kusam. Netranya beralih menatap Nadia yang terkapar dibawah sana.


"Bodoh kenapa tidak menyelamatkan Selsa, Fabian?" Teriak Mina tidka terima.


Mendengar keributan yang berasal dari taman belakang, Mina mengajak Vano untuk memeriksa apa yang terjadi disana. Dan begitu terkejut melihat Selaa yang hampir saja dibunuh Nadia, Mina melihat jelas bagaimana Selsa menangis dan sulit menghirup udara.


"Aku barus saja ditendang Nadia dan itu sakit sekali Mina, aku sudha mencoba menyelamatkan Selsa tapi rasanya tenagaku semakin terkuras dan Nadia begitu kuat."


Mina tak mendengarkan alasan Fabian, perempuan itu menghampiri Selsa diikuti Vano dibelakangnya, "Sa, are you oke?"


Perempuan itu masih belum mau bicara, hanya mengangguk dan sesekali menyentuh lehernya yang masih terasa jeratan Nadia. Hampir, hampir saja dirinya mati dibunuh Nadia.


"Bawa Nadia pergi dari sini, Fabian! Jangan pernah lagi temui Selsa apapun alasannya," larang Vano keras.


Fabian tidak terima, digenggamnya erat lengan milik Selsa seolah tidak mau melepaskan. "Tidak bisa Van, aku tetap akan bersama Selsa."


"Lantas Nadia bagaimana bodoh? Lelaki plinplan sepertimu memang harus diberi pelajaran,"


Tubuhnya kembali terpental ketika tangan Vano memberi sapaan pada pipinya yang tirus. Fabian dengan bodohnya tidak mencoba untuk melawan, lelaki itu masih diam mengusap sudut bibirnya yang berdarah.


Ketika pukulan kembali dilayangkan, sebuha tangan menahan pergerakan Vano hingga lelaki itu menghentikannya. Selsa berdiri dibelakang sana, menggeleng ketika Vano ingin kembali memukul Fabian.


"Lelaki seperti ini masih kamu lindungi Sa? Ingat kelakuannya yang tidak pernah melindungimu dengan benar,"


Selsa tak memberi respon, melepaskan tangan Vano dan menghampiri Fabian disana. Membantu lelaki itu agr bisa berdiri sempurna, "tolong bawa Nadia ke rumah sakit, pandangannya sangat ksong tadi." Bisik Selsa dengan intonasi takut.


"Ikut aku ke rumah sakit ya, Sa! Aku mohon!"


Selsa menatap Vano dan Mina sekilas, ketika mereka menggeleng, Selsa justru malah menagngguk menyetujui ucapan Fabian. Mau tidak mau Vano dan Mina harus mengikuti Fabian dan Selsa dengan si gila Nadia ke rumah sakit.


Menyakiti Selsa sekali lagi, aku akanĀ  membuatmu semakin gila Nadia.


Namun ketika Fabian mengangkat tubuh Nadia, mereka semua dikejutkan dengan darah yang mengalir pada kaki Nadia. Mina memekik sempurna, begitupun Fabian dan Vano. Untuk Selaa perempuan itu masih memandang penuh kekosongan, seperti semua terjadi secara tiba-tiba. Perempuan itu terkejut, sangat.

__ADS_1


"D-dia pendarahan."


__ADS_2