My (Ex) Boyfriend

My (Ex) Boyfriend
Empat Puluh Sembilan


__ADS_3

"Dasar anak tidak tahu diri, begini cara kamu membalas jasa orang tuamu? Dengan kamu hamil, aib keluarga semakin bertembah, belum lagi penyakit mental yang kamu derita."


Nafasnya tersendat-sendat. Rentetan kata sukses menyambar hati Nadia, bagai petir di siang bolong. Dirinya tidak tahu jelas maksud kedatangan orang tuanya ke apartemen, setelah itu teriakan memaki dan tidak terima Nadia dengar. Mereka semarah itu, lagi pula siapa sialan yang berani mengatakan ini semua pada orang tuanya, mungkinkah Renald?


Kemungkinan-kemungkinan yang belum tentu terjadi sudah bersarang di otak Nadia. Perempuan itu setengah mati ketakutan ketika melihat orang tuanya selama ini. Tuan Gilbert dan Nyonya Seon, tak pernah barang sekali menunjukkan kelembutan kepada anak tunggalnya itu.


"Jelaskan semuanya sekarang juga Nadia! Aku malu selama ini mendidikmu dan membesarkanmu, kalau akhirnya kamu menjatuhkan nama keluargaku." Ucap Tuan Gilbert sarkas dan penuh emosi.


Bukan, ini bukan mau Nadia, dimarahi juga diteraiki seperti ini. Yang Nadia inginkan Gilbert maupun Seon memperlakukannya dengan baik, walaupun tidak dengan perlakuan, setidaknya cara bicara yang seperti ini. Nadia butuh kasih sayang, Nadia butuh dekapan dan Nadia butuh ajaran untuk hidupnya.


"Maaf Nadia sudah membuat malu Mama dan Papa, Maaf Nadia sudah tidak tahu diri dan Maaf Nadia-"


"Maafmu tidak bisa menghilangkan semua rasa malu Papa dan juga Mama. Aib gilamu sudah menyebar ke rekan kerjaku, sekarang Hamil diluar nikah juga sebentar lagi akan menyebar, dan setelah ini aku menjamin kalau saham perusahaanku menurun dan aku akan bangkrut." Teriak Tuan Gilbert tidak sabaran. Bentakannya keras, tidak menyakiti fisik, namun menyakiti batin anak perempuannya.


Selalu tertekan, semenjak dulu, Distimia yang dialami Nadia juga karena mereka. Hidupnya terlalu suram, benar kata Selsa, terlalu miris dan mengenaskan. Nadia butuh orang-orang yang mampu menguatkannya, tapi yang didapat hanya Fabian saja.


Nyonya Seon tidak bersuara, hening mendominasi, memperhatikan anak perempuannya yang sedang tersiksa akibat ucapan suaminya. Tentu rasa marah ada dalam diri sana, tapi rasa kecewa jauh lebih besar dan mengaburkan semuanya. Nyonya Seon kecewa, kecewa sekali, mengingat salah satu pesuruhnya melaporkan apa yang terjadi dengan Nadia, amarahnya membludak. Beliau tahu bagaimana batin seorang ibu mengetahui hal tersebut.


Tangisnya menggebu sedari tadi, duduk dihadapan orang tuanya, dengan tangan yang saling bertaut untuk menetralkan rasa takut.


"Apa sebenarnya mau kamu, Nadia? Apa sebenarnya yang kamu inginkan supaya tidak terus-terusan mengacaukan hidupku? Aku harus melakukan apa supaya kamu diam dan tidak terus berbuat ulah? Jawab Nadia." Bentak Tuan Gilbert lagi.


Nadia otomatis mendongak menatap Tuan Gilbert dan Nyonya Seon yang berdiri didepannya, dengan air mata yang tak ada hentinya.


"Saya hanya ingin kalian ada disamping saya. Saya ingin kalian tidak sibuk bekerja dan mengesampingkan saya. Saya ingin Mama dan juga Papa berbagi cerita bersama saya setiap malamnya, saya hanya ingin itu." Spontan Nadia menjawab.


Suasana pilu masih bersarang disana, menggema dan melebar disetiap sudut apartemen Nadia. Bahkan rasanya teriakan Tuan Gilbert masih terngiang dan sulit sekali dihilangkan.


Wajah Tuan Gilbert lebih sinis, senyumnya sengaja diangkuhkan, "Kamu mau aku dan Seon terus berada disampingmu? Kamu mau aku dan Seon tidak sibuk bekerja, juga kamu mau aku dan Seon mengutamakanmu? Pikir lagi Nadia, aku bekerja seperti ini demi dirimu. Demi karirmu dan demi kehidupanmu di masa depan."


"Saya tidak butuh karir saya, saya tidak butuh kehidupan saya kedepannya nanti seperti apa saya tidak perduli, yang saya inginkan hanya bersama kalian. Saya butuh kalian." Isak Nadia penuh permintaan. Ia yakin besok tidak akan terbangung dengan keadaan baik-baik saja, matanya sudah terasa emmbengkak dan suaranya serak.


"Berhenti beralibi seperti ini. Aku mohon sekarang juga gugurkan kandunganmu, aku akan mengantarkanmu." Tuang Gilbert selangkah menceka tangan Nadia dan mnariknya paksa.


Nadia menggeleng tidak mau, tubuhnya ia kunci sekuat mungkin agar tidak tertarik oleh Tuan Gilbert yang tenaganya begitu besar. "Tidak, jangan! Tidak, saya mohon jangan gugurkan janin saya!" Mohon Nadia denga racauanya yang sedikit tak jelas.


"Ikut aku atau aku menendang perutmu agar Janinmu mati sekarang juga!" Ancam Tuan Gilbert yang masih tidak didengrkan Nadia.


Nyonya Seon sedikit kaku tubuhnya, terkejut dengan tindakan suaminya yang begitu kelewat batas. Nyonya Seon tidak tahu harus melakukan apa, jika ia melawan, suaminya akan marah besar.


Setegah terseok mengikuti langkah Tuan Gilbert, Nadia masih meronta tidak mau ikut. Lelaki tua itu tak mendengarkan pinta sang anak, tetap membawa Nadia dan meninggalkan apartemen. Namun ketika langkahnya mendekati pintu, benda kotak besar itu terbuka dan menampilkan sesorang yang Nadia nantika kehdirannya.


"Nadia."


"Fabian," lirih Nadia setengah teraenyum pedih, "tolong aku!" Pintanya bergumam pelan, seperti tenaganya yang sudah habis.


"Siapa kamu? Apa kamu yang menghamili anakku?" Tanya Tuan Gilbert dengan intonasi tak bersahabat.


Fabian mengernyit heran, menatap Nadia sekilas dan juga Tuan Gilbert secara bergantian. Fokusnya teralih pada genggaman tangan Tuan Gilbert dan Nadia, begitu dibelakang Tuan Gilbert ada juga Nyonya Seon.


Setelah sadar, Fabian menarik Nadia dari Tuan Gilbert paksa. Disembunyikan dibalik tubuh kekarnya, Fabian tahu kedatangan orang tua Nadia ke apartemen ini. Raut tidak suka, sedih, marah dan juga kecewa terlihat jelas disana.


"Tolong dengarkan penjelasan Nadia terlebih dulu, Om, Tante." Ucap Fabian tenang.


Ia bisa merasaka ketakutan Nadia yang begitu besar dibelakangnya, tangan perempuan itu bergetar hebat dibalik punggungnya.


"Jangan ikut campur urusa keluargaku! Pergi dari apartemen ini sekarang juga!" Teriakan Tuan Gilbert menggema disetiap sudut ruangan.


Sial, Fabian dan Nadia terkejut.


"Om-Tante, tolong jangan lakukan hal yang nantinya akan kalian sesali! Saya mohon, mari bicarakan semuanya secara baik-baik!"


"Aku tidak akan menyesali apapun tentang anak tidak tahu diri ini. Aku bahkan tidak sudi dan jijik mendengar kemungkinan dirinya yang lain, selain gila dan hamil di luar nikah, selanjutnya apa yang akan dilakukan? Menjadi ****** dari para pebisnis?"


"Saya juga pernha menjadi ****** akibat Papa dan juga Mama. Kalian sengaja menjadikanku ****** agar bisnis kalian lancar, kalian tidak ingat beberapa tahun lalu saat aku Sekolah menengah atas?"


"Nadia sudah, biar aku saja yang berbicara."


"Tidak Fabian, aku suah tidak kuat mendengar mereka terus menyaahkaku. Sebenarnya aku ini anaknya atau tidak, kenap mereka selalu saja menyalahkanku atas apa yang tidak kuperbuat. Sungguh, ini semua tidak adil."


"Ikut aku sekarang jug, ayo."


"Om saya mohon!" Fabian menatap Gilbert penuh permohonan, "Tante tolong bujuk suami tante untuk tidak membawa Nadia. Saya mohon!" Fabian berganti menatap Nyonya Seon namun tidak didengarkan.


Nadia tiba-tiba meluruhkan tubuhnya, menunduk sebentar dan bersujud didepan kedua orang tuanya. Tangisnya kembali pecah dan begitu deras, ribuan jarum itu menusuk hatinya tanpa celah.


"Maafka saya, ampuni saya! Saya janji setelah ini tidak akan megganggu kalian, tapi saya mohon jangan gugurkan janin saya. Dia tidak salah, saya yang salah."


Fabian melihat itu tidak tega, Nadia rela bersujud seperti itu tapi orang tuanya masih tidak mwnunjukkan reaksi apa-apa? Sungguh ini hal yang paling Fabian benci. Dengan itu, Fabian berjongkok disamping Nadia dan mengusap pelan pundak kecil Nadia.

__ADS_1


"Sudah berdiri, mereka todak menghargai maafmu." Bisik Fabian pelan.


Hati Nyinya Seon sebenarnya terenyuh, melihat anaknya bersujud dibawah sana, yapi kembali lagi; kecewanya sangat besar.


"Aku tidak akan menggugurkan janinmu, asal dengan satu syarat." Tuan Gilbert memberi tawaran, kalimatnya datar begitupun ekspresinya.


Fabian memapah Nadia untuk bangun dari sujudnya, memegang erat pundak perempuan itu seolah membagi kekuatannya.


"Apa?"


"Menikah secepatnya, atau aku yang bertindak sendiri."


Bulirnya kembali jatuh, ******* nafas frutasi terdengar. Nadia mengusap-usap wajahnya kacau, "Dia tidak mau tanggung jawab Pa, itu tidak mungkin." Lirihnya pilu dan penuh penekanan.


"Aku hanya memberimu syarat itu Nadia, kalau kamu tidak bisa aku yang akan bertindak sendiri."


"Saya boleh mengajukan persyaratan lain?" Tawar Nadia bertanya.


"Tidak boleh. Aku dan istriku pamit pulang, permisi." Tuan Gilbert menggandeng tangan Istrinya untuk meninggalkan apartemen yang membuat emosinya terkuras. Dalam hati mengutuk anaknya habis-habisan karena hal ceroboh ini.


"Fab bagaimana?" Tanya Nadia frustasi, tubuhnya dibiarkan istirahat dengan duduk disalah satu sofa disana.


Fabian mengikuti Nadia, duduk disamping perempuan itu, mengusap wajahnya kasar karena pikirannya pun sudah buntu. "Nadia aku juga tidak tahu, kepalaku pening sekali dengan urusan perusahaan dan sekarang Masalahmu semakin rumit." Adunya setengah putus asa.


"Kalau begitu lebih baik janin ini digugurkan saja, aku juga sudah lelah dengan semuanya yaang terus-terusan menyalahkanku."


"Hei memang itu salahmu, tapi kamu harus berfikir kalau Janin itu tidak salah. Nad kalau kamu berani berbuat, juga harus berani bertanggung jawab, paham?"


Tatapan lembut Fabian tunjukkan pada Nadia. Perempuan itu tidak boleh menggugurkan kandungan, karena apapun asalannya, Janinnya tidak salah.


"Tapi aku tidak bisa rasanya Fab, Renald-"


"Aku akan mencari solusi yang tepat, sekarang istirahatlah." Sela Fabian cepat.


Fabian tidak ingin Nadia terlalu banyak pikiran dan mengakibatkan perempuan itu kembali kacau.


Tangan lelaki itu terangkat, mengusap kepala Nadia sayang, dan juga membisikkan kalimat penuh ketenangan. Fabian selalu mengatakan pada Nadia kalau semuanya baik-baik saja, namun dibalik itu semuanya justru semakin rumit dan tak terkendali. Lantas Fabian harus bagaimana?


...---...


Ketukan pintu atau lebih tepatnya gedoran itu terdengar semakin jelas, cukup tergesa dan ingin segera dibukakan. Sialan, siapa yang berani-beraninya bertamu malam-malam seperti ini.


Dari lantai dua, kamarnya, berlari tergesa membuka pintu yang tentunya sudah digedor keras-keras. Tapi disisi lain batinnya sedikit berbisik takut karena menduga hal-hal yang jahat. Sebelum membuka pintu lebar-lebar, sapu yang biasa digunakan Mina maupun Selsa disimpannya dibalik badan.


Satu, dua, tiga!


Begitu pintu terbuka, Selsa mengangkat sapunya untuk memukul orang yang kurang ajar karena malam-malam bertamu. Belum sempat dipukulnya, Selsa mengernyitkan dahi mendapati seorang lelaki berbaju serba hitam dan menenakan topi hitam. Wajahnya setengah tertutup, karena mungkin malam hari, jadi sulit mengenali.


Tapi fokusnya pindah kepada tangan lelaki tersebut, menggenggam bucket bunga mawar, tapi kali ini mawar berwarna putih. Tunggu, biasanya mawar yang di dapat hanyalah mawar merah, dan itu ia tahu siapa pengirimnya. Tapi kenapa hari ini berubah putih? Mungkinkah ada seseorang lagi yang mengirmkan bunga ini untuknya?


Lelaki yang masih menunduk itu menyerahkan bunga mawar yang dipegangnya, entah berapa jumlahnya, itu banyak dan Selsa malas menghitungnya.


"Maaf sebelumnya, apa kamu tidak salah alamat? Saya sebelumnya tidak pernah memesan barang sekalipun mawar seperti ini." Tanya Selsa pelan dan memastikan, perempuan itu belum mau menerima mawar putihnya.


"Tolong bicara! Siapa yang menyuruh kamu memberikan ini?" Imbuh Selsa ketika melihat lelaki itu semakin menunduk.


Lelaki itu masih diam dan menyodorkan mawar putihnya. Akibat perang batin antara diterima atau tidak, Selsa akhirnya menerima paksa. Sekali sahutan, mungkin lelaki itu pasti terkejut.


"Mas ini sudah malam dan masnya diam saja, tidak mau menjelaskan?" Tanyanya kesal, sangat kesal.


Selsa geregetan sendiri, kalau nyalinya besar pasti dia akan mengikis jarak dengan sang pengirim bunga, melepaskan topi dan menatap lekat-lekat wajah yang mungkin asing.


"Dari orang yang selalu mencintai kamu." Jawab si pengirim pelan.


Tunggu! Selsa tidak salah dengar? Coba tarik nafas, hembuskan pelan-pelan! Ini pasti salah dengar, ya salah dengar.


Kakinya mengambil langkah maju, hanya satu langkah, tangan kirinya digunakan untuk melepaskan topi itu paksa, dan betapa terkejutnya dia sekarang.


"Kamu." Gumamnya tak percaya.


Cukup lama hanya saling memandang satu sama lain, keduanya seolah mengingat kenapa bisa relasinya seburuk ini. Pantas Selsa tidak mengenali, yang dilihat tubuh lelaki itu semakin kurus, begitupun rahangnya terlihat begitu tegas dan semakin arogan.


Selsa menarik tangan kiri lelaki itu dan menaruh kembali mawar yang diberikannya tadi, "bawa pulang bungamu ini, aku tidak sudi menerimanya."


Ketika perempuan itu berbalik badan dan ingin menutup pintu, lelaki pengirim bunga itu mencegahnya, menarik lengannya yang sukses membut Selsa terpekik.


"Aku butuh kamu,"


Cara bicaranya sudah berbeda. Dulu yang berapi-api penuh emosi, perlahan berangsur normal dan sekarang semakin melemah dan setengah putus asa.

__ADS_1


"Jika membutuhkanku kamu datang, jika tidak kamu menghilang seenaknya? Wah keparat sekali ya dirimu, Fabian." jawab Selsa tidak terima.


"Tolong, mari bicara denganku! Pikiranku kacau dan aku hanya butuh kamu, aku mohon." Pintanya memelas.


Selsa mencoba melepaskan cekalannya, namun sekuat mungkin Fabian mengencangkan dan berniat tak melepaskan dengan mudah.


"Ikut aku ke taman belakang rumah Mina, bicara disana saja." Ajaknya dengan intonasi super datar.


Setelah itu cekalannya terlepas, Fabian mengikuti Selsa menuju taman belakang rumah yang ditempatinya. Cukup luas, dengan beberapa macam tumbuhan disana, suasana cukup romantis dan sering sekali ditempati Mina dan Vano untuk Candle Light Dinner. Disetting sedemikian rupa agar keduanya bisa bahagia ketika menikmati acara Dinnernya.


Selsa mempersilahkan Fabian duduk pada Kursi Taman Besi berwarna hitam disana, begitupun Selsa yang duduk disamping lelaki itu dengan jarak yang cukup jauh.


"Katakan apa maumu menemuiku, pukul sebelas malam dan kamu mengganggu waktu istirahatku."


"Fabian tolong katakan sekarang, aku tidak punya banyak waktu."


"Kembali padaku!"


"A-apa? Aku tidak salah dengar? Jangan pernah bermimpi untuk itu, karena kembali padamu adalah hal yang mustahil."


Mempertemukan siku dengan lututnya, menopan kekuatan, telapak tangannya meremas rambutnya pasrah, menutupi wajahnya yang begitu memalukan ketika dilihat.


"T-tolong maafkan aku, kembali padaku." Bisiknya yang masih Selsa dengar jelas walaupun Fabian menutupi wajahnya.


Kenapa suasana mendadak getir dan sialnya membuat Selsa ingin meneteskan air mata? Kenapa juga Selsa harus menahan sembiluan hatinya ketika berhadapan dengan Fabian? Ayolah Selsa, bukannya sudah berjanji untuk tidak seperti ini?


"Menemuiku hanya untuk mengatakan ini? Ah tidak penting sekali," desahnya kesal.


Sekuat mungkin menghalau air matanya agar tidak menetes, ditekannya tanpa sadar dadanya yang sesak. Hanya dua kali ketukan pada dadanya setelah itu menghirup udara dalam-dalam, mengalihkan bola matanya kemanapun agar tidak banyak mengeluarkan liquid.


"Masalah semakin senang berteman denganku, tolong aku!"


"Masalah senang berteman denganmu, itu karena kamu sering kali mencarinya. Kamu sendiri yang membuatnya rumit dan kenapa sekarang justru aku yang kamu butuhkan?"


Diangkat perlahan wajahnya yang sudah sedikit berkeringat dan kacau itu, netranya menatap Selsa dalam-dalam.


"Karena hanya melihatmu aku bisa tenang, melihat sorot matamu aku begitu tenang Sa." Desisnya pelan dan serak.


"Kalau melihatku saja membuatmu tenang, lantas kenapa waktu itu kamu mengusirku Fabian? Kenapa kamu menyuruhku pergi disaat aku sedang membutuhkanmu?" Pertahanannya runtuh, air mata sialan itu lolos.


Fabian, si keparat gila, diam saja menatap Selsa yang mulai menangis.


"Aku bingung Sa, aku selalu dihadapkan dengan pilihan yang sulit sekali seperti kamu dan Nadia."


"Itu artinya kamu tidak tegas dengan perasaan kamu sendiri! Kalau kamu memang benar-benar mencintaiku, kamu seharusnya memperjuangkan aku kembali, bukannya menghilang seolah semuanya tidak terjadi apa-apa."


Fabian menatap sempurna Selsa yang ada disampingnya, "Aku tahu aku salah. Aku sebodoh ini karena terlalu melindungi Nadia dan mengabaikan kamu. Sa asal kamu tahu, Nadia di diagnosa Dokter terkena Distimia dan aku tidak tahu harus membantunya seperti apa lagi." Jelasnya pelan-pelan.


"Aku tidak perduli jika sesuatu terjadi padanya, kalau kamu dari awal jujur mungkin aku akan cobaa untuk mengerti. Fab aku sudah terlanjur sakit hati dan hatiku hancur untuk kesekian kalinya, kenapa kamu sebajingan ini huh?"


Air mata Fabian ikut lolos, tubuhnya merapat pada Selsa yang semua memberi jarak begitu jauh. Tangannya terangkat mengusap pipi Selsa yang basah akan air mata, sumpah demi apapun, hatinya sesakit ini.


"Distimia sulit dihilangkan Sa, aku sempat frustasi dan putus asa karena Nadia yang tidak bisa disembuhkan. Itulah sebabnya aku semakin menjauh darimu,"


"Aku menyuruh Nadia mengikuti psikoterapi, namun dia sempat menolak. Dia hanya butuh aku katanya, dia menyuruhku menjauhimu dan meninggalkanmu."


"Dan kamu menurutinya kan? Lalu untuk apa lagi kamu kembali, huh?" Tanya Selsa menahan isakan.


"Setelah aku meninggalkan kamu, masalah sering kali datang dan aku tidak tahu menghadapinya seperti apa. Nadia hamil, Renald tidak ingin tanggung jawab dan sekarang kantorku sedang ada masalah."


"Itu bukan urusanku," desis Selsa tak suka.


Fabian kembali mengalihkan tatapannya, "Tolong, tolong beri aku satu pelukan. Hanya satu, setelah itu aku akan pulang." Pintanya sangat memohon, kali ini sangat dan sangat.


Suasana semakin sendu, sangat, keduanya sama-sama menangis dan menyesali keputusannya yang memilih berpisah. Jujur jauh dalam lubuk hati Selsa, rasa simpatiknya lebih besar. Ia juga kasihan dengan kondisi Fabian yang seperti ini, Fabian yang kurus dan terlihat kosong. Tapi ini adalah hukuman yang setimpal untuk lelaki seperti Fabian, mudah menyia-nyiakan.


Tanpa kata lagi Selsa memeluk Fabian erat, menumpahkan segala rindu yang selama ini dipendam. Keduanya masih sama-sama memangis saking sesaknya dada masing-masing. Tangisan Selsa tak kalah hebat, punggungnya bergetar dan bibirnya meracau tidak jelas.


Ingatan saat berpisah kembali terngiang, menyumpahi setiap kata yang keluar waktu itu. Nyatanya keduanya masih sama-sama mengharap kembali dan menjalin kasih. Tapi kembali lagi dengan keadaan yang seolah tidak merestuinya.


"Orang tua Nadia tahu, mereka meminta Nadia menikah untuk menutupi kehamilannya saat ini, dan Renald tidak mau."


Firasat Selsa sudah tidak enak, namun perempuan itu memilih diam dan menangis disana.


"Sa," panggil Fabian pelan, "Bagaimana kalau aku yang nantinya akan menikahi Nadia?" Tanyanya super lirih.


Dan pertanyaan sialan itu begitu bodoh dan meluncur bebas. Fabian kembali memporak-porandakan hati Selsa, mencabik-cabiknya berulang kali lalu meninggalkannya begitu saja. Selsa semakin meneratkan pelukannya, sangat erat, dan menangis disana. Kepalanya menggeleng sebagai tanda dirinya tidak siap.


"T-tolong-"

__ADS_1


__ADS_2