
Banyak orang mengatakan, obat dari patah hati adalah jatuh cinta lagi, mencintai orang baru tanpa adanya bayang-bayang orang lama. Namun nyatanya teori itu tak semudah apa yang diucapkan, tak semudah apa yang dibayangkan, teori itu seketika dianggap angin lalu oleh Selsa. Semua terasa percuma, bisikan kata ‘moving on’ setiap hari Selsa dengar, namun perempuan itu untuk setiap harinya menulikan pendengaran. Telinganya dipaksa pekak untuk mendengarkan sebaris kalimat yang menyuruhnya melupakan Fabian, keparat yang siap Mina ledakkan kepalanya.
Setelah mendengar teriakan Fabian yang memilih Boneka santet alias Nadia, dunia Selsa berhenti begitu saja. Bertanya dalam hati kenapa bisa lelaki itu memilih Boneka santet ketimbang Selsa yang cantiknya sebelas dua belas dengan Kelly Janner, kata ‘mengapa’ terus diulangi dalam benak. Dan waktu itu selesai kepergian Fabian, Mina seketika memeluknya dan merapalkan banyak kata yang membuat rasa cemasnya sedikit memudar, hanya sedikit.
“Hari ini sudah boleh pulang Sa, kamu tinggal di rumahku saja ya.” Tawar Mina.
Sejujurnya Selsa masih agak kesal dengan Mina, jika bukan Mina yang menyelamatkannya mungkin Selsa masih belum mau berbicara dengan Mina, “Tidak usah, aku tinggal di apartemenku sendiri saja.” Jawabnya pelan, sedikit malas.
Mina yang berdiri disamping Selsa mendengus, “Teror itu masih ada Sa, apalagi Fabian sudah tidak bersamamu, bisa jadi mereka membabi buta dan menculikmu paksa.” Kesalnya yang diacuhkan Selsa.
“Kenapa juga saat itu kamu langsung datang Mina? Setidaknya biarkan aku melihat wajah perempuan itu.” Selsa menatap Mina kesal.
“Dan aku membiarkan kamu mati disana? Gila sekali aku Selsa kalau begitu, aku tahu kamu bertaruh nyawa dan aku diam saja, dimana otakmu?”
“Tapi kalau seperti ini selamanya aku tidak tahu siapa yang menerorku. Saat itu adalah waktu yang tepat untuk tahu siapa pelakunya.”
Mina membuang pandangannya kearah lain, “Cepat atau lambat juga tahu Selsa, dia tidak akan bisa bersembunyi dimanapun karena setiap tempat Vano sudah menempatkan banyak mata-mata.” Ungkapnya sedikit gusar.
Selsa membelalak, “V-vano?” tanyanya tidak percaya.
“Iya, suamiku melakukan semuanya hanya demi kamu. Jangan pernah berfikir tidak memiliki siapapun, nyatanya aku dan Vano selalu ada untukmu.”
Selsa mengusap kasar wajahnya, “M-mina t-tapi kenapa? Bukankah aku sedang menjauhi kalian, kenapa bisa kalian membantuku?” tanyanya gagu.
“Sa kamu menjauhiku ada sebabnya, itu semua karena salahku yang menemui Nadia tanpa sepengetahuanmu, dan kamu juga sudah kuanggap seperti adikku sendiri, beitupun Vano.” Jawab Mina yang membuat Selsa tertegun.
“Terima kasih Mina.”
Selsa menatap Mina sendu.
“Iya Selsa, untuk itu hati-hatilah karena banyak orang jahat yang mengincarmu. Banyak orang juga yang ingin kamu dan Fabian berpisah.”
“Tapi aku dan Fabian sudah berpisah Mina.” Bisiknya lirih.
Tangan Mina terangkat mengusap kepala Selsa sayang, “Untuk sekarang jangan memikirkan Fabian dulu, pikirkan kesehatanmu saja. Aku yakin Fabian akan menyesal meninggalkanmu, apalagi dia belum tahu kalau kamu diteror seseorang yang aku yakin itu salah satu dari mantan kekasih Fabian.” Ujarnya yakin.
__ADS_1
“Aku jadi semakin penasaran, tapi sorot mata perempuan itu aku kenal sekali. Seperti pernah bertemu tapi siapa, mungkin tidak sih itu Nadia?” gumam Selsa bertanya-tanya.
“Bukannya aku membela Nadia, tapi sepertinya memang bukan Nadia Sa. Kalau Nadia dia tidak akan berani menampakkan diri karena salah satu pesuruh teman Vano menendang punggungnya sampai kesakitan waktu itu. Dan kalau itu Nadia pasti dia sudah tidak betah disini.”
“Benar juga tapi sorot matanya seperti menunjukkan kalau itu Nadia.”
“Vano sedang mengusut semuanya Sa, dan untuk sementara waktu atau seterusnya kamu tinggal di rumahku saja.”
“Baiklah Mina, terima kasih.” Ujar Selsa.
Karena Selsa selalu berterima kasih dengan adanya Mina, seperti appaun keadaannya Mina selalu ada disisinya. Mina selalu ada disamping Selsa, walau hanya sekedar memberinya aksara yang membuat Selsa tenang.
Mina terima kasih, maaf aku merepotkan dirimu dan Vano.
-
Penampilannya yang selalu rapi, dua hari ini terkesan berantakan dan tidak perduli lagi, sampai-sampai sang sekertaris mengingatkannya untuk membenarkan dasi ketika rapat akan dimulai. Untuk mereka yang salah paham akan Fabian meninggalkan Selsa tentu salah, nyatanya Fabian tak sebaik-baik saja meninggalkan Selsa. Akhirnya pilihan yang dihindari selama ini dipilihnya juga, mempertahankan Nadia dan meninggalkan Selsa. Itu pilihannya, tapi itu memang yang terbaik.
Untuk sekarang Fabian terkesan cuek dan dingin, tak lagi tersenyum; hanya pada Nadia ia tersenyum. Beberapa karyawannya sempat heran akan perubahan yang dialami bosnya itu. Sangat drastis dan membuat semuanya tercengang.
Fabian dikejutkan kedatangan Jessica. Keningnya berkerut mendengar jika hari ini ada meeting, karena dua hari yang lalu berturut-turut sudah meeting.
“Kerjasama dengan perusahaan mana lagi Jessica? Bukannya dua hari sudah ada meeting?” tanya Fabian datar.
Takut-takut Jessica menatap Fabian, “Kali ini dengan perusahaan milik Pak Vano, dan sebelumnya berkas kerja sama sudah ada sejak lama Pak. Lagipula ini hanya melanjutkan kerjasama tahun lalu pak.”
Fabian menutup kasar laptop warna hitamnya, “Batalkan semua kerja sama dengan perusahaan milik Vano, aku tidak ingin perusahaanku kerjasama dengan perusahaan Vano lagi.” Perintahnya tanpa bantahan.
“T-ttapi kenapa pak? Bukankah Pak Vano sahabat bapak?” tanya Jessica kaku.
Fabian menatap tajam Jessica yang berdiri didepannya, tatapannya menghunus hingga Jessica panas dingin ditempat.
“Perlu kamu tahu alasannya Jessica? Kamu disini hanya sekertaris saya, jadi jangan pernah ikut campur urusan saya.” Bentak Fabian.
Jessica mengangguk paham. “Baik pak.”
__ADS_1
“Lantas mau apalagi? Bukannya sudah jelas semua yang saya omongkan? Pergi dan bubarkan meeting kali ini, kalau perlu ganti rugi saja semua kerugiannya. Aku sudah tidak sudi lagi bekerja sama dengan Vano.”
“T-ttapi Pak jumlah kerugian sangat besar dan dana perusahaan pasti akan menurun.”
Fabian menghembuskan nafas kesalnya, menatap Jessica penuh ketidak sukaan, “Aku tidak perduli Jessica, lakukan semua perintahku! Atau kamu akan kupecat.” Ancamnya membuat Jessica bergidik ngeri.
“J-jjangan, B-baik Pak saya akan laksanakan perintah bapak! Kalau begitu saya permisi.”
Sepeninggal Jessica Fabian mengusap kasar wajahnya, mengacak-acak rambutnya frustasi. Sungguh dalam hati dia meminta maaf pada Vano karena tidak bermaksud seperti ini, Fabian hanya malu bertemu dengan Vano. Kenapa Vano dan Mina harus bertanggung jawab sebesar itu pada Selsa sedangkan dirinya yang dikatakan kekasih tidak tahu bagaimana keadaan Selsa. Bahkan saat Selsa diculik, Fabian lalai tak memperhatikan Selsa dari kejauhan.
Sedangkan diruang Meeting, Vano menggeram marah mengetahui Fabian tidak lagi mau diajak kerja sama. Jessica sudah menceritakan semuanya pada Vano tentang Fabian yang bersikeras akan mengganti kerugian semuanya dan memutuskan kerja sama secara sepihak. Vano perlu bicara dengan Fabian sekarang juga, untuk itu dengan tergesa Vano berjalan menuju ruangan Fabian. Tanpa mengetuk pintu atau mengucapkan salam apapun, Vano begitu saja menenggelamkan diri disana.
“Bukankah urusan pribadi tidak boleh diikut sertakan dalam pekerjaan? Professional dude, aku mempunyai istri yang harus kuberi makan dan kebutuhan lainnya. Tidak seharusnya kau memutuskan kerja sama ini sepihak.” Ujar Vano denganintonasi santai dan tidak emosi.
Tanpa minat Fabian tak mau menatap Vano, “Untuk kali ini aku tidak mau kerja sama dengan perusahaanmu. Cukup beberapa kali saham perusahaanku turun karena image perusahaanmu yang jelek.” Sindirnya tak sesuai kenyataan. Nyatanya perusahaan Fabian seketika melambung ketika bekerjasama dengan perusahaan Vano.
Vano tertawa remeh, “Jelek katamu? Narendra Company tidak akan bisa sebesar ini tanpa bantuan RE Group Fab. Buktinya gara-gara kerja sama dengan perusahaanku, Narendra Company sahamnya naik drastis gara-gara perusahaanku karena sebelumnya karyawanmu banyak terkena skandal.”
“Oh mulai mengungkit-ungkit masa lalu? RE Group juga tidak akan sebesar ini tanpa sokongan dana dari Narenda Company. Perusahaan miskin punyamu itu tidak akan bisa sebesar ini tanpa bantuanku juga Van.” Fabian terkekeh sinis. Baiklah kalau Vano mengungkit masa lalu, Fabian juga akan mengungkit masa lalu.
“Aku tahu. RE Group, perusahaan miskin, tidak akan sebesar ini tanpa bantuanmu. Itu semua juga berkatmu yang menyumbangkan dana sebesar itu. Kita kerjasama sudah beberapa tahun dan dirimu memutuskannya begitu saja?” kata Vano.
Fabian menyingkirkan laptop yang menghalangi akses tangannya, “Aku memutuskan kerjasama ada alasannya.” Gumamnya.
“Selsa kan alasannya? Mau sampai kapan menyalahkan Selsa dan membela Nadia? Sekalipun nantinya yang diomongkan Selsa salah dan Nadia tidak melakukan itu semua, Selsa juga butuh dirimu Fab. Dia butuh kamu untuk segala hal, dan tidak seharusnya kamu seperti ini,” Vano menatap Fabian yang seakan tidak ada apa-apa padahal lelaki itu tahu Fabian sangat terluka, “Tidak ingat seberapa besar dan keras keinginanmu membawa Selsa ke apartemenmu, menarik perempuan itu agar kembali luluh padamu dan memaafkanmu dan akhirnya justru kamu kembali menyia-nyiakannya? Lelaki macam apa kamu?”
“Itu bukan urusanmu, lebih baik pergi dan bawa semua berkas yang kau tinggalkan. Tidak usah takut tidak bisa menghidupi Mina, Jessica sudah kutugaskan untuk mengganti semua kerugiannya.” Ketus Fabian menatap tajam Vano.
Vano memicing menatap Fabian marah, “Dasar batu. Dari kepala sampai hati semuanya keras, memang benar dirimu ditinggalkan Selsa. Dan aku berharap Selsa tidak akan sudi lagi kembali bersamamu.” Desisinya lantas berlalu meninggalkan Fabian yang termenung.
Memang benar dirimu ditinggalkan Selsa.
Memang benar
Dan memang benar,
__ADS_1
Miris.