
“Dasar bodoh! Kenapa tidak bilang kalau kekasihku selama ini di terror? Angga kenapa kau diam saja, Roy juga kenapa bisa tidak cerita padaku? Bukankah selama ini aku membayarmu untuk mengawasi setiap pergerakan kekasihku? Termasuk apa yang terjadi dengan kekasihku juga.”
Beribu umpatan Fabian layangkan kepada para pesuruh yang ia tugaskan mengawasi Selsa. Lelaki bernama Angga sebelumnya menelpon Fabian, menyuruh bosnya datang ke tempatnya dan menjelaskan sesuatu. Angga menjelaskan bagaimana sebenarnya keadaan Selsa, mulai dari Fabian yang meninggalkan Selsa demi Nadia dan hingga perempuan itu diterpa terror. Fabian rasanya ingin mencekik pesuruhnya yang tidak berguna, karena selama ini mereka telah membohongi Fabian dan selalu berkata Selsa baik-baik saja.
Angga menceritakan semua kronologinya. Berawal dari dia membuntuti Selsa dan menemukan seseorang yang mengincar Selsa, menyerang orang itu namun Angga dan teman-temannya kalah. Diancam untuk tidak berkata apapun pada bosnya, tentunya dengan uang tutup mulut, Angga melaksanakan semuanya. Setelah dirasa hatinya gelisah karena rasa bersalah, akhirnya Angga hari ini menceritakan semua yang terjadi pada Fabian.
“Karena kalian yang tidak berterus terang, hubunganku dan Selsa memburuk. Aku dan dia bahkan sudah berpisah karena hal ini, jadi kemarin dia terluka karena teror itu?” teriak Fabian emosi.
Takut-takut Angga menjelaskan, “Saya dan Roy sudah mengikuti Selsa waktu itu Bos. Kami sudah berada disalah satu gedung tua, mengintai setiap langkah Selsa, sampai ada dua orang lelaki yang kemungkinan sama seperti kami itu menyerang. Saya dan Roy yang tidak membawa anak buah kewalahan melawan mereka karena terlalu banyak. Kami terluka dan kata Bayu, dia menemukan saya dan Roy dalam keadaan pingsan.” Jelasnya pelan.
“Sial! Siapa yang berani main-main dengan Fabian? Siapa yang berani mengusik kehidupanku sedalam ini?” desisnya tajam, “kalian ke gedung tua itu sekarang. Angga, Roy dan Bayu selidiki apa yang ada disana. Temukan stau barang bukti yang bisa membuat pelaku membusuk dipenjara, karena aku akan membawa semuanya ke jalur hukum. Jangan lupa juga bawa beberapa pesuruhku yang lainnya untuk waspada jika terjadi sesuatu.”
“Baik Bos. Kalau begitu saya kesana sekarang, selamat siang.” Angga, Roy dan juga Bayu dan beberapa pesuruh meninggalkan tempatnya. Menyisakan Fabian yang masih berdiri disana dengan tatapan sayu.
“Selamat siang.” Balasnya lesu.
Fabian mengusap wajahnya kasar. Hatinya sembiluan bukan main, lebih gelisah dari biasanya dan rasa bersalah semakin membumbung tinggi. Apakah ini yang dinamakan penyesalan? Yang jelas Fabian merasa bersalah karena tidak mendengarkan penjelasan Selsa terlebih dahulu, dan kenapa juga perempuan itu tidak mau berterus terang? Bukankah ini salah keduanya yang seakan seperti hilang komunikasi untuk setiap harinya. Yang ada selalu berselisih paham dan saling berteriak satu sama lain.
“Kalau sampai aku tahu yang melukai Selsa adalah orang terdekatku, aku tidak akan memaafkannya dan tetap membawanya ke jalur hukum.” Gumamnya dengan tangan yang mengepal kuat.
-
-
-
“Astaga Selsa ada apa dengan dirimu?”
Selsa terpekik kaget dengan kedatangan Yumi. Selesai bertukar pesan tadi, katanya Yumi akan mengunjungi Selsa di rumah Mina, namun dengan beberapa pertimbangan yang katanya takut dengan Mina yang super buas. Dan tidak lama kedatangan Yumi mengejutkan Selsa yang tengah menonton televisi.
“Yumiii!! Membuatku terkejut saja,” pekik Selsa dengan senyuman khasnya.
Wajah Yumi menunjukkan kesedihannya, duduk disamping Selsa dan mengamati luka yang dibaluk kasa dileher Selsa.
“Apa itu tidak sakit Sa? Melihatnya saja sudah nyeri apalagi sampai seperti dirimu.” Tanya Yumi yang masih memperhatikan luka Selsa.
Selsa terkekeh lucu, “Sakit yang pasti, karena berkat Mina dan Vano yang merawatku dengan telaten, jadi sudah tidak sakit lagi.”
“Siapa yang melukaimu seperti ini Sa? Coba katakan padaku biar ku pukuli wajahnya.” Ujar Yumi serius.
Selsa tertawa ringan, menatapi ekspresi Yumi yang memang khawatir padanya. Selsa tidak tahu harus seperti apa, karena dirinya pun baru berteman dengan Yumi tapi sudah sedekat ini.
“Tidak tahu siapa pelakunya, yang pasti aku saat itu dijebak. Menurut perempuan yang ingin melukaiku, aku disuruh meninggalkan Fabian dan pergi jauh dari hidupnya Fabian. Dan aku sempat berfikir kalau yang melakukan ini adalah Nadia.”
Yumi membelalak, “Nadia? Elana Dianti? Sahabat Fabian?” pekiknya memastikan.
“Kamu tahu Nadia, Yum?” tanya Selsa ragu.
Yumi mengangguk mantap, “Tahu lah Sa. Aku kenal Nadia karena dulu saat aku menjadi kekasih Fabian, Nadia sering diajak makan malam bersama. Fabian juga sepertinya perhatian sekali, dan aku sempat berfikir kalau dia cinta dengan Nadia.” Katanya lesu.
__ADS_1
“Aku juga berfikir seperti itu Yum. Apalagi akhir-akhir ini Fabian mengabaikanku dan sering bersama Nadia, ah tapi hubunganku juga sudah berakhir dengan Fabian.”
Kedua mata Yumi mengerjap tak percaya, “M-maksud kamu? Loh kok bisa? Bagaimana ceritanya kamu berakhir dengan Fabian, Sa?” tanyanya kikuk.
“Aku menuduh Nadia yang melakukan ini padaku didepan Fabian, alhasil dia marah dan mengakhiri semuanya. Bukan dia, tapi kita berdua. Lagipula aku juga sudah lelah dengan tingkahnya yang selalu membela Nadia.”
“Kalau memang itu pilihanmu, aku akan mendukung semuanya Sa. Kamu sahabatku sekarang, jadi aku tidak ingin sesuatu yang buruk menimpa dirimu. Semoga setelah ini kamu mendapatkan lelaki yang lebih baik dan tidak seperti Fabian.”
Selsa menatap Yumi sekilas lantas mengangguk, “Semoga Yumi.”
Keduanya di rajai hening beberapa saat, sampai ketika teriakan dari arah pintu membuat Selsa dan Yumi menutup telinganya masing-masing sesaat.
“SA KENAPA MEMBIARKAN PEREMPUAN ****** INI KEMARI?”
Mina terengah-engah datang didepan Selsa dan Yumi dengan wajah kusam. Rautnya berubah tak enak ketika melihat mobil asing didepan rumahnya dan menemukan Yumi disana. Benar-benar ditimpa sial jika Yumi bertamu kerumahnya.
“Mina jangan seperti itu. Yumi temanku juga.” Tegur Selsa yang membuat Mina mencibir.
“Jangan mau percaya dulu Sa. Bisa saja dia itu musuh tapi berkedok teman.” Sindirnya menatap remeh Yumi.
Yang ditatap berubah kesal, beranjak dari duduknya dan berdiri didepan Mina dengan wajah nyolot, “Heh enak saja menuduhku seperti itu. Kalau iri bilang saja ya, pasti kamu irikan Selsa punya teman selain kamu.” balasnya membuat Mina semakin kesal.
“APA? IRI? TIDAK SALAH?” teriaknya nyaring, “aku dan kamu beda level ya Yumi!”
Ini adalah hal yang lucu menurut Selsa, demi apapun Yumi dan Mina sebelumnya tidak pernah bertegur sapa atau cekcok sejauh ini. Tapi kali ini walaupun bertengkar, Selsa yakin ini adalah pertengkaran kecil. “Terus kenapa kalau aku berteman dengan Selsa? Ada masalah?” tantang Yumi.
“Sana pergi dari rumahku ******. Rumahku tidak terbiasa dengan tamu sejalang dirimu.” Mina menarik tangan Yumi paksa namun perempuan itu menghempaskannya kesal.
Tanpa sengaja Yumi menarik pundak Yumi hingga perempuan itu menjerit. “Heh sialan, kurang ajar. Berani ya kamu denganku.”
“Aw- Sakit. Jangan Tarik-tarik bisa tidak?”
Mina menghentikan aksinya, menatap Yumi curiga. Yumi yang ditatap seperti itu hanya memasang raut kebingungan, “Ada apa dengan pundakmu, Yumi?” tanya Selsa.
“T-ttidak, hanya saja tadi tidak sengaja terbentur Mobil.”
“Benar terbentur mobil? Bukan alasan lain?” selidik Mina cepat.
“Astaga Minaaa!! Bisa tidak jangan berpikir buruk tentangku? Tadi sebelum ke rumahmu aku sempat belanja di super market, begitu selesai aku tidak sengaja terbentur pintu mobilku sendiri.”
Mina memutar bola matanya malas, “Tidak masuk akal sekali alasanmu. Sudah lah pergi dari rumahku. SEKARANG!” usirnya tidak sabar.
“Ya sudah aku pulang dulu Sa. Telingaku rasanya panas mendengar suara bebek dari Mina, kamu lekas sembuh ya.”
Yumi tidak memperdulikan Mina disana. Menghadap Selsa, mengusap pundak perempuan itu beberapa kali untuk berpamitan, meninggalkan Mina yang masih dongkol ditempatnya.
Dengan kekuatan yang sempat terkuras akibat Yumi, Mina terduduk lemas disamping Selsa. Berdecak sebal beberapa kali hingga Selsa tertawa ringan, “Makannya jangan teriak-teriak terus. Yumi tidak seburuk itu kok.” Kata Selsa santai.
“Kamu curiga tidak dengan Yumi Sa? Dia pundaknya sakit yang katanya terbentur mobil, kok aku tidak percaya ya.” Mina beradu tatap dengan Selsa, mengingat Yumi yang tadi sempat kesakitan.
__ADS_1
“Yang sakit itu pundaknya Mina, bukan punggungnya. Sedangkan yang melukai aku itu punggungnya yang ditendang orang suruhan teman Vano, jadi berhenti menuduh Yumi yang tidak-tidak ya.” Pintanya pelan supaya tidak menyinggung perasaan Mina.
Mina menghembuskan nafas gusarnya, “Aku tidak janji Selsa, tapi kalau memang benar dia pelakunya, aku akan memasukkannya ke bui dan membiarkan dia membusuk disana.”
-
-
-
Lelaki dengan mata sayu dan pandangan kosong itu masih setia memandangi jendela besar yang tembus pandang, memperlihatkan langit malam yang sepi akan Kartika. Sedari siang pikirannya masih saja berkelana bersama satu nama, Selsa tentunya.
Beberapa kali batinnya juga menyalahkan dirinya sendiri yang kenapa tidak bisa becus menjaga Selsa dan memastikan perempuan itu aman bersamanya. Ia justru lalai dan membiarkan Selsa sendirian disana, menikmati rasa ketakutan dengan berbagai ancaman, manusia tolol sepertinya memang pantas ditinggalkan. Benar kata Selsa dan juga benar kata Vano.
Tubuhnya terhenyak mendapati sebuah tangan yang melingkari perutnya nyaman, kepalanya mencoba mencari tahu siapa yang melakukan ini, dan benar dia menemukan Nadia disana. Tentunya dengan senyuman super hangat dan manis, Fabian bisa mencium aroma air atar milik perempuan itu.
“Kenapa tidak tidur? Sesuatu mengganggu pikiranmu?”
Kepalanya kembali lurus and matanya menatap langit malam sendu. Membiarkan Nadia memluknya seperti ini, “Tidak Nad, kepalaku sedikit pening.” Adunya memejamkan mata sejenak.
“Pasti berhubungan dengan Selsa ya? Cerita saja Fab!” paksa Nadia lantas melepaskan pelukannya dan berdiri disamping Fabian. Menatap lekat lelaki yang tengah menatap sayu langit malam.
“Salah kalau aku meninggalkan Selsa?”
Nadia seketika bungkam, rasa cemas dan was-was seketika menggebu. Tidak, Nadia akan kembali egois karena Fabian kemarin sudah memilihnya. Fabian sudah tidak bisa lagi memilih Selsa, karena hanya Nadia yang bisa bersama Fabian.
“Kamu tidak salah Fab. Memang takdirnya seperti ini, Selsa yang sudah tidak mau lagi bersamamu. Nyatanya kemarin dia melepaskanmu, dia membiarkanmu memilihku, padahal waktu itu dia bisa kembali merubah keputusannya.” Tutur Nadia sedikit keras dan tidak terima.
“Tapi itu juga salahku Nad yang sudah membentak dia, menuduhnya yang tidak-tidak dan-”
“KAMU TIDAK SALAH FABIAN!” bentak Nadia tanpa sadar hingga Fabian menatapnya lekat, “kamu tidak salah. Selsa yang salah.” Bisiknya lirih dengan mata berkaca-kaca.
Fabian mengusap kepala Nadia pelan, “kamu benar Nadia, bukan aku yang salah.” Bisiknya menenangkan. Fabian tahu Nadia akan kembali merasa tertekan dengan dirinya yang terus menerus mengaku salah.
“Kamu sudah memilihku Fabian, kamu tidak akan meninggalkan aku kan?” tanyanya menatap sendu Fabian.
Fabian menggeleng, “tidak Nad.”
“Aku pegang janjimu Fabian. Kalau sampai kamu kembali pada Selsa, aku tidak akan mau lagi kenal denganmu.” Ancamnya yang mau tak mau membuat Fabian mengangguk.
“Jangan berpikir yang tidak penting. Sudah minum obat?”
“Sudah. Tadi Dokter Riris menjengukku dan sekalian memberikan obat.”
Fabian menjauhkan tangannya yang sedari tadi mengusap kepala Nadia lembut,“Ya sudah kalau begitu, sekarang pergi ke kamarmu dan istirahat. Malam ini aku akan bermalaman di ruang televisi. Kalau butuh apa-apa temui aku disana.” Ucapnya yang diangguki Nadia.
“Terimakasih, selamat malam Fabian.”
“Selamat malam, Nadia.”
__ADS_1
Sepeninggal Nadia yang begitu cepat, Fabian kembali merogoh saku celananya. Mengambil ponsel dan menekan beberapa digit nomor disana. Begitu telepon tersambung, katanya begitu ketus dan tak menerima penolakan.
“Selesaikan tugasmu yang sudah kuberitahu tadi, aku tidak ingin mendengar hal buruk apapun lagi. Dan jika itu terjadi aku yang akan membunuh kalian semua.” Pungkasnya cepat dan mematikan telepon secara sepihak.