
"Letakkan ini didepan rumah Selsaniva. Didepan rumahnya, jangan di Apartemen Fabian! Jangan lupa beri secarcik tulisan yang bisa membuatnya sekarat." Perintah seorang perempuan pada bodyguardnya.
Senyum culas begitu tampak dan mungkin malam nanti ia akan melakukan pesat karena melihat raut ketakutan Selsa, targetnya yang akan segera ia bunuh, karena sudah berani mengambil Fabian.
"B-baik Bos. Tapi sepertinya Selsa tinggal dirumah temannya Bos, kemarin saya melihat dia keluar dari rumah dikawasan melati."
"Temannya?" Jedanya sejenak, "Mina, Elmina, letakkan saja disana. Selesai itu segera pergi jauh dari sana."
"Baik Bos."
Mata tajamnya menghabisi dua lelaki pesuruh berbadan kekar, "Jangan sampai ketahuan, atau kalian yang akan ku bunuh." Ancamnya telak.
"I-iya, siap."
"Yasudah lakukan sekarang."
Selepas kepergian dua lelaki berbadan kekar, perempuan itu kembali memandangi sebuah sebuah foto dimana ada seorang Selsa disana. Tersenyum cerah kearah kamera, tangan perempuan itu menggenggam sebuah pisau kecil dan berhasil menghancurkan wajah Selsa.
"Kalau peringatanku masih belum membuatmu jera, aku sendiri yang akan menghancurkanmu Selsa. Cukup dulu aku mengalah dan selalu kamu injak-injak bersama Fabian. Cukup dulu aku memendam semuanya, dan sekarang saatnya aku memenangkan permainan ini." Ujarnya lirih penuh kebencian.
Mengingat masalalunya bersama Fabian dan Selsa, perempuan itu tersenyum lirih penuh kekejaman. Rasa balas dendam menyeruak begitu saja dengan besarnya, memusnahkan siapapun yang mengambil Fabian dari tangannya dan juga siap menyengsarakan hidup perempuan yang dekat dengan Fabian.
"Dan untukmu Fabian, aku akan menjadikan kamu satu-satunya milikku, hanya milikku. Aku akan membuat kamu membenci perempuan yang bernama Selsa, tunggu saja." Pungkasnya lantas pergi meninggalkan rumah tua usang yang digunakan persembunyian selama ini.
-
-
-
Selsa memghentikan langkahnya ketika melihat Mina dan Vano asik bercengkrama didepan layar televisi, duduk disofa panjang berwarna hitam, Selsa tersenyum lega melihat kebahagiaan Mina. Nyatanya benar, yang diomongkan orangtuanya dan Fabian terbukti, Vano mampu membahagiakan Mina.
"Aku pulang Mina, Vano." Sapa Selsa berjalan mendekati Mina dan Vano.
"Dari mana saja?" Tanya Vano.
"Jalan-jalan dengan Sakti. Kebetulan Sakti membelikan sesuatu untuk kalian, karena waktu itu tidak datang ke pernikahan Kalian." Selsa duduk sofa kecil disamping Mina, menyodorkan bingkisan dibalut kertas kado kepada Mina.
"Kenapa harus repot-repot sih Sakti? Sampaikan terimakasihku pada dia ya Sa." Tutur Mina tak enak.
"Iya Mina sama-sama, aku tadi tidak sengaja mengatakannya lantas Sakti memaksa untuk membelikanmu sesuatu."
"Kamu masih berhubungan dengan Sakti?" Tanya Vano.
Selsa menggernyit, "Masih, memangnya kenapa?" Tanyanya penasaran.
__ADS_1
"Bukannya kamu dan Fabian juga berhubungan?" Tukas Vano sedikit sensi.
"Benar, tapi aku tidak yakin setelah melihat riwayat pesannya dengan Nadia. Bahkan sampai sekarang dia tak memberiku kabar."
"Selsa berpikirlah positif tentang temanku, Fabian kalau sudah bekerja dia akan melupakan segalanya termasuk kekasihnya sendiri."
"Haruskah? Vano aku tidak ingin berdebat denganmu, jadi tolong jangan bahas Fabian. Aku sednag tidak ingin mendengar namanya."
Vano mendengus kesal, memang sama keras kepalanya seperti Fabian. Jadi sudah cocok sekali jika Selsa bersama dengan Fabian. "Tapi Selsa, coba pikirkan perasaan Fabian kalau dia tahu kamu pergi bersama Sakti. Dia pasti akan marah." Kesal Vano.
"Kenapa harus marah Van? Dia pergi dengan Nadia juga aku tidak marah, adilkan?" Artikulasimya sedikit sengit dan tajam. Netranya mengusik Vano tak suka.
Mina menggelengkan kepalanya ketika mendengar Selsa dan suaminya brrtengkar kecil. Selalu seperti ini jika sednag bersama, Vano tak pernah akur dengan Selsa. "Vano, Selsa, sudah jangan ribut. Vano kamu jangan memancing emosi Selsa dengan membahas Fabian, dan kamu Selsa jangan meladeni ucapan Vano yang bodoh itu."
"What the-"
Mina menatap suaminya tajam, mencubit keras pundak kekar Vano hingga lelaki itu mengerang kesakitan. "Jangan mengumpat didepan istrimu." Ungkapnya kejam.
"Kamu mengataiku bodoh, aku ini suamimu."
"Siapa bilang kamu suami Selsa?"
Selsa tersenyum kecil, dasar pasangan aneh,"Aish kenapa kalian yang ribut sih? Vano, mina, berhenti! Lebih baik aku pulang saja dari pada mendengar kalian ribut tidak jelas."
Selsa membawa beberapa belanjaannya dan berlari meninggalkan tempatnya. Sampai saat didepan pintu utama matanya terfokus pada sebuah kotak yang emnarik perhatiannya. Diletakkan disamping pintu, Selsa mengambil alih kotak berwarna putih dihadapannya.
Vano dan Mina yang masih didalam bergegas menemui Selsa, dengan wajah paniknya mereka melihat raut Selsa yang pucat pasi. "Ada apa Selsa, kenapa kamu teriak?" Tanya Mina penasaran.
"M-mina," lirih Selsa lantas memeluk Mina.
Mina membalas pelukan Selsa dan matanya mengedar pada barang yang jaruh didepan Selsa. Melihat wajah pucat pasi Selsa, rasa khawatir Mina membuncah. "Apa itu? Vano coba lihat apa yang ada dikotak itu."
Vano membenarkan kotak yang terjatuh, rasa mual mendera karena melihat bangkai tikus disana. "Bangkai tikus, siapa yang mengirimnya sayang?"
"Jangan bercanda Vano,"
"Aku tidak bercanda sayang, ini bangkai tikus tapi aku menemukan sebuah surat disana." Vano menjauhkan kotak berisi bangkai tikus dan mengambil kertas berwarna putih.
Selsa masih saja meringkuk ketakutan, kepalanya sedikit pening karena terkejut, "Coba bacakan Vano, sebenarnya siapa yang melakukannya? Kurasa akhir-akhir ini Selsa sering mendapat gangguan seperti ini."
"Menyerah atau mati. Itu tulisannya Mina."
Mina menatap Selsa meminta penjelasan, "Selsa apa kamu bermasalah dengan seseorang?" Tanyanya.
Selsa melepaskan pelukannya, mengusap keringatnya yang bercucurandengan wajah yang masih pucatm "T-tidak Mina, aku tidak pernah bermasalah dengan siapapun selama ini." Ujarnya terbata.
__ADS_1
"Tenang saja Selsa, aku akan menyelidiki semuanya. Dan setelah ini aku akan memberitahu Febian,"
"Jangan Vano, jangan beritahu dia. Aku tidak ingin permasalahan ini mengganggu pekerjaannya, biarkan saja selama tidak terjadi apa-apa denganku." Cegah Selsa.
"T-tapi Selsa,"
"Mina aku mohon, jangan beri tahu Fabian. Mungkin ini hanya orang yang jahil atau apa," Mina balas menggenggam tangan Selsa yang dingin.
"Baiklah Sa, untuk sementara aku dan Vano akan menutupinya. Tapi kalau teror itu sudah semakin keterlaluan, Fabian harus mengetahuinya."
Selsa mengangguk menyetujui. Dibalik pembiaaan mereka, dua orang lelaki berbadan kekar mengintip disana, dari balik pohon rindang yang sungguh besar. Mengotak-atik ponselnya untuk memberi kabar Tuannya.
"Bos rencana berhasil, Selsaniva Kania sangat ketakutan dan ada dua temannya yang menenangkan."
-
-
-
"Bodoh darimana kamu? Aku hampir saja ketiduran disini."
"Sorry. Aku selesai mengangkat telfon Renald, mungkin efek rindu jadi tidak mau mengakhiri pembicaraannya."
Fabian berdecih kesal mendengarnya. Membenarkan letak duduknya yang tak nyaman, Fabian mengikuti pandangan Nadia yang duduk disebelahnya. "Bagaimana kekasihmu itu? Kenapa tidak pulang ke Indonesia?"
"Tadi dia sempat berkata kalau kepulangannya diundur satu bulan. Kantor tiba-tiba mengadakan proyek baru dan dia tidak bisa berbuat apa-apa." Terang Nadia.
Fabian mendengus tak percaya, "Kamu percaya? Nadia-nadia, kamu itu bego atau polos? Jelas-jelas itu alibi seorang lelaki untuk bisa bermain lebih dari satu perempuan, paham?"
"Kok kamu tahu, pengalaman ya?" Ejek Nadia.
Fabian menghadap Nadia sepenuhnya, menatap dalam perempuan itu agar mau mempercayainya. "Dengarkan saja omonganku! Renald tidak benar-benar mencintai kamu, dia hanya main-main Nadia."
Nadia menggenggam erat tangan Fabian, menatap Fabian penuh keseriusan dan ia yakin yang dibicarakan Fabian tidaklah benar. Renald lelaki baik-baik, "Fab harus berapa kali aku mengatakan kalau Renald tidak seperti itu. Aku lebih tahu Renald dibanding dirimu, jadi berhenti memberi asumsi kalau Renald itu bajingan sepertimu."
"Ya-ya-ya terserah kamu saja. Awas saja kalau kamu sampai patah hati karena lelaki brengsek itu, aku tidak akan mau menolongmu untuk membalaskan dendam." Wajahnya terksesan slengekan. Fabian bercanda, hanya berniat menggoda Nadia, karena melihat Nadia marah terkesan lucu. Sama dengan Selsa. Selsa? Ah Selsa, Fabian sungguh ingin bertemu dan menuntaskan rindu.
Nadia yang merasa kesal melepaskan genggaman tangannya dan berpura-pura marah, "Oh begitu? Kalau begitu kalau kamu ada masalah dengan kekasih tersayangmu itu jangan pernah lari kearahku. Aku juga tidak sudi membantumu menghilangkan rasa sakit yang sudah ditorehkan perempuan itu." Pungkasnya ketus.
Fabian terkikik geli, dipeluknya tubuh kurus milik Nadia, mengusap pelan punggun perempuan itu. Fabian sesayang ini dengan Nadia, "Hey hey, tidak boleh emosi. Aku hanya bercanda, hahaha. Aku akan selalu membantumu Nadia, aku berterimakasih karena dulu kamu selalu berada disampungku saat Selsa tidak ada. Terimakasih." Ujarnya tulus.
"Sama-sama Fabian. Aku juga berterimakasih karena kamu sekarang juga mau menemaniku saat Renald tidak ada, itu gunanya sahabat kan?"
Senyum Nadia terbit disana. Membalas pelukan Fabian tak kalah hangatnya, binar kebahagian muncul begitu saja. Bahagianya simpel, hanya bersama Fabian dia bahagia. Hanya menatap wajah tenang Fabian juga bahagia, hanya melihat Fabian menyantap masakannya juga ia bahagia. Namun sengsaranya hanya satu, Fabian melalaikannya dan berporos pada satu perempuan; Selsa.
__ADS_1
"Nad selesai ini antarkan aku pulang, aku sudah sangat merindukan Selsaku."
Baru saja dibicarakan, Fabian sudah membuat Nadia kembali down dengan menyebut nama Selsa. Mau tak mau Nadia hanya mengiyakan perintah si tuan perebut hati itu.