My (Ex) Boyfriend

My (Ex) Boyfriend
Dua puluh tiga


__ADS_3

Ornamen dengan konsep Shabby Chic sungguh menambah estetika akan hari bahagia Elmina juga Revano. Selain berkonsep feminisme, Shabby Chic juga identik dengan romantisme yang kental. Mulai dari pemilihan warna pink dan pastel serta identik dengan motif bunga. Coba perhatikan, mulai dari pintu masuk hingga inti ruangan, semuanya dipenuhi berbagai jenis bunga mawar; namun lebih dominan mawar putih. Pesta pernikahan Mina dan Vano diadakan disalah satu gedung ternama di Ibu Kota dengan ribuan tamu undangan dari kedua mempelai.


Selepas pengucapan janji suci, rasa haru menyelimuti tamu undangan. Alunan lagu klasik penuh romansa menambah kesan haru juga bahagia disana. Namun berbeda dengan Selsa yang sejak tadi berdiam diri memperhatikan Vano juga Mina. Rasa-rasanya masih belum sepenuhnya rela melepas Mina kepada Vano. Bukan apa-apa, intuisinya hanya berteriak jika ada maksud terselubung dari Vano menikahi Mina. Kilas balik pertama kali Mina berteman dengan Selsa muncul begitu saja, Mina yang membela Selsa ketika ditindas, Mina yang menolong Selsa ketika kotak bekalnya direbut anak jahil, dan yang terakhir yang memang benar-benar Selsa ingat; Mina yang menenangkannya ketika dirinya dan Fabian bermasalah. Bahkan perempuan itu rela semalaman tidak tidur hanya ingin mendengar cerita Selsa. Tubuhnya berjingkit kaget ketika Fabian menepuk pelan pundaknya, Selsa tergagap, menggeleng pelan lantas tersenyum sendu.


"Percaya padaku sayang, Vano akan membahagiakan Mina." Bisik Fabian sembari merangkul pundak Selsa.


Entah memang sekarang Selsa berada dalam keadaan sensitive atau bagaimana, mendengar penuturan Fabian air matanya berhasil lolos. Air mata yang ditahannya sejak tadi, sejak Vano mengucapkan janji suci dihadapan orang tua Mina. Melihat perempuan disampingnya menangis, dengan gesit dan cekatan Fabian mengusap air mata Selsa. "Sst! Tidak apa-apa, lihatlah binar wajah Mina sekarang! Begitu bahagai bukan?"


Selsa mengangguk mengamati Mina yang seakan tak mau berhenti tersenyum, guratan bahagia jelas terpancar disana. "Dia memang bahagia Fab, dan Vano sangat amat beruntung mendapatkan Mina."


"Aku mengerti, dan akupun sama beruntungnya dengan Vano karena aku mendapatkanmu." Ujar Fabian tulus.


Selsa tersenyum lirih, digenggamnya tangan Fabian erat. Kenapa justru seakan dirinya yang takut kehilangan Fabian?


"Ayo kita ucapkan selamat untuk mereka," ajak Selsa diangguki Fabian.


Keduanya menapaki lantai gedung dengan elok dan mengalihkan atensi sekitarnya. Mereka membatin, kenapa malam ini ada dua pasang pengantin? Apalagi melihat Selsa menggandeng mesra lengan Fabian juga dengan tangan lelaki itu bertengger indah dipinggang Selsa. Tak perlu riasan berlebihan, cantiknya seorang Selsa sangat natural.


"Aku akan merindukanmu, karena setelah ini kamu pasti akan mengurus bayi sebesar Vano." Goda Selsa membuat Mina terkekeh gemas.


"Kamu masih bisa mengunjungi rumah Vano untuk menemuiku, jadi jangan mencari alasan dengan dalih merindukanku."

__ADS_1


"Jarak antara apartemen Bian dengan rumah Vano itu memakan waktu kurang lebih satu jam Mina, dan aku malas harus membuang waktuku dijalanan."


"Terserah anda saja nona Selsa." Selsa terkikik melihat Mina berubah kesal padanya. Beralih menatap Vano sekejap.


"Berani saja menyakiti Mina, kupastikan esoknya kamu tidak bisa lagi menikmati eloknya dunia." Ancamnya yang membuat Vano mendelik, Fabian juga mengejeknya dengan tawa.


"I-iya."


Selsa tersenyum memeluk Mina sebentar dan berganti menatap Vano, "Kalau begitu selamat Mina, Vano! Berhenti bermain api dengan siapapun dan utamakan rumah tangga kalian." Ujar Selsa tulus.


"Ingat Van sekarang kamu sudah menjadi seorang suami. Lepaskan jalang manapun yang mencoba menggodamu, jaga perasaan Mina." Imbuh Fabian.


Vano mengangguk mantap, mengucapkan terima kasih kepada Selsa juga Fabian karena menyempatkan waktu untuk ikut serta merayakan pernikahannya dengan Mina. "Jangan lupa juga dirimu untuk segera mengikat Selsa Fab, atau nanti dia akan kembali diambil lelaki lain."


"Lihat tanganku dan tangan Selsa sekarang Van! Tidakkah kalian mencium bau-bau menikah sebentar lagi?." Fabian mengangkat tangannya yang dipeluk Selsa, senyum jenaka terbit disana.


"Ish apa-apaan kamu ini Fab, jangan bercanda." Ujar Selda kesal.


Mina dan Vano tertawa pelan, memang kelakuan Selsa dan Fabian yang membuat keduanya merebakkan tawa. "Ada-ada saja kamu Fab." Gumam Mina.


-

__ADS_1


-


-


Berkali-kali perempuan blonde itu menggumam kesal- Selsa, lantaran Fabian tak kunjung kembali dari bilik kecil itu. Tepatnya ini sudah hampir setengah jam Selsa menunggu disudut ruangan, hanya sendiri; tak ada teman berbincang, sembari memperhatikan beberapa orang panggilan bertukar cerita. Sangat membosankan tanpa Fabian, pikirnya. Tanpa pikir panjang, perempuan blonde itu berniat menyusul lelakinya yang betah saja berada dibilik mungil. Dengan iringan nyanyian kecil Selsa menelusuri tempat yang begitu luasnya, tak lupa juga melemparkan senyum untuk beberapa orang yang dikenalinya.


Tidak tahu apa yang terjadi dengan dirinya, daksanya mendadak statis begitu hampir sampai ditempat tujuannya. Hanya tinggal melompat sedikit ia sampai diujung lorong; letak bilik kecil. Rungunya sedikit ia tajamkan, tentunya dengan jantung yang sedikit berdebar. Selsa yakin bahwa pendengarannya masih fungsi- tidak tuli, dan ia mendengar jelas suara Fabian yang bertukar tutur dengan seseorang yang Selsa yakini sejenis dengannya. Tubuhnya yang terhalang dinding perlahan mencalang, Sialan- enak saja lelaki keparat itu berbincang dengan perempuan lain, dibanding dengan dirinya yang selalu dikekang. Demi apapun Selsa ingin memangkas habis leher Fabian dan menyumbangkannya kesalah satu oknum mutilasi ternama. Selsa ingin melihat lebih jelas siapa perempuan itu, namun tubuh Fabian menghalanginya. Selsa masih saja mengintai dua orang yang terlalu hanyut dalam pembicaraan mereka sampai-sampai Selsa dibuat muak karena tawa perempuan itu yang begitu merdu.


Rasa panas juga berapi-api menjalar begitu saja membelenggu hati Selsa. Perempuan itu tidak mengetahui jelas apa yang membuatnya seperti ini, namun ketika melihat Fabian bercengkerama dengan manusia sejenisnya membuat Selsa ingin berteriak memaki. Padahal tadi Fabian sudah berjanji untuk cepat kembali dari bilik kecil, dan alangkah pintarnya Selsa yang memutuskan untuk menyusul lalu mendapati pemandangan yang ingin ia musnahkan sekarang juga.


Selsa mencoba untuk menguatkan tekadnya untuk menampakkan diri di hadapan Fabian yang bersama seorang perempuan, tentunya sebelum itu jutaan kali tarikan nafas Selsa lantunkan. Tangannya mengepal kuat dan emosinya sudah merambah diubun-ubun, siap meledak dan menghancurkan siapa saja. Dengan langkah lebarnya Selsa berjalan menghampiri dua anak manusia yang masih saja hanyut dengan obrolannya.


"Sepertinya sayangku melupakan kekasihnya dan asik berbincang dengan jalang lain." Oh Maki Selsa sekarang juga! Sejak kapan dirinya seposesif ini? Sejak kapan Selsa mengaku sebagai kekasih Fabian? Dan begitu keduanya berbalik juga mengalihkan atensi sepenuhnya kepada Selsa, alih-alih mencekik atau melakukan hal anarki lain, Selsa membelalak tak percaya.


Kalau saja ilmu sihir menguasainya, Selsa pasti akan menghilang dari tempatnya saat ini juga. Dan sayangnya bala selalu berdiri beriringan bersama Selsa, menatap perempuan itu untuk kesekian kalinya. Daksanya melemah, kalau saja tidak menyimpan kekuatan lebih ia pasti sudah meluruh di dinginnya lantai. Apa maksudnya semua ini, kenapa mempertemukannya kembali dengan seorang iblis yang begitu Selsa benci? Tolong beri Selsa penjelasan sekarang juga! Dan Fabian? Kenapa lelaki itu bodoh sekali, tidak menegur kedatangan Selsa dan masih saja berdiri disamping rekan obrolannya.


"Long time no see Selsaniva Kania, kembali bersama Fabian?"


Mati saja siapapun yang mendengar sapaan perempuan itu, mata Selsa sedikit memanas dan tangannya mengepal kuat. Dadanya sesak nafasnya menderu juga tersendat-sendat layaknya orang sekarat, lemparkan benda tajam apapun agar Selsa memejamkan mata sekarang juga! Memangnya siapa perempuan itu yang dengan lancangnya menyapa Selsa? Sudah sederajatkan dengan Selsa? Tapi tunggu, bukannya terbalik? Sudah sederajatkah Selsa dengan perempuan itu?


Jawabannya tidak, dan tidak akan pernah. Selsa selalu berada dilevel paling bawah jika disandingkan dengan perempuan separipurna itu.

__ADS_1


Dengan kekuatan lebihnya Selsa hanya merespon dengan senyum kecil; berbalik meninggalkan tempat dengan hati dongkol, untung saja kakinya masih bisa digunakannya menyusuri luasnya gedung pernikahan Mina. Pikirannya sedikit kacau, sekelebat bayangan masalalu kembali melintas tanpa ampun disana. Astaga, kenapa harus Selsa yang menghadapi ini lagi? Bahkan Selsa akhir-akhir ini tak pernah berpikir untuk kembali menjadi pribadi beberapa tahun lalu; menutup diri dari apapun. Tenanglah, Selsa selalu mencoba menguatkan hatinya dengan rapalan kata yang sedikit menyejukkan; walau tak menampik sesak semakin membelenggu. Seiring dirinya meninggalkan pesta pernikahan Mina, satu air mata lolos begitu saja tanpa permisi. Selsa mencoba menghalau dengan memikirkan apapun yang membuatnya senang akhir-akhir ini, menghalau agar air matanya tak kembali jatuh juga tak menimbulkan isakan menyakitkan. Karena Selsa begitu menyangkak bulu, bagaimana jika ia kembali kehilangan Fabian dengan segala afeksi yang diberikan lelaki itu?


Jangan harap bisa kembali merebuat Fabian, dia hanya milikku.


__ADS_2