
Menghempaskan Amplop berwarna coklat di atas Meja. Hari ini Perempuan cantik itu bersiap untuk menghadapi Bian. Siap membayar semua denda pengunduran diri sebagai Model perusahaan Bian. Segala cara ia lakukan, membobol beberapa kartu debit nya dan juga Mina. Meminta bantuan Orang tua nya yang ada di luar Negeri, begitupun Mina yang meminjam uang Papa dan Mama nya sendiri. Hanya demi membantu Selsa agar terlepas dari Laki-laki brengsek seperti Bian.
"Saya mengundurkan diri."
"Tidak semudah itu Selsa. Aku tidak akan memecat mu juga tidak akan menerima surat resign mu."
"Tidak usah memikirkan kerugian yang anda tanggung. Di dalam Amplop itu sudah ada uang ganti rugi yang terdapat dalam surat perjanjian. Jadi mulai hari ini aku terlepas dari perusahaan mu."
Bian menarik kasar tangan Selsa ketika perempuan itu berbalik berniat meninggalkan apartemen Bian. Mendorong kasar agar punggung Selsa bertumpu pada tembok yang ada di samping kanan nya. Mengukung Selsa agar tak terlepas.
"Kau tidak bisa lari begitu saja Selsa. Kau masih menjadi model perusahaan ku."
Ah Bian bilang saja kau masih mencintai Selsa, masih menginginkan Selsa menjadi kekasih mu. Jangan gengsi, atau kau akan kehilangan nya lagi?.
"Tidak sudi. Aku sudah menyerahkan Amplop berisi uang ganti rugi. Jadi jangan mencari alasan."
"Aku bertanya kepadamu. Dan ini ketiga kali nya. Berapa hargamu semalam? Sehabis itu aku akan melakukan beberapa penawaran terhadap mu-,"
Selsa mendorong kuat dada Bian, namun tetap saja tidak bisa terlepas dari kungkungan nya.
"Sekalipun aku mempunyai harga, aku tidak akan mengatakan nya pada mu."
Nafas Bian memburu. Mengikis jarak keduanya, Bian berniat akan mencium Selsa lagi. Namun rupanya Selsa tahu, Wanita di depan nya ini membuang muka kesamping. Menghindari Bian yang akan mencium nya, bahkan ia merasakan deru nafas Bian menjalar di leher nya.
"Mari berkencan, Hangatkan ranjang ku." Ujar Bian lirih.
Seketika nafas Selsa tertahan, kepalanya reflek menoleh pada Bian. Kening keduanya bertumpu, bahkan ia merasakan nafas Bian yang sudah memburu. Air mata nya merebak ingin keluar, dan tanpa permisi cairan kristal itu meluncur bebas di permukaan wajah nya.
"Sialan, brengsek kamu Fabian." Ujar Selsa tak kalah lirih dari Bian.
Keduanya sama-sama menatap tajam. "Ya aku memang brengsek. Aku sialan, dan si Sialan dan Brengsek ini menginginkan kamu Selsa,"
"Mari kita lanjutkan semua nya yang pernah terhenti."
__ADS_1
Selsa diam, ia menutup matanya rapat. Bahkan Air matanya masih saja meluncur bebas disana. Hati Selsa sakit dan berdenyut, tapi ia tahan mati-matian agar tak melampiaskan emosi nya di depan Bian.
"Apa yang harus dilanjutkan? Tidak ada. Semua nya sudah berhenti sejak aku memutuskan pergi. Ajak perempuan lain yang bisa berkencan dengan mu, jangan aku." Selsa membuka matanya, menampilkan wajah Bian yang jelas berantakan karena Emosi.
Bian kembali tersulut emosinya. Wajah nya memerah, tangan nya meninju dinding tepat disamping kepala Selsa. Meneriakkan kata-kata bodoh di depan Wajah Selsa.
"Aku mau nya dirimu. Aku tidak mau yang lain,"
"Aku bukan Jalang Bian. Aku Selsa, jadi kamu salah kalau mau mengajak ku berkencan."
"Iya kamu benar-- Kamu Selsa. Jalang yang dulu pernah menjadi kekasihku."
---
Meletakkan baskom berisi air di atas meja, Selsa merendam handuk kecil yang ada di tangan nya ke dalam Baskom. Dirasa sudah rata basahnya, diangkat nya Handuk kecil putih lalu di peras. Ia meraih tangan Bian yang lebam gara-gara tadi menonjok dinding.
Dengan telaten Selsa mengompres tangan lebam Bian. Bahkan sekarang Bian tengah memperhatikan ketekunan Selsa dalam mengompres lebam nya.
"Dasar Bodoh, dari dulu tidak pernah berubah."
"Salah siapa kamu membuat ku emosi."
Selsa mengembalikan Baskom juga handuk kecil di tempat nya. Setelah itu ia kembali menghampiri Bian dan duduk di samping laki-laki itu.
"Kita selesaikan semua nya sekarang. Aku sudah cukup pusing mendengar semua nya," ujar Selsa pelan.
"Ambil uang itu. Kamu tetap menjadi Model perusahaan ku."
Selsa menggeleng. Ia menatap Manik mata Bian yang juga menatap kearah nya. "Aku tetap tidak mau Bian."
"Selsa please berhenti keras kepala. Terus kalau kamu keluar dari perusahaan ku, kamu mau kerja dimana? Aku sudah membatalkan semua Job yang akan kamu ambil." Geram Bian.
"Masih ada pekerjaan lain yang bisa aku ambil Bi. Aku tetap menjadi seorang Model dan mungkin tidak seaktif dulu."
__ADS_1
Kedua nya tadi sudah sepakat untuk tidak berbicara menggunakan emosi. Setelah Bian mengatainya Jalang, Selsa sempat marah dan memberontak pergi dari Apartemen nya. Namun sekuat tenaga juga Bian mencegah Selsa agar tidak pergi dari Tempat nya.
"Terus kamu mau kerja apa? Jadi anak buah nya mucikari?."
Selsa tertawa jenaka, "Maybe, kenapa tidak? Lagian itu hal yang mudah buat aku. Bukan nya kamu bilang kalau aku punya tubuh yang bisa di pamerkan?."
Masih saling menatap manik, Bian mempertajam pandangan nya. Bahkan Selsa di depan tak menunjukkan rasa takut atau apa, Perempuan itu menunjukkan raut biasa saja.
"Sialan, Jangan pernah memancing emosiku Selsa. Aku tidak akan pernah memecat kamu. Ingat itu baik-baik," Bian mengikis Jarak keduanya. "Aku tidak mau Milikku dibagi dengan orang lain." Lanjutnya berbisik.
Hati Selsa berdesir, ada jalaran hangat disana mendengar Bian berbicara seperti itu.
"Aku bukan milik kamu Bian."
"Kamu sudah menjadi Milikku Selsa, sejak kemarin aku membeli mu dari Agensi bodoh itu."
Lagi-- Selsa mendengar kata-kata yang sangat melukai harga dirinya. Selsa bergerak menjauh dari Bian. Ia mengalihkan pandangan nya tak lagi menatap Bian.
"Aku tidak pernah merasa menjual diri disana. Aku bukan milik siapapun dan kamu tidak berhak mengklaim aku sebagai milik kamu."
"Seharusnya kamu senang menjadi Milikku Selsa. Hidup mu akan terjamin, Rumah Mewah-Mobil terbaru-Tas branded-Sepatu-Baju atau apapun kamu bisa meminta nya dengan cuma-cuma."
"Aku bukan perempuan matre. Aku masih bisa membeli nya sendiri, dan aku tidak butuh harta kamu untuk membeli itu semua."
Selsa beranjak kemudian berjalan menjauh dari Apartemen Bian. Meninggalkan laki-laki yang masih tertawa licik di tempat. Usahanya balas Dendam dengan Selsa ternyata berjalan dengan lancar.
"Kita lihat saja seberapa betah kamu dengan kehidupan mu yang sekarang. Bahkan aku tahu kamu masih memiliki banyak tanggungan. Mobil dan juga Apartemen Selsa."
Langkah Selsa sempat terhenti mendengar penuturan Bian. Kepalanya melengos kebelakang, menatap Bian yang memasang senyum miring.
"Lebih baik aku menjadi gembel dari pada harus menghangatkan ranjang mu."
Bian mematung di tempat, Sungguh ini adalah penghinaan terbesar nya. Selsa, Lihat pembalasan Bian.
__ADS_1
---