
"AAAAAAAAAAA."
Bangkai kucing beserta foto berlumuran darah dibuang begitu saja. Nafasnya memburu dan matanya mengerjap seketika, wajahnya pucat karena ketakutan. Batinnya mengumpat tak perduli jika mengganggu tetangga apartemennya.
"Astaga orang itu kembali berulah."
Selsa menutup pintunya rapat-rapat, berjalan tergesa menuju dapur untuk mengambil segelas air mineral lantas diteguknya cepat-cepat. Daksanya meluruh pada kursi disamping, tangannya mengusap wajahnya berkali-kali dan berbisik tidak akan ada apa-apa.
Tangannya beralih merogoh saku celana guna mengambil ponselnya, di utak-atik untuk mendial nomor seseorang. Namun yang didapat hanya bunyi 'tut' beberapa kali, tidak mengangkat panggilannya sama sekali.
Berganti, matanya menelisik jeli pada layar ponsel. Mina, hanya harapannya saat ini, semoga saja perempuan itu mempunyai waktu luang dan mau menemui Selsa di apartemen.
"Masih tidak diangkat? Astaga Mina, kemana kamu?"
Hatinya masih saja gelisah ketakutan, pasalnya hanya ada dirinya saja di apartemen ini. Fabian sudah meninggalkan apartemen sejak satu jam yang lalu. "Vano! Semoga saja,"
Mendekatkan ponselnya ke telinga, hatinya terus berharap kalau Vano akan menjawab panggilannya. Namun nihil, Fabian, Vano bahkan Mina sama sekali tak ada yang menjawab panggilannya sama sekali.
Selsa harus bagaimana? Rasa takutnya lebih besar saat ini. Ditengah pikirannya yang sibuk mencari siapa yang akan dimintai tolong, satu nama terlintas disana. Sakti.
Mendekatkan ponselnya pada telinga, Selsa kembali bernafas lega. Kenapa disituasi seperti ini Sakti adalah orang yang tepat untuk dihubungi. Syukurlah Sakti.
"Halo Sakti,"
",,,,,,"
"T-tolong! Tolong temui aku di apartemen temanku, Sakti ada orang yang berani menerorku."
",,,,,"
"Cepat ya Sakti! Aku sangat takut,"
",,,,"
"Baiklah akan ku kirim alamatnya sekarang."
Selsa memutus panggilan sepihak, berganti dengan mengirim sebuah pesan berisikan alamat apartemen pada Sakti.
Selsa tak habis fikir, ia rasa dirinya sangat jahat kepada Sakti. Hanya membutuhkan lelaki itu disaat situasi genting seperti ini, dan kembali mengabaikan lelaki itu disaat Fabian ada disisinya. Mengingatnya lagi membuat beban pikiran Selsa bertambah, hubungannya dengan Sakti belum sepenuhnya berakhir juga. Lantas apa yang akan dilakukannya, siapa yang akan dipilih nanti?
Fabian yang kelewat brengsek atau Sakti yang kelewat baik?
Sakti cepat, aku takut.
●Sweet (ex) Boyfriend●
Nadia tergagap melihat dua orang beda jenis dihadapannya, menatap dirinya tajam. Keduanya belum bersuara sejak kedatangan beberapa menit yang lalu, yang jelas Nadia merasa terintimidasi juga terpojokkan.
Pikirannya berkelana mencari tahu apa motif dua orang itu datang ke apartmennya? Adakah hal yang benar-benar penting untuk disampaikan? Perasaannya sedikit tidak enak dan gusar mengingat salah satu dari dua orang tamunya adalah teman dekat dari seorang Selsaniva Kania.
"Silahkan pikirkan apapun yang akan kulakukan bersama suamiku disini."
Nadia sedikit tercengang mendengar kalimat pertama yang Mina layangkan untuknya. Terkejut karena pasti ada sesuatu yang penting yang harus dirinya ketahui. Baiklah ucapkan selamat datang pada penderitaan Nadia, bisiknya dalam hati.
"Ada beberapa hal yang ingin kutanyakan, juga beberapa hal yang ingin kusampaikan," Mina menjeda sebentar, "kamu tahu aku tidak pernah main-main dengan ucapanku, kalau kamu saja berani mengganggu ketenangan Selsa, aku yang akan balik mengganggu ketenanganmu." Tuturnya tegas namun tajam. Sorot matanya tak menunjukkan perdamaian sama sekali.
"Aku sebenarnya tidak paham maksudmu," tutur Nadia gugup.
__ADS_1
Mina menatap tajam Nadia, "Aku tidak menyuruhmu untuk memahami kalimatku. Hanya saja ingat, jangan pernah menyakiti Selsa! Kalau memang dirimu yang melakukan semuanya untuk menghancurkan hubungan Selsa dan Fabian itu percuma, karena cinta keduanya sangat kuat." Bisiknya ketus mengenai ulu hati Nadia yang nyeri.
"T-tunggu, maksudmu apa? Aku tidak melakukan apapun untuk menghancurkan hubungan Fabian dan Selsa."
"Aku tidak perduli dengan alasanmu apapun itu Nadia karena orang yang licik selalu bisa mencari alasan terbaik dan masuk akal. Jangan pernah berpikir untuk menipuku dengan wajah polosmu itu, kamu itu busuk sebenarnya. Apa sudah sejauh itu obsesimu kepada Fabian?"
Nadia tidak akan diam saja kalau memang ucapan Mina keterlaluan. Cukup sudah dirinya diberi perasangka apapun yang buruk, "Jaga ucapanmu Mina! Sampai sejauh ini aku tidak pernah menyakiti orang lain dengan tanganku, jadi jangan pernah membuatku ingin melakukannya padamu." Ujarnya kesal.
Vano sedikit kewelahan menghadapi dua perempuan yang sama-sama emosi. "Nadia, Nadia sabar. Mina kamu juga sabar. Kita bicarakan semuanya secara baik-baik." Katanya menengahi.
Mina beranjak dari tempatnya, mengejek Selsa lewat tatapan mata. "Oh begitu? Kamu tidak pernah menyakiti siapapun dengan tanganmu?" Ejek Mina dengan raut angkuh, "tapi ingat Nadia, kamu sudah menyakiti orang lain dengan perbuatanmu. Dasar jalang perempatan, berhenti menggoda Fabian dan jangan pernah lagi mengirimkan hal aneh kepada Selsa."
Plak!
Nadia beranjak dari tempatnya dan reflek begitu saja menampar Mina. Harga dirinya hilang begitu saja mendengar Mina mengatainya jalang, hatinya juga seperti diremas kuat-kuat dan dirinya menahan sesak.
"Berhenti mengatiku jalang Mina. Aku menghormatimu sebagai istri Vano dan sahabat Selsa, jangan kira aku diam saja ketika kamu menginjak harga diriku. Aku memang dekat dengan Fabian, tapi aku bukan termasuk jalang koleksinya yang bisa dipakai kapan saja." Air wajahnya berubah sendu, matanya berkaca-kaca siap meluncurkan liquid bening kapan saja.
"Nadia duduklah, Mina juga duduk. Aku tidak ingin ada kesalah pahaman terus menang, ayo kita selesaikan semuanya."
Mina melengos begitu saja, ingin undur diri namun dicegah Vano. "Aku mau pulang! Kalau kamu tetap disini aku bisa memesan Ojek online."
"Sayang tunggu sebentar! Aku akan meluruskan semuanya." Bisiknya lembut.
"Vano tap-"
"Sayang--, bisa tunggu sebentar?"
Mina mengangguk begitu saja. Kembali duduk disofa milik Nadia dan embgalihkan perhatiannya menjauhi Nadia. Hatinya dongkol setengah mati ingin menerjang perempuan itu dan mencabik-cabik anggota tubuhnya dan dibuang begitu saja.
"Nad maksud kedatanganku disini untuk meluruskan sesuatu. Aku ingin menanyakan, apa kamu yang selama ini mengirimkan teror kepada Selsa?" Tanya Vano pelan-pelan.
"Bukan begitu Nadia, aku dan Mina tidak maksud menuduhmu. Aku menyelidiki semua orang terdekat Fabian termasuk kamu,"
"Begitu ya? Kenapa selalu aku yang disalahkan? Kenapa selalu aku dituduh yang tidak-tidak? Kenapa selalu aku yang seolah menjadi orang jahat dalam hubungan Fabian dan Selsa? Aku memang dekat dengan Fabian, lebih dari apapun. Aku tahu bagaimana Fabian lebih dari siapapun, tapi aku tidak pernah sama sekali mencampuri urusan pribadi Fabian. Siapapun perempuan yang dekat dengan Fabian tidak pernah kuperdulikan, atau kutanyai bahkan mengirim teror seperti yang kalian tuduhkan, tidak pernah."
Airmatanya sudah mengalir tanpa diperintah. Menurutnya dunia kembali jahat, kembali kejam dengan menghadirkan orang-orang yang terus-terusan menuduhnya yang tidak-tidak.
"Ah ularnya sudah mengeluarkan bisa. Nadia aku tidak akan pernah percaya dengan ucapanmu yang penuh bisa mematikan itu, aku selalu menganggapnya angin lalu. Jadi jangan repot-repot ceramah didepanku hal yang tidak penting."
Nadia menatap tajam Mina, "Elmina aku tahu kebencianmu berawal saat selsa dan Vano mengakhiri hubungan dan itu semua karenaku. Mungkin kamu berfikir kalau aku ini terlalu memaksakan semuanya, tapi benar Mina aku sama sekali tidak peenah ikut campur perihal hubungan Fabian dan Selsa." Ujarnya meyakinkan.
"Tujuanku kemari untuk menanyakan kamu pelaku teror itu atau tidak? Bukan malah menyaksikan air mata buaya yang membuatku jijik." Bentak Mina keras membuat siapapun berjingkit kaget.
Vano menatap istrinya lembut, mencoba memberikan ketenangan dengan mengusap lengan perempuan itu pelan.
"Sudah Mina, Nadia sudah mengatakan kalau dia tidak melakukannya."
"Kamu percaya begitu saja Van? Kamu ingat kata-kata Cynza kemarin? Apapun bisa dilakukan jika obsesi sudah melambung tinggi." Ujar Mina tetap kukuh tidak percaya.
"Aku tidak terobsesi dengan Fabian, Mina." Teriak Nadia diselingi isakannya.
"N-nadia sudah berhenti, jangan menangis. Maafkan istriku yang tidak bisa menahan emosinya."
Mina melepaskan kasar tangan Vano yang ada dilengannya, beranjk dari tempatnya dan menatap Nadia tanpa minat. "Heh perempuan ular, aku ingatkan sekali lagi agar kamu menjauhi Selsa. Berhenti mengirimkan teror apapun, kalau sampai aku tahu dan itu memang dirimu, aku yang akan membunuhmu perlahan." Pungkasnya lantas pergi meninggalkan apartemen Nadia.
"Sekali lagi maafkan istriku Nadia. Hapus air matamu, jangan pikirkan ucapan istriku tadi. Kalau begitu aku pamit, permisi." Vano ikut beranjak. Berujar tak enak pada Nadia dan kembali meminta maaf.
__ADS_1
Sepeninggal Vano dan Mina, Nadia *** kuat rambutnya. Tidak perduli jika pening di kepalanya bertambah, Nadia kembali terisak untuk kesekian kalinya. Orang-orang seperti Mina harus Nadia beritahu seperti apa lagi agar percaya?
Fab tolong aku.
●Sweet (ex) Boyfriends●
"Apa yang terjadi?" Tanya Sakti penasaran.
"Akhir-akhir ini ada orang yang sengaja mengirim beberapa kotak berisi bangkai tikus juga kucing padaku." Jawab Selsa serius.
"Kamu melakukan kesalahan?"
"Aku rasa tidak Sakti. Bahkan akhir-akhir ini aku jarang sekali keluar apartemen, kadang cuma sebatas belanja saja kalau keluar apartemen."
"Sudah jangan khawatir sayang! Aku akan mengirimkan pesuruhku untuk mencari tahu siapa orang yang berani mengganggu ketenangan Selsaku."
Aku bukan sepenuhnya Selsamu, Sakti.
Selsa mengeratkan pelukannya pada Sakti, memeluk lelaki iti dari samping lebih tepatnya.
"Sakti," bisiknya sendu.
"Iya sayang?"
"Jangan pernah membenciku ya," lirihnya pilu.
Sakti menunduk menatap Selsa yang memejam, "Kenapa bicara seperti itu? Bagaimana bisa aku membenci perempuan yang sangat penting dalam hidupku?" Tangannya mengusap punggung ringkih milik Selsa.
Aku tidak akan lagi menjadi penting kalau kamu mengetahuinya Sakti.
"Kalau aku melakukan kesalahan yang sangat fatal dan itu menyakiti kamu, kamu boleh meninggalkan aku."
Sakti mencoba melepaskan pelukan namun Selsa mengeratkan, "Sayang kenapa malah membahas hal yang seperti ini? Ada apa? Coba ceritakan semuanya padaku." Paksanya yang masih saja menbuat Selsa tak mau berterus terang.
"Tidak ada apa-apa. Hanya saja bersiap-siap kalau seandainya saja kamu pergi tiba-tiba, jadi aku tidak perlu repot menangisi semuanya."
"Kamu mau aku meninggalkanmu?" Tanya Sakti.
"T-tidak! B-bukan seperti itu." Selsa melepaskan pelukannya, tergagap juga menggeleng kuat.
Sakti tersenyum, "Ya sudah kalau begitu diam saja. Aku tidak akan meninggalkanmu, sudah titik." Dipeluknya sebentar Selsa yang masih terpaku.
"Bagaimana kalau aku yang meninggalkanmu?" Tanyanya polos.
"Aku tidak percaya kamu bisa melakukannya." Ujar Sakti percaya diri.
"Kenapa tidak? Aku bisa saja berhubungan dengan lelaki manapun, apalagi akhir-akhir ini kamu jarang sekali memberiku kabar." Bibirnya mengerucut kesal.
"Kabar tidak terlalu penting. Yang terpenting aku ada setiap kali kamu membutuhkan." Balas Sakti membuat Selsa bungkam.
Hening sebentar.
"Sakti," panggil Selsa.
"Iya sayang, ada apa?" Jawab Sakti.
"Kalau aku meninggalkanmu, suatu saat nanti, kamu janji harus siap ya. Kamu tidak boleh menangis dan memberatkanku nantinya."
__ADS_1
Sakti menggelengkan kepalanya tak perduli, menghembuskan nafas kesal lantas mengusap kepala Selsa pelan, "Sudah aku tidak ingin membahas apapun lagi, tidurlah. Nanti malam aku akan mengantarkanmu pulang." Pungkasnya lembut.
Maaf Sakti! Sepertinya aku.....