
Wajah pucat pasi itu mengerang kesakitan ketika sesuatu menekan lengannya tak sengaja, astaga manusia bodoh, begitu umpatnya dalam hati. Jujur dirinya benci jika harua kembali seperti ini, dirinya benci harus terliht lemah dan tak bertenaga dan dirinya tak kalah benci jika banyak orang mengasihaninya. Hidupnya tak serusak itu untuk dikasihani, walaupun pada kenyataannya memang benar. Dirinya hanyalah barang bekas yang ditemukan dipasar loak kemarin malam, tak ada artinya.
"Ayo minum dulu, sebentar lagi pujaan hatimu akan datang." Sentakan itu terdengar dari sebelahnya. Lelaki berpunggung tegap dan sedikit sipit itu menggumam kesal.
"Nyatanya kamu kekasihku, Re." Nadia sedikit tertatih untuk bisa bangun dari tidurnya. Segelas air mineral diterimanya lantas diteguk perlahan.
"Kekasih? Tidak salah dengar? Yang ada aku hanya pelampiasanmu Nad." Renald dengan santai duduk disisi ranjang Nadia.
"Tidak Renald, kamu salah!" Tepis Nadia membantah. Diletakkannya gelas diatas nakas.
"Sudah cepat minum lagi, kalau Fabian datang dan sampai tahu kamu tidak minum bisa dibasmi diriku." Ujar Renald yang cukup gerah dengan tingkah Fabian. Lelaki itu selalu mengancamnya, yang setiap ancamannya tentu tidak main-main.
"Re bisa tidak tinggal lebih lama lagi disini? Aku butuh kamu Re," tutur Nadia pelan.
Renald menatap Nadia sekejap, "Bisnisku disana lebih membutuhkan aku Nad. Tahun ini perusahaanku sedang naik-naiknya dan aku tidak ingin Mama juga Papa kecewa karena aku membiarkannya kembali down." Katanya membuat Nadia sedikit tak percaya. Nyatanya dari dulu Renald memang mementingkan bisnis dibanding dirinya kan?
"Bisnis terus yang kamu urus Re, aku ini kekasih kamu. Tolong sekali saja lihat aku. Tolong sekali saja berada disisiku lebih lama." Pinta Nadia memelas.
Renald menatap Nadia dalam, "Nadia tolong mengerti sedikit! Aku melakukan ini semua juga untuk kita berdua. Aku melakukan ini untuk masa depan kita, menikahi kamu." Ungkapnya setengah frustasi.
Walaupun badannya ngilu dan berteriak kesakitan, Nadia tetap membalas tatapn Renald tajam. "Kalau kamu terus fokus dengan pekerjaan kamu yang ada kamu lupa denganku Re. Kamu akan lupa kalau aku ini pernah ada dan nunggu kamu pulang ke Indonesia." Pekik Nadia yang sudah kehilangan kesabaran.
"Kalau kamu tidak bisa memahami aku, bagaimana hubungan kita bertahan lama Nad? Cukup selama beberapa tahun aku kuat dengan sikap kamu yang sering menuntut, aku juga lelah Nad."
"Terus mau seperti apa? Kita sudah bertahan selama ini dan kamu mau mengakhirinya begitu saja?"
"Aku akan berpikir lebih tentang hubungan kita. Baik tidaknya keputusanku, aku akan kirimkan pesan singkat untukmu nantinya. Malam ini aku akan kembali ke tempatku." Renald mengalihkan perhatiannya pada Nadia, menatap lurus objek yang ada didepannya.
"Re aku mohon jangan malam ini, aku tidak mau sendirian lagi." Kesusahan Nadia meraih tangan Renald lantas menggenggamnya.
"Tenang saja Nad, Fabian yang akan menemani kamu setiap harinya. Dia yang akan merawat kamu sampai keadaan kamu pulih."
"Tapi Re-"
Renald melepaskan genggaman tangan Nadia, "Bukannya kamu senang jika Fabian yang merawatmu? Itu kan yang memang kamu inginkan? Nadia sudah berhenti membohongi publik! Aku tahu kalau kamu begitu mencintai Fabian." Ujarnya telak membuat Nadia tercekat.
"Bisa tidak jangan menuduhku sembarangan? Re jangan pernah buat asumsi sendiri dan nanti akan membuat rumit semua publik. Aku dan Fabian sebatas teman, sahabat, tidak lebih."
Sorot kecewa sebenarnya terlihat jelas dimata Renald, namun lelaki itu dengan mudah mengahalu agar tidak ada yang tahu. "Terus saja bohong Nad. Terus saja sembunyi dibalik kata sahabat yang sering kamu ucapkan, padahal didalam hati kamu ingin sekali memiliki Fabian. Hidupmu sangat menyedihkan Nad kalau kamu ingin tahu."
Wajah sendu Nadia menjadi mendengar penuturan Renald, ditutupnya kedua telinga agar tak mendengar lagi suara Renald yang sering ia rindukan itu. "Stop Renald. Kalau kamu ingin kembali, pergi sekarang. Aku sudah tidak butuh kamu lagi." Teriaknya histeris.
"Oke kalau itu mau kamu. Aku tidak perduli juga." Balas Renald lantas berlalu meninggalkan Nadia yang sudah terisak keras.
Fabin! Fabian! Fabian!
-
-
-
Are u Ready, Selsa? Sebentar lagi, Fabian akan menendangmu jauh-jauh. Sampah tetaplah sampah, tidak akan pernah bisa menjadi berlian yang banyak di idamkan.
- angel of death
Selsa membuang boneka yang berlumur darah itu jauh-jauh. Nafasnya yang sempat tertahan berganti dengan memburu seperti memang dikejar malaikat maut. Sial, apa sebenarnya mau orang itu hingga menerornya sejauh ini?
Andai saja Fabian tahu, andai saja Fabian ada disampingnya saat ini, pasti Selsa tidak akan ketakutan seperti ini. Malam ini dirinya sendiri di apartemen Fabian, tetap bertahan walaupun lelaki itu mendiamkannya.
"Fab dimana kamu? Pulang Fab! Aku takut," lirihnya pilu.
Dengan sendu Selsa berjalan kearah jendela besar disana, angin sepoi menerpa anak rambutnya hinga berserakan. Pikirannya menjalar kemana-mana untuk menebak Fabian sedang apa dan bersama siapa. Bukankah ini sungguh menyakitkan karena Fabian meyiksa dirinya secara perlahan? Tapi kenapa Selsa mau saja bertahan? Alasannya simpel, tak rumit, Selsa mencintai Fabian lebih dari apapun.
Deringan ponsel diatas nakas membuyarkan lamunanya. Berjalan lantas meraih ponselnya, nama Yumi terletak disana. Wajah yang semula sendu berubah sedikit binar.
"Halo Yumi, ada apa?"
",,,,,,"
"Tidak. Kebetulan aku tidak sibuk."
__ADS_1
",,,,,"
"Em- malam ini?"
",,,,,"
"Ya aku bisa. Kirim saja alamatnya, aku akan kesana sekarang."
",,,,,"
"Baiklah, kamu juga hati-hati."
Selsa memutuskan panggilannya, senyumnya perlahan terbit berkat Yumi. Setidaknya ia masih mempunyai Yumi untuk menghalau beban pikirannya akhir-akhir ini. Selsa berjalan kearah lemari besar, membukanya dan mengamati seluruh gaun yang terjajar rapih disana.
Selsa menarik salah satu dress berwarna merah yang dikatakan cukup berani, hanya dua utas tali yang nantinya akan menempel dipundak, juga dengan potongan dress hingga belasan senti dari pahanya. Ini benar-benar berani, hitung-hitung menghilangkan penat memikirkan Fabian.
Kita buktikan Fabian, malam ini kamu yang tidak pulang atau kamu yang akan membawaku pulang.
-
-
-
Fabian membuka pelan pintu apartemen Nadia. Lampunya mati, hening merayap menghiasi setiap sudut ruangan. Lelaki itu memutuskan langsung ke kamar Nadia.
"Nadia-" baru saja Fabian membuka pintu kamar, Fabian membelalak mendapati Nadia yang akan melakukan hal aneh, "Astaga nadia apa yang kamu lakukan." Fabian menyentak benda itu menjauh, memeluk Nadia erat.
"Ada apa Nadia? Kenapa harus seperti ini? Coba kalau tadi aku tidak datang? Kamu pasti sud-" ucapan Fabian terhenti ketika mendengar tangis Nadia semakin keras. Tangisan frustasi juga pelukan erat menjadi bukti Nadia yang memang tengah sekarat.
Nadia tak menjawab, memeluk Fabian tak kalah erat. Hobinya sekarang adalah menangis dan menangis, juga mengadu pada Fabian. Mau bagaimana lagi, hatinya yang dikata sekuat baja itu ternayata tak benar.
"Kenapa lagi? Jangan bodoh Nadia, masih banyak orang yang menyayangimu. Jangan pernah lagi melakukan hal yang seperti tadi." Desis Fabian emosi.
"Fab, tolong." Isaknya keras.
"Kamu di apakan Renald? Kemana dia?" Tanyanya mengamati tempat sekitar dan tak menemukan Renald si bajingan tengik.
Erangan kesal Fabian terdengar, "Sialan Renald! Awas saja, aku akan mengirim anak buahku untuk menghabisimu sekarang juga." Tangannya merogoh saku celana kerjanya untuk mengambil ponsel warna putihnya.
Masih berjongkok memeluk Nadia begitu tersambung Fabian menjelaskan pada anak buahnya, "Tolong cari dimana Renald Andrean sekarang! Roy sudah tahu orangnya, ajak dia dan beri dia pelajaran yang tidak bisa dilupakan. Kalau bisa sampai nafasnya hilang biar dia tahu rasa." Emosinya menggebu dan ingin menghabisi Renald saat ini juga. Fabian mematikan ponselnya dan meletakkannya sembatangan dilantai.
Menuntun Nadia ke Ranjang, mendudukkan disana, dan meraih gelas beraie di nakas. Membantu Nadia minum perlahan, tangannya sesekali mengusap keringat Nadia yang bercucuran juga mengusap bekas air mata Nadia.
"Sudah Nad tidak usah ditangisi, masih ada aku yang selalu disampingmu."
"Kamu juga bohong Fab, kamu tidak selalu berada disampingku." Lirih Nadia tidak mau menatap Fabian.
Fabian meletakkan gelas di nakas, kembali berjalan dan dudum disamping Nadia.
"Aku sudah meninggalkan Selsa demi kamu Nadia. Aku sudah mencoba membencinya hanya untuk kamu, terus masih ingin bilang kalau aku tidak selalu ada? Aku melakukan semuanya untuk kamu, hanya kamu Nadia."
Nadia menatap Fabian tulus, "Maaf Fab. Terimakasih, terimakasih selalu mengerti diriku. Hanya kamu yang aku punya, jangan pernah pergi ya Fab. Apapun keadaanya!" Pintanya sendu.
Fabian tersenyum, tangannya berganti mengusap kepala Nadia sayang. "Ya aku tidak akan pergi Nadia. Untuk itu ayo sembuh."
"Fab aku menyayangimu."
"A-aku juga Nadia."
-
-
-
"Untuk kerja sama selanjutnya kita bicarakan lain kali saja, ini sudah malam, dan saya sepertinya akan pulang dulu. Istri saya sudah menghubungiku sejak tadi."
"Baiklah pak Vano, kalau begitu terimakasih waktunya."
"Baik pak Kevin."
__ADS_1
Vano menenteng jas kerja menyusuri kelab malam ini. Selesai bertemu dengan rekan baru untuk kerja sama, niatnya ingin segera pulang karena Mina sudah menelfonnya beberapa kali. Ketika menuruni anak tangga terakhir, matanya sedikit menyipit mendapati seseoeang yang amat ia kenal. Tunggu-tunggu, Vano akan memastikannya lagi karena siapa tahu dia salah orang.
Kakinya perlahan melangkah mendekati sosok perempuan yang sangat mata ia kenal itu, sedang sendiri dan menikmati sebotol Vodka yang jelas kadar alkohol lebih tinggi. Vano saja minum itu langsung mabuk dan hilang kendali, apalagi ini seorang perempuan.
"S-selsa?" Tebaknya ragu.
Ketika perempuan itu menoleh, Vano membelalak terkejut. Benar saja itu Selsa. Mata perempuan itu sayu menatapnya, juga tatapannya kosong dan sepertinya sudah mabuk berat. Kalau Fabian tahu mungkin perang ketiga akan segera dimulai.
"Siapa kamu? Pergi aku sedang tidak ingin diganggu." Racaunya acuh.
Vano otomatis memakaikan jas kerjanya pada Selsa karena pakaian perempuan itu yang berani, "Sa ayo pulang, kalau Fabian tahu dia akan marah."
"Ah biarkan saja dia marah. Lagipula dia sedang bersama jalangnya itu, Nadia. Aku tidak perduli." Ujarnya sedikit tak jelas.
"Apa kalian berdua ada masalah."
"Siapa sih kamu terus bertanya?" Tanya Selsa balik dengan kesal.
"Aku Vano Sa, teman Fabian, Suami Mina."
"Vano siapa? Aku tidak kenal. Kenapa hari ini smeua orang membuatku pusing? Fabian, Mina dan suaminya terus sekarang kamu. Pergi kamu, aku tidak butuh kamu disini." Selaa uring-uringan tak jelas. Kadang tertawa kadang juga meracau sendu.
Vano menarik kedua lengan Selsa namun perempuan itu menyentaknya kasar, "Sa maaf tapi aku harus membawamu pulang."
"Lepaskan, aku tidak mau pulang."
"Bagaimana ini? Ah iya, Fabian." Ingatnya lantas menghubungi Fabian.
Vano cekatan mengambil ponselnya, mengutak-atik mencari nama Fabian disana. Tak butuh waktu lama, Fabian mengangkat telfonnya.
"Ke kelab Mutiara sekarang! Selsa mabuk berat dan aku tidak ingin mati muda karena pasti aku akan dibunuh kalau menyentuh perempuanmu."
",,,,,"
Vano meringis pelan mendengar jawaban Fabian. Lelaki itu memang gila, sangat gila, otaknya tak genap seratus persen dan tak bisa berpikir normal.
"Cepat Fabian, jangan banyak alasan! Ini kekasihmu, tega membiarkan kekasihmu diperlakukan tak senonoh para hidung belang? Lagipula hanya sebentar, Nadia tidak akan kenapa-kenapa." Deaisnya kesal. Batinnya turut prihatin memperhatikan Selsa yang seperti ini.
",,,,,"
"Ya sudah terserah. Aku akan pulang sekarang juga dan meninggalkan Selsa sendiri. Biar digilir para pria hidung bilang malam ini."
Vano mematikan panggilannya kesal. Sebenarnya ia tak serius dengan ucapannya tadi, mana mungkin lelaki itu meninggalkan Selsa dengan keadaan seperti ini? Yang ada bukan hanya Fabian saja yang marah, Mina pasti akan lebih marah padanya. Untuk itu Vano duduk dikursi samping Selsa, memperhatikan kekasih Fabian yang tengah menelungkupkan wajah kemeja.
-
-
-
Fabian menggeram kesal. Begitu mendapati panggilan dari Vano, rasa tak nyaman hadir dalam hatinya. Meninggalkan Nadia sendiri dan melajukan mobilnya kencang menuju kelab yang dimaksud Vano. Emosinya terpacu begitu saja mengetahui Selsa mengunjungi tempat sialan itu lagi.
"Sialan kamu Selsa, kenapa senang membuatku kelabakan seperti ini?" Desisnya mengamati padatnya kota Jakarta. Belum lagi umpatan karena harus terjebak oleh beberapa rambu warna merah.
Begitu dekat dengan letak kelab, Fabian menambah kecepatannya agar bisa cepat sampai dan menyeret perempuan tidak tahu diri itu pergi dari sana. Memparkirkan mobilnya sembarangan, Fabian tergesa memasuki kelab seperti orang kesetanan.
Menelisik mencari dimana letak perempuan yang membuatnya kesal bukan main adalah hal yang dituju, begitu mendapati seorang Vano duduk disana mengamati perempuannya Fabian melangkah lebar-lebar menghampiri.
"Apa yang kamu lakukan dengan Selsa?" Tanyanya menyelidik.
Vano berdiri seketika mendapati Fabian dengan wajah kusam berdiri tak jauh darinya, "Woah Santai Bos. Aku melihatnya sednag mabuk tadi, makannya aku menelfonmu kemari. Sudahkan?" Jelas Vano.
Fabian melihat jas kerja Vano tersampir indah dipundak Selsa, untuk itu ditariknya dan dilemparkan pada Vano hingga lelaki itu gesit menangkapnya.
"Aku tidak butuh jasmu," Katanya lalu melepaskan jasnya sendiri untuk Selsa, "sekarang pergilah! Aku yang akan membawa Selsa pulang." Tegasnya hingga Vano berdesis kesal dan pergi dari kelab tersebut
"Selsa sadar, Selsa." Fabian meenpuk keras pipi Selaa agar perwmpuan utu tersadar barang sedetik.
Tangannya otomatis menggendong Selsa meninggalkan kelab yang begitu ramai pengunjung. Tentunya diiringi umpatan untuk setiap langkahnya. Merutuki kenapa perempuan itu bisa menjajaki kelab berbahay itu, kenapa bisa perempuan itu memesan Vodka yang kadar alkoholnya lebih tenggi dan lebih sialannya kenapa perempuan itu mengenakan pakaian sepanas ini?
"Lihat apa yang akan kulakukan padamu Sa."
__ADS_1