My (Ex) Boyfriend

My (Ex) Boyfriend
Dua puluh tujuh


__ADS_3

Selsa menghentakkan kakinya kesal, sudah lebih satu jam berdiri didepan perbelanjaan, namun yang ditunggu tak kunjung datang. Huft! Waktu Selsa terbuang sia-sia kalau begini. Berkali-kali matanya menelisik jam tangannya, belum juga ada tanda-tanda kedatangan.


"Hai menunggu lama?"


Desisan kesal san gerutuan Selsa layangkan. Apa-apaan ini, lelaki itu justru tak menunjukkan rasa bersalah sama sekali, memang benar-benar kurang ajar. "Kamu itu kemana saja sih Sakti? Satu jam aku berdiri disini," ujarnya kesal.


Sakti terkikik geli, "Maaf Honey, jalanan sedikit macet. Kalau begitu kita pergi sekarang." Tangannya menggenggan tangan mungil Selsa. Keduanya berjalan memasuki kawasan pusat perbelanjaan dengan santainya.


"Sudah selesai pekerjaannya?" Tanya Selsa.


Sembari mengamati sekitar, Sakti hanya menjawab deheman. Namun selang beberapa saat mengeluarkan kalimat panjangnya. "Sudah, kemarin sudah ku selesaikan semuanya. Ini juga karena aku sudah sangat merindukanmu, jadi sesegera mungkin aku menyelsaikan dan kembali ketempat ini hanya untuk menemuimu."


"Simpan saja rayuan gombalmu itu. Lebih baik kita makan saja dulu, aku sudah lapar karena lama menunggumu."


Selsa sengaja berhenti disalah satu restoran khas Jepang yang ada disana. Tanpa meminta persetujuan Sakti, Selsa tahu seperti apa selera lelakinya itu. Sushi double porsi tentunya.


"Ya-ya-ya Honeyku ini memang lapar karena menunggu kekasihnya yang tak kunjung datang." Goda Sakti yang mendapati cibiran Selsa.


Pamit sebentar untuk memesan dua porsi Sushi, Selsa kembali ketempat duduknya, seiring pergerakannya tak lepas dari pengamatan Sakti. "Kenapa kamu menatapku seperti itu? Rindu ya?"


"Sangat-sangat Selsa. Aku merindukanmu, tapi sulit memberimu kabar karena sangat sibuk disana. Bahkan aku jarang, hanpir tidak pernah memegang ponselku." Keluhnya lesu.


Jadi Selsa tahu alasan Sakti tidak memberinya kabar selama ini. Jadi memang seberat itu masalah perusahaan Sakti, hingga lelakinya itu bekerja sungguh keras dan melupakan segalanya.


"Sampai segitunya? Memang masalahnya terlalu besar ya? Atau bagaimana?"


"Lumayan besar. Masih tentang kasus narkoba dan perusahaan ikut disinggung. Ya seperti mulai dari awal, aku harus mengembalikan citra perusahaanku lagi. Membujuk rekan yang membatalkan kontrak atau kerja sama begitu saja."


"Kenapa tidak berterus terang saja?"


"Ya percuma aku berterus terang, orang tidak akn segampang itu percaya. Sudahlah Honey, kita nikmati saja watu hari ini, jangan membahas perusahaanku lagi."


Selsa hanya merespon dengan mengangguk. "Makan teraturkan disana?"


"Iya. Levi sudah menyiapkan semuanya termasuk kusuruh membelikan makanan yang sama untuk setiap harinya."

__ADS_1


"Yang penting kamu jangan sampai telat makan Sakti. Kesehatan bagaimanapun harus dinomor satukan. Aku tidak mau kamu sakit karena kerja terlalu keras."


"Iya Selsa; terimakasih sudah mengkhawatirkan ku. Lantas bagaimana harimu tanpa diriku?"


Selsa tersentak. Ah harinya? Tentunya bahagia bukan, karena ada Fabian yang selalu menemaninya. Aish Selsa lupakan Fabian sejenak, sekarang Sakti dulu. "B-baik. Sangat baik Sakti. Tapi ya sedihnya sudah tidak ada lagi martabak manis yang nyasar malam-malam."


"Malam nanti kukirimkan martabak manis untukmu, khusus dan ini pakai cinta."


"Aw-menjijikkan," ekpresinya dibuat seolah ingin muntah, "Sadar umur kalau kamu sudah tua. Jangan berbicara layaknya anak muda." Ejeknya.


Setelah mengatakan itu, tangan Selsa mengadah, menodong Sakti, meminta sesuatu. "Omong-omong mana oleh-oleh untukku?"


"Seriuosly kamu meminta itu? Aku tidak membeli apapun darisana, sumpah." Cengo Sakti.


Bibirnya mencibir lucu, menurunkan tangannya dan kembali menggerutu tidak jelas. "Dasar kamu. Kalau pergi tidak bersamaku ya seperti itu, lupa segalanya."


"Y-ya maaf Honey. Nanti kuajak liburan bersama, berdua."


"London ya,"


"Anything for you, Honey."


-


-


-


"Itu bukannya Selsa ya?"


"Hah- Mana?"


Arah pandang lelaki itu perlahan mengikuti telunjuk perempuan yang ada disebelahnya. Matanya membelalak tak percaya, jadi benar itu Selsa? Matanya tidak salah lihat kan? Untuk apa perrmpuan itu kembali menemui sibajingan Sakti? Benar-benar Jalang. Pikirnya.


"Ayo kita kesana."

__ADS_1


Perempuan disampingnya dengan cepat menarik lengan sang lelaki yang rupanya sudah emosi. "J-jangan dong! Biar saja mereka menghabiskan waktu bersama, bukankah kamu tidak ingin Selsa kembali membencimu?"


Lelaki itu mengangguk, diurungkan niatnya untuk tidak mengacaukan kebersamaan Selsa dan sang kekasih.


"Fab, ayo kita pergi. Temani aku mencari sepatu."


Fabian. Ya dia Fabian, lelaki yang ditunggu Selsa kepulangannya ternyata juga ada di pusat perbelanjaan yang sama dengannya. Tentunya tidak sendiri, Fabian ada bersama seorang bernama Nadia. Nadia yang selalu menjadi tempatnya untuk berkeluh kesah selama ini, Nadia yang selalu dianggapnya seperti adiknya sendiri dan Nadia yang selalu tahu apa dan kenapa itu Fabian.


Memajukan kepulangan dari Luar kota, Fabian lupa memberi kabar Selsa dan berakhir bersama Nadia. Meminta paksa perempuan itu agar mau menjemputnya ke Bandara dan semalam Fabian habiskan bersmaa Nadia, tentunya saling bertukar cerita.


Sengaja, sungguh sangat sengaja, Nadia menggandeng mesra lengan Fabian dengan erat. Tidak perduli jika Nanti Selsa melihat atau apa, salah siapa mengabaikan Fabian. Ini taktik Nadia, sekali lagi Selsa menyakiti Fabian, Nadia tidak akan melepaskan Fabian lagi untuk Selaa yang tidak tahu diri.


"Sudah jangan memasang wajah seperti itu, kamu jelek sekali." Ejek Nadia ketika mengadah menemukan Fabian masih saja memasnag wajah kesal.


"Masa iya dia pergi bersama kekasihnya tidak memberiku kabar terlebih dulu. Memangnya aku ini diang-"


"Kamu juga tidak memberinya kabar Fabian. Diam-diam pergi bersamaku, kalau Selsa sampai tahu mungkin dia akan kembali mencampakkanmu dan kamu kembali terlihat seperti lelaki bodoh." Selsa Nadia cepat.


Nyatanya memang benarkan? Fabian pulang tak memberi kabar pada Selsa, seperti dalam sebuah drama, Fabian berniat memberikan kejutan untuk perenpuan itu. Namun yang didapatinya adalah bukan kejutan, namun dikejutkan oleh Selsa yang bersama Sakti.


"Ini urusannya beda Nadia. Aku tidak sempat memberi kabar karena aku sibuk kerja, kalau dia tidak memberiku kabar sibuk apa?" Kilahnya tidak terima.


"Positive thingking saja, siapa tahu data roamingnya mati. Atau paket internetnya habis."


"Mana ada yang seperti itu? Sibuk dengan kekasihnya iya."


"Lah urusannya sama kamu apa? Ingat Fabian, kekasih Nadia bukan hanya kamu saja, tetapi Sakti." Timpal Nadia yang membuat Fabian kesal.


Tangannya mencubit hidung Nadia lumayan keras hingga perempuan itu susah bernafas. Dilepaskannya paksa dan mendapati Nadia terengah-engah, tawa mengejeknya muncul disana. "Bercanda saja, sudah ayo kubelikan sepatu."


Mata Nadia membelalak, perasaan yang semula kesal berganti senang. Melepaskan pegangannya pada lengan Fabian, tangannya terangkat diudara untuk merayakan sepatu gratis yang akan datang. Demi apapun, Nadia senang sekarang. "Sumpah demi apa? Finally Fabian, ini yang selama ini kuincar darimu. Thank you so much and I love you."


Lelaki itu tak menganggap serius ucapan Nadia yang I love you, karena Fabian tahu seperti apa Nadia. Sayang yang dimaksud disini adalah sayang sebagai keluarga, saudara, adik dan kakak, tidak lebih.


Fabian menggeleng tak menyangka, tawa renyahnya keluar begitu saja mendapari Nadia memekik kegirangan hanya dibelikan sepatu. Menertawakan Nadia yang berjalan lebih dulu selepas memberikan sebuah pelukan juga kecupan di pipi, Fabian pun mengikutinya.

__ADS_1


Sedangkan Nadia yang berjalan meninggalkan Fabian tak berhenti menebarkan senyuman paling manis. Fabian, akhirnya Fabian kembali menjadikan dirinya perhatian setelah hilang beberapa tahun. Kembali membelikan sesuatu untuk Nadia dan menuruti apa mau Nadia. Rasa syukur sangat berlimpah, karena Fabian terus ada bersamanya, menyayanginya tanpa batas.


Apa aku pemenangnya?


__ADS_2