
"Sesuai pesanan, ini nasi gorengmu."
Duduk disofa Apartemen yang terlihat sunyi, Fabian mengedarkan pandangannya sebentar. Setelah mengantarkan Selsa, daksanya mengendarai mobil dan melaju menuju apartemen Nadia.
"Benarkah? Di jam genting seperti ini kamu mendapatkannya?."
Fabian mengangguk, membuka styrofoam yang berisi Nasi goreng. "Aku mencarinya untukmu. Makanlah," Nadia tersenyum hangat, menguncir rambutnya asal lantas menikmati nasi goreng pesanannya itu.
"Tumben sekali kamu minta dibelikan itu, biasanya menghindari makanan berat."
"Ingin saja. Kebetulan katanya kamu lagi diluar kan, jadi sekalian saja." Tercengir memamerkan gigi rapihnya, Fabian menjadi gemas sendiri. Diacak-acaknya rambut berkuncir asal itu.
"Dasar memang, seharusnya kamu sudah tidur. Diatas jam duabelas Nadia, tidak baik untuk kesehatanmu."
"Temani aku ya." Pintanya dengan manja.
Tak bisa menyembunyikan tawanya, Fabian hanya terkekeh geli. Dalam hati sebenarnya ingin segera kembali ke Apartemen dan memastikan Selsa tidur dengan nyenyak atau tidak, namun ia juga kasihan dengan Nadia. Perempuan itu akhir-akhir ini menuntut lebih namun tak Fabian dengarkan. Jadi tidak ada salahnya malam ini ia bermalaman di apartemen Nadia.
"Aku menemanimu, untuk malam ini."
Nadia mengangguk antusias dan bersorak bahagia. Dipelukanya Fabian dengan erat, menembunyikan wajahnya yang merona di dada bidang Laki-laki itu. Hatinya membuncah saking senangnya. Dan Fabian hanya bisa pasrah, ikut tersenyum dan memeluk Nadia juga.
"Kapan kekasihmu kembali ke Indonesia? Aku tidak sabar ingin menendangnya karena membiarkanmu menderita sendiri disini."
"Jangan berbicara seperti itu, dia kekasihku Fabian."
"Kekasih macam apa yang tidak pernah memberi kabar barang sekali. Paling hanya dua bulan baru mengabarimu."
Nadia mendengus, dilepaskannya pelukan Fabian. Tangannya mencubit hidung Fabian lumayan keras dan lama hingga Hidung bak perosotan itu memerah. Fabian meringis dan membalaskan untuk mencubit hidung Nadia, namun tak sekeras yang perempuan utu lakukan.
"Tunggu saja, sebentar lagi dia akan ke Indonesia dan melamarku. Aku akan mengataimu Jomblo karena belum juga mendapatkan kekasih." Ejeknya.
"Tidak masalah, tapi tunggu, menikah? Apa kamu yakin akan menikah dengan dia?."
Nadia mengangguk mantap, "Kan dia kekasihku, memangnya aku akan menikah dengan siapa? Kamu?."
Fabian memberengut lucu, "Enak saja. Aku tidak mau menikahi mu yang manja ini ya. Cengeng pula, aish bukan istri idamanku." Ujarnya menggoda Nadia.
"Yasudah kalau begitu, sana pulang saja."
Berniat meninggalkan Fabian, namun dengn cepat lengannya ditarik lelaki itu dan kembali dipeluknya. Tawa merdu Fabian bisa ia dengar dan membuat hatinya menghangat, melengkungkan senyumannya dipelukan Fabian, ia berseyukur dalam hati.
__ADS_1
"Jangan marah dong, Ayo kutemani tidur malam ini."
-
-
-
Terusik dengan cahaya matahari yang menelisik lewat ventilasi kamar, Selsa perlahan membuka matanya. Mengintip pelan-pelan ruang kamar yang terlalu besar itu, tak menemukan siapapun. Jadi semalam Fabian tidak benar-benar pulang? Dirinya mendecih tak perduli, menyibak selimut dan berjalan menuju Kamar mandi untuk bebersih diri.
Setelah lama berkutat dan menyelesaikan semuanya. Kaki jenjangnya berjalan lanyar ke dapur untuk memasak sesuatu. Mencari bahan makanan disetiap inci dapur, Selsa terlihat kesal tak menemukan apapun disana.
"Sebutir telur saja tidak ada, bagaimana mau berumah tangga kalau mempunyai suami seperti ini? Ingatkan aku untuk tidak kembali jatuh padanya, Tuhan." Monolognya sembari berjalan dan menepatkan diri di meja makan.
Bertopang dagu dan terlihat melamunkan sesuatu, Selsa tak sadar kehadiran seseorang dengan menenteng sebuah plastik berisikan makanan.
"Bubur ayam untukmu."
Tanpa rasa minat Selsa memandangi Fabian yang duduk diseberangnya. Membawakan dua porsi Bubur ayam untuknya juga Fabian.
"Maaf aku telat, tadi aku membelikanmu ini terlebih dahulu, mengingat tidak ada bahan masakan disini."
"Makan saja aku sedang tidak minat melihatmu."
"Ingat pembicaraanku semalam denganmu? Menurut atau kamu menyesal Selsa."
"Kamu itu bisa tidak sehari saja tidak memaksaku. Tidak merecoki hidupku dan pergi jauh dari kehidapnku." Kesalnya lantas membawa satu porsi Bubur ayam itu kehadapannya. Membukanya paksa dan menyuapkannya ke mukut dengan kesal.
"Bagus Cantik, makan yang kenyang. Maafkan aku semalam tidak pulang."
"Tidak perduli." Balas Selsa acuh.
Dalam keheningan, keduanya menyantap bubur ayam perlahan. Fabian sesekali memperhatikan Selsa yang nampak masih kesal kepadanya, juga Selsa yang selalu acuh terhadap keberadana Fabian.
Jadi ingat dulu waktu terjebak hujan dan Selsa berada di rumah Fabian. Meletakkan jaket denimnya dikedua pundak Selsa, menggesekkan kedua tangannya lantas meletakkan pada pipi gembil Selsa, begitupun Mama Fabian yang menyajikam beberapa sajian hangat untuknya. Dengan masih kedinginan, Fabian yang sangat telaten menyuapinya dengan sayang. Ah tidak usah diingat, lagipula sudah berlalu bukan?.
"Tidur dimana semalam?." Tanya Selsa tanpa minat guna memecah keheningan.
Tangannya menutup tempat bubur, Styrofoam, yang sudah habis. Menyingkirkannya ketempat sampah dan kembali membawa dua gelas air putih untuknya dan Fabian.
"Dirumah temanku, semalam ada pesta kecil-kecilan."
__ADS_1
Selsa menggernyit sebentar, Fabian tak menatapnya saat berbicara dan itu tandanya Laki-laki itu tengah berbohong. Ada yang disembunyikan. "Berbohong Tuan Wardhana? Tapi aku tidak perduli juga sih."
Menelan buburnya dengan susah payah, perlahan Fabian memperhatikan Selsa yang sibuk meneguk segelas air putih. Sial, ia lupa jika Selsa sudah mengetahui dalam tentang dirinya. Wajahnya terkejut, namun ia mencoba menetralkan sebisa mungkin.
"Kalau kamu tidak perduli kenapa repot bertanya sih sayang? Khawatir ya?" Selsa mendengus sebal mendengar kata 'sayang' keluar dari bibir Fabian.
"Khawatir apanya? Justru aku itu senang karena kamu tidak pulang, tidak ada yang mengganggu dan merecokiku. Terutama Bibir dan Leherku akan aman jika tak ada dirimu."
Meletakkan sendok perlahan, Fabian menutup tempat bubur yang masih tersisi perlahan. Ikut membuangnya di tempat sampah. "Kenapa dengan bibir dan lehermu? Merindukan bibirku yang bermain disana? Ayo hari ini bermain dengan bibirku, aku bisa menunda jadwal kantor."
Kembali berjalan menuju meja makan, Fabian meneguk segelas air putih yang diambilkan Selsa.
"Dan kenapa ini air putihnya jadi manis? Ah aku tahu, karena aku minum sambil menatap wajah cantikmu." Sambunya dengan nada merayu.
Kalau tidak mementingkan gengsi, Selsa akan tertawa sekeras mungkin untuk penuturan Fabian yang terakhir. Sumpah, ini ada apa dengan laki-laki Wardhana itu? Kenapa merayunya sereceh ini, Tuhan?. Perasaan dulu laki-laki itu paling anti dengan kata menye-menye seperti itu.
"Koreksi pertama; aku tidak sudi bermain dengan bibirmu, lagi. Asal kamu tahu- sama yang pernah kubilang, Bibirmu payah, masih hebat kekasihku. Koreksi kedua; Tolong hentikan gombalan recehmu. Kalau itu cara merayumu sungguh itu tidak mempan, Tuan Wardhana."
"Hei jangan membanggakan kekasihmu dulu jika kamu belum tahu seberapa hebat aku di ranjang. Mau ku ajari?." Celetukan bodoh itu sukses mendaratkan tangan Selsa dikepala Fabian. Mengetuknya sedikit keras agar otaknya bergeser dan kembali ketempatnya.
"Otakmu dari dulu tidak pernah benar, isinya hanya ranjang dan bercinta. Sungguh Fabian, kenapa dirimu secabul ini?."
Fabian mengudarakan tawanya melihat wajha kesal Selsa. Menurutnya ini hiburan pagi yang didapat setelah semalaman suntuk dikediaman Nadia. Walaupun Selsa belum kembali bisa menerimanya dengan tulus, guyonan aneh seperti ini rela ia lakukan jika itu membuat Selsa sedikit lebih nyaman dan tenang ditempatnya.
"Ah kamu belum tahu Selsa, betapa nikmatnya dua hal itu. Ayolah mencobanya denganku, ku ajari banyak hal nantinya."
"Hentikan mulut bodohmu, sialan. Kamu ini tidak ada malu-malunya berbicara seperti itu pada seorang perempuan? Mana yang katanya tidak akan melakukan sebelum mengucapkan jan-,"
"Itu hanya bercanda bodoh; maksudku yang mengajakmu bermain ranjang." Sela Fabian cepat.
Selsa mendengus, matanya sengaja menatap Fabian sesekali. Yang ditatap hanay terkekeh dan sesekali menunjukkan wajah cemberutnya membuat Selsa gemas. Tunggu; apa tadi? Gemas? Hell-, tidak Selsa!.
Senyum kecil terbit dibibir Selsa. Jika diperhatikan dan dikenal lebih dekat, Fabian menjadi pribadi yang menggemaskan dan manja. Namun seolah selama ini-- Lelaki Wardhana itu-, memiliki dua kepribadian yang sukit Selsa tebak. Kadang baik dan menggemaskan, kadang seperti MonsterĀ menyeramkan yang siap memangsanya.
"Kurasa aku lelah jika terus beradu mulut-,"
"Aku justru senang jika mulutku beradu dengan mulutmu Selsa." Sela Fabian yang membuat Selsa mendelik.
"Dasar manusia cabul. Maksudku bukan beradu mulut yang seperti iti bodoh. Bagaimana kalau kita membuat kesepakatan?."
"Kesepakatan apa?."
__ADS_1
Sedetik kemudian Selsa tersenyum penuh arti. Memikirkan kesepakatan yang akan diutarakannya kepada Fabian hari ini dan semoga saja semuanya berjalan dengan lancar.
Maafkan aku Sakti.