
Semenjak tubuhnya dipenuhi cedera, kesibukan Selsa hanya berbaring di ranjang dan ditemani beberapa keping buah yang ada di nakas sampingnya. Sebenarnya ini terlalu berlebihan menurut Selsa, karena perempuan itu masih bisa berjalan walaupun sedikit tertatih. Selsa masih bisa beraktivitas walaupun tidak begitu lancar, namun Fabian membatasi semuanya. Lelaki itu menunjukkan betapa overprotektif dirinya dengan menyewa beberapa asisten rumah tangga untuk merawat Selsa juga beberapa Bodyguard untuk berjaga disekitar apartemennya. Tolong, ini Selsa hanya kecelakaan kecil yang mungkin saja orang itu tidak sengaja, tapi Fabian malah membesar-besarkan dan berbuat seprotektif ini.
"Mbak Santi saya bisa sendiri kok, mending mbak Santi masak untuk Fabian nanti." Selsa jengah sekaligus gerah melihat Santi- asisten rumah tangga baru Fabian- terus saja berada disekitarnya. Bukannya apa-apa, setiap pergerakannya seolah direkam semua oleh Santi dan siap dilaporkan Fabian. Satu hal yang perlu diketahui, Selsa sungguh risih dan agak tidak bisa menyesuaikan diri ketika berada satu lingkup dengan orang baru; termasuk Santi.
"Tidak Non saya takut dimarahi mas Bian, ayo saya bantu berjalan."
Andai saja mempunyai keberanian lebih, Selsa akan merampas lampu tidur yang lumayan itu lantas melemparnya kearah Santi. Sungguh Selsa jengkel sekali dengan perempuan bernama Santi, lagipula Fabian juga kenapa segala mencari asisten rumah tangga. "Mbak Santi percaya dengan omongan keparat itu? Mbak percaya sama saya kalau saya ini baik-baik saja, Fabian terlalu berlebihan." Desisnya kesal.
"Alasan mas Bian seperti ini mungkin tidak ingin hal buruk terjadi pada Non Selsa. Mbak melihat mas Bian itu sangat mencintai Non Selsa lho." Lihatlah betapa cenayangnya si Santi dengan logat bicara yang khas. Wanita yang selalu terkepang dua yang kira-kira umurnya mencapai kepala empat, berbicara seolah memang tahu semuanya. Tapi disisi lain Selsa juga merasa kasihan karena memang alasan Santi bekerja ya karena ekonomi yang buruk juga alasan lain tentang suaminya yang pemabuk dan suka bermain perempuan.
"Aduh mbak apasih? Sudah sana mbak masak saja, saya cuma mau ke ruang tamu."
"Baiklah Non kalau begitu saya masak dulu ya, kalau ada apa-apa teriak saja Non."
Akhirnya dengan sedikit tertatih Selsa berjalan menuju ruang tamu, mendudukkan diri disofa panjang berwarna gelap. Tangannya menggapai remote televisi dan mulai mengoperasikannya. Sembari menunggu Fabian pulang kerja, kebetulan jam dinding menunjukkan pukul lima sore, pasti sebentar lagi Fabian datang. Pikir Selsa.
-
-
-
Hiruk pikuk irama Jazz terdengar apik ditelinga siapapun yang berada diruangan besar itu. Nuansanya serba putih; melambangkan kesucian, tamu undangan pun dituntut mengenakan busana berwarna putih. Beberapa jenis bunga terpasang rapih dengan dipadukan sehelai kain yang menambah kesan paripurna, siapapun yang melihatnya pun pasti akan merasa iri.
Dua anak manusia beda jenis ini dengan mesranya memasuki kawasan gedung dengan mesra, tangan si perempuan menggandeng mesra si lelaki, jika rekan seundangan melihat pasti banyak yang menyangka ini adalah pengantin yang sebenarnya. Bagaimana tidak, penampilan si perempuan sungguh memukau dan menarik minat lawan jenisnya. Dress panjang berwarna putih dengan lengan tiga perempat, satu pita besar berwarna hitam berada dipundak kanan si perempuan itu. Sedangkan si lelaki mengenakan tuxedo berwarna putih begitupun celananya, rambutnya disibak kebelakang mempertontonkan kening mulusnya ditambah aroma air atar yang begitu mahal merasuki penciuman orang yang ada disekitarnya.
"Selamat Cleo, Rafi, langgeng sampai maut memisahkan."
"Terimakasih Nadia, by the way kamu tidak bersama Renald? Dan ini apa kekasih barumu?." Paras pengantin wanita sungguh mengejek, mengamati Nadia bersama seorang lelaki tanpa henti dan seolah mengejek selera Nadia terlalu rendah. Ah Cleo tidak tahu siapa lelaki itu sebenarnya, kalau tahu mungkin bibirnya seketika mengatup dan tak berhasil mengatahkan sepatah katapun.
"A-apa? Em- tidak, dia-"
Si lelaki menjabatkan tangannya, dibalas Cleo denga jemawa, "Saya kekasih barunya! Perkenalkan saya Narendra Fabian Arta Wardhana." Ujar Fabian yang membuat Cleo membola dan otomatis melepaskan tangan. Sial, kalah saing dirinya dengan Nadia.
"Waw, kamu mendapatkan keturunan Wardhana Nad? Ini sungguh hebat, pantas saja kamu membuang Renald dan memilih yang bening seperti ini."
__ADS_1
"Cle hentikan ucapan tidak penting seperti itu. Aku malas mencari gara-gara dan sekali lagi selamat. Aku dan Fabian ijin menikmati pestanya." Nadia menarik Fabian menjauh dari Cleo dan sang suami. Berhenti pada sebuah meja yang berisikan beberapaacam sajian yang memang sengaja disuguhkan untuk beberapa tamu.
Fabian mengamati Nadia yang memasang wajah kesal. Berkali-kali perempuan itu mendengus dan mengepalkan tangannya. "Jadi itu mantan kekasih Renald? Kamu itu bodoh atau apa sih Nad? Seharusnya kamu tidak usah datang, bajingan satu itu saja tidak perduli."
"Renald sibuk Fab, dan dia sudah berjanji akan kembali ke Indonesia untuk menikahiku."
"Nad kenapa rasanya aku tidak percaya dengan omongan keparat itu? Sudahlah berpisah saja dengan dia." Fabian rasa memang Renald ini tidam serius dengan Nadia. Singkat saja, bertukar kabar, Fabian rasa itu penting dan Renald tak pernah barang sekali memberi kabar Nadia yang selama ini menunggu di Indonesia. Sungguh bajingan keparat yang ingin Fabian musnahkan.
"Terus kalau aku berpisah, siapa yang menjadi kekasihku? Kamu?" Ujar Nadia mengulangi ucapan beberapa waktu lalu.
"Tanpa kekasih kamu tidak akan mati Nad, lepaskan orang yang salah."
Nadia mengangkat tangannya acuh, berhenti pada lengan Fabian dan emenpuknya beberapa kali sebelum terlepas. "Sudah jangan berdebat diacara temanku, omong-omong kamu tampan sekali malam ini." Pujinya menampilkan senyum gulali.
"Jelaslah, memang kapan Fabian pernah tidak tampan? Fabian itu selalu ditakdirkan untuk tampan setiap saat dalam keadaan apapun. Tapi omong-omong kamu juga cantik sekali malam ini, berharap Ronald yang ada disini ya?" Tuturnya dengan Jemawa. Aduh ini yang ingin Nadia hilangkan dari kepribadian Fabian, sungguh narsis.
"Iya aku juga memang selalu cantik. Sudahlah berhenti membahas Renald, bisa-bisa aku mati bersama rindu yang selama ini aku pendam." Lirihnya sendu.
Fabian tersenyum sebentar, tangannya merangkul pundak Nadia menguatkan. Jujur Fabian ingin marah dan meminta Nadia melepaskan Renald, namun ia tak boleh bersarang dengan egonya yang berakhir menyakiti Nadia. Bagaimanapun Renaldlah yang dicintai Nadia, Renaldlah yang diinginkan Nadia dan Renaldlah impian Nadia yang selalu dipanjatkan dalam doa agar menjadi nyata. "Selesai acara ayo kita minum, rasanya sudah lama aku tidak minum bersamamu."
"Iya-iya malam ini kita habiskan waktu bersama, sampai pagi kalau bisa."
Dan Fabian melupakan sebuah janji yang terlisankan esok hari tadi; pulang cepat, mengantar jantung hatinya konsultasi dengan seorang dokter dan dilanjut menonton beberapa sinema dengan lampu temaram di apartemen yang sudah ia siapkan. Fabian tidak sadar bahwa sekarang pujaan hatinya tengah menunggu disana, dengan perasaan gelisah dan sedikit rasa cua.
-
-
-
Selsa mengambil sikap yang tepat dengan cara mendiamkan Fabian. Subuh tadi Selsa siuman dari tidurnya dan langsung saja bergerak menuju meja makan menampilkan beberapa lauk yang sama sekali tak tersentuh, meneriaki nama Santi guna disuruhnya membuang beberapa makanan yang sama sekali tak tersentuh. "Aku rasa ini sudah basi mbak, tolong buang saja atau kasihkan ke kucing tetangga." Begitulah titahnya yang disanggupi Santi.
Selesai berbenah diri, Selsa hanya menyibukkan diri dengan bermain ponsel walaupun pikirannya terus saja berporos pada Fabian. Puluhan bahkan ribuan kali panggilan ia layangkan dan nampaknya si anak Wardhana belum juga mau mengangkatnya. Sebenarnya ada apa dengan Fabian? Tumben sekali tak pulang semalaman dan mengabaikan pesan Selsa.
"Awas saja kalau kamu pulang, akan kupastikan sianida tercampur di kopimu."
__ADS_1
Mengusak bantal, menggigiti dan meninju kesal, Selsa rasanya ingin mencari dimana Fabian sekarang; jika kakinya bisa berjalan lancar. Sialnya kakinya masih terseok ketika berjalan dan beberapa umpatan ia layangkan untuk si anak Wardhana yang tidak tahu diri. Semalaman Selsa sudah menunggu kepulangannya, akan tetapi tidak ada tanda-tanda menampakkan diri barang sekelebat mata.
Sibuk dengan asumsinya sendiri, atensi Selsa teralih dengan pintu kamar yang terbuka; menampilkan Fabian dengan wajah kusutnya, berjalan menghampiri Selsa. Wajahnya tersenyum, tapi Selsa yakini itu sebuah senyum paksaan. Pasalnya Selsa melihat gurat lelah diwajah tampan Fabian saat ini. Ada apa, dan kenapa dengan Fabian semalam?
"Selamat pagi sayang, maaf semalam aku tidak pulang."
Deg.
Jantungnya hampir saja terlepas dari tempatnya. Selesai Fabian mengecup keningnya singkat, penciuman Selsa ditikam bau alkohol dari hembusan nafas Fabian. Lagi-lagi yang menjadi pertanyaannya, ada apa dengan Fabian? Apa Fabian semalam bermain dengan jalang?
Lelaki itu duduk ditepi ranjang- sebelahnya- dengan paras yang mengamati wajah kesal Selsa. "Kenapa wajahmu kesal seperti itu? Apa aku berbuat salah?."
"Tidak, hanya saja sepertinya kemarin aku mendengar ada seseorang mengatakan kalau ingin pulang lebih cepat dari kantor, ingin menemaniku konsultasi dengan Dokter lalu menyaksikan beberapa sinema dengan cahaya temaram. Tapi rupaya dia lupa," ujarnya sama sekali tidak melihat Fabian. Tangannya masih sibuk bermain ponsel.
"Aduh sayang maafkan aku. Semalam temanku merayakan keberhasilannya dan kita berpesta disana." Oke ini adalah kebohongan yang kesekian, ketika Fabian selesai menghabiskan waktu bersama Nadia. Untuk kali ini saja, setelah ini Fabian tidak akan berbohong lagi; janjinya dalam hati.
"Dengan tidak memberiku kabar dan mengabaikan panggilanku, Sayang?" Penekanan kata sayang Selsa jelaskan. Mengejek dan memasang wajah acuh tak acuh. Mendiamkan Fabian ternyata tidak semudah itu.
"Iya maafkan aku, janji setelah ini akan memberimu kabar terlebih dahulu." Tutur Fabian.
Selsa menghembuskan nafas kesal, diletakkannya ponsel disembarang tempat dan menyorot Fabian dengan tajam. "Kamu tahu, gara-gara kamu tidak pulang mbak Santi membuang banyak makanan yang belum sama sekali tersentuh Fab. Aku juga kasihan dengan mbak Santi yang sudah susah payah membuatkannya untuk kita."
"Sayang, mbak Santi itu kerja dan aku membayarnya, jadi ya itu adalah hal biasa dan lumrah." Fabian mengusap wajahnya frustasi, hanya karena mbak Santi Selsa memarahinya? Sungguh ini bukan hal yang lucu.
"Kamu memang senang sekali menyepelekan orang lain ya Fab, setidaknya hargai orang yang sudah susah payah menyiapkan makanan untukmu."
Fabian berjalan menuju Selsa, gerakan kepalanya mendekat ke Selsa. "Sudahlah aku tidak ingin berselisih denganmu, aku ingin menciummu sekarang."
Aktivitasnya terhenti kala dua tangan mungil itu menghiasi wajahnya. Menempel disana dan memberikan jarak antara wajahnya dan Selsa. "Tidak akan ada ciuman untuk hari ini dan besok! Semalam kamu pasti mabuk dan aku tidak suka berciuman dengan bibir rasa alkohol."
"Kamu kenapa sih sayang hari ini sensitif sekali? Kamu sedang ada tamu bulanan?."
"Kalau iya kenapa dan kalau tidak juga kenapa? Sudah sana bersihkan tubuhmu dan minta mbak Santi membuatkanmu sarapan."
Fabian mendengus sebal, ditinggalkannya Selsa yang bertengger manis di ranjang. Kakinya dihentakkan sebal lantas menuju Walk in Closet diiringi deburan pintu keras. Selsa terkikik geli ditempatnya, "Selamat menikmati rasa kesalmu Fabian." Pungkasnya tertawa puas.
__ADS_1