
Katakan saja seperti remaja ingusan yang baru merasakan jatuh cinta, Fabian baru-baru ini membuktikan kebenarannya. Benar-benar menunjukkan afeksi lebih kepada Selsa, melindungi dari kerikil kecil yang seolah ingin menghantam tubuh mungil Selsa. Dikategorikan kedalam lelaki romantis, hampir setiap malam Fabian memanjakan Selsa dengan mengajaknya menonton bioskop, makan malam di restoran mewah dan mengamati kartika di rooftop kantornya. Kalau kata anak muda jaman sekarang sih bucin, hehe biarlah Fabian menjadi bucin, lagian Selsa menyukainya.
Fabian tak perduli jika pekerjaan kantor terbengkalai kemana-mana, asalkan Selsa tetap berada didekatnya. Ini bukan hari libur, tapi Fabian mengajak Selsa menghabiskan waktu dipesisir pantai. Menatap hamparan pantai, menikmati beringsangnya terik matahari, juga memindai beberapa pasangan kekasih yang begitu menikmati kebersamaan. Fabian tak perduli, berkali-kali menyenta banyak panggilan dari sekertaris, bahkan sekarang sepertinya lelaki itu mematikan ponsel agar tidak ada yang menganggu harinya.
Berbekal kaus pantai dan celana pendek, Fabian dan Selsa sama mengenakan outfit berwarna putih. Awalnya Fabian menolak tetapi dengan rayuan yang Selsa utarakan membut Fabian menurut, ya tentunya bisa kalian bayangkan dengan pertengkaran kecil.
Berjalan tanpa alas kaki menyusuri pantai, lantunan lagu penyanyi kondang- Brian Mcknight- terdengar merdu karena Fabian menyanyikannya. Bersamaan tangannya yang terpaut dengan tangan Selsa, lirik demi lirik sukses diutarakan penuh rasa. Perempuan disebelahnya tersenyum penuh arti, mengeratkan genggamannya yang semakin berayun.
Can marry your daughter, and make her my wife
Seperti itu ungkapannya, Fabian ingin menikahi Selsa, membina bahtera rumah tangga yang diimpikan selama ini. Mengakhiri semua selisih paham juga penderitaan yang selalu bergelantung dihidupnya.
I want her to be the only girl that i love for the rest of my life
Fabian ingin menjadikan Selsa satu-satunya perempuan yang dicintai selama hidupnya. Menemani hari tua Fabian hingga baya keduanya mengikis lantas habis. Yang Fabian inginkan hanya sesederhana itu dan kenapa pencapaiannya terasa rumit sekali?.
And give her the best of me 'till the day that i die
Memberikan apapun yang terbaik untuk Selsa. Kehidupan yang bahagia juga tak lupa berhiaskan dinasti rumpun yang menambah hidup keduanya menjadi lebih berwarna dan sempurna.
Hembusan angin menerpa daksa keduanya, tetapi meski begitu Selsa dan Fabian masih terus berjalan. Juga dengan dengungan lagu yang selalu Fabian nyanyikan. Mungkin ini sudah terlalu biasa, tidak romantis, namun Fabian tak perduli. Romantis tidak romantis yang terpenting dirinya tetap berjalan bersama Selsa, menggenggam erat tangan mungil milik perempuannya dan meninggalkan dekapan hangat penuh afeksi.
"Sejak kapan kamu pandai bernyanyi?."
"Sejak kamu mencintaiku mungkin."
Selsa menunjukkan ekspresi geli namun pipinya merona. Kenapa sekarang Fabian lebih sering menggodanya sih? Bukannya justru dulu anak Wardhana bisanya hanya berteriak dan mengatai Selsa jalang ?
__ADS_1
"Kenapa sekarang Fabianku berubah seperti bocah puber yang baru merasakan jatuh cinta?"
"Itu karena kamu Selsa. Dasar perempuan jelek yang selalu bikin aku jatuh cinta."
"Huh awas saja kalau aku tambah cantik, aku tidak mau lagi bersama lelaki seperti dirimu."
Fabian terkekeh lucu, diusaknya surai blonde milik Selsa hingga semakin berantakan. Sumpah demi apapun, kenapa perempuannya secantik ini, semenarik ini dan semenggemaskan ini? Rasanya Selsa ingin Fabian karungi saja, disimpan didalam almari lalu dikuncinya rapat-rapat agar tidak ada yang menganggu. Percaya tida percaya juga rasa yang ada dalam dirinya semakin hari semakin bertambh besar, pengaruh Selsa sudah sebesar dan dalam pada dirinya.
"Aku akan tetap memaksa dan mengambilmu dari laki-laki manapun, tidak ingat kemarin saat kita pertama bertemu?"
"Iya dengan mengataiku Jalang. Enak saja, aku masih tersegel luar dalam." Ujarnya pura-pura kesal.
Fabian membelalak, senyum jenaka tercetak jelas diwajahnya. Rasanya lega luar biasa memastikan Selsa masih murni. "Berarti belum ada yang memakaimu? Syukurlah, berarti aku mempunyai kesempatan untuk kau jadikan yang pertama aw-,"
Seperti kebiasaan, Selsa mencubit keras lengan Fabian hingga lelaki itu kesakitan. Selsa tak menunjukkan wajah berdosa, gantian dengan dirinya yang memasang tawa jenaka. "Terus saja berbicara mesum, aku akan meninggalkanmu dan mencari bule disini."
"Iya tidak lagi." Ancaman yang mungkin saja mempan. Lihtlah, Fabin sebucin ini kepada Selsa. Berjarak satu langka saja rasanya enggan, dengan alasan takut merindukan Selsa.
Menjelang matahari menyelam bergantikan warna Jingga yang sangat indah, dua anak manusia yang kembali menikmati romansa sama-sama duduk dipasir tak beralaskan apapun. Tangan keduanya masih sama betah untuk saling menggenggam, dengan modus Fabian yang menciumi punggung tangan Selsa.
"Huft letih sekali, andai saja tadi kamu tidak berlari." Gerutu Selsa kesal.
"Salah siapa kamu mencubitku, sakit sayang."
"Makannya jaga omongan kamu! Mulut kamu itu suka seenaknya kalau berbicara Fab, apa perlu kubelikan alat sortiran agar bicaramu lebih baik lagi?."
"Aishh sayang tidak usah. Nanti aku tidak bisa menciummu lagi."
__ADS_1
Benar-benar mulut yang memang butuh alat penyaring, satu hari lontaran kata Fabian tak ada yang bermanfaat menurut Selsa. Tidak jauh dari ranjang juga teman-temannya, andai saja nurani Selsa mati rasa mungkin Fabian tidak ada disampingnya sekarang. "Mulai lagi? Fab sekarang disekitarku ada banyak pasir, mau merasakan rasanya seperti apa?."
"Ah tidak-tidak sayang, aku bercanda."
Bersamaan dengan matahari yang sedikit lagi tenggelam, Fabian melepaskan genggaman tangannya. Berganti mengusap kepala Selsa sayang, daksanya menghadap penuh Selsa yang terpaku. Jantung keduanya kembali berdegup tak normal, mungkin efek saling bersirobok mata.
Tangan Fabian menangkup mesra pipi Selsa, mengusap area pipi yang begitu halus dan nampaknya jarang sekali tersentuh. "Sayang berjanjilah tidak akan meninggalkanku,"
"Bagaimana kalau kamu yang meninggalkanku?." Walaupun Fabian menatapnya penuh intimidasi, Selsa masih belum mau bersirobok dengn netra tajam milik lelakinya.
"Tidak akan, untuk saat ini kamu adalah prioritas utamaku. Jadi untuk alasan apapun dan karena apapun aku tidak akan meninggalkanmu." Ujar Fabian begitu tulus, tapi membuat perasaan Selsa kembali ragu.
Jemarinya menutup mulut Fabian cepat, tak memberikan akses untuk lelaki itu kembali berbicara. Jantungnya berdetak tak normal ketika mendengar setiap aksara yang lolos dari mulut Fabian, begitu indah. "Sst diamlah! Matahari sebentar lagi beristirahat, aku ingin menikmatinya."
Menyingkirkan tangan Selsa, Fabian masih saja menatap manik Selsa yang selalu berkelit. Mengikis jarak antara dirinya dan Selsa hingga membuat perempuan dihadapannya menahan nafas sekejap, "Kamu ingin tahu bagaimana cara yang paling indah untuk menikmati senja?."
"Tidak, memangnya bagaimana?."
Keningnya berhimpit satu sama lain, hidung bangirnya saling bersentuhan dan keduanya sama-sama saling merasakan hembusan nafas masing-masing. "Tatap netraku sekarang," titah Fabian yang sialnya langsung dituruti Selsa. "Jangan pernah tutup matamu sedikitpun, atau kamu akan menyesal karena melewatkan senja bersamaku."
Keduanya kembali bersirobok, perlahan jaraknya semakin menipis dan bibir keduanya bertemu. Hanya saling berhimpit sebentar, lantas tangan Fabian bergerak menuju tengkuk Selsa. Mengecup juga menikmati bibir Chery milik Selsa yang selalu menggodanya. Benar saja Selsa tak menutup matanya, begitupun Fabian. Si Anak Wardhana tersenyum dan dibalas dengan Selsa, seiring itu matahari perlahan sirna digantikan langit yang berwarna jingga namun sedikit pekat. Ombak pantai setia menari kala angin kembali berhembus lumayan kencang. Tangan Selsa tak tinggal diam, merambah ke rahang juga pipi Fabian. Menangkupnya juga memprdalam pagutan keduanya. Senja kali ini dirayakan bersama orang terkasihnya dan Selsa tidak akan pernah melupakan itu.
Dirasa Selsa yang sudah kehabisan nafas, Fabian melepaskannya. Tersenyum penuh kasih untuk wanita yang ada dihadapannya, mengusap bibir basah Selsa dengan hati-hati. Dikecupnya kening lumayan lama, berganti ke hidung lantas pipi milik Selsa. Berhenti disana Pipi Fabian tertempel dengan pipi Selsa, bibir Fabian siap membisiki untaian kata manis yang siap membuat hati Selsa ditumbuhi banyak bunga.
"Jika ragu masih saja merangkupi nuranimu tatap saja mataku, jika kamu sudah melihat mataku dan menjumpai setitik saja dusta maka tinggalkan aku, cukup semudah itu."
Hati Selsa menghangat tanpa sebab, dengan cekatan dipeluknya Fabian erat. Mengecup Fabian beberapa kali Selsa tidak apa asalkan sekarang hatinya sedikit lega. Tak bisa dipungkiri rasa ragu masih saja melingkupi hatinya, maka untuk itu Selsa memohon dalam hati agar Fabian tak mengecewakannya untuk kedua kali.
__ADS_1