My (Ex) Boyfriend

My (Ex) Boyfriend
Empat Belas


__ADS_3

Berjalan dengan anggun dipelataran Bandara membuat seorang Selsa menjadi pusat perhatian. Lama tak memunculkan diri dihadapan masa membuat Selsa dikelilingi banyak fans yang sekedar ingin berfoto. Ada pula beberapa teman Wartawan yang siap mewawancarainya, namun nampaknya ia akan berpikir-pikir lagi. Hari ini ia akan menjemput orangtuanya yang kembali ke Tanah air. Semalam keduanya sudah mengabari Selsa tentang kepulangannya kali ini, dengan alasan yang merindukan Selsa.


Perempuan itu tak bersama orang-nya Fabian, melainkan bersama Mina. Dengan persetujuan Fabian semalam, akhirnya Selsa diperbolehkan pergi jika bersama Mina. Walaupun kesal, Perempuan itu tetap pergi bersama Mina.


"Di musim kemarau seperti ini tapi kamu menggunakan Syal, ada apa dengan lehermu?."


Duduk di kursi tunggu Bandara, Selsa terhenyak mendapati pertanyaan yang ia hindari. Ini semua gara-gara si kadal sialan itu, leher Selsa banyak sekali jejak merahnya. Bahkan tak tanggung, Fabian meninggalkan satu bekas yang warnanya menjadi merah kebiruan dan itu luarbiasa nyeri sekali. Mungkin efek gigitan yang terlalu keras semalam. "Tidak apa-apa, aku hanya tidak enak badan." Dustanya kikuk.


Jangan sebut perempuan itu Mina jika percaya begitu saja, dengan sekali tarikan ia mengintip apa yang ada dibalik Syal perempuan itu. Mata perempuan itu membelalak saking terkejutnya, "Bodoh, semalam kau bermain dengan siapa?." Mina menjauhkan tangannya dan menatap Selsa dengan mengintimidasi.


Merasa malu, Selsa hanya diam dan meringis kecil. Ini juga salahnya karena menantang Fabian, dan alhasil semalam Laki-laki itu membuat perhitungan dengannya.


"Sakti atau Fabian bodoh?"


"Fabian." Jawab Selsa malas.


Mina membelalak, namun sedetik kemudian tawa menggoda terdengar disana. "Dasar bodoh. Kemarin-kemarin saja bilang tidak mau atau apalah, ditinggali bekasnya kau diam saja. Apa namanya kalau tidak cinta?." Goda Mina yang membuat Selsa mendengus geram.


"Aku itu hanya terbawa suasana Mina. Lagipula awalnya tidak seperti itu. Mulanya aku dicium Sakti, dia meninggalkan jejak disana. Lantas ternyata sudah satu hari itu tidak hilang, dan ketika Fabian berbicara kepadaku ia melihat itu." Dengusnya sebal ketika mengingat Fabian yang mengendus lehernya tanpa ampun.


Masih mengumbarakan tawanya, Mina sengaja menggoda Selsa. Perempuan cantik itu yakin jika benih-benih cinta masih ada dihati Selsa. "Lantas kenapa kamu tidak menolak? Bukankah kamu bisa menendang laki-laki itu lalu berlari-,"


"Sudah berhenti Mina. Aku tidak melakukan apapun kecuali hanya berciuman. Itupun dia yang menikmatinya." Sela Selsa malu. Pipi perempuan itu merona bak kepiting rebus.


"Yakin tidak menikmatinya? Kalau tidak menikmati kenapa bisa dia meninggalkan jejak itu banyak sekali? Sudahlah Selsa, aku saja kalau kamu masih mencintai Fabian."


Mengalihkan perhatiannya, Selsa hanya berdiam dan tak berniat membalas ucapan Mina. Berpikir kembali, apa benar ia masih mencintai Fabian? Semudah itukah ia kembali terjatuh setelah laki-laki itu menorehkan racun yang mungkin saat ini belum ada penawarnya. Dan semudah itukah pesona Bian menjerat Selsa?. Perempuan utu menggeleng lirih, "Tidak Mina. Aku sudah tidak mencintainya, lagipula aku sudah bersama Sakti dan dia juga sudah mempunyai Nadia-,"


"Sekalipun Fabian melakukan banyak cara, aku akan tetap berpegang teguh kepada Sakti. Aku percaya jika Sakti tulus dan serius kepadaku." Pungkasnya pelan.


Mina mengusap pundak Selsa pelan. Mencoba memberi pengertian Selsa yang sampai saat ini bekum menemukan titik terang dalam hidupnya. "Masalahnya ini bukan Tulus atau Serius Selsa. Kamu harus menentukan kebahagiaanmu, jangan mau terus terjerat oleh masalalu yang membuatmu semakin gelap mata dan mempunyai Rasa Dendam yang mendalam kepada banyak orang. Aku yakin Fabian dan Nadia tidak ada hubungan apa-apa."

__ADS_1


Selsa menggeleng tak percaya. Tak semudah itu, banyak bukti yang sudah ia kantongi. Termasuk permainan busuk nan licik Fabian dan Nadia. Dua orang itu telah memanfaatkannya dulu.


"Kamu tahu dari mana Mina? Aku yang tiga tahun bersama Fabian saat itu-,"


"Dan aku yang sudah duapuluh tiga tahun mengetahui latar belakang kamu Selsa. Kita bersahabat sudah selama itu, jadi aku tahu seperti apa kamu." Sela Mina yang sukses membungkam Selsa. Perempuan itu terdiam karena pengutaraan Mina yang menohok hatinya.


"Ceritakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi dulu?. Aku hanya mengetahui kalau kamu pergi ke luar negeri hanya untuk menghindari Fabian."


Menundudukkan kepalanya gusar, sesekali Selsa melirik Mina yang masih setia menatapnya. Dengan sabar perempuan itu menanti sebuah jawaban juga kebenaran darinya. Namun kembali lagi, Selsa belum siap menceritakannya kepada siapapun.


"Maaf aku belum bisa menceritakannya untuk sekarang. Oh iya Mina, omong-omong dimana Daddy dan Mommy? Apa mereka belum sampai?." Ucapnya mengalihkan perhatian.


Mina menghembuskan nafas kesalnya. Selalu seperti ini jika membahas Fabian dan juga Nadia. Ujung-ujungnya Selsa tidak mau bercerita, walau sekeras apapun Mina memancingnya.


"Sebentar lagi-," Mata Mina menelisik sekitar. "Ah itu Mereka, ayo kita kesana." Tunjuk Mina yang melihat Orang tua Selsa menyeret masing-masing satu koper. Keduanya melambaikan tangan antusias kearah Mina dan Selsa, akhirnya keinginan bertemu Selsa terwujud juga.


-


-


-


"Dia tinggal dirumah kek-,"


Terburu Selsa menutup mulut Mina yang pasti akan mengatakan yang tidak-tidak kepada Delina dan Romi.


"Aku tinggal dirumah Temanku Mom." Ujarnya lalu melepaskan tangannya dari mulut Mina.


Romi yang menangkap hal aneh pun menggernyit heran. "Kenapa Mina, kau ingin berkata apa?."


"Tidak Om, hehe."

__ADS_1


"Temanmu yang mana Selsa?


"Ada Mom, Mommy jangan kepo deh." Delina mendengus, mencubit pelan pipi Selsa yang sekarang bermanja dipundaknya.


Mina terkekeh melihatnya. Selsa kembali menjadi gadis kecil nan manja menurutnya. Namun siapa tahu dibalik itu Selsa menyimpan kepedihan yang mendalam. Tak mau berbagi dengan siapapun, termasuk dirinya.


"Nanti malam kita Dinner, ajak teman yang sudah menampungimu Selsa."


Selsa mengangkat kepalanya dari pundak Delina.  Bola matanya membelalak terkejut, "Apa?,"


"Ada apa?,"


"E-e- Tidak Dad. Tapi kurasa temanku tidak usah datang. Cukup aku, Daddy, Mommy juga Mina."


Romi menggeleng. Matanya menatap anaknya tanpa ada bantahan. Jika seperti itu, Selsa harus apa dan Selsa bisa apa? Hanya menuruti semuanya.


"Mommy dan Daddy ingin berkenalan dengan temanmu, kenapa kamu seperti ketakutan?."


Selsa tergagap, tersenyum lantas menggeleng. "Tidak begitu Mom, tapi aku rasa temanku sedang sibuk."


"Laki-laki atau perempuan?."


Skakmat! Kata itu yang sudah bersarang di pikiran Romi juga Delina. Keduanya tak curiga atau takut berlebihan, ini menurutnya wajar karena dulu Selsa pernah tinggal di negara bebas. Asal Perempuan itu tahu batasannya seperti apa.


"Baiklah, nanti malam Selsa akan membawanya kesini. Tapi Mommy dan Daddy jangan bertanya aneh-aneh dengannya."


Romi dan Delina mengangguk paham, beralih kepada Mina yabg sedari tadi diam saja. "Mina-, kalau kau ingin membawa kekasihmu, bawa saja. Jangan sungkan, anggap ini rumahmu juga." Seru Delina yang sukses membuat Mina tersenyum.


Sedangkan ditempatnya, Selaa merasa pucat. Romi dan Delina sudah mengenal Fabian sebelumnya, apalagi dulu Fabian pernah bersidekat dengannya. Mungkin hanya lupa karena sudah bertahun-tahun tidak bertemu.


Mampus, jangan sampai Mommy Daddy bertemu Fabian. Apalagi dengan mulut Fabian yang kelewat sialan itu. Tuhan aku harus bagaimana?.

__ADS_1


__ADS_2