
Impresinya masih sama perihal semalam saat berada dipernikahan Mina. Dua anak manusia tidak tahu diri itu memang benar-benar sialan karena sukses mengacaukan akal Selsa semalaman. Terjaga dengan sedikit rancu, kilas balik masih saja setia mengelabuhinya. Dan lihatlah sampai sekarang Fabian belum juga menampakkan batang hidung dihadapan Selsa, mencoba memberikan spesifikasi yang akurat pun tidak. Ada banyak kemungkinan yang Selsa pikirkan dalam benaknya; mungkin Fabian mencoba menjelaskan sesuatu kepada perempuan itu sampai menunda kepulangan, mungkin juga Fabian mengantar perempuan itu kembali kehuniannya, atau juga Fabian memutuskan menginap dan menghabiskan malam bersama. Astaga, bisa gila Selsa jika terus saja memikirkan lelaki idiotnya bersama perempuan lain.
"Mbak Fabian belum pulang dari semalaman ya?" Tanya Selsa ketika mendapati Santi menyiapkan beberapa makan siang.
Selsa mendapati Santi menggeleng- dengan celemek yang menutupi baju longgarnya, perempuan paruh baya itu masih bolak-balik menaruh hasil karyanya di meja makan. Selsa mengalihkan atensi, mendengus kesal, kesekian kali ponselnya dipandangi namun tak ujung ada tanda-tanda satu pesanpun dari si brengsek Fabian. "Mbak kalau dia pulang lebih baik diusir saja, tidak usah perdulikan kalau ini apartemennya."
"Loh-loh non Selsa kok berbicara seperti itu? Memangnya ada apa Tho?" Tanya Santi tergopoh-gopoh dari dapur dengan serbet yang menggantung di pundak. Wajahnya penasaran juga mata menyipit mengintimidasi Selsa.
"Sudah deh Mbak tidak usah banyak tanya!"
"Wah pasti ada masalah ya non? Semalam non pulang sendiri dengan wajah ditekuk, ada apa non?"
"Mending mbak Santi kembali ke dapur saja daripada banyak tanya! Aku mau makan dulu."
Sebenarnya Selsa sedikit tidak enak dengan Santi yang terus-terusan bekerja dengan Fabian, ya memang dibayar, tapi terkadang Fabian suka seenak hatinya sendiri terhadap Santi. Lagipula tujuan awal mempekerjakan Santi hanya untuk merawat Selsa, hingga sampa lelaki itu membuat perjanjian dengn Santi agar bersedia bekerja disini. Fabian memang sungguh angkuh, apartemen sekecil ini saja segala menggunakan pembantu. Bahkan Selsa bisa membersihkannya dalam waktu sehari, namun dengan arogan lelaki itu melarang dan bersikukuh menggunakan jasa pembantu.
Ekor matanya bersirobok dengan jam dinding yang tertera disana, pukul dua belas siang dan Fabian belum juga kembali. Perasaan Selsa semakin dongkol, beberapa kali panggilan dilayangkan namun tetap saja tak ada jawaban yang pasti dari yang dituju. Sial, kenapa hatinya kembali gelisah seperti ini? Sebenarnya apa yang ditakutkan disini, takut Fabian kembali bersama perempuan itu? Oh Tuhan, Selsa memang sulit sekali percaya dengan seseorang.
Baiklah Selsa harus bertindak sekarang. Tapi apa yang harus ia lakukan, beralih menjadi si antagonis yang selalu menghalakan segala cara untuk mendapatkan amornya, beralih menjadi nona psikopat yang selalu siap membunuh siapapun perebut amornya, atau tetap menjadi si naif yang selalu dikecewakan? Coba beri satu saran untuk Selsa, harus apa dia sekarang. Harus bagaimana jika nanti menghadapi Fabian yang pastinya akan kembali mencampakkannya? Baiklah Selsa sudah bersiap mulai detik ini juga, membentengi hatinya kuat-kuat agar tak lagi diterobos rasa khianat lantas kecewa. Selsa rasa penampilannya sudah cukup apik untuk pergi mencari keberadaan lelaki keparat yang selalu mengacaukan pikirannya, dengan celana jeans panjang juga kemeja berwarna hitam, ia rasa memang sudah cukup karena diantara ribuan, ratusan, jutaan bahkan milyaran perempuan didunia yang tercantik tetap hanyalah ia; ilusinya.
Baru saja tangan cantiknya digunakan untuk membuka pintu, perempuan itu dikejutkan oleh seorang lelaki yang ditunggu-tunggu kedatangannya. Jahanam memang, baru saja matanya terpaku dan bersirobok dengan mata tajam lelaki itu, bau air atar sungguh mengganggu penciumannya. Pasalnya harum air atar tak seperti yang lelaki tersebut gunakan; manly, ini lebih khas aroma milik perempuan. Baiklah Selsa akan menyimpulkannya sendiri, mungkin saja semalam perempuan itu kedinginan dan brengseknya meminjamkan jas kepada perempuan itu. Oh Tuhan, drama picisan sekali kisah cinta Selsa.
"Masih ingat apartemen? Kukira sudah asik dengan jalang barumu." Selesai berucap Selsa berbalik meninggalkan Fabian yang masih mematung, memang benarkan apa yang diucapkan Selsa?
__ADS_1
Bergegas Fabin segera menyusul Selsa yang ia tebak sedang marah karena kejadian semalam. Hei bajingan tengik ya jelas saja kekasihmu itu marahlah, memang siapa yang rela melihat lelakinya berbincang begitu mesranya dengan perempuan lain dan mengabaikan kekasihnya begitu saja. Garis bawahi ucapanku, mesra, sungguh mesra. Kau memang idiot, bajingan, kepara dan juga bodoh, mampus saja karena aku memarahimu. Membuka pintu kamar, Fabian menemukan Selsa terduduk diranjang dengan raut kesal.
"Semalam aku mengantarnya pul-"
"Memang apa perduliku jika kamu mengantarnya pulang? Mau kamu menghabiskan waktu bersama dia selamanya juga tidak masalah denganku, bermain ranjang seperti dulu juga aku tidak masalah. Silahkan!" Entah itu kalimat apa, yang jelas meluncur begitu saja dengan amarah yang memang sudah ada diubun-ubun. Matanya menelisik tajam Fabian yang berdiri didepannya, wajah lelaki itu seperti persatuan antara lelah dan juga kesal. Tapi apa perduli Selsa? Bahkan lelaki itu tak menghubunginya semalam, tak memikirkan bagaimana risaunya hati Selsa ketika melihat berbagai potongan memori dari masalalu.
"Makannya dengarkan aku dulu! kamu tidak pernah berubah, selalu saja memotong ucapanku."
"Apa yang harus didengarkan? Oh aku tahu, apa aku harus mendengar bagaimana dengan kalian semalam? Apa yang terjadi dengan kaian semalam? Meninggalkan pesta dengan gelayut manja dan menuntaskan cinta dibalik sekat?"
Fabian mengusap kasar wajahnya, matanya yang sedikit sayu menatap Selsa penuh pengharapan. "Kamu yang meninggalkan pesta terlebih dulu Sa, aku mencarimu kemanapun."
"Alibi sayang?" Tawa ironi terbit begitu saja, tampangnya sedikit jemawa juga mengejek Fabian, "Sebenarnya siapa yang kamu cari? Selsa atau Nadia? Bukankah aku melihat kamu mesra sekali waktu berbincang dengannya?"
"Jangan bodoh Selsa, Nadia sahabatku dan aku sudah menganggap dia sebagai adikku sendiri."
Fabian mengangkat tangannya keatas, menyerah dengan situasi keras seperti ini. Sungguh friksi seperti ini tidak akam selesai jika sifat keduanya sama-sama keras. "Hentikan omong gilamu Sa. Kamu ini cemburu atau bagaimana? Aku dan dia sudah bersama sejak kecil, dan itu tidak mungkin terjadi."
Selsa berdiri dari tempatnya berjalan selangkh menuju Fabian. Senyum sarkas masih saja diterbitkan, Selsa mengangjat bahunya acuh. "Why not Honey? Dan aku akan meralat ucapan tadi, aku sama sekali tidak cemburu. Terserah kamu ingin melakukan apapun juga dengan siapapun."
Niatnya ingin meninggalkn Fabian begitu saja, namun tangannya ditarik keras hingg daksany menabrak lelaki itu keras. Bibirnya mengaduh kesakitan, lantas dipandanginya tajam lelaki kurang ajar itu. "Bisa tidak kasar dengan perempuan?"
"Kalau perempun keras sepertimu memang harus dikasari," balasnya enteng. "Dengarkan penjelasanku dulu, selesai itu pergilah."
__ADS_1
Pergilah?
Pergilah?
Bajingan sekali lelaki ini. Kadar keparatnya semakin melambung tinggi dengn menyuruh Selsa pergi. Apa maksudnya berbicara seperti ini? Bukannya kemarin Fabian yang selalu mengemis kasih didepan Selsa, dan tidak ada angin apapun lelaki itu memintanya pergi. Sialan, memangnya Selsa mau? Jangan harap.
"Pergi yang kamu maksud sepeti apa? Meninggalkan apartemen, meninggalkanmu untuk selamanya? Kamu ini sungguh tidak tahu malu Fabian, bukankah kemarin kamu yang mati-matin memperjungkan aku, menyuruhku tetap berada disisimu dan sekarang seenaknya saja kamu menyuruhku pergi? Bajingan keparat kamu Fab!"
Fabian menghembuskan nafasnya lelah, ditangkupnya kedua pipi Selsa lantas ditatapnya mata penuh api itu. Ia condongkan kepalanya untuk mengecup kening perempuan itu sebentar, sungguh lembut dan mampu melunturkan segala emosi yang ada didalam diri Selsa. Memang, salah satu harus ada yang mengalah. "Sayangku makannya dengarkan aku dulu! Pergi yang kumaksud bukan seperti itu, aku menyuruhmu menenangkan diri, misalnya bertemu Mina."
"Jangan bodoh, Mina baru saja menikah dan aku tidak ingin mengganggunya." Selanya sengit.
Sabar Fabian, keksihmu itu memang selalu benar dengan segala madahnya.
"Kan misal sayangku yang cantik. Sudahlah jangan marah-marah terus, apa kamu mau wajahmu ker-"
"Kenapa kalau aku keriput, kamu tidak mau beesamaku lagi? Yasudah sana pergi cari jalang lain yang tidak akan keriput."
Untung saja cantik, kalau tidak sudah kusumbangkan ke oknum mutilasi.
Fabian kembali mencegah Selsa ketika ingin meloloskan diri, dengan cara dipeluknya tubuh mungil itu erat. Mengusap kepala serta punggungnya pelan, "sekalipun mereka mengatakan banyak sekali kekuranganmu aku tidak perduli. Telingaku cukup aku tulikan saja, mataku juga selalu aku butakan, sayang aku selalu mencintaimu. Aku menerimamu apa adanya, tidak perduli dengan apa yang mereka katakan."
"Memang dasarnya kamu lelaki buaya, jadi ya memang pandai bersilat lidah. Sudah tidak usah merayuku dengan berbagai kata yang menurutmu romantis, lepaskan pelukan ini, aku ingin pergi berbelanja."
__ADS_1
"Mendengarkan penjelasanku dulu ya sayang, selsai itu kuantarkan belanja." Ujarnya penuh kelembutan.
Kalau seperti ini Selaa bisa apa, selain mengangguk? Memang pada dasarnya hati Selsa selalu lemah jika bersama Fabian, tak berdaya, sarafnya juga melumpuh seketika, mungkin memang sepenuhnya sudah milik si anak Wardhana itu.