My (Ex) Boyfriend

My (Ex) Boyfriend
Empat Puluh Dua


__ADS_3

Setelah kejadian dimana sebuah goresan di leher itu tercipta, Selsa sedikit lebih takut ketika berpergian sendiri. Namun tekadnya lebih kuat untuk tidak mengajak siapapun ketika bepergian, apalagi Mina dan Vano, Selsa tak ingin mengganggu dua manusia yang pastinya sedang bahagia-bahagianya. Ini sudah dua minggu lebih tepatnya, setelah semua kekacauan terjadi, warna dihidup Selsa kembali redup. Pikirannya masih saja terngiang nama Fabian, namun dibalik itu sekuat mungkin Selsa menepis dan melakukan beberapa kegiatan yang mampu menghapus nama Fabian disana. Kisah cintanya yang sekarang tidak ada bedanya dengan yang dulu.


Omong-omong bahagia, satu minggu yang lalu bahagianya kembali membuncah ketika mengetahui sebuah kabar yang mengejutkan. Karena sebentar lagi seorang Selsa akan mempunyai keponakan, malaikat kecil nan lucu yang siap Selsa manjakan. Setelah ditemukan Selsa, tergeletak lemas dilantai dapur, Mina dilarikan kerumah sakit dengan dihiasi wajah pucat Selsa dan Vano; setengah ketakutan. Dan setelah diperiksa, Dokter mengatakan kabar yang membuat hati Vano senang tak terkira begitupun Selsa. Mina hamil dan usia kandungannya sekitar dua minggu. Dan sejauh ini Vano dan Selsa sedikit lebih protektif dengan Mina, membatasi pergerakan perempuan itu dan mencegahnya berpergian jauh.


Seperti saat ini, Selsa yang lebih memilih pergi ke super market untuk membelikan susu ibu hamil untuk Mina. Ini untuk ke beberapa kalinya, dan Selsa melakukannya dengan senang hati. Apapaun dilakukan untuk Mina dan calon keponakan mungilnya nanti.


Tangannya meraih susu ibu hamil kesukaan Mina, memasukkannya dalam keranjang dan mencari lagi bahan masak lainnya yang akan digunakan malam nanti. Sesekali bibirnya menggumam apa yang harus dipilih dan digunakan untuk makan malam nanti. Langkahnya berjalan pelan untuk mengamati setiap hijaunya sayuran disana, juga beberapa daging yang dibungksu dengan rapi itu. Alhasil tangannya hanya meraih satu bungkus daging segar untuk dimasukkan keranjang.


Tidak sampai satu jam karena hanya belanja beberapa bahan dan susu ibu hamil, Selsa berbalik menuju kasir dan merogoh koceknya untuk dibayarkan. Lima langkah berjalan, hanya lima langkah, tubuhnya dihantam seseorang yang mungkin saja tidak melihat jalanan super market yang tidak terlalu luas.


Bruk!


Belanjaan yang ada dikeranjang berserakan di lantai, dengan cepat Selsa mengemasi dan mengembalikannya lagi ke keranjang. Tentunya dengan bantuan seseorang yang menabraknya, hingga mata keduanya saling beradu. Dunia berhenti saat itu juga. Hening, langkah kaki pengunjung super market tak terdengar untuk keduanya.


“Selsa,”

__ADS_1


“Fabian,”


Desisnya bersamaan, sebelum akhirnya Selsa Fabian memutus kontak mata mereka sepihak. Lelaki itu tak berniat membantu Selsa berdiri, sedangkan dirinya sudah berdiri tegak disana dan enggan menatap Selsa. Ish, Selsa juga enggan menatap kamu Fabian!


Selsa tersadar dan seketika menormalkan raut wajahnya yang terkejut dan degupnya yang menggila. Tidak, jangan biarkan jantungmu menggila hanya karena orang bodoh seperti Fabian. Selsa ikut berdiri dan kembali menenteng keranjang belanjaannya.


Paling juga bersama nenek sihir, kalau tidak mana mau seorang Fabian pergi ke super market seperti ini.


Fabian melirik keranjang belanjaan Selsa dan mendapati susu ibu hamil disana. Keningnya mengernyit dan mulutnya gatal ingin bertanya siapa yang hamil, tapi gengsinya lebih besar dan ia kembali mengurungkan niatnya untuk bertanya.


Lelaki dengan wajah kesal itu menatap kepergian Selsa, “Berani sekali dia mendiamkanku, memang dia siapa?” Fabian berdecih kesal dan sedikit tak terima ketika Selsa tak menegurnya sama sekali.


“Fab sudah, ayo ke kasir!” matanya seketika teralihkan kepada Nadia yang membawa beberapa bungkus makanan ringan juga mie instan yang sedang trend.


Fabian menganguk lantas berjalan beriringan menuju kasir. Bisa ia lihat Selsa masih berdiri disana, mengantri dari sekian banyak orang. Dengan diam dan tak banyak komentar, Fabian tetap memperhatikan Selsa, bahkan beberapa kali lelaki itu tak menanggapi omongan Nadia karena saking seriusnya memandangi Selsa.

__ADS_1


“Fab kenapa melamun?” tanya Nadia membuat Fabian terhenyak.


Nadia mengikuti arah pandang Fabian, mulutnya terkatup rapat mendapati seseorang yang Fabian inginkan didepan sana, tak jauh darinya. Sialan, bisiknya dalam hati.


“Aku akan mengembalikan semua barang yang sudah ku ambil, ayo kita pulang saja.” Gumam Nadia yang sudah berbalik namun Fabian cegah.


Fabian mengintrupsi tidak, “jangan gila Nadia! Aku sudah membuang waktu beberapa jam disini hanya untuk menemani kamu, jadi tetap disini dan bayar semua barangnya. Aku tidak perduli sekalipun ada Selsa.”


“T-ttap-”


“Tetap disini atau aku tidak mau lagi menemanimu belanja?” ancam Fabian membuat Nadia bungkam.


Dalam hati Nadia merutuk keras Fabian dan juga takdir yang sudah membawa Selsa ke tempat ini. kenapa harus perempuan itu bertemu dengannya disaat dia bersama Fabian?


Selsa yang berdiri tak jauh dari sana sempat mendengar Fabian dan Nadia yang berdebat, telinganya dipaksa tuli, namun hatinya kesenangan bukan main karena melihat Nadia cemburu setengah mati. Setelah membayar dan mengangkat belanjaannya, Selsa berjalan keluar super market, sebelum benar-benar hilang dari sana kepalanya dipaksa menoleh dan mendapati Fabian dan Nadia yang berdiri disana dan juga kebetulan menatap Selsa. Senyum puas nan mengejek Selsa layangkan disana, mereka pikir Selsa akan menangis darah dengan kejadian beberapa minggu lalu? Mereka pikir Selsa akan terus bersedih dan tidak bisa melanjutkan hidup tanpa Fabian? Dan Nadia pikir Selsa kalah begitu saja? Jangan harap! Justru Selsa yang akan menghancurkan Nadia, membuka semua kedok polos perempuan itu dan mempermalukan perempuan itu didepan public. Tunggu saja.

__ADS_1


__ADS_2