My (Ex) Boyfriend

My (Ex) Boyfriend
Empat Puluh Tiga


__ADS_3

Pribadi Wardhana dengan kakunya berhadapan langsung dengan Dokter, setelah sekian lama tidak lagi menemani Nadia mengunjungi rumah sakit ini, telapak tangannya berkeringat dan lelaki itu mengusap-usapnya gusar.


"Kestabilan berpikir belum pernah sedrastis ini sebelumnya, ini hal yang luar biasa, mungkin selanjutnya Anda bisa terus mendampingi Nadia dan memberinya dukungan lebih. Terus ingatkan untuk istirahat dan tidur tepat waktu, juga jangan terlalu memikirkan banyak hal." Ujarr Dokter Riris.


Fabian mengangguk mantap, "Akan saya pastikan, tapi Nadia bisa sembuhkan?" tanyanya penasaran.


Masalahnya Fabian tidak akan tega memaksa Nadia mengikuti psikoterapi karena Nadia akan semakin merasa dirinya itu tidak berguna, apalagi hidup. Sangat tidak pantas, Fabian tahu seperti apa watak Nadia.


"Saya belum bisa memastikan, tapi saya sarankan agar Anda tetap membujuk Nadia untuk mengikuti psikoterapi secara rutin. Tahu sendiri psikoterapi bukanhlah hal yang singkat prosesnya, dengan bantuan terapi ini, Nadia pasti perlahan akan kembali seperti dulu."


"Apa dengan psikoterapi, Dysthymia yang dialami Nadia akan sepenuhnya hilang Dok?" tanya Fabian lagi.


Sebelumnya, Dysthymia atau gangguan distimik (Dysthymic Disorder) adalah suatu kondisi kronis yang ditandai dengan gejala depresi yang terjadi hampir sepanjang hari, lebih banyak hari daripada tidak, setidaknya selama dua tahun. Orang-orang yang menderita Distimia merasa kekurangan kenikmatan hidup mereka yang bertahan lebih lama dan kurang aktif.


Sama halnya seperti yang lain, Nadia mulai merasakan gejala ini saat dimana dirinya memang benar-benar dalam kondisi down. Tidak ada yang mengerti dirinya sama sekali, hanya Fabian dan saat itu dirinya malu menceritakan semua masalahnya pada lelaki itu, alhasil perempuan itu semakin berfikiran yang tidak-tidak. Mengurung diri dikamar, bahkan pernah hampir bunuh diri karena saking frustasinya. Hidup dengan didikan yang keras, Nadia sempat tertekan untuk beberapa saat, diperintah melakukan hal yang tidak benar dan ditambah dunia hiburan atau modelling yang tak kalah keras membuat pikirannya semakin kacau.


Bersaing dan susah membedakan lawan maupun teman, adalah makanan Nadia sehari-hari setelah terlepas dari pekerjaan keji yang dilakukannya dulu. Aktif di dunia modelling semakin membuat mental Nadia bermasalah. Namun setelah itu diberanikannya bertemu dengan orang yang ahli dalam kejiwaan untuk mengkonsultasikan semau keluahnnya, sempat divonis dan semakin membuat Nadia ketakutan ditambah malu.


"Semoga saja kalau Nadia mudah mengubah cara berpikir, dan rutin mengikuti psikoterapi atau semacamnya. Itu semua tergantung pada penderita Dysthymia, kalau ingin sembuh pasti akan berusaha sedemikian rupa, tapi kalau tetap ingin seperti itu biasanya sulit sekali untuk diajak kerjasama atau bahkan mengikuti psikoterapi."


"Ya saya akan usahakan Nadia mengikuti psikoterapi secara rutin, dan saya mohon sekali tolong bantu kesembuhan Nadia, Dokter! Saya kasihan dengan Nadia yang terus-terusan hidup seperti itu, menganggap dirinya tak berguna dan semacamnya, juga akhir-akhir ini Nadia sering kali melukai tubuhnya sendiri." Ungkap Fabian resah.


"Baiklah saya akan berusaha sebisa mungkin membantu Nadia."


"Terima kasih Dokter, kalau begitu saya permisi dulu."


"Sama-sama, silahkan."


Fabian meninggalkan ruang Dokter Riris dengan perasaan campur aduk. Senang dengan kestabilan Nadia dalam berfikir, sedih dengan Nadia yang akhir-akhir ini memang sering melukai tubuhnya sendiri. Dua hari lalu setelah pertemuannya dengan Selsa di super market, malamnya Fabian menemukan Nadia yang hampir saja menggores lengan putihnya. Untung saja dengan cepat lelaki wardhana itu menepis pisau jauh-jauh dan menenangkan Nadia yang seperti ingin meneriakinya.


Dan inilah alasan sebenarnya Fabian yang mati-matian ingin bersama Nadia. Bukan soal mencintai Nadia atau apa, Fabian murni ingin membantu perempuan yang dianggap sebagai adiknya sendiri itu sembuh dari depresinya. Kembali hidup normal seperti orang lain, Fabian merindukan Nadia beberapa tahun lalu; masa sekolah dan kelulusan mereka yang begitu terkesan.


---


Selsa mengedarkan pandanganya mencari tahu dimana orang yang mengirimkannya pesan tadi. Diajak bicara empat mata dan menyelesaikan semuanya, Selsa diyakinkan sepenuh hati tidak akan di apa-apakan, tidak akan dilukai seperti waktu itu dan tidak akan dibawa pergi kemanapun. Dengan berat hati Selsa meng-iyakan permintaannya dan sekarang perempuan itu sudah sampai disebuah taman dekat dengan rumah Mina.


Sebelum benar-benar meninggalkan rumah Mina, Selsa juga sama halnya sulit sekali diberi ijin oleh Mina. Bumil satu itu sangat protektif dan mengkhawatirkan Selsa, jika nantinya terjadi sesuatu, cukup kejadian di gedung tua beberapa waktu lalu membuatnya takut. Dengan penuh keyakinan Selsa berbicara hati-hati pada Mina, berusaha menjelaskan yang sebenarnya dan Mina dengan tak ikhlas menyetujui, asal pulang dibawah jam delapan malam. Pribadi Kaniva sempat protes, namun Mina kembali memperingatinya bahwa tidak boleh pergi kalau jam delapan tidak pulang.


Lama menunggu kedatangan si pengirim pesan, Selsa mendudukkan diri disalah satu kursi taman disana. Sesekali mengecek ponsel dan mengirim pesan dimana orang tersebut, kenapa tidak sampai-sampai atau menuduh orang itu kalau hanya mengerjainya. Hatinya sedikit gelisah, apalagi langit malam semakin pekat karena mendung, selain itu taman juga terlihat lebih sepi tak seperti biasanya.


Bahkan saking tidak sabarnya perempuan itu menelfon nomor yang katanya baru, karena nomor yang digunakan untuk mengirim pesan nanti akan dihapus, hingga deringan keras itu terdengar dekat darinya. Sangat dekat, dan Selsa sadar kalau bunyi deringan itu dari belakang tubuhnya. Otomatis tubuh mungil itu berdiri, berjalan selangkah dengan ponsel yang masih menetap ditelinga, matanya samar-samar melirik ke belakang. Semakin penasaran Selsa membalikkan tubuhnya dan matanya menyipit mendapati seorang perempuan duduk tak jauh dari tempatnya. Postur tubuh yang sangat amat dikenali, kepalanya ditutupi sehelai kain berwarna putih, namun terlihat ujung rambut yang menjuntai disana.


Perlahan langkahnya bergerak menuju perempuan asing itu, sangat pelan, sekaligus mengambil ancang-ancang untuk pergi jika terjadi sesuatu. Sangat pelan, hingga dirinya berjarak beberapa senti, angina kencang menerpa begitu saja dan kain yang digunakan perempuan itu hilang entah kemana. Selsa terkejut bukan main.


"Nadia apa yang kamu lakukan disini? Jadi benar kamu yang melakukan teror itu?"


Tapi tunggu, Selsa menemukan hal yang aneh dalam diri Nadia. Wajah perempuan itu tidak seperti biasanya, lebih pucat dan dengan kedua mata perempuan itu memerah yang sepertinya habis menangis, serta diujung bibir perempuan itu terdapat memar dan sedikit sobek.


"Jadi memang kamu yang melakukan ini semua Nadia? Kenapa kamu sejahat ini padaku? Sudah cukup aku selalu mengalah sejak dulu, dan kamu masih ingin aku lenyap dari hidup Fabian agar kamu semakin bebas mendapatkan Fabian?"


"A-apa yang k-kamu ucapkan Selsa?" ujarnya terbata, seperti sulit berkata karena tenggorokannya yang sakit.


Selsa yang berjarak beberapa senti hanya mampu diam mengamati perempuan licik itu, sungguh kalau tidak ada hukum Selsa akan membunuh Nadia. Karena hasrat membunuh Nadia sudah ingin dilakukan sejak kemunculan perempuan itu ketika masa sekolah, namun melihat kondisi Nadia seperti ini membuat Selsa sedikit iba.

__ADS_1


"Tolong jujur Nadia! Aku akan memaafkanmu kalau memang kamu jujur, melakukan semua teror padaku supaya diriku lenyap dan kamu dengan mudah mendapatkan Fabian."


Nadia menggeleng kuat, tangan kanannya memegangi sisi perut kanannya yang entah kenapa Selsa tidak tahu. Dengan tertatih perempuan itu berkata, "Demi a-apapun aku tidak melakukannya. T-to-long aku-"


"Katakan Nadia, katakan! Sudah puas kamu melihat semua kehancuranku?" sela Selsa karena sudah muak dengan semua sandiwara yang Nadia lakukan. Kali ini Selsa tidak akan tertipu dan meloloskan Nadia begitu saja, perempuan itu harus menanggung akibatnya.


Langkahnya mendekat dan berhenti didepan Nadia, bersamaan itu tangannya mencengkeram erat kedua pundak Nadia yang memaksanya berdiri tegap. Memandang Selsa, tidak terus-terusan menunduk, dan Selsa berharap Nadia meloloskan kata tentang semua kobohongannya. Bersamaan itu juga guyuran air yang jatuh dari langit membasahi kedua perempuan yang masih setia bersitatap dengan tajam.


"T-tolong b-bawa aku ke rumah sakit, t-tolong! A-aku akan menceritakan semuanya setelah itu." Pintanya memelas dengan tangan yang masih memegang sisi perut kanan.


Selsa mengusap air hujan yang meghalangi pandangannya, "Aku tidak akan percaya denganmu begitu saja Nadia!" teriaknya kala suara hujan lebih keras.


Nadia terjatuh ketika Selsa melepaskan begitu saja kedua tangan dari pundak ringkihnya, meringsi kesakitan ketika luka disudut bibirnya terkena air hujan.


Mata Selsa sudah memerah menahan tangis, walau tak dipungkiri bulirnya sudah jatuh bersamaan derasnya air hujan. "Jangan kira kamu menang Nadia! Jangan kira kamu sudah mendapatkan semuanya, Fabian tidak sepenting itu untuk hidupku. Setelah ini aku yang akan mempermalukanmu, aku yang akan merebut semua yang kamu capai termasuk gelar model terbaik tahun ini. Aku akan membuat dirimu menderita, seperti dulu kamu membuatku menderita dan hampir gila karena kehilangan Fabian." Desisnya tajam dengan padangan tak lepas dari Nadia.


"SUMPAH AKU TIDAK MELAKUKAN APAPUN DENGAN FABIAN SELSA! KAMU SALAH PAHAM!" sekuat mungkin Nadia berteriak didepan Selsa, walaupun tubuhnya memang sudah lemas dan ingin terkapar saja.


"SALAH PAHAM APALAGI? AKU MELIHAT SEMUANYA, FOTO ITU, KALIAN MELAKUKAN SEMUANYA TANPA MEMIKIRKAN BAGAIMANA PERASAANKU, KALIAN SELALU BAHAGIA DIATAS PENDERITAANKU."


Hingga isakan itu terdengar, keduanya sama-sama menangis dibawah derasnya hujan. Keduanya menangisi manusia paling bodoh yaitu Fabian, lelaki plin-plan yang bahkan tidak bisa memilih satu diantara keduanya. Walaupun bibirnya sudah menegaskan memilih Nadia namun tidak bisa dipungkiri hatinya selalu memanggil Selsa untuk setiap harinya, memantau pergerakan perempuan itu tanpa sadar harus rela dikoyak rasa rindu yang menggebu.


Sampai keduanya tersadar dan menatap seorang perempuan yang berdiri tak jauh dari sana, "Wah-wah wah mantan kekasih dan calon kekasih Fabian sedang bertengkar, bagaimana rasanya?"


"Yumi,"Selsa tersedak ludahnya sendiri, "Apa maksud kamu Yumi?" lirihnya bertanya.


Selsa melihat Yumi yang sudah basah kuyup berdiri disana, dengan tawa super licik dan pandangan remeh, ini bukan Yumi yang biasa bersama Selsa.


"Aku benci terus bermain-main dengan si bodoh seperti kalian. Aku benci terus berpura-pura baik padamu, dan aku benci terus melihat wajah polosmu yang sok tersakiti itu, Selsa," Yumi memandang Selsa sengit.


"Jadi kamu selama ini yang melakukan semuanya, Yumi?" tebak Selsa tepat sasaran.


"Iya, aku yang melakukan semuanya. Aku yang menculikmu, aku yang mengirim teror padamu dan aku yang melukai Nadia seperti ini. Aku menjadikan Nadia sebagai alat agar kalian berdua bertengkar hebat dan Fabian meninggalkan kalian berdua." jawabnya lantang.


Selsa mengusap wajahnya beberapa kali karena air hujan, "Gila, kamu gila Yumi! Aku kira kamu sudah berubah, aku kira kamu memang sahabat aku yang sebenarnya, ak-"


"Sstt! Diam saja Selsa, tidak usah repot mengeluarkan suaramu itu," Bisiknya licik, "Aryo-Mad bawa dua manusia tidak berguna ini." teriak Yumi memangil dua pesuruhnya yang datang dari belakang Yumi.


Dua lelaki berpakaian hitam datang, persis yang dilihat Selsa saat di gedung tua itu. Jadi memang benar Yumi yang melakukan semua ini? dan Nadia? Selsa mengalihkan pandangannya pada Nadia yang semakin lemas dibawah sana, perempuan itu dipaksa berdiri dan dioyak untuk ikut dengan lelaki bernama Mad.


Sedangkan dirinya sendiri diseret paksa oleh lelaki bernama Aryo, walaupun melakukan perlawanan, tenaganya masih kalah dengan tenaga suruhan Yumi. Hingga Nadia dan Selsa yang dibawa semakin jauh meninggalkan tempat, ketika berada didekat jalan raya mereka seketika dikepung beberapa orang yang sama mengenakan pakian serba hitam.


Seakan mereka bodoh dan tak memperdulikan hujan yang nantinya akan membuat mereka sakit, kubu pertama ingin membawa kabur Nadia dan Selsa sedangkan kubu kedua ingin menyelamatkan Selsa dan Nadia.


"Lepaskan mereka atau kalian mati." sapanya untum meloloskan kata pertama, tanpa basa-basi.


"Siapa kamu? Suruhan siapa berani-beraninya menggangguku?" balas Yumi yang berdiri tak jauh dari sana.


Tanpa banyak kata dua lelaki itu menendang perut Mad hingga lelaki itu melepaskan pegangannya pada Nadia. Tubuh perempuan itu luruh begitu saja, hingga disusul Selsa yang cekalannya sama halnya dilepaskan.


Yumi dan juga kedua pesuruhnya saling hantam dengan banyak lelaki yang datang dari mobil lain. Dalam hati Yumi mengumpat mati-matian karena dirinya sudah tidak bisa lagi berlari jauh, dua kali dikepung dan dengan orang yang lebih banyak kali ini.


Sedangkan salah satu dari mereka berbaik hati, menghampiri Selsa dan Nadia yang berada dibawah pohon rindang tak jauh dari sana. Meneduh walapun tak menampik keduanya semakin kedinginan dan masih saja terkena cipratan air hujan.

__ADS_1


"Non Selsa, Non Nadia, cepat pergi dari sini. Bawa mobil ini dan tolong non Selsa bawa non Nadia ke rumah sakit." suruh seorang lelaki yang Selsa kira adalah sebaya dengannya, masih muda sekali untuk dijadikan pesuruh.


"T-ttidak, aku tidak akan pergi. Kalian saja yang membawa perempuan ini pergi."


Dilihat lelaki itu mengyibakkan rambutnya yang menghalangi pandangan ketika menatap Selsa, "Saya dan teman-teman saya akan membereskan semua ini non Selsa. Saya tidak ingin saya dan teman-teman saya dimarahi Tuan Fabian kalau sampai tahu kalian kenapa-napa, jadi saya mohon pergi dan bawa mobil ini." pintanya memohon.


Selsa sempat memperhatikan Nadia sebentar, meneliti perempuan itu yang semakin pucat, semakin tidak tega melihat Nadia seperti ini.


"Saya akan membawanya kerumah Fabian, saya tidak perduli nanti akan dibawa kemana perempuan ini." Diraihnya kunci mobil dan sebelum itu meminta bantuan lelaki itu untuk memapah Nadia sampai dalam mobil.


---


Selesai membawa tubuh pingsan Nadia dan membaringkannya dikamar, Fabian cepat-cepat menemui Selsa karena takut perempuan itu pergi. Fabian membiarkan Nadia yang masih basah kuyup didalam kamar sana, berlari menghampiri Selsa yang sepertinya melangkah meninggalkan apartemen namun dicegahnya.


Perjuangan Selsa untuk sampai di apartemen Fabian sangat sulit, untung saja didalam sana ada ponsel yang ternyata berdering dan salah satu dari pesuruh Fabian menelponnya. Mengatakan anak buah Yumi mengejar mobilnya. Dengan menyusuri jalan pintas, Selsa semakin ketakutan dan dalam bibirnya merapalkan banyak doa agar tidak sampai bertemu dengan setan-setan Yumi.


Belum selesai, Nadia yang ternyata pingsan itu sangat merepotkan Selsa. Mau dibawa ke apartemen Fabian tapi Selsa tidak kuat memapah Nadia sendiri, alhasil menurunkan gengsi, Selsa menghubungi Fabian dan menyuruh lelaki itu menemuinya diparkiran. Tak sampai disitu, dengan seenaknya Tuan Wardhana menyuruh Selsa membawa tas jinjing Nadia dan sepatu yang perempuan itu kenakan, Sialan bukan?


"Tunggu dulu," cegahnya seketika mendapat decakan sebal Selsa.


"Apa? Mau memarahiku? Mau menuduhku yang tidak-tidak karena Nadia seperti itu? Sudah basi Fabian, aku tidak ingin membuang waktuku disini untuk mendengar ocehanmu lagi."


"Makannya tunggu dulu, aku ingin bertanya."


"Penting bertanya padaku? Tanyakan saja pada Nadia nanti kalau dia sadar."


Fabian tidak tinggal diam, dicekalnya lengan mungil milik selsa, ditarik paksa hingga tubuh Selsa menghantam dada Fabian dan saling berhadapan. Saling bersitatap untuk beberapa detik kemudian, sebelum Selsa memutuskan pandangannya dan berusaha melepaskan cekalan tangan Fabian.


"Tunggu disini sebentar," pintanya meninggalkan Selsa yang masih kebingungan, memang lelaki super sinting di dunia hanyalah Fabian. Tidak ada yang lain.


Fabian kembali membawa handuk putih juga kesukaan Selsa, segelas coklat panas. Sebelumnya meletakkan coklat panas itu ke meja, dan dirinya mendekat ke Selsa. Menarik pinggang ramping perempuan itu agar bisa lebih dekat, tangannya terangkat, dibalut handuk ia mengeringkan rambut Selsa yang basah karena kehujanan.


Selsa sempat terpaku beberapa saat, ditelitinya Fabian saat ini yang mengeringkan rambutnya dengan handuk. Menggosoknya perlahan seakan takut rambutnya rontok, nafas Selsa kembali tertahan ketika wajah lelaki itu semakin dekat dengannya. Sial, Fabian selalu bisa memporak-prandakan hati Selsa.


"Apa yang kamu lakukan, huh?" Tanya Selsa sedikit kaku.


"Mengeringkan rambutmu, apalagi?"


Selsa seketika tersadar, dipisahkannya jarak beberapa senti agar dirinya dapat menghirup udara lebih banyak. Menata tatanan rambut yang sempat berantakan, "tidak usah repot-repot, aku akan pergi sekarang."


"Minum dulu coklat panas yang kubuat!"


"Tidak usah terima kasih."


Tak sabar Fabian menarik Selsa, lagi, dan menempatkan perempuan itu di sofa besar miliknya. Meraih coklat panas yang ada di atas meja dan ikut duduk di sebelah Selsa, menyodorkan coklat panas buatannya.


"Tidak usah repot-"


"Minum, sekarang!" Katanya singkat dan tanpa bantahan.


Selsa hanya menurut, membiarkan Fabian membantunya untuk minum Coklat panas yang memang menggodanya. Kesukaan Selsa yang tak bisa terbanthakan, Cojlat panas adalah hidup dan matinya.


Hanya dua kali tegukan, tenggorokan yang sedari tadi kering kini menghangat. Hingga jemari lelaki itu perlahan menyusuri tepian bibir untuk memberaihkan sisa, dan yang paling mencenangkan adalah ketika lelaki itu mendadatkan bibirnya disana. Mengecupnya beberapa kali sampai berubah jadi decakan kecil yang lembut nan memabukkan. Hanya Fabian, tentunya hanya lelaki itu yang menikmatinya, Selsa tidak sama sekali membalasnya. Justru dimenit selanjutnya perempuan itu memisahkan diri, dan tersenyum penuh arti.

__ADS_1


"Merindukan Ciumanku, Fabian?"


Dan Fabian seketika melupakan pertanyaan yang ingin ditanyakan, Sialan.


__ADS_2