My (Ex) Boyfriend

My (Ex) Boyfriend
Tiga puluh tujuh


__ADS_3

Mungkin akan merasakan sakit kalau pribadi Kaniva itu sadar, nyatanya ditengah dirinya yang masih dalam pengaruh alkohol, Fabian menyeret tanpa belas kasihan mulai keluar dari lift hingga dalam apartemen. Yang jelas emosi lelaki itu memuncak dan Selsa hanya meracau tidak jelas, terkadang yang Fabian dengar hanya beberala umpatan dari Pribadi Kaniva.


Fabian membuka pintu kamar, masih menyeret Selsa paksa, berjalan menuju kamar mandi lalu menghempaskan Selsa disana hingga perempuan itu meringis kesakitan karena punggung yang membentur dinding. Fabian berjongkok didepan Selsa, menatap tajam Selsa yang masih saja mabuk dan hanya memejamkan mata sesekali meracau, ditatapinya dengan dingin nan tajam. Tangannya terangkat mencengkeram dagu Selsa untuk bisa perempuan itu menatapnya. Dan Fabian merasakan tatapan sayu nan sendu dari Selsa.


"Kamu kira aku bakal respect saat keadaanmu seperti ini?" Desis Fabian tajam.


Selsa tidak menjawabnya, hanya menatap sayu Fabian sesekali berbicara lirih namun tidak jelas. Dan disetiap hembusan nafasnya Fabian begitu mencium alkohol yang menyeruak. Fabian melepaskan cengeramannya, beralih meraih shower lalu menyalakan cekatan. Sebelum itu jas yang sempat digunakan untuk menutupi Selsa sudah hilang entah kemana. Disiramnya Selsa hingga perempuan itu memekik karena dinginnya air yang mengguyur. Ini sinting, Fabian menghukum Selsa dibawah Shower disaat jam dinding menunjukkan angka dua belas. Dan itu pasti sangat dingin, belum lagi cuaca yang tak begitu bagus. Baju merah yang dikenakan pun sudah rata dibasih air.


Kesadaran Selsa sedikit pulih, hanya sedikit, mengusap wajahnya beberapa kali karena air masih mengucur deras. Sayup-sayu mendengar penuturan Fabian yang membuat hatinya cacat. Selsa mengusap ledua lengannya berkali-kali untuk menyamarkan rasa dingin, karena Fabian tak kunjung mematikan Shower.


B-berhenti, dingin.


Siapapun tak akan mendengar jeritannya dalam hati. Mulutnya ingin sekali berteriak, namun dirasa tenaganya terkuras entah karena apa. Matanya sesekali mengamati Fabian yang menatapnya tajam dan dingin. Hingga sampai anak Wardhana itu menjauh untuk mematikan saluran air, selesai itu kembali berjongkok didepan Selsa.


"Puas? Puas membuatku seperti ini?" Desis Fabian terengah-engah karena emosi.


Selsa hanya menunduk, sesekali menyelipkan anak rambut yang menghalangi pengelihatannya kebelakang telinga. Ini tidak benar, kenapa Fabian berubah seperti ini? Batinnya dalam hati. Tidak ada salahnya menangis, toh Fabian tidak akan tahu kalau dirinya menangis karena bersamaan dengan basahnya air yang melingkupi wajahnya.


"Apa yang kamu fikirkan sampai menjajaki tempat yang kamu sendiri tidak tahu seperti apa? Disana bahaya Selsa, kamu bisa saja digaet lelaki hidung belang dan tidak dipulangkan." Bentaknya kecil.


"Lagipula dari mana kamu tahu tempat seperti itu? Aku jadi curiga kalau kamu memang sudah jauh berbuat hal yang aneh-aneh." Tuduh Fabian membuat Selsa mendongak menatapnya.


"Ya terus, lanjutkan saja semua tuduhanmu. Sekarang yang kamu tahu hanya aku yang salah. Selsa yang salah, Selsa yang salah dan Selsa yang selalu salah. Fabian benar, Nadia benar dan semuanya benar." Nafasnya tercekat, bibirnya berkata dengan lirih.

__ADS_1


"Memang kamu yang salah. Kamu yang bodoh dan ceroboh ini selalu merepotkanku-"


"Kalau aku merepotkanmu kenapa kamu dulu membawaku kesini? Kenapa kamu memintaku tetap berada disampingmu sampai sekarang?" Sela Selsa cepat. Hingga kemudian perempuan itu mengalihkan pandangannya.


Fabian diam saja. Sedetik menghembuskan nafas gundahnya pelan, matanya memutar menatap objek lain guna menghalau supaya air mata tidak jatuh karena menatap Selsa iba. Beranjak dari tempat, Fabian meninggalkan Selsa yang menangis.


Pribadi Kaniva itu meringkuk ketika dingin menghunus hingga tulang, memeluk dirinya sendiri erat-erat sembari meratapi kisah cintanya yang begitu tragis. Dari dulu sampai sekarang sama saja, tidak ada perkembangan.


Bahkan kamu pergi sekarang Fabian. Kamu meninggalkan aku dengan keadaan yang seperti ini, kamu memang pantas ditinggalkan Fab.


Nafasnya sedikit tersendat karena isakan yang hebat, matanya memerah, hidungnya pun sama. Beberapa kali tangannya digunakan untuk membekap mulutnya sendiri agar tangisannya tak kencang hingga terdengar sampai luar.


Sedangkan Fabian, sekarang lelaki itu tengah bersandar pada pintu kamar mandi. Menghirup lantas menghembuskan nafas beberapa kali untuk menetralkan sesak, matanya kadapatan melirik pintu yang menjadi penghalang untuk melihat Selsa didalam. Sialan, ia tidak bisa seperti ini terus.


Mengusap peluh tergesa Fabian, yang sudah berantakan dengan dasi yang kemana-mana dan kemeja yang lengannya sudah ditekuk hingga siku, berjalan menuju almari besar. Membukanya cepat dan menyambar selimut besar berwarna putih disana, langkah lebarnya kembali menuju tempat Selsa terisak.


Awalnya perempuan yang hatinya patah itu terkejut, Fabian berada didepannya dan membungkus tubuhnya dengan selimut tebal. Bagaimana bisa meninggalkan Fabian kalau lelaki itu masih saja seperti ini? Selsa hanya diam, membiarkan Fabian membantunya berdiri dan membawanya kembali ke kamar.


Fabian dan Selsa duduk ditepi ranjang, masih saling diam namun sekejap Fabian kembali bersuara, "Sudah kubilang jangan mengunjungi kelab manapun kalau tidak bersamaku, apa sesulit itu untuk menuruti mauku?" Katanya agak pelan dan membenarkan tatanan selimut yang tersingkap.


"Kamu perempuan Sa, kalau tidak aku siapa yang menjagamu? Daddy- Mommymu sibuk dengan pekerjaan, mereka mengabaikanmu, jadi tolong ikuti semua aturanku."


Setelah beberapa hari tidak ada tegur sapa, saling berepelukan dan kecupan singkat, malam ini Fabian kembali melakukannya. Memeluk Selsa yang masih dibalut Selimut tebal, mengecup pelipis perempuan itu berkali-kali hingga Selsa kembali memejamkan mata dan kembali pada tangisnya.

__ADS_1


"Bukannya aku tidak mencintaimu, untuk saat ini cara mencintaiku cukup berbeda. Ada kewajiban yang harus kulakukan, seseorang membutuhkanku. Jadi tolong tetap disini, sebisa mungkin aku akan tetap pulang ke apartemen." Bisiknya lirih.


"Aku juga membutuhkanmu Fab, apa itu masih belum jelas?" Balas Selsa tak kalah lirih.


Fabian merenggangkan pelukannya dan menatap Selsa memohon, "Sa aku mohon jangan pernah pancing emosiku lagi. Cukup malam ini aku marah karena ulahmu," ujarnya lemah.


"Egois." Desis Selsa dengan genangan air mata yang siap turun. Isakannya mungkin sudah reda, tapi air mata masih setia mengalir disana.


Fabian mengusap kasar wajahnya, "Bagian mana yang egois? Aku juga memperhatikanmu setiap harinya, walaupun kamu tidak tahu, aku melakukan semuanya diam-diam. Ayolah Sa jangan mau menang sendiri, Nadia lebih membutuhkanku." Pekik Fabian kesal.


"NADIA-NADIA-NADIA!" Teriak Selsa tepat didepan wajah Fabian, "Selalu saja perempuan itu, dunia kamu yang sebenarnya adalah Nadia Fab, bukan aku. Aku sudah menyuruhmu memilih kemarin, siapa yang akan kamu pilih? Dan kamu diam saja, apa mau kamu sebenarnya Fab?" Imbuh Selsa lirih. Matanya berkaca-kaca mengamati Fabian.


"Aku hanya mau kamu selalu percaya dan ada buat aku Sa, hanya itu."


"Kamu yang egois, kamu yang maunya menang sendiri. Kamu yang-"


Penyatuan dua bibir itu terjadi tiba-tiba. Fabian tak perduli Selsa akan marah atau bagaimana, yang jelas rasa rindu membuncah ketika menatapi Selsa yang seperti ini. Melihat wajah sendu dan mata berkaca-kaca Selsa membuat rasa bersalah semakin besar, tapi kembali lagi kalau Nadia sama pentingnya.


Pagutan itu seperti tanpa rasa didalamnya. Selsa hanya diam saja, membiarkan Fabian menikmatinya sendirian. Air mata perempuan itu tetap mengalir, membasahi pipinya dan Fabian bersamaan. Matanya masih saja mengamati setiap inci wajah Fabian yang sempurna, apa mau kamu Fab?


"Berhenti bicara yang tidak-tidak. Yang jelas aku mencintaimu," katanya menatap Selsa dalam.


"Kamu yang mencintai Nadia." Jawab Selsa membenarkan.

__ADS_1


Fabian tak memperdulikan ucapan Selsa. Lelaki itu justru melepaskan pelukannya dan sedikit memberi jarak, "Ganti bajumu sekarang, setelah ini ke dapur, aku akan membuatkanmu bubur."


Selepas kepergian Fabian, Selsa melepaskan selimut itu kasar. Suara memekik kecil hingga tangisannya kembali ada, tangannya yang kecil digunakan untuk membanting selimut tidak berguna itu kasar. Percayalah hatinya kembali berserakan tanpa ada tuan yang mau membenahinya.


__ADS_2