
Jakarta siang ini cukup terik. Penyandang aktivitas sesekali memekik tajam kala cahaya cerah itu menyentuh pemalut tulangnya tanpa permisi. Begitupula beberapa pengendara yang ikut serta memadati jalanan Jakarta siang ini.
Dua perempuan dengan gaya feminimnya berjalan beriringan memasuki Butik. Menjinjing tas Gucci masing-masing yang berwarna putih juga cokelat memasuki ruko yang cukup luas dengn beberapa pajangan gaun pengantin disetiap sudut.
Dipersilahkan duduk disalah satu sofa tamu, satu bermain ponsel dan satu menelisik pandangannya kesekitar Butik. Meneliti berbagai rangka yang dibalut busana mewah nan glamour, ia meneguk ludahnya beberapa kali.
"Kenapa tidak calon suamimu saja yang mengantarkannya, bodoh?."
"Ish-, Kamu itu sebenarnya niat mengantarku atau tidak? Lagian aku ini sahabatmu, wajar saja kalau kamu menemaniku."
Selsa mendengus mendengarnya. Omong-omong ia masih kesal dan tidak terima karena Mina yang diam-diam mempunayi hubungan dengan Vano dan sebentar lagi melepas status lajangnya. Bukannya apa-apa, Selsa sedikit tak rela karena takut jika lelaki bernama Vano itu akan menyakiti Mina nantinya. Tahu sendiri, Sikap Player seorang laki-laki tidak begitu mudahnya hilang. Ada alasan dibalik ia ingin menikahi Mina.
"Aku masih kesal padamu. Mina-, apa yang kamu fikirkan sampai mau menikah dengan Vano? Dengar ucapanku, dia itu bajingan sialan sekelas Fabian. Buka matamu."
Mencubit pelan lengan Selsa, Mina menatapnya mendelik. Piiran Selsa menurutnya terlalu negative kepada orang-orang, tidak bisakah perempuan itu berpikir positif hanya untuk hubungannya dan Vano?.
"Seharusnya kamu yang membuka mata Selsa, Tidak semua laki-laki sama dengan Fabian. Lagipula aku melihat Fabian akhir-akhir ini berbuat baik padamu. Kamunya saja yang terlalu buta karena tertutup dendam kelammu itu."
Skakmat, Lagi!.
Tercenung ditempatnya mendengar perkataan perempuan yang duduk disebelahnya dengan memangku Tas Gucci Cokelatnya. Mina-, Sahabatnya saja berbicara sepertu itu, jadi mungkin benar dia selama ini tertutup oleh dendam kelamnya terhadap Fabian.
"Tapi aku tidak rela kamu disakiti Vano, bodoh."
"Sudah berapa kali kamu mengumpatiku bodoh? Selsa dengarkan aku, Vano mencintaiku, dan dia tidak akan meninggalkanku. Dia sudah berjanji padaku Selsa,"
"Fabian juga bergitu dulunya Mina. Berjanji tidak akan menyakitiku atau mengutarakan ucapan sialan yang terkesan manis dan sialnya aku terbuai, dia akhirnya menyakituku. Menorehkan luka yang sampai saat ini belum bisa dihilangkan."
Mina menatap manik Selsa. Meyakinkan Perempuan Kaniva itu lewat tatapan mata yang tulus. Ia tahu kekhawatiran Selsa mendalam setiap ia berhubungan dengan seorang laki-laki. Ia menghormati dan malah berterimakasih kepada Selsa karena mengkhawatirkan diirnya sedalam ini, namun jika terlalu berlebihan itu tidak baik.
"Aku tahu kamu terluka karena Fabian-, tapi aku tidak tahu luka apa yang ditorehkan Fabian dihatimu. Selsa-, Vano tidak seperti Fabian. Percaya padaku."
Tawa sendunya terbit sedetik. Ia mengangguk dengan mata berliquid bening. Percuma saja mengingatkan dengan ucapan sampai mukutnya berbusa, Mina tetap akan menikah dengan Vano. "Kapan aku tidak percaya denganmu? Baiklah-, aku menyetujui kalau kamu menikah dengan Vano. Tapi jika aku tahu sedikit saja dia menyakitimu, tidak segan-segan aku memecahkan kepalanya dan memindahkan otaknya ke kepala Gorila. Seperti ucapanmu waktu itu saat tahu Fabian mengataiku jalang."
__ADS_1
Mina tersenyum haru, dipeluknya Selsa agak lama. Berterimakasih kepada perempuan itu karena mempercayainya sejauh ini.
Seorang pelayan datang membawakan gaun oengantin berwarna putih dihadapan Mina dan Selsa. Menyerahkan kepada Mian agar perempuan itu mencobanya.
"Pasti kamu cantik sekali mengenakan ini, Mina." Puji Selsa ketika Mina menenteng gaun yang akan dikenakan.
"Aku tahu itu bukanlah sebuah pujian. Mengingat kamu selalu mengatakan, secantik apapun kamu--Mina, lebih cantik kan diriku." Mina berujar sembari menirukan gaya Selsa waktu mereka duduk dibangku sekolah menengah atas.
Selsa dibuatnya tertawa ringan. Menyaksikan langkah Mina yang perlahan memasuki dressing room, perlahan tawanya menghilang berganti dengan senyum kecut. "Sebentar lagi kamu akan fokus dengan rumah tanggamu Mina? Dan aku kembali menjadi pribadi yang sepi yang tak memiliki cahaya."
-
-
-
"Sudah mendapatkan gaunnya?."
Selsa membaringkan asal tubuhnya di ranjang. Membiarkan tas mahalnya jatuh terbengkalai entah dibagian mana. Fabian yang ada di bibir ranjang dan menenteng Majalah nya tersenyum melihatnya. Seperti ini kan enak, tak selalu beradu mulut membahas yang tidak penting dan itu-itu saja.
"Mina memilih gaun yang seperti apa?."
"Kenapa terus bertanya sih? Kalau kamu penasaran lihat saja sendiri ke apartemenku," jawabnya sedikit sewot karena memikirkan Mina yang sebentar lagi menikah. Aneh, Mina yang akan menikah tapi Selsa yang berpikir keras.
"Ingat kesepakatanmu Sa. Tidak ada bicara menggunakan emosi,"
Menegapkan daksanya, Selsa duduk berjarak satu meter dengan Fabian. Menatap Fabian dengan teliti, "Ingat juga-, tidak ada yang ikut campur urusan masing-masing, Tuan Wardhana."
"Apa kamu lupa, aku tidak menyetujui bagaian itu. Apalagi tidak melakukan kontak fisik denganmu."
"Kamu kira aku perduli? Yang jelas aku sudah baik-baik memberimu kesepakatan, atau aku akan tinggal dirumah orang tuaku." Selsa tertawa pelan; mengejek-, lantas mengangkat bahunya acuh.
"Kamu kira segampang itu? Orang tua mu saja sudah masuk kedalam pesonaku yang tampan ini, kalau kamu lupa."
__ADS_1
"Aku akan mengatakan kau melecehkanku selama ini, maka dengan begitu mereka menyuruhku tinggal disana."
Fabian menutup majalahnya, melemparkan hingga majalah tersebuy melayang menuju nakasbyang lumayan jauh darinya. Daksanya menghadap Selsa, tak lupa senyum penuh arti terbit disana. "Kalau begitu aku akan menjawab dengan lantang untuk menikahimu, didepan orang tuamu."
"Yasudah alau begitu aku menolaknya. Berlari menuju kekasihku, menikah diam-diam mungkin."
"Silahkan kalau bisa. Aku mempunyai teman disetiap sudut dunia, sekalipun larimu ke sudut tak terlihat pun aku tetap masih bisa menemukanmu. Seperti sekarang."
"Hentikan-hentikan! Hentikan pembicaraan bodoh dan tidak ada ujungnya ini. Bukankah tadi kita membahas Mina?."
Selsa mengangkat kedua tangannya mengudara tentunya dengan tawa ringannya. Entah hal lucu seperti apa yang membuatnya mampu mengeluarkan tawa ringan dihadapan Fabian. Bisa dilihat, Fabian pun juga tertawa ringan. Membalas tawa Selsa yang menilisik perutnya dan membuat hatinya ditumbuhi milyaran bunga.
"Kamu datang kepernikahan Mina?."
"Em-, mungkin tidak." Selsa berpikir sebentar, "Kamu tahu alasannya."
"Kenapa-, bukannya Mina sahabat kamu?."
Menghembuskan nafas gusarnya, perlahan menatap Fabian lamat. Hatinya sesak ketika matanya bersirobok dengan manik legam Fabian. Laki-laki itu menatapnya sama lekat dengannya.
"Kalau kamu tidak menghadiri karena Vano; kurasa jangan. Selsa-, Vano tidak sebajingan diriku. Dia laki-laki baik; aku berbicara seperti ini bukan berarti aku teman karibnya. Ini murni pengenalanku selama ini bersamanya." Sambung Fabian seolah tahu isi pikiran Selsa.
"Kamu boleh membenciku, memperlakukan semaumu demi membalaskan dendammu beberapa tahun lalu. Tapi jangan lemparkan pada Vano dan Mina; keduanya pantas bahagia."
Entah sejak kapan, liquid bening meluncir begitu saja dari sudut matanya. Kenapa dirinya kembali terkesan jahat? Sungguh Selsa membenci situasi seperti ini. Perkataan Fabian baru saja sukses membungkam mulutnya, lagi.
Fabian mendekat, mengikis jaraknya; namun tidak terlalu dekat, tangannya beralih mengusap Liquid bening yang kurang ajar merebak diarea pipi Selsa. "Apa aku menyakitimu?."
"Setiap hari kamu menyakitiku," balasnya lirih. Keduanya masih bersirobok, meneliti lebih dalam apa yang masih ada diantara keduanya.
"Kalau begitu ayo kita mulai semuanya dari awal. Aku tidak akan menyakitimu; lagi."
Tersenyum sendu. Selsa menggeleng ditempatnya, "Kamu dulu juga berbicara seperti itu. Mengatakan tidak akan menyakitiku dan apapun; semua yang keluar dari mulutmu dengan bodoh aku mempercayainya. Dan nyatanya kamu menghancurkan semuanya Fabian."
__ADS_1
Fabian memejamkan matanya sebentar dan maniknya kembaki bersirobok dengan Selsa, kedua tangannya masih menyapu pipi gembil Selsa yang banjir liquid bening. "Satu alasan; sebutkan satu alasan yang menyatakan kalau aku menyakitimu; menghancurkan semuanya."
Selsa tak menjawab. Melepaskan tangan Fabian yang ada di pipinya. Menunduk dan digenggam nya erat tangan itu, air matanya kembali tumpah tanpa permisi. Kedua bahunya bergetar dihadapan Fabian. Tanpa aba-aba pun Laki-laki Wardhana itu merangkupnya erat. Membiarkan Perempuan yang dikasihi nya selama ini menangis ditempatnya.