
Selsa menarik nafas kemudian menghembusknnya gusar. Kepalanya menggeleng mencoba untuk tidak mempercayai apapun yang dipikirkan sekarang. Fabian tetaplah miliknya, bisiknya dalam batin.
Selsa tidak ingin kembali kehilangan Fabian untuk kedua kalinya, apapun harus dilakukan agar lelaki itu tetap bertahan disisinya.
Bermalam tanpa Fabian terasa sepi. Semalam Selsa lenggang akan ejekan ataupun godaan Fabian semacam mengatai perempuan itu gendut. Sisi ranjang yang biasa ditempati dibiarkan kosong dan hanya ditatapi sendu sembari membatin nelangsa dan tak terasa sudah terlelap, hingga fajar datang Selsa juga tak menemukan tanda-tanda Fabian kembali.
Baiklah Selsa gusar sekarang. Hatinya gelisah menggumamkan coleteh yang tak pasti terjadi, pikirannya juga berkelana kemana saja memikirkan sedang apa dan dimana Fabian. Dirinya tidak boleh terus-terusan seperti ini, hubungannya dengan Fabian akan semakin memburuk kalau salah satu tidak ada yang mau mengalah.
Ting!
Selsa meraih ponselnya yang ada di nakas, membuka lockscreen dan menampilkan sebuah notifikasi dari nomor yang tidak dikenal.
08xx-xxxx-xxxx
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Rencanakan sebuah perayaan karena sebentar lagi kamu akan kalah, Selsa. Kekasihmu akan meninggalkanmu dan kamu kembali menjadi sampah yang tidak berguna.
Tak perduli jika ponselnya rusak, Selsa meletakkan ke nakas tanpa melihat sekitarnya. Hingga suara benda haruh terdengar, Selsa tak mau memperdulikan. Itu ponselnya.
"Aku harus bagaimana? Rasa cintaku pada Fabian lebih besar dan aku tidak bisa begitu saja melepasnya," gumamnya bermonolog.
"Aku akan mengambil keputusan sekarang! Fab tolong bertahan dan tolong jangan mencintai Nadia dulu. Dan kamu Sakti maafkan aku, ini yang terbaik."
Selsa menyibak selimut putihnya cepat. Menggulung rambutnya atas-atas, selanjutnya berjalan meraih handuk dan berlari ke kamar mandi. Selesai bersih-bersih Selsa akan menyelesaikan semuanya, dan bagaimanapun hidup harus memilih. Selsa tidak bisa terus bersama kedua lelaki yang notabennya sebagai kekasih itu.
-
-
-
"Tidak usah bertele-tele! Kamu kan yang mengirim teror kepada Selsa?"
"Jangan sembarangan kalau bicara! Aku memang dulu membenci temanmu itu, tapi sekarang aku sudah berubah dan justru aku sekarang berteman dengannya."
Mina menatap tajam Yumi yang bersiri didepannya. Perempuan itu menutup akses agar Yumi tak bisa masuk ke apartemennya sendiri.
"Tidak semudah itu membohongiku Yumi! Aku tahu kamu punya maksud lain mendekati Selsa," desis Selsa sengit.
Yumi tertawa mengejek lucu, "Astaga Vano tolong kurung istrimu yang emosian itu! Aku tidak tahu menahu tentang teror yang disebutkannya berkali-kali."
"Jangan bohong Yumi, aku tahu kamu adalah perempuan licik yang pandai bersandiwara." Vano menatao tajam Yumi, memberi peringatan lewat tatapn mata kalau perempuan itu berhenti bersandiwara.
Yumi membulatkan matanya malas, "Hell! Aku tidak perduli kalian mempercayaiku atau tidak, yang jelas aku tidak melakukan hal tersebut, buang-buang tenaga saja." Tangannya mengibas kesal.
Mina bergerak selangkah, mengamati Yumi dari atas sampai bawah dan kembali membeku perempuan utu lewat tatapan sinisnya, "Sampai aku tahu kamu dalang dibalik ini semua, kupastikan tubuhmu akan membusuk dibalik jeruji." Desisnya ketus.
"Terus kamu kira aku takut? Dengar ya Elmina istri Revano yang terhormat, dalam kamusku tidak ada rasa takut sama sekali. Kalau kamu melempariku batu, aku akan melemparimu pisau."
Mina mengalihkan perhatiannya pada Vano, "Vano kamu dengar ucapan dia? Aku semakin yakin kalau teror itu Yumi pelakunya. Ayo kita bawa saja ke kantor polisi." Mina menyeret Yumi namun perempuan itu menolak keras dan melepaskan tautan tangan Mina kasar.
"Enak saja sembarangan membawaku, jangan menyentuhku. Kulitku sensitif jika bersentuhan dengan tangan orang miskin sepertimu." Ujarnya angkuh.
Gerutuan kesal terdengar dari bibir Mina, melihat raut nyolot Yumi membuat emosi Mina tak terkendali.
"Mina kita tidak bisa membawanya begitu saja, harus ada bukti yang kuat." Tutur Vano.
"Kotak yang isinya bangkai kucing, pesan yang dikirimkan Selsa padaku, apa itu kurang?"
"Jelas kurang Mina, kita tidak akan bisa kalau hanya mempunyai dua bukti."
Yumi menggeser Vano juga Mina dari pintu apartemen, "Astaga telingaku rasanya panas mendengar Drama rakyat jelata disini, sudah kalian pergi saja! Diskusikan ini dirumah dan berhenti menggangguku karena aku tidak tahu apa-apa." Peringatnya lalu memasuki apartemen dengan angkuh.
Mina kembali berteriak memaki Yumi yang tidak tahu diri. Dadanya naik turun karena butuh menghirup pasokan udara lebih banyak.
"Sialan kamu Yumi, kupastikan kamu bakal membusuk dipenjara!"
Vano merangkul pundak istirnya sayang, "Sudah sayang jangan emosi!"
"Kamu ini tidak membelaku atau apa, hanya bisa berkata kalau jangan emosi. Kamu tidak lihat tadi kalau rautnya sungguh ingin membuatku mencakar-cakar wajahnya yang tak seberapa itu."
"Salah lagi. Sudahlah aku diam saja, kalau kamu sedang marah seperti ini kan semua yang salah jadi benar."
__ADS_1
"Terserah."
Mina meninggalkan Vano yang masih kesal ditempat. Bagaimana tidak, emosinya seudah memuncak ingin menghabisi Yumi tapi Vano tidak mau berbuat apa-apa, sekedar membela pun tidak.
-
-
-
Selsa memasuki mobil Sakti yang terparkir rapih dijejeran pusat perbelanjaan. Sempat menghubungi lelaki itu untuk bertemu, sesuatu yang penting akan disampaikannya.
"Ada apa sayang? Tidak biasanya mengajakku bertemu sepagi ini."
"Em- ada yang ingin aku bicarakan." Katanya ragu.
"Bicara apa?"
"S-sakti... m-maaf-"
Sakti terkekeh dengan tangan yang bertumpu pada stir mobil, "Sayang ayolah bicara yang benar, ada apa?"
"M-maaf,"
"Tidak ada kata lain selain maaf? Ada apa Selsa?" Tanyanya penasaran.
"Aku ingin hubungan kita berakhir." Jawab Selsa cepat.
Satu kalimat dengan lima kata dan dua puluh delapan huruf itu meluncur cepat dan sukses menghancurkan semua yang pernah dibangun. Lelaki lemah lembut penuh wibawa itu tercenung sesaat, mungkin syok, menatap Selsa tidak percaya.
"Why?" Tanya Sakti lirih.
"M-maaf Sakti a-"
Sorot mata Sakti tak tertebak. Masih tidak percaya dan juga kecewa, "Apa ini maksud ucapanmu semalam? Apa ini jawaban semuanya dari ucapanmu semalam?"
Selsa menatap wajah Sakti yang sendu, air wajahnya sendiri juga berubah. "S-sungguh maafkan aku! Tapi tolong dengarkan penjelasanku dulu, setelah itu kamu bebas membenciku."
Air mata Selsa turun tanpa diminta, tangannya mencoba meraih Sakti namun ditolak mentah-mentah. "S-sungguh aku- maafkan aku! Aku bukan perempuan baik-baik Sakti, aku tidak pantas berada disisimu karena kamu terlalu sempurna. Ak-"
"Omong kosong semacam ini sudah sering aku dengarkan Selsa, bilang saja kalau kamu menemukan orang baru."
Ini bukan orang baru Sakti. Ini orang lama, tapi kembali membawa perasaan baru.
Selsa menunduk terisak, efeknya sesakit ini walaupun ia tidak mencintai Sakti. Ia yakin suatu saat pasti ada balasan yang setimpal karena telah menyia-nyiakan Sakti seperti ini, tapi demi apapun Selsa sangat mencintai Fabian.
"Dua tahun kamu bersamaku, terimakasih. Aku memang tidak tahu diri karena telah menyia-nyiakanmu, tapi demi Tuhan aku tidak ada maksud sama sekali untuk mnyakitimu," rasanya Selsa sudah tidak bisa berkata-kata karena Sesaknya luar biasa.
Melihat wajah kecewa Sakti juga beberapa keringat mengalir disana membuat batin Selsa tersiksa, apa sedalam itu Sakti mencintainya?
"Aku tidak pernah menyesal berbagi cerita denganmu Sa, aku juga tidak pernah menyesal telah menjadi orang yang selalu ada untuku. Kalau memang ini keputusanmu aku akan menerimanya,"
Selsa menutupi wajahnya dengan kedua tangan, semakin terisak hebat mendengar penuturan Sakti. "S-sakti,"
Walaupun dilanda rasa kecewa dan tidak percaya, Sakti tetap tidak ingin perempuan yang dikasihinya sedih. Dirapatkannya jarak lantas dipeluknya tubuh mungil yang tengah terisak hebat.
"Sudah jangan menangis, aku tidak apa-apa. Hatiku hanya patah, nanti juga sembuh."
"Kenapa kamu sebaik ini? Kenapa kamu harus melepaskan aku tanpa emosi sama sekali? Kenapa kamu tidak marah atau membentakku? Kenap-"
"Sekali lagi, aku tidak akan tega melakukan itu semua padamu."
Suasana semakin pilu dan Selsa tak juga berhenti menangis. Tangannya memeluk erat leher Sakti, hatinya sedikit gusar melepaskan Sakti. Wajahnya yang basah disembunyikan dileher jenjang beraroma maskulin lelaki itu dan kembali menumpahkan ribuan airmata.
"Marahi aku Sakti, bentak saja aku."
Sakti menggeleng dalam pelukannya. Bibirnya terkunci rapat dan enggan meluapkan kata-kata sialan. Rapalan umpatan dan sejenisnya ia tahan dan tak akan meluapkan pada Selsa.
"Untuk semua yang pernah kamu berikan, akan kusimpan baik-baik dalam memoriku. Sakti maafkan aku, hari ini aku menyakitimu."
"Kalau sudah tahu menyakitiku kenapa kamu lakukan Sa?"
"A-aku-"
__ADS_1
Sakti melepaskan pelukannya, mengusap air mata Selsa perlahan. Mata perempuan itu memerah dan sembab, "Simpan saja cincin yang waktu itu kuberi, anggap saja sebagai tanda pertemanan kita."
Selsa mengangguk pilu, digenggamnya tangan Sakti lantas diciumnya dengan terisak. Punggungnya bergetar karena isakannya yang hebat, "bahagialah dan maaf. Maaf, maaf, maaf, maaf Sakti."
Kalau begini siapa yang tega? Selsa itu manusia paling rapuh yang paling Sakti kenal, mengingat pertama kali bertemu saja membuat Sakti sesak. Matanya berusaha memandangi objek lain untuk menghalau air mata, namun gagal, setitik air mata Sakti turun dan lelaki itu sigap menghapusnya.
"S-sudahlah Sa jangan seperti ini. Aku semakin berat melepaskan kamu." Lirih Sakti.
Selsa melepaskan genggamannya perlahan, mengikis jarak antara dirinya dan Sakti hingga kening keduanya bertemu. Masih terisak, ia memberanikan diri untuk mencium tepat dibibir Sakti. Hanya ciuman mulanya namun semakin lama menjadi pagutan kecil, memberikan salam perpisahan yang sangat amat manis.
Namun beda dengan reaksi Sakti. Lelaki itu hanya diam, membiarkan Selsa memagutnya lebih lama tanpa membalas; ia juga tak memperdulikan luapan air mata Selsa yang membanjiri pipinya. Objeknya hanya satu, memandangi Selsa yang menciumnya dengan mata tertutup.
Baiklah aku akan bahagia tanpamu, Sayang.
-
-
-
Lelaki dengan kantung mata tebal itu memakai jas kerjanya tergesa, "Tolong jaga kekasihmu sampai keadaanya pulih." Pintanya tak bersahabat.
"Tidak bisa, pekerjaanku masih banyak dan-"
"Lebih penting pekerjaan dari pada orang yang menyayangimu?"
"Tap-"
"Kalau sampai aku tidak menemukan keberadaanmu disini, seluruh kantor atuapun cabang perusahaanmu akan kubakar tanpa sisa." Ancamnya membuat lelaki bernama Renald tak berani membantah.
"Dasar sialan, sudah pergi sana! Menghubungiku karena hal yang seperti ini, ku kira ada apa." Kata Renald kesal.
Semalam Renald menghubungi Renald dan meminta lelaki itu pulang ke Indonesia karena kondisi Nadia yang lemah, dengan segala ancaman dilayangkan, Renald luluh dan menyetujui untuk penerbangan ke Indonesia saat itu juga.
Fabian meninggalkan apartemen Nadia tanpa banyak kata. Mengendalikan mobilnya super cepat menuju apartemennya, semalam tak bertemu Selsa sungguh membuatnya diamuk rindu. Setelah perselisihannya, Fabian memutuskan ke apartemen Nadia dan menginap sampai pagi.
Pulang-pulang dengan harap Selsa ada disana dan menyambut kedatangannya harus musnah. Apartemen kosong dan Fabian tak menemukan keberadaan Selsa disetiap ruangan. Kemana perempuan itu, batinnya.
Memasuki kamar, Fabian menghempaskan tubuhnya kekasur. Menikmati bagaimana nyamannya punggung bersandar disana dengan tangan yang memihat kepalanya pelan. Kondisi Nadia kembali drop dan hubungannya dengan Selsa sedang berselisih paham.
Atensinya teralih ketika pintu kamar terbuka dan menampilkan Selsa yang berantakan dengan kedua mata sembab disana. Fabian khawatir tapi mengingat sedang tidak baik diurungkan niatnya untuk bertanya, lelaki itu tetap berbaring sembari memperhatikan setiap gerak-gerik Selsa.
Sedangkan Selsa ketika memasuki kamarnya cukup terkejut menemukan Fabian disana. Tak ingin ditanyai hal aneh-aneh Selsa hanya menundukkan kepalanay melewati ranjang, mengambil beberapa bathrobe yang akan dikenakannya selesai berendam. Ia butuh menyegarkan pikirannya.
Ketika selangkah ingin menghilang kedalam kamar mandi, suara yang bagai candu itu menginteruksi untuk berhenti. Tegas dan masih Selsa dengar ada datarnya disana.
"Selesai menemui kekasihmu?"
"Ya."
"Senang bersamanya?"
Selsa tak menjawab namun tangannya neremas kuat bathrobe yang ada ditangannya. Kenapa Fabian se tega ini padanya, Tuhan? Ia meninggalkan Sakti untuk Fabian tapi lelaki itu tak mau sedikit saja mengerti.
"Seharusnya aku tidak bertanya karena pasti senang. Kenapa harus kembali ke apartemenku? Tidak tinggal dengan dirinya saja?" Sindir Fabian dengan tawa mengejek.
Selsa menjatuhkan Bathrobenya kasar, berbalik menuju Fabian dengan tatapan nyalang. Emosinya kembali tersulut mendengar ucapan Fabian.
"Apa kamu bilang? Apa baru saja kamu mengingatkanku untuk pindah dari sini agar kamu bebas membawa jalangmu itu kemari?" Teriak Selsa emosi.
Fabian beranjak dari ranjang dan berdiri dihadapan Selsa dengan tatapan elang, "Jaga bicaramu Selsa!" Balas Fabian juga berteriak tak kalah keras hingga Selsa berjingkit.
"Jaga bicaraku? Kamu yang harus menjaga bicaramu Fabian. Siapa yang pertama kali menbawaku kemari? Siapa yang mengemis cinta padaku, memintaku kembali dan berjanji tidak akan menyia-nyiakanku?"
"Aku rela mengakhiri hubunganku dengan Sakti dan fokus denganmu, tapi justru seperti ini tanggapanmu." Imbuh Selsa lirih.
Jujur Fabian terkejut. Kemarin-kemarin memang dirinya meminta Selsa untuk meninggalkan Sakti, tapi sekarang urusannya beda. "Aku tidak menyuruhmu mengakhiri hubunganmu dengannya, untuk sekarang terserah mau seperti apa. Kalau kamu ingin kembali dengan Sakti juga terserah." Tuturnya datar.
"Menyia-nyiakanku Fabian? Apa ini suruhan Nadia supaya kamu menjauhiku?" Tebak Selsa dengan gamang.
"Berhenti membawa-bawa Nadia dalam topik pembicaraan kita."
Selsa menatap langit-langit kamar untuk menyamarkan airmata uang akan jatuh, "Memang dari dulu kamu selalu seperti ini. Menyalahkan aku hanya untuk membela Nadia. Nadia-Nadia dan Nadia, seberapa berartinya aku dalam hidup kamu sebenarnya Fab?" Pungkasnya lantas berlari menuju kamar mandi, tak lupa menyambar Bathrobe yang terjatuh.
__ADS_1