My (Ex) Boyfriend

My (Ex) Boyfriend
Tiga puluh tiga


__ADS_3

Fabian mengernyit bingung mendapati Nadia yang masih bergumul dengan selimut. Langkahnya menghampiri Nadia yang masih belum sadar akan kedatangannya, perlahan menghampiri dan berakhir duduk dipinggiran ranjang besar itu.


"Nad kenapa?" Tanyanya pelan.


Tubuh telungkup itu berbalik, membelalak mendapati Fabian yang tiba-tiba ada di kamarnya. Dengan cepat Nadia menghapus air mata yang terus mengalir tanpa henti, mata sembab dan hidung tersumbat ingus dirasakannya sekarang.


"F-fabian? Sejak kapan kamu disini?"


"Kenapa menangis, ada yang menyakitimu? Renald?"


Bukan menjawab pertanyaan Fabian, Nadia justru terisak miris. Perkataan Mina tadi masih terngiang, perempuan itu benar-benar menaruh dendam paling dalam pada Nadia. Tangisannya mereda kala Fabian memeluk tubuhnya yang ramping, mengusap pundak juga punggungnya pelan.


"Kalau benar Renald yang menyakitimu, sekarang juga aku akan terbang ke Negaranya untuk memberi pelajaran." Desis Fabian meradang.


Demi apapun jika memang ini kelakuan Renald, Fabian tidak akan memberi ampun karena sudah berkali-kali membuat Nadia menangis sendirian. Kalau saja tadi dirinya tidak datang, Fabian yakin Nadia akan seperti itu sampai esok bahkan beberapa hari kedepan. Fabian tahu pasti seperti apa Nadia.


"Bukan Renald, ini tidak ada hubungannya dengan Renald." Bisiknya parau.


"Lantas siapa, cerita saja padaku. Apa orang itu mengancammu?"


Wajah Nadia semakin teenggelam pada dafa bidang Fabian, "Dia mengancamku untuk menjauhimu Fab, dia ingin aku pergi dari hidupmu."


"D-dia, siapa dia?"


"Dia mengatakan kalau aku ini jalangmu. Aku tidak pantas denganmu-"


Fabian mengusap lembut pipi Nadia memberikan ketenangan sekaligus menghapus jejak air mata, "Stst, diamlah! Jangan dengarkan omongannya, kamu bukan jalangku Nadia." Bisiknya lembut.


Emosi Nadia terpancing begitu saja. Entah apa yang membuatnya meradang, Nadia melepaskan dekapan Fabian keras dan menatap lelaki dihadapannya dengan nyalang.


"Tidak bisa Fab. Ini bukan kali pertama aku diteriaki jalang, sudah berkali-kali dan aku sudah muak. Kalau dengan meninggalkanmu hidupku tenang, aku akan melakukannya." Bentak Nadia dengan air mata yang masih mengalir deras.


Fabian menatap Nadia kesal dan kembali memeluk perempuan itu erat, "Bicara apa kamu ini Nadia? Berhenti berkata hal yang tidak penting! Kamu tidak boleh meninggalkanku, aku juga tidak akan meninggakkanmu." Tuturnya tegas.


"Bohong! Perlahan kamu akan meninggalkanku Fabian. Perlahan kamu akan melupakanku dan fokus pada kehidupanmu bersama Selsa." Isakan Nadia kembali terdengar, sungguh memilukan. Fabian menggeleng lirih, memperhatikan Nadia terisak dipelukannya membuat jatinya sembiluan.


"Nadia dengarkan aku! Memang aku mencintai Selsa, tapi aku juga menyayangimu. Aku tidak ingin orang yang kusayangi pergi, termasuk dirimu. Tetap bertahan disini, aku akan melakukan apapun pada orang yang berani menyakitimu."


"Aku sudah tidak kuat Fab, cukup beberapa tahun ini aku pura-pura hidup tenang seolah tidak ada apa-apa. Aku tertekan, mereka menekanku." Lirih Nadia gusar.


"Stst sudah jangan banyak bicara. Tenangkan fikiranmu, jangan sampai melakukan hal yang sama sekali tidak ku inginkan. Kalau sampai kamu menyakiti dirimu sendiri lagi, aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri."


Nadia mendongak menatap manik Fabian yang saat itu juga menatapnya, "Jangan pergi ya Fabian." Bisiknya lirih.


"Aku disini." Fabian mengangguk, tangannya terulur mengusap lembut air mata Nadia.

__ADS_1


"Jangan pernah menghindariku atau membuangku lagi, aku hanya punya dirimu Fab."


"Tidak akan Nadia. Aku akan terus disampingmu, untuk itu kembalilah seperti dulu. Aku selalu menunggumu kembali menjadi Nadia yang dulu."


Nadia sengaja tidak menjawab dan hanya berdiam diri memeluk Fabian. Setelah menurunkan pandangannya, Nadia kembali berfikir akan ucapan yang akan dikeluarkannya, takut-takut Fabian nanti akan menjauh. Tapi tekadnya sudah bulat, menarik nafas dan menghembuskannya pelan.


"Fab seandainya aku minta kamu menjauhi Selsa, apa kamu sanggup?"


Fabian diam saja. Apa? Menjauhi Selsa? God, Fabian pasti tidak akan bisa. Tapi bagaimana ini? Nadia urusannya.


"Kalau kamu berhasil kembali seperti dulu, aku akan menjauhinya." Ujarnya yang berusaha meyakinkan Nadia.


Nadia mengeratkan dekapannya, rasa takut kehilangan semakin menjadi tanpa bisa dihentikan. Isakan pilu kembali terdengar, apapun yang berusaha disembunyikan akan mudah terbongkar didepan Fabian.


Nadia kesal, Nadia marah, Nadia terjebak sesak. Batinnya berteriak jika tengah sekarat, memanipulasi hidupnya seolah semuanya baik-baik saja ternyata bukan perkara gampang. Ia harus memakai topeng super tebal agar tidak diketahui media bagaimana watak aslinya. Bagaimana kehidupan curamnya selama ini yang selalu disembunyikan.


Semua orang hanya tahu Nadia bahagia. Mempunyai Fabian dan juga Renald yang katanya waktu itu kekasihnya. Publik menganggap hidupnya sempurna, bersinar diusia muda dan menggapai apa saja degan mudah. Mereka tidak tahu bagaimana Nadia selepas pemotretan, selesai syuting iklan, selesai menjadi presenter dadakan dalam acara Off air, ataupun selesai melenggak-lenggok diatas red carpet dan panggung megah. Mengasihani dirinya sendiri, meratapi hidupnya yang selalu sendiri dan kembali menyakiti drinya sendiri itulah Nadia disetiap malamnya.


Maaf egois. Selsa, Fabian akan memilihku dan meninggalkanmu.


-


-


-


-


"Sama-sama. Jangan lupa selesai ini langsung tidur saja, abaikan panggilan dari nomor tidak dikenal, jangan membuka pintu apartemen kalau kamu takut dan langsung telfon aku saja."


Selsa bersyukur dan sangat bersyukur mempunyai Sakti yang ternyata setulus ini. Lelaki disampingnya sampai saat ini belum tahu menahu tentang hubungannya dengan Fabian, Selsa biarkan sampai semuanya terbongkar. Selsa siap jika nantinya Sakti akan membencinya, menganggapnya murahan dan apapun itu, Selsa siap menerima semua jenis cacian. Faktanya memang benar, Selsa rela melepaskan Sakti yang begitu tulus. Dibandingkan dengan Fabian, Sakti selalu menjadi nomor satu untuk Selsa. Sedangkan lelaki bernama Fabian jarang sekali bahkan hampir tidak pernah menjadi nomor satu ketika terjadi apa-apa dengan Selsa.


Keluar dari mobil, Selsa melangkah menuju apartemen ketika mobil Sakto sudah melaju kencang meniggalkan tempatnya. Baru sampai didepan lift yang akan ia gunakan, matanya membelalak mendapati Fabian melangkah kearahnya. Lelaki itu jug menyadari keberadaanya, namun wajahnya begitu datar dan tidak terbaca.


"Dari mana Fab?" Selsa melangkahkan kaki memasuki lift begitupun Fabian.


Fabian tidak menjawab, melirik sebentar Selsa yang ada disampingnya.


"Fab-"


"Seharusnya aku yang tanya seperti itu. Dari mana saja kamu seharian ini?"


"A-aku dari tempat Mina,"


"Berbohong padaku Selsa?" Matanya menukik tajam seolah membunuh Selsa.

__ADS_1


"M-maksud kamu?"


Fabian tidak menjawab dan membuang pandangan dari Selsa, begitu lift terbuka langkahnya melebar mendahului Selsa yang masih tertegun tidak tahu ada apa dengan Fabian.


"Kenapa sih Fabian? Tidak seperti biasanya," Selsa mentap punggung Fabian yang semakin jauh, "Fabian tunggu." Teriaknya mengejar langkah Fabian, meninggalkan lift yang kembali tertutup.


Langkahnya mengecil ketika sampai di pintu apartemen, mengekori Fabian yang masih saja bertahan dengan keheningan. Seolah lelaki itu seperti seorang ayah yang memberi hukuman pada anaknya karena telat pulang.


"Hei ada apa? Jangan mendiamkanku." Selsa mengekori Fabian dan ikut serta duduk dikursi yang terletak didapur. Memperhatikan Fabian yang menuangkan air mineral dengan sorot tak mengerti.


"Kalau aku salah tolong beritahu, jangan diam seperti ini."


Fabian melirik Selsa sebentar, "Kemana saja kamu seharian ini?" Ujarnya datar.


"Aku ada bersama Mina Fabian, kenapa tidak percaya?"


Fabian meletakkan gelasnya kasar dan menatap tajam Nadia, "Jelas aku tidak percaya. Pertama, tadi aku sempat ke apartemen Nadia dan menemukan Nadia yang tengah menangis. Alasannya hanya satu, dikatai Jalang, dan satu-satunya orang yang sering mengatakan kalau Nadia jalang adalah dirimu. Kedua, kamu tidak dari rumah Mina. Vano dan Mina tidak akan membiarkan perempuanku pulang sendiri diatas jam sebelas." Katanya menggebu.


Selsa tercengang untuk beberapa saat. Tangan yang semula berpegang pada lengan lelaki itu otomatis terlepas tanpa diminta, poin pertama Fabian tahu kebohongannya dan poin kedua Selsa tahu alasan dibalik Fabian selalu pulang malam, karena selama ini Fabian sering menemui Nadia.


"Gara-gara Nadia kamu marah-marah seperti ini? Gara-gara Nadia kamu menuduhku yang tidak-tidak?" Ucap Selsa setengah tidak percaya.


"Terus siapa lagi Selsa? Sikap kamu ke Nadia selama ini selalu saja bertolak belakang, mengatakan hal seenaknya kepada Nadia dan mengganggap dirimu paling benar?"


Selsa dilanda sesak. Kabut putih tebal menghalangi pandangannya dan airmata siap meluncur namun ditahan setengah mati. Nafasnya tersendat karena saking sesaknyam


"Kenapa bawa-bawa diriku? Ternyata benar ya Fabian, selama ini hanya Nadia yang selalu ada dipikiran kamu, hanya Nadia yang selalu kamu prioritaskan, hanya Nadia yang bisa membuat kamu marah-marah seperti ini padaku."


"Bukan karena Nadia, aku seperti ini ada alasannya Selsa. Kamu sudah keterlaluan kali ini, untuk itu aku mohon jangan pernah lagi menemui Nadia dan mengatakan hal apapun padanya." Raungnya semakin tegas dan tak terbantahkan.


Tawa sumbang terlihat diwajah Selsa, mengharapkan orang yang salah ternyata sesakit ini, "Lucu. Demi apapun ini lucu sekali. Kamu marah-marah seperti ini menduhhku ini dan itu tanpa mau mendengarkan penjelasanku terlebih dulu kemana aku seharian ini."


"Terus kemana Sa coba jelaskan! Tolong jangan mengatakan sesuatu yang sangat amat kubenci."


Kalau Fabian saja bisa memamerkan Nadia, Selsa juga bisa memamerkan Sakti. Persetan dengan Fabian yang akan uring-uringan.


"Aku bertemu dengan Sakti." Katanya tanpa takut.


Fabian mengusap wajahnya gusar, raut lelah karena mengurus Nadia seharian terpampang jelas. Belum lagi saat ini Selsa memberikan pernyataan kalau perempuan itu selesai bertemu Sakti, musuh bebuyutan Fabian.


"Sudah kuduga," sirat kekecewaan Fabian layangkan, namum apa perduli Selsa. Perempuan itu juga kecewa kepada Fabian, "seharusnya kamu tahu diri kalau sudah bersamaku Sa. Aku tidak suka milikku dibagi dengan siapapun."


"Oh tahu diri? Kamu seharusnya pun sama Fab, tahu diri. Tidak seharusnya kamu menghampiri Nadia terus menerus, memperhatikan perempuan itu layaknya kekasih dan mengabaikan aku disini. Dimana kamu saat aku membutuhkan? Apa sehari ini kamu sudah cek ponsel?" Bentak Selsa yang emosinya sudah diubun-ubun dan siap meledak.


Fabian tergugah dari emosinya. Benar memang seharian tidak meneliti ponselnya dan fokus kepada Nadia, tadi saja ia mencuri jam kantor agak bisa sampai di apartemen Nadia.

__ADS_1


"Selsa kita sama-sama emosi jadi aku tidak ingin masalah melebar kemana-mana. Selesai ini mandilah dan bergegas istirahat, tolong untuk malam ini jangan menggangguku dulu." Lungkas Fabian lalu meninggalkan tempatnya.


Selsa menatap kepergian Fabian dengan sendu. Airmata yang ditahannya jatuh begitu saja tanpa diminta. Yang jelas Selsa menangkap banyak keanehan Fabian hari ini, Fabian berubah drastis dan itu membuat Selsa sulit mengenali siapa sebenarnya lelaki yang baru saja memarahinya. Yang jelas juga Selsa sangat membenci kenyataan ini, semua karena Nadia.


__ADS_2