
Tubuhnya seakan dijungkal ribuan kali, dihancurkan hingga melebur bersama rasa kecewa. Perkataan Dokter baru saja membuat Fabian lemas, kelimpungan seperti orang gila yang mencoba mencari kewarasannya, nafas yang tersendat kesekian kali berusaha dinetralkan. Janin yang dikandung Nadia telah lenyap, dirinya telat untuk beberapa detik dan menyebabkan ini semua. Dengan ditambah kondisi Nadia yang benar-benar down, perempuan itu juga sama terpukulnya. Lebih banyak diam, mngabaikan orang sekitar, memandangi jendela rumah sakit dengan kosong. Kadang juga terisak kesakitan dan tertawa tanpa beban, tentunya dengan pandangan kosong.
"Bagaiman kondisi Nadia? Sudah tiga hari ini perempuan itu tidak mau makan."
Mina dan Vano juga ikut serta merawat Nadia, bergantian menjaga Nadia hingga larut dan bergantian pula menyuapi makanan untuk Nadia. Dua manusia itu masih ada rasa simpati untuk Fabian dan Nadia, apalagi Selsa. Selsa bahkan menang sengaja mendatangi Nadia selama Fabian tidak disana. Sengaja menghindar untuk tidak memperkeruh keadaan.
"Tetap saja, pandangannya kosong. Dan bebapa kali sering tertawa sendiri." Jawab Fabian. Pandangannya terpaku pda Ndia yang dikurung dalam sebuah ruangan khusus.
Oh iya, Nadia sudah dipindakan ke rumah sakit khusus untuk kesehatan mentalnya. Pasca Dokter menyatakan kalau perempuan itu keguguran, teriakan dan segala macam menghiasi ruang sunyi itu.
"Sudah menghubungi Renald? Dia harus tahu kalau Nadia keguguran, orang tuanya Nadia?" Tanya Mina bertubi-tubi.
"Renald sedang dalam perjalanan. Dan aku tidak akan menghubungi orang tua Nadia, kalian tidak tahu bagaimana kejamnya orang tua Nadia." Jelas Fabian menggerutu, mengingat bagaimana sikap orang tua Nadia yang begitu tega pada anaknya sendiri.
"Bagaimanapun harus dikasih tahu Fab, mereka berhak penuh atas apa yang menimpa Nadia." Tegas Mina.
"Akan ku pikirkan," jawabnya pelan, "dimana Selsa? Setelah mengantar Nadia waktu itu aku tidak melihatnya lagi." Tanya Fabian.
Vano berdecak sebal, "Aku sudah bilang padamu, berhenti perduli dengn Selsa. Dia cukup menderita selama ini karenamu, biarkan dia bahagia bersama Samuel." Pinta Vano keras.
"S-samuel? Psikiater itu?" Tanyanya terkejut.
"Ya, mau ku periksakan juga kejiwaanmu agar tidak terus mengganggu Selsa?" Imbuh Mina bertanya meledek setengah bercanda.
Fabian menggeleng singkat, menampik semua pikiran aneh yang menyerangnya, "Aku tetap akan bersama Selsa, Mina. Aku akan merebut Selsa lagi dari Samuel." Tekadnya membuat Mina dan Vano menyemburkan tawa meledek.
"Mereka akan menikah dalam waktu dekat, jadi harapanmu sia-sia. Lebih baik nikahi Nadia saja, pas kan? Lelaki brengsek bertemu dengan perempuan super brengsek." Ujar Mina telak. Fabian tergugugu, meredam emosi yang sedikit lagi akan meledak.
"Hey Vano coba lihat kelakuan istrimu." Katanya tak terima.
Vano mengangkat sebelah alisnya, "Ada apa dengan istriku? Bukankah benar yang dikatakan? Kenapa baru mencari Selsa? Menyesal? Ah itu sudah basi Fabian." Jawabnya seolah mengejek.
"Aku tidak percaya dengan semua omongan kalian, Selsa tidak akan secepat itu mengambil keputusan untuk menikah dengan orang yang baru dikenal." Hardiknya masih tidak percaya.
Mina mengangkat bahunya acuh, "Kalau begitu tanyakan saja pada Selsa, tidak akan gunanya juga berbohong." Pungkansya sebelum pergi meninggalkan Vanoa yang tercenung.
Aku tidak akan membiarkan kamu bersama dia Sa.
Dan Fabian melebarkan langkahnya untuk menemui Selsa. Dimanapun, diujung duniapun akan Fabian temukan. Selsa hanya boleh untuknya, Fabian setengah mati menahan sesak didadanya ketika mengetahui Fakta ini. Entah itu benar atau tidak, Fabian selalu berharap ini hanyalah jebakan agar dirinya menjauhi Selsa.
...---...
Ternyata benar apa yang dikatakan Mina, mungkin saja benar, Fabian kini terpaku melihat Selsa begitu mesra dengan lelaki bernama Samuel. Psikiater tampan yang menangani Nadia.
Setelah mencari tahu dimana keberadaan Selsa, Fabian seketika tancap gas untuk bisa sampai disana. Mengemudikan mobil dengan kecepatan diatas rata-rata, lelaki itu mengabaikan maut yang siap menjemputnya.
Langkahnya menyusul Selsa yang duduk disalah satu restoran khas Jepang bersama Samuel. Semakin mendekat dan berdiri tepat disamping perempuan itu.
"Aku ingin berbicara dengan Selsa." Sapanya pertama kali pada Samuel yang menyadari keberadaannya.
Selsa yang tengah menikmati Sushi itu seketika terperanjat mengetahui Fabian ada didepan matanya.
__ADS_1
"Tidak bisa, aku sedang bersama Samuel. Lain kali saja." Tolaknya mentah-mentah.
Fabian berdecih tak suka, menarik lengan Selsa dan memaksa perempuan itu untuk meninggalkan tempatnya. Selsa memberontak, mencoba melepaskan cekalan tangan Fabian tapi tidak bisa. Namun lagi-lagi aktivitasnya tergaggu oleh Samuel yang berusaha mencegah kepergiannya.
"Tolong jangan kasar, dia perempuan."
"Jangan pernah ikut campur, urusi saja pasienmu yang tengah menunggu di rumah sakit jiwa."
Tindakan Fabian tak lepas dari pandangan heran beberapa pengunjung restoran. Mereka semua berbisik karena beberapa mengetahui profesi Selsa sebagai seorang model sensasional.
"Ini tidak ada urusannya dengan pasienku. Aku hanya tidak ingin dan tidak suka melihat jika ada seorang lelaki yang beraninya berbuat kasar pada seorang perempuan." Tegas Samuel membuat Fabian terkekeh tajam.
"Oh begitu? Ku rasa aku tidak perduli, aku hanya menginginkan Selsa ikut bersamaku. Bukan denganmu, orang asing." Ujarnya menekan kata 'orang asing'
Tawa bersahabat masih tetap Samuel tampakkan, lelaki itu hebat karena tidak menguapkan emosinya sama sekali, "Orang asing? Oh memang kita sebelumnya belum saling mengenal, tapi tidak dengan Selsa."
"Sa ayo ikut aku, jangan dengarkan omongan banci satu ini." Sindir Fabian menarik Selsa dengan keras.
"Tidak Fabian, aku tetap bersama Samuel." Ronta Selsa tidak mau.
"SELSA DENGARKAN AKU!" Teriak Fabian membuat Selsa memejamkan matanya takut.
Namun setelah itu dihempaskannya kasar tangan Fabian yang mencekalnya, membuka matanya dengan tatapan tajam. Giginya beradu kuat karena menahan emosi.
"Berhenti seolah aku dan kamu masih mempunyai hubungan. Semua sudah berakhir! Dengar Fabian, dengan siapapun aku sekarang itu bukan urusanmu. Dan yah aku lupa memberitahumu, Samuel adalah calon suamiku." Jelasnya setengah berteriak dnegan air wajah pucat, ditambah senyum sendunya.
"It's a prank! Kamu kira aku percaya? Aku tahu seperti apa kamu itu Selsa, berhenti membohongi diri sendiri! Kamu masih mencintaiku kan? Aku yakin karena cinta kamu begiu kuat Sa, mata kamu yang bicara." Fabian mengangkat kedua tangannya berniat bercanda.
"It's your Delusion. Aku mencintai Samuel, Fabian hanya sampah yang bodohnya pernah ku pertahankan." Desis Selsa tajam.
"Bukti?" Senyum miring Selsa tampakkan, menarik lengan Samuel hingga berhadapan dengannya, "mau bukti kan? Lihat ini." Suruh Selsa membuat Fabian membelalak.
Sialan! Fabian melihat dengan mata kepalanya sendiri, Selsa mencium Samuel tepat dibibirnya. Memagut pelan dan penuh perasaan, beginilah hebatnya Selsa dalam hal membuat Fabian emosi. Selsa sukses, nyatanya sekarang Fabian mati kebakaran disana.
Hingga ciuman terlepas, dari beberapa menit, tangannya melayang memberikan tinjuan keras pada pipi Samuel. Lawannya terpental, menubruk beberapa kursi dan membuatnya berantakan. Selsa terpekik, membantu Samuel dan mengehntikan Fabian yang selalu ingin menghabisi Samuel.
"Gila kamu Fabian, berhenti menyakiti Samuel. Aku tidak akan memaafkan kamu kalau kamu berani menyakiti Samuel lagi." Teriak Selaa tidak terima.
Perlakuan itu tidak lepas dari pandangan penghuni restoran malam ini, sebelum teriakan Selsa memanggil satpam dan menyuruh mengamankan lelaki bajingan itu keadaan barulah tenang. Selsa membantu Samuel berdiri dan menuntunnya menuju mobil. Ujung bibir lelaki itu robek dan mungkin pipinya akan membiru lebam karena Fabian.
"Maafkan aku, ayo ku obati."
...---...
Handuk yang sudah dicelup air itu diperas lantas diusapkan pada area lebam dan robek. Ringisannya terdengar, beberapa kali menjauhkan wajahnya namun dicegah oleh tangan mungil.
"Jadi dia itu mantan kekasihmu?" Tanyanya disela-sela mengobati.
"Seperti yang kamu lihat. Untung saja tadi Mina memberitahuku, kalau tidak aku tidak tahu bicara apa padanya." Helanya pelan.
"Aku akan membantumu menghadapi dia."
__ADS_1
"Maksud kamu?"
"Aku tahu kamu paham," katanya sembari tersenyum lebar lalu meringis kesakitan, lupa dengan robekan yang ada disudut bibirnya, "tolong jangan terlalu ditekan lukanya, sakit."
"Maafkan aku ya Sam, sungguh aku tidak pernah ada pikiran untuk melibatkan kamu dalam masalahku. Maaf juga tadi aku menciummu," Tangannya memberskan beberapa alat yang digunakan untuk membersihkan luka Samuel, menyingkirkan satu persatu hingga meja terlihat lebih rapi.
"Tidak apa-apa Sa, aku baik-baik saja."
Selsa tersentuh, menganguk tulus dan kembali mengobati luka Samuel dengan hati-hati. Sesekali pandangan keduanya bertemu, saling tersenyum kikuk dan Samuel pura-pura meringis untuk mencairkan suasana agar tidak terlalu hening.
"Masih mencintainya?" Tanya Samuel tiba-tiba. Samuel tahu, sorot mata perempuan itu masih menunjukkan betapa dalamnya perasaan untuk seorang Fabian, tapi mungkin sesuatu yang menimpa terlalu berat dan besar perempuan itu semakin membentengi dirinya sendiri agar tidak kecewa lagi.
Selsa tidak mau balik menatap Samuel, "Tidak tahu," jawabnya masih pura-pura membereskan beberapa alat padahal meja sudah rapih.
"Jujur saja, tidak apa-apa. Kamu tidak akan bisa hidup tenang kalau apa yang kamu takutkan terus bersarang dipikiran kamu. Terbuka denganku Sa, sebisa mungkin aku akan membantumu." Paksa Samuel dengan gumaman pelan.
Selsa menghentikan aktivitasnya, menunduk dalam mencoba menghalau rasa sedihnya, "Ya, aku masih sangat mencintainya. Sam asal kamu tahu, aku bukan pribadi yang gampang jatuh cinta. Aku pribadi yang terlalu takut sebelum memulai sesuatu, berdekatan denganmu seperti ini pun kadang membuatku takut."
"Apa yang kamu takutkan, jatuh cinta? Tenang saja, aku sudah mempunyai calon istri. Dua bulan lagi aku menikah." Jelasnya terang-terangan.
Selsa membelalak kemudian tersenyum tanpa diminta.
"Serius? Wah astaga aku lega sekali, coba kenalkan aku dengan kekasihmu." Pintanya mencoba menghilangkan rasa sedih karena Fabian.
"Kapan-kapan aku akan membawanya ke Jakarta, bertemu denganmu."
"Baiklah, jangan lupa."
"Kembali lagi pada Relasimu dengan Fabian. Apa yang kamu takutkan?" Tanya Samuel santai.
"Rasa kecewa, sudah berkali-kali dia mengecewakanku. Menerbangkanku setinggi langit lantas menghempaskannya begitu saja."
"Sudah coba untuk memaafkan?"
Memaafkan? Selsa bahkan sudah melakukannya berkali-kali.
"Rasanya ribuan kali aku merapal dalam hati kalau memaafkam smeua yang pernah terjadi, tapi tetap saja aku tidak berbohong kalau hatiku menolak."
Samuel memeluk pundak Selaa beberapa kali, "Kalau kamu ingin melupakan mantan kekasihmu bukan dengan cara menghindar, selesaikan semuanya baik-baik setelah itu aku akan menjamin hidup kamu akan tenang." Nasehatnya dengan gumaman pelan.
"Tidak segampang itu Samuel, kalau bicara memang segampang itu. Melakukannya yang susah."
"Maka dari itu dicoba Sa. Ya syukur-syukur kalau kamu memang bisa melakukannya." Bantah Samuel.
Selsa semakin bimbang merasakan semua ini, kondisi yang benar-benar sukar dan emosi yang benar-bemar tertantang. Ini semua menyulitkan, dan Selsa rasnaya tidak sanggup mengatasinya.
"Sam masih mau membantuku?" Tanya nya pelan.
"Apa?"
Kemudian Selsa membisikkan sesutau ditelinga Samuel, membuat lelaki itu terkekeh pelan lantas mengangguk. Tangannya digunakan untuk mengusak rambut hitam Selsa, perempuan itu menggerutu, dan kemudian memeluk perempuan itu dari samping.
__ADS_1
"Dasar adik kecil yang selalu saja malu-malu." Cibirnya meledek.
Selsa terkekeh dipelukannya, hatinya sedikit lega. Hanya sedikit. Karena Smauel akan membantunya untuk beberapa hari kedepan, Selsa berharap ini berhasil.