My (Ex) Boyfriend

My (Ex) Boyfriend
Tiga puluh


__ADS_3

Tubuh rampingnya sedikit menjulang mengamati suasana malam di Ibu Kota. Senyumnya terbit tanpa diperintah, hatinya begitu hangat setiap kali mengingat tangan seorang lelaki yang didambakan mengusap pelan pucuk kepalanya pelan. Tak segan ia mencium kemeja milik sang lelaki yang tertinggal ditempatnya, air atar khas mawar putih kesukaannya.


"Tidak berubah dari dulu, bahkan wangimu masih saja menyeruak dan tertinggal ditempatku untuk setiap harinya." Ujarnya bermonolog.


Memejamkan mata sekejap, dipeluknya kemeja berwarna hitam kedodoran itu dengan begitu sayang, "seperti saat pertama kali kita bertemu. Kamu menemukanku disuatu tempat yang begitu kotor, membawaku pulang dan menyelamatkan hidupku yang suram. Kamu datang tanpa aku minta, memberiku sepenggal kalimat semangat yang membuat raga kosong ini kembali hidup. Hidup itu sederhana hanya kamu saja yang membuatnya rumit, bisikmu waktu itu," lirihnya mengamati setiap lalu lintas kendaraan dibawah sana. Kerlap-kerlip lampu disetiap jalan membantu pencahayaan apartemennya yang sengaja ia redupkan.


Pertemuannya dulu dengan sang lelaki pujaan cukup rumit dan sembrono. Lelaki itu menyelamatkan hidupnya dari jurang curam dan mematikan, menjadi perempuan liar dan memamerkan tubuhnya kesana kemari. Terkadang juga menemani para lelaki hidung belang yang tengah menikmati sebotol alkohol. Hidupnya sesuram itu dulu, tapi semenjak ditemukan oleh seorang pangeran dan dihadiahi sebuah wacana, hidupnya kembali berwarna dan penuh semangat.


"Kamu alasanku tetap bertahan dari kerasnya hidup dan kerasnya dunia yang menghukumku berkali-kali. Kamu selalu datang menawarkan dekapan bersahabat, mengusak surai legamku dan terus berkata kalau hidup akan selamanya baik-baik saja,"


Perempuan itu mengalihkan perhatiannya karena dirasa sedikit lagi airmatanya akan menetes, senyum sendu dengan nafas sedikit memburu menjadi iringan intonasi suasana dayuh malam ini.


"Fabian maaf. Maaf karena telah melibatkan hati setiap berada disampingmu. Dan untuk kali ini aku tidak akan mengatakannya padamu, bagaimanapun bahagiamu lebih penting. Terimakasih sudah berada disampingku selama ini."


Nadia. Elana Dianti, atau Nadia sapaan akrabnya, tidak tahu sejak kapan perasaan itu tumbuh untuk seorang bajingan seperti Fabian. Setiap kali bersama lelaki itu pasti hanya ada kenyamanan dan juga takut kehilangan, maka dari itu semenjak kenal dan satu sekolah dengan lelaki itu, Nadia berusaha mungkin menjadi prioritasnya. Kedengaran egois, tapi Nadia menginginkannya; sungguh.


Ditengah dirinya asik dengan lamunan, ia terganggu oleh ketukan pintu apartemen berkali-kali. Dengan cepat menetralkan ekspresi wajah dan juga menyimpan kemeja itu didalam almari secara asal.


Matanya membelalak ketika membuka pintu apartemen.


Renald.


Bukankah lelaki itu bilang kalau menunda kepulangan untuk beberapa bulan lagi, tapi kenapa bisa malam ini lelaki itu sampai apartemennya? Tunggu-tunggu, Nadia menajamkan penciumannya dan benar kalau mendapati Renald yang tengah mabuk.


"R-re kenapa kamu ada disini?"


Tubuh lelaki itu limbung, Nadia siap mennagkapnya, dipapah menuju sofa terdekat. Namun sebelum itu ia menutup pintu apartemennya rapat-rapat.


"Re ada apa? K-kenapa kamu bisa disini? Bukannya kamu pu-"


"Aku mempercepat kepulangan karena sudah merindukan kamu Nad." Bisiknya lirih.


"I-iya tapi ini membuatku terkejut. Kenapa kamu tidak memgatakannya dan menyuruhku menemuimu di Bandara?"


"Kejutan," ucapnya dengan pening kepala. "Nad," lirihnya memanggil.


"Y-ya?"


"Coba berikan aku satu pelukan."


Nadia menunda sekejap, hanya diam dan memperhatikan Renald yang memejamkan mata disampingnya. Pasti ada sesuatu yang terjadi dengan Renald, dan ini adalah hal aneh yang pernah Nadia tahu; Renald kembali dengan keadaan setengah sadar.


Tanpa babibu dipeluknya tubuh Renald erat, "Ada apa Re? Masalah dengan pekerjaanmu?"


Renald tak menjawab, membalas pelukan hangat Nadia tak kalah erat. Matanya masih terpejam karena pusing yang melanda.


"Ceritakan padaku, malam ini aku rela tidak tidur dan hanya ingin mendengar ceritamu."


Renald masih saja bungkam, melepaskan pelukannya dan menatap dalam-dalam manik Nadia. Lelaki itu memajukan wajahnya, mengecup kening, pipi dan terakhir tepat pada bibir Nadia. Memagutnya pelan, namun tak kunjung dibalas oleh sang kekasih.

__ADS_1


Apa yang terjadi denganmu Re?


Cukup lama, pagutan yang semula pelan berubah sedikit agresif dan menuntut. Nadia tidak bisa jika terus-terusan seperti ini, dengan dirinya yang sama hilang akal, membalas pagutan mesra Renald. Sesekali menyudahi karena nafas saling memburu.


Ini tidak benar, karena malam ini keduanya kembali jatuh pada jurang yang curam. Menghancurkan impian yang selama ini diimpikan, namun bisa saja menciptakan kehidupan baru yang membahagiakan.


-


Selsa merubuhkan tubuhnya disofa besar itu dengan lega. Berdansa dengan Fabian selama kurang lebih satu jam membuat kedua kakinya hampir saja patah, "Dimana kamu meletakkan ponselku?"


"Coba saja cari didalam lemariku, kalau tidak salah aku meletakkannya disana." Fabian kembali membawa dua kaleng minuman bersoda, duduk disofa dan meletakkan minuman itu dimeja.


Selsa beranjak dari tempatnya. Berlari menuju lemari kokoh yang ada didalam kamar untuk bisa menemukan ponselnya. Selesai mendapatkan apa yang diinginkan Selsa kembali dan duduk disebelah Fabian, "Eh omong-omong bagaimana pekerjaanmu disana?"


"Semuanya baik-baik saja dan berjalan lancar. Rekan yang menguntungkan dan aku juga berhasil mengambil hati salah satu model untuk komersial."


Menghidupkan ponselnya, Selsa sesekali terfokus pada Fabian yang asik mencari saluran televisi terbaik, "Syukurlah kalau begitu. Em- siapa modelnya?"


"Ada, salah satu idola tanah air. Dia juga berkecimpung didunia akting, kalau tidak salah pernah bermain film bersama aktor ternama Indonesia. Pengikut sosial medianya juga sangat banyak, aku pikirkan berkali-kali dan akhirnya memberinya surat kontrak. Aku pikir produkku nanti akan terjual tanpa sisa karenanya." Jelas Fabian diiringi senyuman bangga.


Memang lelaki itu berhasil menarik model yang tak kalah terkenal dari sebelum-sebelumnya, mengirimkan surat kontrak dan menjalin sebuah kerja sama yang saling menguntungkan.


"Pintar sekali ya Fabian ini. Tapi tunggu, dia tidak terlibat skandal apapun kan? Kalau iya bisa saja nanti produk yang ditawarkan image nya akan berubah dan tampak tidak ternilai."


"Bersih sayang, aku jamin kali ini tidak ada skandal apapun. Oh iya kenapa kamu bertanya seperti itu?"


"T-tidak hanya saja pengalaman dari Sakti," Pengucapan Selsa terhenti kala Fabian menatapnya tajam dan menyela ucapannya.


Selsa berusaha menenangkan dengan mengapit lengan Fabian erat, "B-bukan begitu Fabian, maksudku kita ambil pelajaran dari perusahaannya dia yang salah satu staffnya terkena skandal narkoba. Aku sempat prihatin dan-"


"Berhenti menceritakan apapun tentangnya, aku tidak mau tahu dan tidak perduli juga apapun tentang dia." Tatapan tajammya bertambah dua kali lipat, memang Fabian sangat sensitif jika membahas lelaki yang terkait dengan Selsa. Termasuk Sakti.


"O-oke, maafkan aku."


Selesai itu hening.


Hanya ada suara televisi yang menjadi teman keduanya. Namun selang beberapa detik deringan ponsel Selsa mengganggu pendengaran Fabian. Namun Selsa tak kunjung menjawab panggilan itu, dibiarkan dan menyebunyikan ponsel dibalik bantal sofa.


"Sa itu ponselmu terus berdering, angkat saja dulu siapa tahu penting." Instruksi Fabian.


Perasaan Selsa semakin tidak enak, was-was kalau nanti ternyata yang menelfonnya adalah si pengirim teror selama ini. Dia tidak mungkin mengangkat saat bersama Fabian.


"T-tidak Fab."


"Kenapa? Angkat saja Sa tidak apa-apa, ini berisik sekali."


Fabian menatap gelagat aneh Selsa. Wajah perempuan itu sedikit pucat dengan sorot mata ketakutan.


Selsa kembali menolak panggilan dari nomor yang tidak dikenal itu. Namun selang beberapa saat ponselnya kembali berdering nyaring, setelah dipandangi ternyata sebuah notifikasi pesan. Membacanya sekilas membuat jantungnya berdegup dua kali lebih kencang. Sialan, ponsel sialan itu kembali berdering. Apasih maunya orang itu?

__ADS_1


"Coba kemarikan ponselmu, aku yang mengangkatnya." Tangan Fabian terulur untuk mengambil ponsel Selsa, namun kembali dicegah.


"J-jangan! Aku saja," Selsa beranjak dari tempatnya, "sebentar ya Fab, aku ke kamar dulu." Pamitnya sebelum benar-benar pergi.


Selsa mengunci rapat-rapat pintu kamar, mengarah pada balkon dan mengangkat ponselnya yang sedari tadi berdering tanpa henti. "S-si-apa?" Tanyanya takut-takut.


"Sudah kubilang, kalau kamu tidak menjauhi Fabian, aku akan membunuhmu."


Matanya otomatis mengerjap kala suara mengerikan itu mengintruksi untum menjauhi Fabian; de javu.


"Siapa sebenarnya kamu? Ada masalah denganku?"


Tawa nenek sihir kembali didengarnya, "Jauhi dia, atau kubuat dirimu mendekam dirumah sakit jiwa." Ancamnya semakin menjadi.


Apa-apaan ini? Tadi mengancam membunuh dan ini mengancam dengan membawa-bawa rumah sakit jiwa, Selsa menggeram kesal walau ketakutan.


Tangannya mencengkeram erat pembatas balkon, "Sebenarnya apa masalahmu denganku? Berhenti melakukan teror dan mari kita bertemu empat mata." Geram Selsa sudah tidak tahan.


"Yakin mau bertemu denganku hanya empat mata? Ah sebaiknya jangan, nanti kelinci kesayangannya Fabian menangis kalau bertemu deganku," tuturnya dengan cara bicara yang dimanis-maniskan, "belum saatnya, suatu saat nanti kita akan bertemu dan membalaskan semua dendamku padamu." Sambungnya berujar ketus.


"Tolong jangan berbelit-belit, aku tidak paham, katakan yang jelas! Siapa dirimu sebenarnya dan apa maksudmu menerorku?"


"Dasar bodoh! Berhenti mendekati Fabian, pergi dari apartemennya dan tinggalkan lelaki itu sejauh mungkin."


"Tidak mau, memangnya siapa kamu sampai melarangku seperti itu."


Selsa mendengar sumpah serapah dari sang penelpon, rungunya juga menangkap bila sesuatu dijadikan pelampiasan sang penelpon, "Berani denganku kamu Selsa? Yasudah siap-siap saja, paket selanjutnya akan sampai di apartemen kekasihmu. Selama menikmati dengan jeritan mengerikan."


Klik!


Telepon dimatikan tanpa mau mendengarkan ucapan Selsa.


"T-tunggu-"


Selsa berdecak sebal ketika panggilan dimatikan begitu saja. Wajahnya sedikit pucat karena rasa takut yang didera, gawat, Fabian tidak boleh tahu masalah ini.


Selsa berlari menuju ruang tamu dan menemukan Fabian tengah menonton sebuah film favoritnya, "Fab ayo kita tidur saja, pasti kamu kelelahan, lebih baik istirahat." Ujarnya tergesa.


"Tunggu Sa! Ini seru sekali, Ma-"


Perempuan mungil dengan surai yang masih digerai itu menarik-narik tangan Fabian agar lelaki itu mau mengikutinya, "Ayo ke kamar, aku sudah kelelahan." Pinta Selsa sesekali pandangannya mengarah was-was pada pintu.


"Iya sebentar," pinta Fabian yang masih fokus pada sinema yang ditontonnya.


"Kalau kamu tidak mau, besok aku tidak akan bicara denganmu." Ancam Selsa yang membuat Fabian menurut seketika.


"Baiklah ayo kita ke kamar sekarang. Ayo!"


Selsa menelisik sebentar kearah pintu yang belum ada tanda-tanda diketuk. Memaksa Fabian memasuki kamar dengan tergesa karena takut lelaki itu tahu ada yang mengancamnya. Dirinya sungguh takut. Namun baru beberapa langkah, keduanya dikejutkan oleh ketukan pintu Apartemen.

__ADS_1


Tok! Tok! Tok!


__ADS_2