My (Ex) Boyfriend

My (Ex) Boyfriend
Epilog 2


__ADS_3

Selsa dibuat penasaran dengan tingkah diam-diam seorang Fabian. Terlepas dari rasa syok dan tentunya terkejut lelaki itu, Selsa mendapati Fabian yang melangkah ke dalam rumah panti. Lelaki itu berpamitan pada bu Asri, Samuel dan beberapa anak panti disana. Dan setelah dirinya juga meminta ijin bu Asri untuk pergi ke toilet, Selsa dengan langkah lebarnya mencari dimana sosok Fabian.


Langkahnya berhenti dibelakang tembok ketika melihat Fabian berdiri didepan jendela kayu yang ada di panti, rasa penasarannya menjadi disertai degupan jantungnya yang tak beraturan dan menggegerkan dirinya sendiri. Selsa melihat Fabian tampak menempelkan kedua tangannya pada sisi jendela dan menunduk disana, seperti tengah memikirkan sesuatu yang berat.


Selsa perlahan mendekat, berhenti beberapa meter dibelakang Fabian dengan perasaan ragu, degupnya kembali menggegerkan dan tiba-tiba menjadi grogi tanpa diminta. Walau ragu namun hati selalu membawanya kepad alelaki bernama Fabian ini.


Selsa mengusir pikiran yang macam-macam, berdiri sejajar disamping Fabian dengan kepala sedikit menunduk mengintip apa yang sedang terjadi dengan lelaki disampingnya.


Tak disangka, Fabian terkejut hingga tubuhnya menjingkit kaget sampai tangannya refleks mengelus dada yang berdebar. Tubuhnya sedikit memberi jarak dengan tangan yang masih mengelus dada akibat terkejut, dalam hati mengumpat namun terhenti seketika.


Selsa tak bisa menahan tawanya, untuk itu dia tertawa sekeras mungkin melihat reaksi Fabian yang seterkejut ini. wajah Fabian juga terlihat pucat pasi, semenakutkan itukah seorang Selsa? Tawanya terhenti ketika Fabian membekapnya tiba-tiba, terjadi adu pandang beberapa menit sebelum Fabian melepaskan diri.


"S-sorry," katanya tak enak.


Selsa pura-pura merapikan bajunya, meringis pelan dengan suasana yang sangat amat canggung.


"A-aku kesana dulu,"


Selsa menggernyit heran, Fabian menunjuk pada bu Asri, Samuel dan anak-anak panti, dalam hatinya bertanya, mungkinkah lelaki ini menjauhinya? Untuk itu sebelum Fabian benar-benar menghilang, Selsa menarik lengan Fabian kencang hingga langkah lelaki itu terhenti dan terpaku untuk beberapa menit.


"Tunggu dulu," cegah Selsa menghalangi Fabian dengan dirinya berdiri didepan lelaki itu, mendongakkan kepala menatap Fabian yang sedari tadi mengalihkan pandangannya.


"Lepaskan tanganku, tidak enak dengan yang lain!" pintanya masih tidak mau melihat Selsa.


Baiklah, kali ini Selsa akan menjadi boah dungu yang menulikan pendnegarannya. Bukannya melepaskan, Selsa justru meremas erat lengan Fabian, "Menjauhiku, huh?" tanya Selsa penuh tuntutan.


"Tidak ada yang menjauhimu, lepas! Tidak enak-"


"Bu Asri, Samuel atau anak-anak tidak akan melihat kita, mereka sibuk bermain." Selsa Selsa cepat membungkam Fabian.


"Tolong beri sedikit jarak, aku sulit beernafas."


"Apakah ini efek dari aku meninggalkanmu? Namaku Selsa, sebut namaku!"


Fabian memejamkan matanya penuh frustasi, "menjauh atau aku-"


"SELSA." Sela Selsa membenahi ucapan Fabian.


Ya, Selsa. Fabian membuka mata, kepalanya menunduk menatap Selsa begitu dalam, "Lepas, Selsa!" tukasnya penuh penekanan.


Ini yang diinginkan, Selsa tersenyum disana. Bukan hanya tersenyum, tapi tertawa kecil.


"Ini pertama kalinya kamu menyebut namaku setlah tiga tahun, apa kabar?" tanya Selsa bahagia.


"B-baik, sangat baik." Jawabnya kikuk.


"Aku juga baik, sangat baik-baik saja."

__ADS_1


"Tapi aku tidak bertanya Sa,"


Selsa merubah rautnya menjadi cemberut lucu, "jahat sekali, sudah tahu tiga tahun tidak bertemu padahal." Cibirnya malas.


Masih bisa tertawa ya setelah membuatku seperti ini.


"Sa tidak enak jika nanti bu Asri melihat kita sedekat ini,"


"Memang kenapa sih Fab?" tanya Selsa penuh kekesalan.


"Bukannya tadi kamu yang mengatakan tidak mengenaliku dan kita tidak saling megenal ya?" jawab Fabian tak kalah kesal.


"Ya tadi aku hanya bercanda, maaf ya." Tuturnya lembut diiringi senyuman khasnya.


Fabian berdecak sebal, tangannya meraup wajah Selsa yang dibuat se imut mungkin. Perempuan itu memekik diiringi tawa yang menggelegar mengetahui Fabian sekesal ini. berganti setelah itu Selsa memeluknya erat, dibalas dengan Fabian.


"Masih bisa ya tertawa selebar itu setelah membuatku seperti ini," keluh Fabian menggerutu.


Dibalik pelukannya Selsa tertawa renyah, "ternyata memikirkan itu ya?"


"Untung ada Samuel, aku tidak jadi gila hanya ditinggal olehmu." Ungkap Fabian jujur.


Selsa memainkan jarinya dibelakang punggung Fabian, "Samuel? Jadi kamu sudah berdamai dengannya?" tanyanya penasaran.


Ternyata dirinya sudah kelewat tidak tahu apa yang dirasakan Fabian dan kelewat tidak tahu apa yang terjadi dengan Fabian. Tentang bagaimana lelaki itu setelah ditinggalkannya, dan tentunya juga banyak hal.


"Memang kapan aku pernah bertengkar?"


"Ah itu, Cuma masalah kecil."


Selsa tidak merespon. Terlalu menikmati dekapan hangat Fabian yang hilang selama tiga tahun ini, hidungnya megendus aroma kulit Fabian yang sudah berubah di ceruk leher Fabian. Semakin merapatkan diri karena memang sangat amat merindukan Fabian dan tak terterkira rindunya sebesar apa.


"Ayo menikah denganku!" ajak Fabian tiba-tiba.


Fabian merasa Selsa tersenyum disela ceruk lehernya, perempuan itu menghembuskan nafas hangatnya yang membuat Fabian meremang.


"Temui Mommy dan juga Daddy, ambil aku dari mereka." pinta Selsa sedikit menantang.


"Aku akan menelponnya, secepat mungkin aku bertemu dengan beliau. Sudah siap untuk ku miliki?"


"Sudah dari dulu, aku selalu siap untuk kamu miliki."


Fabian melepaskan pelukannya, begitupun Selsa yang rasanya enggan karena masih sangat merindukan Fabian. Lelaki itu mengusap kepala Selsa penuh kelembutan, turun di kedua pipi Selsa dan juga sudut bibir perempuan itu. Pandangannya turun, dialihkan pada bibir cherry yang seperti candu untuknya, perlahan wajahnya mendekat.


Semakin dekat, Selsa pun sudah siap dengan menutup matanya, sangat dekat.


Dan akhirnya,

__ADS_1


"Kak Fabian, Kak Selsa, sedang apa?"


...---...


Selsa tak henti-hentinya menggerutu dan tersipu malu. Usai kejadian memalukan tadi, anak berusia tujuh tahun tak berhenti untuk bercerita kepada siapapun. Bu Asri, Samuel, dan teman-temannya pun diberi tahu, astaga Selsa hampir mati karena malu. Bahkan Samuel tak henti-hentinya meledek lewat tatapan matanya, sangat sialan, sedangkan reaksi dari bu Asri hanya tersenyum memaklumi juga setengah menggoda.


Setelah selesai dan matahari mulai tenggelam, Samuel, Fabian dan juga Selsa masih belum kembali ke tempatnya. Mereka masih berada di panti asuhan, dibawah pohon rindang beralaskan tikar berwarna biru, dengan tiga gelas the hangat yang di buatkan bu Asri.


Mereka menghabiskan waktu untuk bercerita hingga malam semakin larut, seluruh penghuni panti juga Bu Asri sudah beristirahat dan terpejam nyaman. Sedangkan tiga orang ini masih saja bergadang dan membahas hal yang tidak terlalu penting.


"Bagaimana bisa kembali ke Indonesia Sa?" tanay Samuel.


"Kebetulan teman daddy mengatakan kalau lahan yang ada di dekat rumah Vano dulu akan di kosongkan, menggusur penduduk dan dibuat bangunan baru. Dan tidak sengaja dia menjatuhkan beberapa berkas yang ku baca, ada satu nama panti asuhan yang merebut simpatiku," jelasnya sembari menerawang dimana dia tahu pertama kali tempat ini.


"Aku tidak bisa menolak begitu saja, akhirnya aku mengikuti apa yang mereka inginkan, dengan berkali-kali membujuk daddy untuk tidak ikut campur tapi tetap saja tidak bisa. Akhirnya aku bertindak sendiri dengan segala cara, dan kebetulan aku mendengar penduduk tidak jadi di gusur karena satu hal. Ternyata itu kalian, aku memutuskan untuk kembali ke Indonesia dan menjadi donatur."


"Aku kira kamu kembali karena tahu Fabian menjadi donatur disini."


"Demi apapun aku tidak tahu kalau kalian berada disini. Mungkin benar, Tuhan selalu mempunyai jalan terbaik. Nyatanya aku kembali dipertemukan dengan Fabian ditempat ini."


"Ini juga Fabian kenapa diam saja? Grogi bertemu dengan Selsa?"


Samuel menggoda Fabian yang sedari tadi hanya diam saja. Dengan tangan yang sibuk memainkan jemari Selsa karena sekarang tangan keduanya saling bergenggam tangan.


"Oh iya ada yang ingin ku tanyakan, kenapa bisa lelaki arogan ini berubah?" tanya Selsa setengah meledek.


"Aku sempat menceramahinya hingga mulutku berbusa, mungkin didengarkan, setelah itu sikapnya berubah drastis." Jawab Samuel yang mendapat cibiran Fabian.


"Mungkin efek jera juga karena ku tinggalkan, benar tidak?"


"Nah benar juga, tahu tidak setelah dia pulang dari bandara?" Selsa menggeleng ketika obrolanya semakin asik bersama Samuel, "dia mengurung diri selama dua hari setelah aku menceramahinya juga." Selsa reflek menyemburkan tawanya kencang.


Fabian berdecak sebal, memukul pelan kepala Selsa yang hanya direspon dengan aduhan kecil dari sang korban.


"Tapi seketika aku tahu kalau dia baegitu bahagia melihatmu pertama kali disini, binarnya terlihat jelas bahwa rasa senang, tidak sangka dan rindu bercampur didalam sana. Fabian merindukanmu sedalam itu Sa." Jujur Samuel tulus. Lelaki itu perlahan tahu apa yang dirasakan Fabian setelah tiga tahun bersahabat.


Tanpa disangka, Selsa melepaskan tautan tangannya pada Fabian dan menghampiri Samuel untuk memeluknya.


"Sam terima kasih telah merubah Fabian, terima kasih telah menjaga Fabian selama aku pergi." Bisik Selsa tak kalah tulus.


Samuel menepuk punggung Selsa beberapa kali bermaksud menenangkan, "Santai saja, tidak usah terima kasih. Karena sekarang aku adalah bagian dari kalian, sahabat." jelas Samuel lantang.


Fabian ditempatnya tak bisa menahan rasa harunya, Selsa kembali dan Samuel telah meaafkan semuanya. Hati Fabian tak kalah tenang dan damai, kegelisahan selama ini seketika sirna dengan datangnya Selsa.


Selsa melepaskan pelukannya, kembali duduk disamping Fabian dan menggenggam tangan Fabian erat, "jangan beubah lagi ya." Bisiknya lembut.


"Besok hari ulang tahunku, dan aku mengadakan pesta. Kalian bisa datang dengan penampilan menarik."

__ADS_1


Selsa dan Fabian mengangguk menyetujui.


Mereka kembali melanjutkan perbincangan lain. Membahas apapun yang terjadi dengan Fabian dulu dan juga pengalaman Selsa ketika berada di luar negeri. Mereka menghabiskan malamnya sampai larut, ketika bu Asri mengingatkannya untuk istirahat dan ketiga orang itu memutuskan untuk menginap di pantai sampai pagi tiba.


__ADS_2