
"Jangan sampai mulut sialanmu itu berbicara yang tidak-tidak dengan orang tuaku."
"Mulut sialan ini pernah menciummu Selsa, ingat itu?."
"Aku tidak perduli."
Selsa berjalan melengok dengan anggun memasuki kediamannya diikuti Fabian. Disambut oleh beberapa pria berseragam Hitam. Memasuki pintu utama, yang dilihatnya adalah ruangan besar nan megah. Melebarkan langkah lebih dalam, menampilkan Orangtuanya juga ada Mina yang sudah siap dimeja makan. Tapi tunggu, ada satu laki-laki yang membua Selsa membelalak. Vano, teman Fabian, kenapa laki-laki sialan itu juga ada disini? Ah Mina pasti mengajaknya.
"Wow-, Selsa kau datang dengan si-," Delina membelalak terkejut melihat Fabian berdiri disamping Selsa. "Fabian, astaga!! Kamu kok bisa dengan Selsa? Aduh senangnya calon menantuku kembali." Ujarnya Antusias lantas memeluk Fabian sayang.
"Ayo duduk dulu Fabian, Tante dan Om sangat terkejut mengetauinya." Delina menuntun Fabian menuju kursi yang kosong.
Sedangkan Selsa memasang wajah kesal. Delina selalu seperti itu, heboh ketika bertemu dengan Fabian. Apalagi dulu ketika ia masih menjadi kkasih laki-laki itu, hampir setiap hari Delina dan Romi menanyakan kabar Fabian.
"Kenapa masih berdiri? Duduk Selsa, disamping Fabian."
"Tidak mau. Aku ingin disamping Mina." Ujarnya lantas berjalan kearah Mina.
"Mina sudah ada kekasihnya, apa kamu tega menggaggunya?." Ucapan Delina membuat langkahnya terhenti. Perempuan itu menatap Delina kesal. Namun dengan terpaksa Selsa menurutinya, duduk disamping Fabian.
"Berhenti memasang wajah tolol seperti itu, aku muak melihatnya." Desis Selsa lantas meletakkan dompet genggamnya setengah kasar.
Fabian masih memasang wajah tersenyumnya, mendekatkan kepalanya kearah Selsa dan berbisik. "Aku sudah tahu cara mendapatkanmu kembali. Tante Delina dan Om Romi."
"Bajingan."
"Selsa perhatikan tutur katamu," Sentak Romi. "Fabian maafkan Selsa ya, dia memang begitu."
Fabian hanya mengangguk kikuk. Bibirnya tak berhenti untuk tersenyum karena Delina dan Romi yang berpihak kepadanya. Ini langkah yang bagus untuk mndapatkan Selsa kembali.
"Bagaimana kamu bisa bertemu dengan Selsa? Apa kalian kembali menjalin hubungan?."
"Aku tidak sudi kembali bersama Brengsek satu itu Mom," sela Selsa sebelum Fabian menjawab.
Mina dan Vano terkikik ditempatnya karena melihat raut kesal Selsa. Perempuan itu dengan terang-terangan menunjukkan sikap tak sukanya kepada Fabian.
"Kenapa bicaramu sekasar itu Selsa? Siapa yang mengajarimu?."
"Dad please-, bisa kita mulai acaranya?."
Romi tak mengarahkan perhatian kepada Selsa. Laki-laki paruh baya itu berganti menatap Fabian yang duduk manis disamping Selsa. "Fabian-, jadi kamu yang menampung Selsa selama ini?."
"Tidak om, Selsa tinggal bersama saya baru satu bulan."
__ADS_1
"Satu bulan? Kenapa dia tidak cerita kepada kita ya Mom? Ah jangan-jangan dia malu karena ketahuan kembali dengan mantan pacarnya?." Romi bertanya pada sang istri dengan nada menggoda.
"Aku sudah bilang tidak akan sudi kembali bersamanya Mom! Lagian dia yang memaksaku tinggal di apartemennya."
"Really? Wah Fabian, kalau begitu kami tenang karena Selsa sudah bersama orang yang aman." Ujar Delina dengan binar bahagia.
Selsa mendengus menatap malas orang yang ada disana. Apalagi Mina dan Vano yang menatapnya dengan pandangan mengejek, Ah Selsa-, habis kau malam ini.
Aman apanya? Yang ada aku nanti diperkosa lalu dibunuh dan mayatku dibuang ke sungai.
"Iya Tante, Selsa pasti aman bersam Fabian. Tapi maaf sebelumnya, Saya dan Selsa tidak kembali tante. Maksud saya belum,"
"Belum? Lantas kenapa bisa satu apartemen?."
"Bisalah Daddy. Apa yang tidak bisa untuk orang kasar dan pemaksa seperti dia? Awalnya aku juga tinggal bersam Mina."
Romi dan Delina menahan senyum. Keduanya merasakan jika antara Fabian dan Selsa masih ada benih-benih cinta yang menjalar dan merebak ke dasar hati. Namun satu dari keduanya sepertinya masih bingung dan tak tau harus berbuat apa.
"Terus Mina sekarang tinggal bersama siapa?." Tanya Delina pada Mina.
"Aku sendirian di Apartemen Tan,"
"Lho kok bisa? Mending kamu ikut saja dengan Selsa, bagaimana?."
"Tidak Tante, lagipula sebentar lagi aku akan menikah dengan Vano."
"Kamu akan menikah dengan sialan itu? Oh God, Mina!! Jangan dengan dia." Teriaknya nyaring hingga seisi ruangan bergetar karena suaranya.
"Selsa, Vano laki-laki baik."
Selsa menggeleng tak percaya. Menghirup lalu menghembuskan nafas kesalnya. Ingin rasanya dia kembali berteriak didepan Mina yang seenaknya jika mengambil suatu keputusan. "Aku tidak percaya, lelaki disampingku saja sialan apalagi yang ada disampingmu itu. Mereka satu paket,"
"Kamu tidak tahu aku Selsa. Yang kamu tahu hanya aku seorang player, dan itu dulu. Sekarang aku hanya ingin bersama Mina, lagipula semua orang bisa berubah kapan saja. Tidak seperti kamu yang selalu menutup mata dan sulit untuk menerima kebaikan seseorang." Ujar Vano yang sukses membuat Selsa tercekat.
Benar, yang dikatakan Vano memang benar. Mungkin dirinya memang selama ini selalu menutup mata dan sulit menerima kebaikan seseorang. Selsa bungkam, netranya menatap kosong Vano yang berada disamping Mina. Tapi ia begini juga bukan salahnya, lantas kenapa mereka seakan merutuki Selsa sebagai seorang pelaku?.
Atmosfer tak sedingin lima menit yang lalu. Berubah menjadi panas dan hening, hanya terdengar dentingan jam yang selalu berputar. Tangan yang semula berada diatas meja kini beralih ditunpu pada kedua kaki. Saling menggenggam dan merapal beberapa kalimat dalam hati.
"Hey ini ada apa? Apa terjadi sesuatu?." Tanya Romi.
"Tidak ada apa-apa Om. Ini hanya salah paham." Ujar Fabian.
Mengalihkan pandangannya ke sudut ruangan, tangan Selsa masih gemetar dibawah sana. Bermain dengn kuku-kuku cantiknya, hati Selsa sedikit gelisah mendengar penuturan Vano baru saja. Benarkah ia seperti itu?. Namun ia tersentak kala tangan lain menggenggamnya. Meremasnya pelan seakan berakata, tidak apa-apa. Fabian, ia menatap sejenak tangan Fabian yang menggenggamnya dibawah meja. Fesiran aneh nan hangat menyatu dihatinya.
__ADS_1
"Sayang-, kamu jangan mudah menyimpulkan kepribadian seseorang. Kamu harus mengenalinya dulu." Nasehat Delina yang diabaikan Selsa.
Perempuan itu mencoba menarik tangannya dan menyingkirkan tangan Fabian, namun tidak bisa. Alhasil ia hanya pasrah dan diam saja. Untuk sebentar, ia mengijinkan Fabian bersentuhan secara fisik dengannya. Setelah itu jangan harap untuk bisa bersentuhan fisik dengan Selsa, lagi.
"Terserah kalian sajalah. Aku malas mendengarnya."
-
-
-
"Aku antar ke apartemen dulu, aku ada urusan."
"Urusan apa?."
Ingin sekali Selsa mencabik bibirnya yang dengan lancang bertanya kepada laki-laki bernama Fabian itu. Selesai acara keduanya memutuskan untuk kembali ke apartemen, tentunya dengan wanti-wanti Romi dan juga Delina agar keduanya ingat dan tidak melakukan hal sembrono yang membahayakan dua anak manusia itu.
"Sebentar saja. Eh tapi akan lama, tapi tidak tahu juga."
Selsa mengangkat bahunya acuh. Dengan kepala bersandar ia memejamkan matanya, sedangkan Fabian melajukan mobil menuju Apartemennya.
Duduk berdua dimobil seperti ini mengingatkan pada saat keduanya pertama kali dekat dan memutuskan untuk menjalin sebuah hubungan. Fabian mengajak Selsa berkeliling Jakarta semalaman. Hanya berkeliling, menikmati indahnya langit malam juga beribu bintang yang terbentang dilangit Jakarta. Walaupun tak berjalan kaki, tangan keduanya tetap tertaut, sesekali Fabian menciumi tangan Selsa yang ada di genggamannya.
Saat itu dengan Kepala Selsa bersandar dipundaknya dan kedua tangannya yang fokus memegang kendali stir, ia tak terganggu sama sekali. Justru hatinya membuncah ketika Selsa menunjukkan sikap manja dan kekanakannya. Perempuan itu tak pernah tidak bermanja dengannya. Minta dibelikan eskrim, coklat batang yang selalu dihindari banyak kaum perempuan agar tidak gendut, minta dibelikan jajanan dengan nama Rambut nenek warna pink yang sering ada di pasar malam, juga terkadang minta untuk diusap sisi wajahnya agar bisa tertidur dengan nyenyak. Namun itu dulu, sebelum sebuah fakta yang berhembus dan membuat keduanya hancur, terutama Selsa.
Dan lihat sekarang. Selsa membentang jarak terlalu jauh hingga Fabian sulit sekali menggapainya. Selsa bukan perempuannya dulu, manja dan juga lembut. Perempuan itu seakan bertransformasi dan berubah menjadi mosnter yang menyeramkan, hanya demi membentengi diri agar tidak kecewa lagi. Agar tidak terluka lagi dengan yang namanya Cinta.
Memberhentikan mobilnya diparkiran apartemen, Fabian mengalihkan pandangannya kearah Selsa. Sepertinya perempuan itu tertidur. Laki-laki itu mengamati sejenak wajah Selsa yang sangatlah sempurna. Pahatannya luar biasa indah dan tidak pernah bisa membuat Fabian berpaling kepada siapapun. Dengan pelan tangannya terulur untuk mengusap sisi wajah Selsa yang untuk saat ini tidak pernah ia usap barang sekali.
"Sudah sampai,"
Selsa membuka matanya dan tersentak ketika tangan Fabian bertegger di pipinya. Dengan cepat perempuan itu menepisnya kasar lantas menatap tajam Fabian. "Jangan pernah menyentuhku sembarangan,"
"Aku hanya membangunkanmu. Masuklah dan istirahat. Tidur dikamar, malam ini sepertinya aku tidak pulang."
Melepaskan seatbelt dengan kesal, "Pulang tidak pulang bukan urusanku, kalau bisa sih tidak usah pulang saja." Desisnya tanpa mau melihat Fabian.
Tangan mungilnya membuka pintu mobil namun ditahan Fabian. Refleks menoleh dan wajah keduanya bertemu. Ia bisa melihat wajah lelaki itu dari dekat dan sangat dekat, merasakan hembusan nafas yang menerpa wajahnya.
"Jangan semena-mena denganku Selsa. Kau ini siapa? Aku bisa saja berbuat apapun untuk membuatmu bertekuk lutut padaku dan jangan sepelekan omonganku yang ini."
Selsa menampilkan senyum mengejeknya. "Aduh Takutnya," lantas kembali merubah rautnya menjadi datar. "Aku tidak akan takut Fabian, ingat itu. Sudah ku bilang, sekuat apapun kamu mengembalikannya seperti dulu, itu tidak akan bisa. Keputusanku sudah bulat, aku tetap bersama Sakti."
__ADS_1
Melepaskan cekalan Fabian, Selsa membuka pintu mobil dengan kesal. Meninggalkan tempat dan menutup pintu itu dengan keras. Merapikan anak rambutnya yang sedikit berantakan, Selsa kembali berjalan menuju apartmen Fabian. Perempuan itu menggeleng pelan untuk mengenyahkan berbagai presepsi yang memusingkan.
Bodoh, hatimu tidak berdebar Selsa. Kamu hanya terkejut tadi, pastikan hatimu bukan berdebar untuk sialan satu itu. Tidak dan jangan pernah.