
“Aku tahu bagaimana rasanya kecewa dan sedih secara bersamaan, seperti saat kamu meninggalkan aku beberapa waktu lalu, jadi aku tidak ingin kamu mengalaminya. Kalau kamu memang menyayangi Nadia, coba letakkan kepercayaan disana.”
Menyayangi Nadia? Memang.
Tapi dia juga mencintai Selsa, lebih, sampai dirinya sendiri lupa berapa persen perasaannya kepada Selsa.
Fabian sadar, tololnya melampaui batas, mengabaikan Selsa yang selama ini jelas-jelas ada selalu disisinya. Lelaki itu menatapi wajah Selsa dari samping, begitu damai, tapi dilihatnya sangat jelas gurat kesedihan dan kekecewaan disana. Ia juga tahu sapa penyebab gurat kecewa dan kesedihan itu, siapa lagi kalau bukan si tolol dirinya sendiri, Fabian.
“Sa,”
Selsa yang kebetulan menatap arah lain otomatis menoleh, mengangkat alisnya singkat, bertanya lewat raut wajahnya dan seolah berkata ‘ada apa’.
“Kamu terluka?” tanya Fabian.
Senyumnya sendu, bukan ini yang Fabian inginkan, Selsa kembali mengalihkan tatapannya. “Masih kamu tanyakan?” jawab Selsa yang menatap arah lain.
“Masih ada kesempatan untuk kembali padamu?” tangan Fabian terangkat mengusap pundak Selsa. Perempuan itu dengan gesit menghindar dan menciptakan jarak beberapa senti dari Fabian.
Kali ini tatapan Selsa sangat dalam, menghunus Fabian tepat di hatinya, namun hanya sebentar, “Tidak tahu. Menurutmu kembali padaku adalah hal yang mudah, tapi tidak denganku, setelah semuanya terjadi aku yang selalu menjadi pelampiasannya. Setelah kamu tahu Nadia hamil, kamu membuangnya dan kembali padaku, apa memang kamu sebajingan itu Fabian?” Selsa bertanya dengan sendu.
“Aku tidak meninggalkan Nadia, Selsa. Hanya saja rasa bersalahku semakin besar melihat kamu seperti ini.”
Kalau saja tidak memikirkan dimana ia sekarang, Selsa pasti akan meneriaki Fabian yang tidak tahu malu, bisa-bisanya lelaki itu berucap begitu mudahnya seolah dirinya dan Nadia adalah sebuah mainan yang bebas dimainkan kapan saja.
“Kenapa kamu baru berfikir sekarang? Kenapa kamu selalu menyakitiku kalau kamu menyesal? Kalau kamu kembali hanya ingin mengusir rasa bersalah, lebih baik jangan, aku lebih suka dengan hidupku yang seperti ini. Hidupku selalu hancur setiap berhubungan denganmu Fab, berkali-kali patah dan juga dijatuhkan.”
“Maaf Sa. Aku melakukan semua ini demi kebaikan kita, kebaikan kamu, kebaikan Nadia dan kebaikanku. Aku tidak ingin kamu tersinggung karena aku yang selalu mendahulukan Nadia, aku tidak ingin Nadia malu juga tersinggung karena diagnose Dokter, aku menceritakannya padamu, cukup aku, dan aku juga tidak mau kalian berdua berselisih paham ketika bertemu.” Jelasnya dengan suara serak, sepertinya Fabian sudah lelah dengan semua masalah yang ada.
Selsa merapikan anak rambutnya, walau tidak berantakan, hanya Bahasa tubuh yang menjelaskan kalau perempuan itu sedikit tak nyaman. Semakin menepi dan memberi jarak pada Fabian. Hatinya kembali sembiluan ketika bertukar aksara dengan lelaki itu.
“Bukan seperti ini caranya. Sampai kapan kamu mau bersembunyi, sampai kapan kamu mau menutup-nutupi semua kebenarannya dan sampai kapan kamu bersikap egois? Kalau kamu jujur dari awal, kamu mengatakan semuanya dari awal, aku pasti tidak akan salah paham terlalu jauh seperti ini. Aku pasti akan bertahan dan memahami keadaan kamu, tapi sayangnya kamu egois Fab! Kamu selalu menganggap bisa menyelesaikan semuanya sendiri,” ujar Selsa telak dan menggebu-gebu.
Fabian menundukkan kepalanya pusing. Mencengkeram erat kepalanya yang semakin kesini semakin pening, wajahnya juga terlihat sangat kacau dengan kedua mata yang berkaca-kaca, “Terus aku harus bagaimana Sa? Kepalaku semakin pening dengan masalah yang akhir-akhir ini senang bersamaku, kepergianmu, mental Nadia dan juga fakta Nadia hamil, aku tidak bisa hidup dengan kubangan masalah seperti ini. Bahkan rasanya aku tidak akan bisa menyelesaikan semuanya, satu persatu,” gumamnya frustasi.
“Selesaikan semuanya perlahan Fab, temui Renald dan bicarakan baik-baik masalahnya! Untuk masalah kita, kamu sampingkan dulu, pelan-pelan semuanya pasti akan selesai.” Katanya lembut.
Fabian mendongak menatap Selsa, perempuan itu tersenyum kecil disana, “Aku tidak akan pernah bisa bicara baik-baik kalau bersama Renlad Sa. Rasanya aku selalu ingin menghabisi lelaki kurang ajar itu karena menghamili Nadia.” Jujurnya membuat Selsa tertawa jenaka tapi terkesan sombong dan mengejek.
“Itu bukan urusanku Fabian, terserah kamu melakukan apapun pada Renald, lagi pula itu bukan sepenuhnya salah dia. Mereka sama-sama mau, Nadia tidak menolak begitupun Renald. Dari dulu kucing tidak akan pernah menolak jika diberi ikan segar.” Selsa membenarkan letak tas jinjingnya yang sedikit berantakan.
“Kalau keadaanmu sudah baik-baik saja, aku pamit.” Imbuhnya berniat pergi.
Fabian dengan cepat mencegah Selsa. Menahan pergelangan tangan perempuan itu dengan pelan, digenggam dan dipandangi beberapa saat sebelum menatap punggung Selsa yang ada didepan mata, “Kamu mau menemaniku menyelesaikan semuanya?” tawarnya setengah bertanya.
“Lepaskan tanganmu Fab! Mina dan Vano sudah menungguku.” Pintanya tanpa mau membalikkan badan. Langkahnya kembali terambil namun lagi-lagi lelaki bodoh itu mencegahnya.
“Sa tunggu,” cegahnya dengan genggaman mengerat, “aku mohon kali ini saja, temani aku untuk menyelesaikan semuanya, setelah itu terserah kamu mau meninggalkan aku atau tidak.” Pintanya sangat memohon.
“Apa imbalan yang kamu berikan kalau kamu mau aku membantumu?”
“Apapun akan kuberikan, untuk itu bantu aku.”
Selsa membuang nafasnya kesal, membalikkan badan menatap Fabian yang masih duduk didepannya dan tersenyum singkat, “Besok datang ke rumah Vano, jam delapan pagi dan jangan telat.” Ungkapnya lantas melepaskan cekalan Fabian itu pelan.
Langkahnya kembali terlaksana meninggalkan tempat dimana Fabian memandanginya penuh harap. Selsa berharap setelah ini urusannya dan Fabian benar-benar selesai, dengan itu ia akan menjalani harinya penuh dengan ketenangan. Kembali aktif menjadi seorang model dan juga melakukan hal positif lainnya, Selsa harap ini yang terakhir. Akhir dari segala permasalahan rumit dalam hidupnya.
Fabian termangu sedetik, kembali tersenyum dan mengucap syukur dalam hati. Setidaknya Selsa mau membantunya, yang tidak tahu diri, menemui Renald. Kalau ada Selsa Fabian sedikit bisa tennag dan lebih baik, hasrat untuk membuat wajah Renald lebam sedikit berkurang.
...---...
Seperti orang yang jatuh cinta lagi, Fabian dengan sialannya tidak sabar menunggu hari esok bertemu dengan Selsa. Hanya bertemu padahal, tidak ada yang special atau apa, lelaki itu antusias sekali dengan berdandan melebihi wajar.
Pagi tadi sebelum jam delapan, seorang lelaki berdiri didepan rumah Vano dengan gagahnya. Kemeja putih dibalut jas warna hitam serta tatanan rambut yang begitu rapih, air atarnya tak sama seperti biasa yang digunakan, lebih soft dan memabukkan bagi mereka yang menciumnya. Hanya demi menunggui Selsa, jam setengah tujuh sudah berdiri disana, dengan senyum memikat tentunya. Sampai Mina terkejut bukan main ketika ingin menyiram bunga, dan mendapati si brengsek Fabian berdiri disana.
Sedangkan Selsa berkali-kali berdecak kesal. Menimpali ocehan lelaki itu dengan malas, selama perjalanan, sudah berangkat terlalu pagi dan sampai sekarang Fabian tak henti-hentinya bercerita hal yang tidak penting. Memang pada dasarnya bodoh sudah dipelihara sejak dulu, hilangnya pun susah.
Omong-omong mereka berdua hari ini akan menemui Renald didaerah yang lumayan jauh dari ibu kota. Membutuhkan waktu perjalanan yang lumayan lama, karena bodyguard Fabian membawa lelaki itu kembali jauh dari Jakarta. Agar tidak bisa lagi menemui Nadia, walaupun perempuan itu sedang mengandung anak Renald juga, tapi demi apapun Fabian tidak rela Nadia jatuh ke tangan Renald, bajingan kelas kakap; sama seperti dirinya.
“Sa kalau ngantuk tidur saja, aku akan membangunkanmu nanti.”
“Sudah fokus menyetir saja, aku malas mendnegar ocehanmu. Sudah bangun kepagian dan harus buru-buru karena Mina yang heboh sendiri.” Jawab Selsa kesal.
“Kenapa Mina seheboh itu?” Fabian sesekali menoleh lantas kembali fokus pada perjalanannya.
Selsa menatap malas Fabian, “Menurutmu?” tanyanya malas.
“Ya maaf aku sudah tidak sabar,”
Selsa mengamati lelaki yang asik menyetir itu dengan hikmat, “Tidak sabar bertemu denganku atau Renald?” tanyanya penuh selidik.
“Ya kamu- eh,” Fabian cepat mengoreksi, “Renald maksudku.” Imbuhnya cepat.
Selsa jelas menahan tawanya, menemukan wajah Fabian yang kikuk karena keceplosan.
“Gengsi hanya diperuntukkan orang-orang yang lemah, kalau merindukanku bicara saja.” Katanya sombong.
Fabian mengibaskan tangannya diudara mengelak, “Jangan mengada-ada, sudah tidur saja dari pada banyak omong.” Desisnya menggerutu.
“Yakin tidak merindukanku? Awas saja kalau aku dirindukan orang lain, aku jamin kamu akan menyesal.” Goda Selsa memasang wajah jenaka.
“Aku jadi ingin kantong plastik sekarang, kamu membawanya?”
__ADS_1
Selsa menggernyit, “Untuk apa?” tanya Selsa.
“Ingin muntah mendengar ucapanmu, lain kali jangan terlalu percaya diri. Tidak ada lelaki yang mau merindukan perempuan cerewet sepertimu.” Jawab Fabian ketus.
Otomatis Selsa mencubit lengan Fabian keras hingga lelaki itu mengaduh kesakitan, “Ish menyebalkan. Awas saja kalau aku mempunyai kekasih, akan kupamerkan padamu nanti.” Ujarnya tidak terima.
“Yasudah pamerkan saja, aku tidak repot-repot cemburu karena aku sudah tahu siapa kekasihmu nantinya.” Fabian berkata masih dengan megusap lengannya yang sedikit perih karena cubitan Selsa yang terlalu kencang.
“Siapa memangnya? Semakin lama jiwa cenayangmu semakin membara ya Fab,”
“Ish tidak percaya, aku tahu siapa yang akan jadi pacar kamu.”
“Siapa Fabian? Jangan sok tahu ya,”
“Ini orangnya duduk disamping kamu.”
Selsa berteriak memekik, hingga Fabian reflex melepaskan stir mobil dan menutup kedua telinganya. Untung hanya sebentar sampai dirinya kembali mengalihkan stir mobil dengan benar, “Astaga dimana letak kantong plastiknya, mualku sudah diujung. Bahkan usus-usuku juga ikut menertawakan omong kosongmu, Fabian.” Tawa Selsa semakin mengudara disana.
Seakan ikut serta, Fabian juga ikut tertawa nyaring disana. Mengamati Selsa yang tawanya tak terhenti, kenapa tidak dari dulu saja ia membuat Selsa sebahagia ini? Kenapa baru saat ini yang dimana status mereka bukan lagi sepasang kekasih? Salahkan saja pasa dirimu sendiri, Fab!
Lelaki itu menghentikan tawanya dan pura-pura kesal, “Yayaya terserah dirimu. Istirahatlah, perjalanan masih jauh.”
“Baiklah. Jangan lupa berhenti di mini market ya,” begitupun Selsa yang memegangi perutnya yang sakit karena tertawa, sampai keluar air mata dari pelupuk matanya, dan perempuan itu mengusapnya perlahan.
Kenapa baru sekarang Fabian? Aku tidak tahu ini apa, yang jelas aku lebih nyaman dengan hubungan yang seperti ini, terlihat santai dan tidak melulu salah paham dan saling meneriaki. Terimakasih sudah mengerti Fabian, hari ini aku senang.
“Mau beli apa?”
“Beberapa keperluan wanita, kamu tidak perlu tahu.”
“Pasti roti jepang.”
Tanpa perintah lagi, tangan lancang Selsa menepuk pundak lelaki itu tanpa belas kasihan. Fabian tidak protes, paling hanya membalas mencubit pipi Selsa dan kadang mengusak rambut perempuan itu pelan. “Kalau sudah tahu kenapa bertanya? Memang bodoh sudah kamu pelihara sejak dulu, Narendra Bodoh Fabian Atra Wardhana, sial panjang sekali namamu.”
Mendengar perkataan Selsa barusan membuat Fabian meringis, selalu dikatai bodoh, karena memang dirinya bodoh. Tapi anehnya Fabian sama sekali tidak tersinggung, lelaki itu justru menganggap sebuah lelucon yang bisa membuat Selsa tertawa. Tidak apa.
“Berarti jodoh, namaku sepanjang itu nanti berdampingan dengan namamu yang pendek seperti orangnya.”
“Memang kalau bicara dari dulu tidak pernah disaring, awas saja kalau aku tinggi.” Omel Selsa berubah kesal.
Perintah untuk tidur dan istirahat seolah hilang begitu saja. Dua anak manusia yang hatinya baru saja terguncang itu justru tengah menebarkan lelucon aneh nan menggelikan yang sialnya membuat keduanya tertawa.
“Mana bisa tinggi, kamu sudah tua dan masa pertumbuhan kamu sudah lewat. Kalau pendek ya pendek saja, jangan sok-sok bisa tinggi.”
Selsa tak membalas ucapan Fabian. Memanggu kedua tangannya didepan dada dengan kepala yang menyender penuh disana dan memejamkan matanya tenang, “Kalau aku terus menimpali omongan gilamu, aku juga ikut gila.” katanya pelan yang membuat Fabian kembali tertawa.
Meliahat Selsa yang perlahan terlelap, Fabian hanya berani memperhatikan sekilas. Awalnya hanya sekilas, namun ketika dirasa Selsa sudah terlelap dengan nyenyak, nyalinya yang sebesar otaku dang kembali digunakan, mengusap kepala Selsa lembut dan berganti di pipi perempuan itu. Cukup pelan, sekaligus penghantar tidur dan dalam hati berdoa semoga perempuan itu mendapatkan mimpi yang paling indah dari Tuhan. Hanya saat bersamanya, semoga.
Semesta selalu mempertemukan kita, seperti apapun keadaanya. Aku percaya mereka merestuinya Sa, tunggu saja waktunya tepat.
...---...
“Sudah merasa jagoan dengan menghamili Nadia seperti itu? Sudah merasa bertanggung jawab Tuan Renald?” sindir Fabian dengan tatapan tidak dengan kedamaian.
“Aku akan bertanggung jawab, tapi tidak sekarang. Lagi pula itu belum tentu anakku, bisa saj-”
Selsa menarik Fabian ketika tahu lelaki itu beranjak dan saling adu hantam dengan Selsa, “Bajingan.” Fabian dengan beringas menerjang Renald, membabi buta sampai Selsa sulit sekali memisahkan mereka, begitupun bodyguard Fabian.
“FABIAN RENALD BERHENTI!” teriak Selsa dan berhasil. Fabian dan Renald saling memisahkan diri, nafas keduanya terengah-engah.
“Kalau itu bukan anakmu, anak siapa lagi? Nadia hanya melakukan denganmu,”
Senyum sarkas Renald tampakkan, “Yakin denganku? Bisa saja kamu tanpa sadar melakukannya Fabian, dan menimpalkan semua kepadaku karena aku kekasih Nadia.” katanya mengundang emosi.
“Bajingan gila dengar kata-kataku, aku sama sekali dan tidak pernah berhubungan ranjang dengan Nadia. Aku selama ini menjaganya setengah mati dan kamu merusaknya begitu saja,”
“Penjara akan sesak kalau pencuri mengakui kesalahannya.”
Selsa menatap Renald penuh permohonan agar lelaki itu tidak memancing emosi Fabian, “Renald tolong jaga bicaramu, Fabian juga kendalikan emosimu. Kita bisa bicarakan semuanya baik-baik!”
“Kamu perempuan bodoh yang pernah ku temui Selsa. Sudah tahu Fabian hanya memanfaatkanmu, memanfaatkan tubuhmu, karena selama ini kekasihmu juga mencintai Nadia. Mereka saling mencintai, lantas kenapa kamu masih bertahan?” teriak Renald yang semakin mengundang emosi Fabian.
“Bajingan sialan, aku akan membunuhmu saat ini juga.”
Selsa menggenggam tangan Fabian erat, menatap Fabian penuh permohonan, “Fabian stop, Fabian kendalikan emosimu aku mohon.”
“Dia sudah menghinamu Sa, aku tidak terima.”
“Sudah biarkan saja, kembali duduk.”
Fabian kembali duduk disamping Selsa, saling berhadapan dengan Renald yang menampakkan sneyum miringnya. Sialan, hati Fabian sangat panas dan emosinya terbakar saat ini juga.
“Terserah apa katamu Renald, tapi mari buat kesepakatan.”
“Kesepakatan apa?”
“Nikahi Nadia, kamu harus tanggung jawab karena sudah menghamilinya!” jelas Selsa pelan.
“Asal kamu satu malam berada di ranjangaku.”
“Benar-benar mengujiku si bajingan satu ini, langkahi dulu mayatku sebelum kamu meminta itu. Selsa tidak akan pernah ku serahkan untuk bajingan sepertimu.”
__ADS_1
Fabian sudah tidak sabaran untuk menghabisi Renald tanpa ampun. Renald harus diberi pelajaran agar tahu diri dan tidak semaunya sendiri.
“Lepaskan Fabian!”
“Tapi Sa,”
Senyum lembut Selsa tampakkan, “Lepaskan!” ujarnya halus.
“Sebegitu cintanya kamu dengan perempuan ini Fab? Katanya kesepakatan, aku mau menikahi Nadia asal Selsa satu malam bersamaku.”
Pukulan keras itu kembali menimpa Renald. Fabian tak tanggung memukul wajah renald berkali-kali serta menginjak perut Renald tanpa ampun, dia tidak akan membiarkan lelaki kurang ajar ini lolos dari genggamannya, sudah menghamili Nadia dan sekarang ebrganti ingin melecehkan Selsa, demi apapun bajingan satu ini patut di bumihanguskan.
Berniat memisahkan Fabian yang semakin emosi, Selsa melangkah cepat karena mendapati Renald yang sudah tidak berdaya dipukuli Fabian sepertu itu. Tangan mungilnya menarik Fabian yang masih terus memukuli Renald, masih saja tidak bisa memisahkan. Bodyguard juga dimana, sepertinya Selsa masih melihat tadi tapi sekarang sudah tidak ada, dan ketika Fabian ingin melayangkan satu tinjuan tak sengaja mengenai wajah Selsa hingga perempuan itu terpental dan meringis kesakitan. Fabian menghentikan aksinya, terkejut mendapati Selsa yang jatuh tak jauh darinya, sampai langkah lelaki itu berhenti tepat didepan Selsa.
“Sa kamu- Sa maaf- Sa” Sebuah pelukan ia berikan untuk Fabian yang nafasnya terengah-engah.
“Bukannya aku sudah mengatakan kalau kamu tidak boleh emosi?” bisik Selsa pelan, walau tak memungkiri sudut bibirnya berdarah dan mungkin pipinya akan lebam karena tonjokan lumayan keras itu. Selsa mengabaikan nyeri, masih memeluk Fabian hingga dirasa lelaki itu sedikit tenang.
Bodyguard bodoh baru saja kembali membawakan air mineral, Selsa yang melihat itu menyuruh membawa Fabian pergi sebentar. Selsa ingin diberi ruang agar bisa lebih leluasa berbicara dengan Renald, disituasi seperti ini jangan sampai ada emosi kalau ingin masalahnya cepat selesai.
“Tidak apa-apa Fabian, tenang saja! Renald tidak akan berani macam-macam denganku, lihat kondisinya seperti itu.”
Tanpa babibu lagi bodyguard membawa Fabian menyingkir untuk sebentar, berganti Selsa yang menghampiri Renald yang masih terkapar disana. Perempuan itu membantu Renald berdiri dan duduk disalah satu kursi kayu disana.
“Re aku tidak ingin berbasa-basi. Nadia kekasihmu, menghamili Nadia adalah seharusnya tanggung jawabmu. Aku juga tidak seharusnya ikut campur sedalam ini, tapi melihat Fabian sekacau itu mendnegar Nadia hamil jadi aku berniat membantunya. Tolong setidaknya temui Nadia, tenangkan dia Re.”
“Apa urusanmu denganku?” tanyanya ketus.
“Aku dan Nadia sama-sama perempuan. Sama-sama rapuh jika menyangkut soal hati, kamu mencintai Nadia kan?” tak ada emosi atau apa, Selsa berbicara penuh kelembutan disana.
Tangannya mengusap pundak Renald pelan, “Mencintai Nadia kan Re? Aku yakin kamu mencintai Nadia lebih dari Fabian menyayangi Nadia.” ujarnya lembut.
“Ya aku mencintainya.” bisiknya penuh penekanan.
“Kalau kamu mencintainya, tolong temui Nadia. Sangat amat tolong, karena sampai saat ini Nadia tidak mau ditemui siapapun termasuk Fabian. Jiwanya terguncang Re,”
“Aku tidak bisa Selsa, aku tidak bisa untuk sekarang.” jujurnya yang membuat Selsa menggernyit.
“Belum bisa Re. Aku tahu kamu adalah lelaki yang bertanggung jawab, Nadia tepat memilih kamu, untuk itu jangan pernah kecewakan pihak manapun. Nadia berharap lebih pada Renald,”
Renald menatap Selsa sendu, “Dia mencintai kekasihmu Sa, dia tidak mencintaiku.” lirihnya putus asa.
“Kalau kamu tulus, kalau kamu tidak banyak menuntut, kamu bisa menerimanya. Re bahkan aku tidak pernah perduli kalau Fabian mencintai Nadia, kalau memang kamu mencintai Nadia ya coba kamu perjuangkan. Coba kamu pelan-pelan ketuk hati Nadia, semua butuh proses,”
“Dimana alamat rumah sakitnya?”
“Mau ikut mobil Fabian sekalian?” tawar Selsa.
“Tidak usah, aku tidak sudi satu mobil dengan Fabian. Kirimkan saja alamatnya.” tolaknya keras.
Selsa menyodorkan ponselnya pada Renald, “Kalau begitu simpan nomormu, aku akan mengirimkannya.”
Jari Renald dipaksa untuk menekan beberapa digit angka diatas layar beberapa inch itu. Menekan tombol simpan dan kembali menyerahkan ponsel pada Selsa lelaki itu berkali-kali menyeka beberapa darah yang baru terbit diwajahnya. Juga rasa perih nan getir dirasakannya sejak tadi, ternyata dipukuli orang tak seindah yang ada di drama yang pernah di tontonnya. Nyatanya semenyakitkan ini.
"Mau ku obati sebentar?" Tawar Selsa.
"Tidak usah, aku tidak ingin Fabian kembali memukulku karena kamu mengobatiku." Tolak Renald, lagi.
"Bukan hal yang berat untuk mengobatimu Re, Fabian tidak akan marah." Jelas Selsa.
Renald menggeleng menolak, menatap singkat luka yang ada di pipi Selsa, "Sudah tidak usah. Obati saja luka yang ada dipipimu itu, dan untuk ucapanku tadi aku minta maaf. Aku tidak bermaksud berbicara seperti itu padamu." Katanya meminta maaf.
"Aku tahu, aku juga tidak menganggap omongan itu sungguhan. Apalagi dengan keadaanmu dan Fabian yang sama emosinya."
"Terimakasih Sa."
"Sama-sama."
Setelah itu Selsa memilih meninggalkan Renald yang masih terdiam disana. Mencari keberadaan Fabian dan dia menemukan lelaki itu berdiri didepan mobilnya dengan tangan yang beberapa kali mengusap lebam diwajahnya.
Langkahnya melebar menghampiri Fabian, senyumnya merekah dan hatinya sedikit lega. Beda dengan Fabian yang masih menunjukkan wajah masamnya.
"Sudah selesai, ayo pulang."
"Kamu menerima tawaran Renald?" Tanya Fabian datar.
Tangannya menggandeng lengan Fabian namun lelaki itu kembali menghentikan langkahnya, "Tidak usah khawatir, aku tidak akan menerima tawaran itu. Lagipula dia dalam keadaan emosi Fab, jangan diambil hati ucapannya."
"Jangan diambil hati bagaimana, wajahnya saja serius sekali bagaimana tidak diambil hati?"
"Sudah diam, ayo pulang. Kuobati wajahmu yang lebam-lebam."
Fabian kembali teringat akan pukulannya tadi. Tangannya mencegah Selsa yang ingin melangkah, memperhtikan pipi Selsa yang memerah dan sepertinya akan membiru lebam.
"Sa pasti ini sakit sekali, maafkan aku ya. Aku tidak sengaja." Ujarnya dengan tangan yang mengusap pipi Selsa pelan.
Selsa meringis ketika tangan besar itu mengusap wajahnya, "Tidak apa-apa Fab. Ayo pulang, tapi sebelum itu tolong belikan aku rujak yang ada didekat apartemenmu."
"Renald tidak berbuat macam-macam padamu kan? Kenapa kamu yang nyidam?"
Fabian membelalak mendengar perintah Selsa, bukannya Nadia yang hamil, tapi kenapa Selsa yang ingin rujak?
__ADS_1
"Bodoh diapa-apakan pun aku tidak bisa langsung hamil, sudahlah Fab hentikan kebodohanmu itu."
"Yayaya baiklah Nyai."