
"Jauhi Fabian! Dia milikku sekarang."
Rupanya perempuan blonde itu bergerak lebih berani dari sebelumnya, dengan meminta waktu berdua bersama orang yang disebutnya jalang Fabian. Pagi tadi setelah Fabian meninggalkan apartemen, dirinya bergegas mengunjungi alamat jalang Fabian tersebut. Dengan bekal semalam ia mengoperasikan ponsel Fabian tanpa pengetahuan sang pemilik, Selsaniva Kania nampaknya mempunyai bakat lain yaitu detektif. Tempatnya tak begitu jauh dari apartemen Fabian, berbekal ojek online yang dipesannya, sekitar sepuluh menit perempuan itu sampai ditempat jalang Fabian.
"Minum dulu Sa, aku tahu kamu kehausan."
Omong kosong apa itu? Selsa tidak butuh wacana basa-basi yang tentunya sangat tiada guna seperti itu. Niat Selsa mengunjunginya hanya ingin meminta agar perempuan jalang itu menjauhi Fabian, berhenti menganggu apalagi menggoda Fabian untuk kesekian kalinya. Sumpah demi apapun, jika memang perempuan itu kembali berniat menggoda Fabian lagi, maka Selsa akan membunuhnya tanpa belas kasihan. Itu tekadnya semalam. "Berhenti menjadi bunglon jika bersamaku Nad, aku tahu kamu masih menginginkan Fabian. Terus-terusan bersandiwara bahwa kamu menderita, ditinggalkan kekasihmu, tidak ada teman untuk menghadiri pesta temanmu atau apapun itu, mulai sekarang berhenti karrna Fabian sudah memilih aku."
Senyum yang semula terpajang apik disana seketika luntur, berganti dengan raut polos dan tidak tahu apa-apa. Nadia semakin bingung, pertama bertemu Selsa bukannya melepas rindu tapu perempuan itu justru mengepakkan sayap peperangan kepadanya. "Bicara apa kamu ini Sa? Aku tidak pernah berpikir seperti itu, aku dan Fabian murni bersa-"
"Omong kosong. Tutup mulut busukmu dengan lembaran uang berwarna merah yang selama ini kamu inginkan! Juga berhenti menjadikan kata sahabat sebagai tameng agar dirimu bisa terus bersama Fabian." Sela Selsa cepat.
"Lucu sekali ya kamu Selsa. Datang langsung marah-marah dan menyuruhku menjauhi Fabian, menuduhku melakukan hal yang sebenarnya tidak kulakukan, apa sebenarnya masalahmu denganku? Cemburu karena kemarin Fabian berbicara padaku?" Tawa jenaka tak percaya Nadia tampilkan. Sumpah gila, mengetahui alasan dulu Selsa meninggalkan Fabian sungguh membuat gelak tawanya mengudara. Yang ia tahu hanya Selsa cemburu akan kehadirannya dan pergi begitu saja, sungguh kekanakan bukan?
"Itu bukan urusanmu. Tujuanku kemari hanya untuk menyuruhmu menjauhi kekasihku! Cukup dua tahun dirimu menjadi benalu dalam hubunganku dan Fabian, menghancurkan acara kencanku dan merebuat semua perhatian Fabian. Kali ini aku tidak akan tinggal diam Nadia, kupastikan Fabian akan jatuh ketanganku. Jatuh dan jatuh, sejatuh-jatuhnya." Wajahnya mengeras mengingat sekelabat kenanagannya dulu. Menjalin dengan Fabian memang awalnya sungguh manis sampai Selsa dibuat mati kelabakan, namun seiring berjalannya waktu semuanya tak seperti awal keduanya memutuskan bersama. Fabian mulai acuh, mengabaikannya dan selalu menomor satu kan seorang Nadia. Dan mulai saat itu Nadia masuk kedalam list musuh besar Selsa.
"Kekasih? Apa aku tidak salah dengar? Selsa-Selsa, mantan kekasih baru aku percaya. Jadi benar ini alasanmu meninggalkan Fabian waktu itu? Cemburu denganku dan pergi begitu saja, sungguh kekanakan dan Fabian tidak seharusnya jatuh cinta denganmu." Tawanya mengejek, sungguh membuat Selsa geram. Ingin sekali melemparkan vas bunga yang ada didepannya ke wajah Nadia.
Hanya ini dia bilang? Hanya ini? ****! Aku meninggalkan Fabian karena alasan yang kuat dan tentunya lebih dari ini.
Tenang, tenag Selsa. Tarik nafas pelan-pelan lalu hembuskan, ulangi beberapa kali. Masih memasang paras jemawanya, Selsa juga sama menampilkan tawa angkuh. Ikut mengejek juga menyombongkan kalau hanya dirinya yang dipilih Fabian. "Memang kenapa kalau dia jatuh cinta denganku? Ah aku tahu, kamu pasti takut karena sampai saat ini belum bisa mendapatkan hati Fabian. Nadia ingatlah, Fabian hanya mencintai Selsa, melakukan hal bodoh dan gila lainnyapun demi Selsa, jadi jangan harap bisa mendapatkannya."
"Begitu ya? Kamu juga harus mengingat satu hal Selsa; Fabian juga tidak akan bisa meninggalkan Naida sendiri. Membiarkan Nadia menderita karena hal apapun, ingatlan dulu dia seperti apa padaku?"
Sial- sialan, Nadia Sialan. Tuturnya sukses membungkan Selsa tanpa cuma-cuma. Benar adanya, perempuan ini selalu saja menang jika dibanding dengan Selsa. Mendapatkan perhatian lebih dari Fabian dan sialnya juga lelaki itu selaku mengabaikan Selsa. "Kalau begitu mari kita buat kesepakatan, siapa yang nantinya akan memenangkan Fabian."
"Beginikah dirimu memperlakukan orang yang kamu cintai? Menjadikannya sebagai bahan taruhan?" Ujarnya sengit. Cara bicaranya tak selembut tadi, dan perlahan Selsa mulai melihat sisi lain Nadia. Akhirnya keluar juga sifat aslimu, jalang.
__ADS_1
"Bilang saja dirimu takut, karena bagaimanapun akulah pemenangnya. Mendapatkan apapun yang ada dalam diri Fabian, benar?"
"Aku tidak pernah takut Sa, apalagi dengan dirimu. Aku hanya memikirkan perasaan Fabian, bagaimana kalau dia tahu perempuan yang dicintai menjadikan dirinya sebagai bahan taruhan."
"Apa aku sekarang sedang berbicara dengan orang munafik? Lagipula jika nanti dirimu menang akan mendapatkan Fabian,"
Bangkit dari duduknya, Nadia memberi peringatan lewat gesturenya. "Tidak akan pernah. Sekarang pulanglah, aku malas jika terus berselisih paham denganmu." Putusnya dengan hembusan gusar.
"Aku akan pulang, dengan satu syarat; tinggalkan Fabian, hanya itu." Selsa ikut berdiri, tersenyum sangat jemawa. Tak lupa menepuk pundak Nadia beberapa kali sebum meninggalkan tempatnya. Yang dipikiran Selsa ialah bagaimana caranya membuat Nadia bungkam tak berkutik, mengalah kepada Selsa agar mau melepaskan Fabian. Itu saja.
Tidak semudah itu Selsa.
-
-
-
"Selamat sore sayang, masak apa?" Menyeret satu kursi untuk didudukinya, tangannya sembari melonggarkan dasi dan menikmati harumnya masakan Selsa yang baru saja tersaji.
"Ganti baju dulu Fab, atau tidak kamu mandi dulu. Aku tunggu disini,"
"Aku sudah lapar sayang, makan sekarang saja ya? Setelah itu aku akan mandi." Ujarnya merajuk.
"Lapar sekali ya? Memangnya tadi siang kamu makan apa?" Sajian terakhir saus pasta dalam amngkuk kecil Selsa sajikan. Ini adalah makanan favorit Fabian yang ia ketahui dari Mama Fabian waktu itu, dan sore ini berniat menjadikannya menu untuk orang terkasihnya.
"Ya yang di kantin biasa itu. Aku tidak sempat delivery karena sibuk sekali." Tuturnya malas.
__ADS_1
"Kasihannya, yasudah kamu mau yang mana?"
"Ambilkan aku nasi, dagingnya sedikit saja dan jangan lupa juga pastanya."
Sesuai perintah tuannya, Selsa mengambilkan menu yang diperintahkan Fabian. Mungkin memang kelaparan lelaki dihadapannya ini, pasalnya begitu selesai, dengan khidmat Fabian menikmatinya.
Omong-omong Santi sudah Fabian pulangkan kemarin atas perintah Selsa. Pasalnya kekasihnya itu nampak tidak enak jika keduanya tengah berselisih paham seperti waktu itu, begitu juga Selsa yang tak ingin terus bermanja dengan adanya Santi. Jadi dengan berat hati Fabian memulangkan Santi, dan untuk urusan bersih-bersih juga memasak Selsa yang bertugas sekarang.
Ditengah khidmatnya menyantap makanan, dering ponsel Fabian sungguh mengganggu. Berkali-kali berdering tanpa tahu jika pemiliknya sedang menikmati waktunya, ponsel itu semakin tidak tahu diri. Selsa berdehem menyuruh Fabian mengangkatnya terlebih dahulu siapa tahu penting namun Fabian menolak. Tak sampai disitu, ponsel tidak tahu diri itu kembali berdering tanpa permisi dan Fabian memutuskan untuk melihat siapa yang berani mengganggu waktunya. Terpampang jelas disana nama seseorang, yang tentunya Selsa juga tahu karena duduk disebelahnya. Sialan.
"Halo,"
Selsa mendengus sebal, mengangkat telephone saja harus menjauh, memang apa yang disampaikan? Bukankah pagi tadi Selsa sudah memperingati perempuan itu untuk menjauhi Fabian? Tapi kenapa justru dengan kurang ajarnya perempuan itu melayangkan panggilan yang sangat mengganggu waktunya?
"Kamu tadi dari rumah Nadia ya?"
Bukan ini yang ingin Selsa dengar, tapi apa pembicaraan yang baru saja dilakulan dengan sipenelpon? Ah tapi Selsa kembalu mencium bau percekcokan lagi dengan Fabian setelah ini. "Memangnya kenapa? Apa jalangmu itu mengadu?"
"Sayang jangan menyebutnya jalang, dia Nadia. Kamu masih ragu?"
"Bagaimana aku tidak ragu Fab, kamu diam-diam bertemu dengannya dan menghabiskan waktu berdua tanpa sepengetahuanku. Jangan pikir aku tidak tahu, riwayat pesanmu sudah ku baca semaunya."
"Nakal ya sayangku ini," Fabian layangkan kecupan dipelipis Selsa, "tenang saja, aku akan tetap memilih kamu. Hanya Selsaku dan tetap Selsaku." Pungkasnya mantap.
"Kita lihat saja seiring berjalannya waktu, siapa yang akan kamu pilih."
Fabian tersenyum penuh arti, dibawanya daksa mungil kepelukannya- dengan dirinya yang berdiri diaamping Selsa- Fabian mengusak surai blonde itu pelan, mencubiti pipi tembeb milik Selsa yang amat ia suka. "Sudah sayang, buang semua pikiran buruk kamu tentang Nadia. Yang harus kamu lakukan hanya percaya sama aku, untuk itu semuanya akan berjalan lancar. Kamupun tidak akan terbebani dengan pikiran gelisah seperti ini."
__ADS_1
"Aku hanya terlalu takut nantinya terluka untuk kedua kalinya hanya itu."
"Tidak akan, aku janji."