My (Ex) Boyfriend

My (Ex) Boyfriend
Tujuh


__ADS_3

Sedang asik berkutat dengan dokumen-dokumen nya, Fabian dikejutkan kedatangan seorang perempuan berwajah bule di ruangan nya. Ah ia hafal, perempuan yang akhir-akhir ini jarang sekali dilihatnya.


"Fab kamu sudah sarapan? Kalau belum aku membawakan mu Chicken Wrap."


Makanan Favorit Fabian dari dulu, Chicken Wrap adalah salah satu nya. Dan kebetulan perempuan yang sedang ada di ruangan nya ini sering membawakan Chicken Wrap setiap menemui nya.


"Oh Hai Nadia, kebetulan juga aku belum makan. Thanks ya."


Perempuan berwajah agak oval itu meletakkan tempat makan yang berisikan Chicken Wrap buatan nya sendiri. Selepas itu ia duduk di kursi yang ada di depan meja kerja Fabian.


"Makanlah! Aku membuatkan nya untuk mu." Ujarnya pelan.


Fabian tersenyum melihat perhatian kecil Nadia. Perempuan yang selalu bersamanya, bahkan saat Selsa meninggalkan nya dulu, Nadia tetap berada disisi nya. Bahkan diluarsana banyak yang menerka apa hubungan Fabian dan Nadia selama ini, dikatakan sepasang kekasih namun keduanya membantah, dikatakan sahabat sekaligus saudara keduanya hanya memberi respon dengan cara tersenyum kepada media.


"Baiklah Nad, sekali lagi Thanks ya."


"Sama-sama Fab. Apa nanti malam kamu pulang ke Apartemen ku?."


Bian yang semula mengambil kotak makan itu menghentikan aktivitasnya. Menatap sebentar Nadia, "Em- belum tau. Pekerjaan ku sedang sibuk-sibuk nya. Nanti kalau aku ke Apartemen mu, akan ku kabari."


Bohong! Tentu saja Fabian bohong. Karena sejak Selsa kembali, pikiran nya terus berporos pada satu nama yaitu Selsa. Bahkan ia hampir melupakan Nadia, karena biasanya hanpir setiap malam Fabian menginap di apartemen Nadia.


"Baiklah. Lanjutkan makan mu, aku ingin bersantai sebentar."


Nadia berjalan meninggalkan kursi empuk itu dan beralih merebahkan dirinya di sofa ruang kerja Fabian. Memejamkan matanya sejenak berharap pening di kepalanya saat ini hilang. Fabian yang melihat itu hanya tersenyum. Kebiasaan Nadia jika berkunjung ke kantor nya.


"Jangan tidur di sofa Nad. Aku tidak mau mengangkat mu karena kau berat. Pesanlah Taksi lalu kembali ke Apartemen. Tidurlah disana karena lebih nyaman." Fabian tahu jika Nadia belum sepenuh nya tertidur. Dengan mata terpejam Nadia tersenyum singkat, "Terimakasih telah mengkhawatirkan ku Tuan Wardhana. Tapi aku sudah nyaman jika tidur di sofa mu. Dan satu lagi, aku tidak berat. Lihat saja pinggang rampingku ini."


Fabian terkekeh mendengar pembelaan Nadia, laki-laki itu tahu jika Nadia paling benci dikatai Berat atau Gendut. Maka dari itu Fabian kerap menggoda perempuan berwajah bule itu.


"Terserah kau Nona Nadia. Istirahatlah dan ku bangunkan ketika jam istirahat kantor."


Fabian kembali memasukkan suapan kedua ke mulut nya. Meinkmati rasa Chicken wrap buatan Nadia, dan menurut Fabian rasanya tidak buruk. Sudah pas dengan selera nya.

__ADS_1


-


-


-


-


Ini pemotretan hari kedua nya bersama perusahaan Bian, namun Selsa memilih duduk manis di apartemen bersama Mina. Di temani dua cangkir Hot Chocolatte juga cemilan ringan yang memberi kesan Santai pada Selsa dan Mina. Dua perempuan cantik itu menghabiskan waktu nya untuk berbincang membicarakam hal yang patut dibicarakan. Seperti kenapa agensi menjual Selsa kepada Bian, kenapa Selsa ingin keluar dari perusahaan Bian dan kenapa Selsa masih mencintai B--Bian.


Duduk di Sofa yang sama, kedua nya menatap hamparan awan yang cerah. Kebetulan saja Apartemen nya berada di lantai Lima Belas dan Selsa bisa menikmati pemandangan disekitar nya.


Namun pembicaraan kedua nya harus terhenti ketika Bel Apartemen berbunyi. Menandakan ada sesorang yang datang, Tamu maupun Staff karyawan Apartemen. Sebelum nya, Mina berbicara kepada Selsa untuk membukakan pintu dan Selsa menyetujui nya.


Mata nya membelelak, untuk apa laki-laki brengsek ini berada disini. Mina berniat menutup pintu, namun cekalan dari tangan juga kaki laki-laki itu menghalangi nya.


"Pergi!."


"Mana Selsa."


"Mana Selsa."


Mina menghembuskan nafas gusar nya. Ia tak lagi mendorong Pintu agar tertutup rapat, sekarang dia memberikan sedikit celah supaya Laki-laki itu bisa sedikit memasuki Apartemen nya.


"Mau apa lagi kau kesini? Bukan kah pernyataan Selsa semalam sudah jelas. Dia tidak jadi bergabung di Kantor mu."


Bian tetap diam tak mau menjawab. Yang di cari hanya Selsa, bahkan wajah nya tak bisa biasa. Memasang wajah datar dengan tatapan tajam. "Mina dimana Selsa?." Ujarnya datar.


"Selsa sedang berkencan dengan pacar nya. Kau bisa pulang sekarang,"


"Aku tidak percaya, dimana Selsa? Aku butuh bicara dengan dia."


Mina menggeleng kuat dan mencegah langkah Bian yang ingin menerobos masuk ke apartemen lebih dalam.

__ADS_1


Mina tetap mencegah langkah Bian. Dan Bian pun tetap ingin melangkah lebih dalam untuk mencari Selsa. Sebelum kaki nya melangkah lagi, wanita yang di cari-cari nya muncul dari balik tembok apartemen.


"Ada apa Min-," mata nya membelalak mendapati Bian. "Untuk apa kamu kesini? Pergi! Aku sudah tidak ada urusan dengan mu lagi."


Membalikkan badan berniat melarikan diri, tangan Selsa ditarik kuat oleh Bian. Mina pun kalah dengan tenaga super Bian yang begitu kuat.


"Berhenti bermain-main dengan ku. Kenapa hari ini kamu tidak datang Pemotretan?."


"Lepas!."


"Jawab." Emosi Bian sudah tersulut ketika tadi salah satu Crew mengatakan jika Selsa tidak datang di acara pemotretan. Laki-laki itu bergegas dari kantor menuju Apartemen Selsa dengan emosi yang sudah membara.


"Sudah ku bilang kalau aku sudah tidak terikat kerjasama dengan kantor mu. Aku sudah membayar denda nya."


"Cih, Orang Miskin sombong. Bahkan uang mu rasanya tidak pantas jika disatukan dengan uang ku. Dan ingat, aku tidak butuh uang mu. Ambil uang mu dan kembali menjadi Model di Kantorku."


Emosi Selsa ikut tersulut nampak nya. Sekuat tenaga ia memberontak untuk dilepaskan. Dan Mina juga nampak nya sudah membantu namun nihil.


Bian menarik Selsa untuk meninggalkan Apartemen wanita itu. Langkah nya kembali di cegah Mina. "Lepaskan Selsa, Bian!. Mau kau bawa kemana Selsa?."


"Mina dengarkan aku! Mulai saat ini, Perempuan bodoh ini, sahabat mu yang bernama Selsa akan tinggal di Apartemen ku. Ku mohon kemasi barang-barang nya, nanti Orangku akan mengambilnya disini."


Selsa membelalak, tinggal bersama Bian? Tidak bisa, dan Selsa tidak mau. Selsa ingin bersama Mina.


"Lepaskan tanganku Bian. Aku tidak mau tinggal di apartemen mu." Tangan Kanan nya memukuli tangan Bintang yang masih bertengger di tangan nya.


Bian tak mendengarkan ucapan Selsa, "Aku mohon kerjasama mu Mina. Kau jangan khawatir, Selsa aman bersama ku. Bukan nya kau tahu dulu aku dan Selsa seperti apa?."


Mina menatap Selsa, begitupun Selsa. Wanita itu menggeleng lemah, berharap meminta pertolongan Mina. Tidak bisa-- Mina tidak bisa berbuat apa-apa sekarang. Dan Mina juga tahu bahwa Selsa akan aman bersama Bian. Mina bimbang, namun ia kembali mengingat kata-kata Vano yang terngiang di kepalanya, Walaupun Bian brengsek, dia tetap akan menjaga perempuan yang dicintai nya.


"Maafkan aku Selsa, mungkin benar yang diucapkan Fabian. Tinggallah bersama nya. Kau tak usah khawatir, biar aku yang mengambil alih apartemen ini."


Selsa menggeleng mendengar penuturan Mina. Air matanya meluncur deras, ia tetap meronta ingin di lepaskan. Mina-- mana janjimu yang akan memecahkan kepala Bian, mengambil otak nya dan menaruh nya di kepala gorila?.

__ADS_1


Tidak Mina, Oh sejak kapan Mina menjadi penurut seperti ini?.


__ADS_2