
"Bagaimana hubunganmu dengan Fabian?"
Mendorong troli berisikan berbagai macam makanan ringan juga beberapa sayuran, Mina memusatkan perhatian pada Selsa yang masih sibuk memilih beberapa cemilan kesukaan perempuan itu. Sejak Vano memberitahu jika Fabian diberi peluang Selsa, Mina sama sekali belum meminta penjelasan yang akurat. Ia tahu Selsanya itu bagaimana, tapi ini sungguh aneh menurut Mina. Dengan begitu mudahnya Selsa melupakan ucapannya sendiri yang katanya tidak akan sudi kembali dengan Fabian, oh Tuhan mungkinkah Selsa terkena karma? Bukankah harusnya Fabian karena sudah menyakiti Selsa?
"Aku dan dia baik-baik saja Mina, sudahlah kamu Fokus saja dengan pernikahanmu." Ujarnya sembari memasukkan beberapa jenis cemilan.
Menghentikan troli pada rak yang berisikan berbagai jenis minuman, tangan Mina beralih mengambil dua buah botol minuman berlabel bintang. Minuman kesukaannya ketika sedang menghabiskan waktu bersama Selsa, bertukar bahasa juga membahas segala macam tentang masalah keduanya. "Tumben tidak marah-marah, biasanya kamu akan mengatakan calon suamiku yang tidak-tidak."
"Seseorang mengatakan; kalau kamu membenciku ya benci saja aku. Dia temanku, percayalah dia tidak sebajingan diriku." Selsa tersenyum mengingat perkataan Fabian kala itu. Benar memang, tidak seharusnya Selsa melemparkan kesalahan orang lain pada Vano. Ia tahu bahwa lelaki bernama Vano ini sungguh mencintai Mina dan ingin memiliki Mina, berbekal beberapa pemikiran semalaman akhirnya membuat Selsa bisa menerima semuanya. Mengikhlaskan Mina bersama Vano juga memaafkan Fabian dan memberikan peluang untuk lelaki itu. Masalah Sakti, sampai saat ini lelaki yang lebih tua darinya itu belum ada kabar dan seolah tak berniat memberi kabar. Selsa biarkan, mengikuti arus yang diberikan Sakti, hingga nanti saat yang ditentukan ia akan memilih.
"Fabian?." Tebak Mina tepat.
"Maybe,"
Merangkul pundak Selsa dan diusapnya beberapa kali, "Wah sebentar lagi ada yang menyusulku pastinya. Akhirnya Selsa menikah juga." Ujarnya antusias. Mina terus saja menggoda Selsa yang sekarang pipinya sudah bersemu merah, memang kurang ajar Mina.
"Ish Minaa! Aku dan Fabian belum seserius itu. Aku hanya memberinya kesempatan untuk berbenah diri, agar Fabian menjadi orang yang lebih baik lagi." Elaknya namun tidak bisa menghilangkan rona merah dipipinya. Kenapa setiap membahas Fabian pipi Selsa semerona ini? Aish Fabian, coba ini dikasih penawar agar pipi Selsa tak lagi merona.
"Apapun yang keluar dari mulutmu aku tidak akan percaya. Matamu tidak bisa berbohong Selsa, jelas tercetak disana kalau kamu masih mencintai Fabian."
"Sejak kapan Minaku ini menjadi cenayang sih? Sudah ayo kita kebagian lain."
Keduanya setia mendorong troli, kembali memilih beberapa keperluan yang juga Mina butuhkan. Beberapa beberapa hari lagi acara sakral itu terlaksana, dan rasa-rasanya Mina sudah tidak sabar. Katakan jika memang ini terlalu singkat untuk pertemuan Mina dan Vano, hanya beberapa bulan dan keduanya memutuskan untuk menikah. Dengan awal Mina sudah tahu jika lelaki itu sudah mempunyai orang terkasih, namun Vano kembali menegaskan kalau yang dipilihnya hanya Mina, Mina seorang. Dan kalian jangan pernah mengatakan jika mereka menikah karena sebuah kesalahan, bukan dan tidak! Vano dan Mina murni menikah karena saling mencintai, begitulah tutur yang sempat diucapkan keduanya.
Selsai mengurus pembayaran yang menghabiskan beberapa lembar kertas berwarna merah, dua anak manusia yang memang gemar sekali berbelanja itu meninggalkan tempat perbelanjaan dengan hati riang. Menenteng beberapa kantung, Selsa dan Mina berdiri dipinggir jalan dan siap menyebrang karena mobil Mina berada diseberang Jalan. Dikiranya sudah tepat dan tidak ada pengendara, Mina menarik Selsa menuju mobilnya.
Namun tak ada yang menyangka nasib malang menimpa Selsa saat ini. Pasalnya ada seorang pengendara motor melaju dengan kencangnya kearah Selsa, menyinggung troso mungil Selsa hingga perempuan mungil itu terpental. Mina terpekik, menatap tajam pengendara yang melarikan diri. Sungguh kurang ajar dan lihat saja Mina akan menembak kepalanya, memecahkan dan memindahkan otaknya kekepala gorila; kalau bisa. Membantu Selsa yang kesakitan, kakinya lecet-lecet dengan lutut berdarah, juga sikunya yang sedikit mengeluarkan cairan merah, tentunya dengan bantuan beberapa warga sekitar.
"Sa kamu tidak apa-apa kan?." Sungguh memang Mina yang bodoh, sudah tahu Selsa mengalami luka lecet dan masih ditanya tidak apa-apa? Dimana otakmu Mina?.
__ADS_1
Tapi memang Selsa bermain peran dengan apik, walaupun menahan kesakitan, perempuan itu tetap menggeleng dan berujar tidak apa-apa. Dirinya tak enak, Mina yang pucat karena khawatir juga beberapa masa yang mengerubunginya. Dengan bantuan beberapa orang Selsa memasuki mobil dengan hati-hati, disusul Mina yang tak lupa mengucapkan terima kasihnya kepada beberapa orang.
Punggungnya seperti dihantam godam dari jarak yang cukup jauh, juga lengan dan kakinya yang semakin nyeri. Ditambah kepalanya sedikit pusing, Selsa sesekali merintih pelan. Mina semakin kalang kabut, perasaannya campur aduk antara panik dan takut, dengan keahlian menyetirnya ia membawa Selsa menuju rumah sakit terdekat.
-
-
-
Rampung akan pengobatannya dengan dokter, Selsa diperijinkan pulang sejak satu jam yang lalu dan selama itu Fabian tak berhentinya mengoceh perihal yang tidak penting. Omelan kesal diutarakan selama kurang lebih satu jam sejak Selsa menginjakkan kaki di apartemen, tentunya dengan Mina yang sudah memberitahu Fabian. Senang sudah pasti karena si anak Wardhana begitu mengkhawatirkannya, namun telinganya juga setengah pekak mendengarkan omelan Fabian yang tiada akhir dan inti pembicaraan tetaplah sama; hati-hati.
"Sudahlah mau sampai kapan kamu mengoceh seperti itu? Lebih baik bantu aku mengoleskan salep ini dipunggungku."
"Andai saja aku tidak punya nurani dan rasa cinta untukmu, sudah kuejek kamu Sa. Kamu itu bisa tidak sehari saja tidak ceroboh? Memang sifat ceroboh kamu itu sudah mendarah daging rupanya." Lihatlah omelan itu masih berlanjut dan oh Tuhan, Selsa rasanya ingin membekap mulut Fabian dengan kain pembersih lantai.
Selsa menggerutu pelan, "Kalau memang tidak mau yasudah aku bisa mengoleskannya sendiri. Aku itu penat mendengar omelan mu yang intinya sama." Selsa kembali menaruh salep putih dinakas dengan kesal. Dengan hati-hati dibaringkannya tubuh yang menjadi korban tabrak lari tadi, sungguh ini kenapa punggungnya sakit sekali?
"Lebih baik kamu keluar saja dari pada harus beradu mulut terus, aku ingin istirahat." Bisa Fabian lihat susah payah Selsa memiringkan tubuh membelakanginya, kalau seperti ini siapa yang tega? Rasa sayang juga Cintanya lebih besar, mengalahkan rasa jengkel yang hanya sebesar kerikil yang mengganjal dihatinya.
Perlahan dihampirinya tubuh yang banyak perban dilengan juga kaki, diusapnya surai blonde dengan sayang lantas dikecup beberapa kali. Ini adalah kelemahannya, Fabian tidak bisa melihat Selsa seperti ini. Untuk siapapun yang melakukannya, lihat saja Fabian akan membumi hanguskan orang tersebut.
"Maaf aku sudah memarahimu, tapi sungguh aku tida bisa melihatmu seperti ini."
"Tapi ini bukan kemauanku Fab, aku ditabrak dan dia melarikan diri." Jawab Selsa lirih.
Fabian mengecup surai blonde Selsa, lagi. Berganti mengusak pelipis Selsa lantas berbisik, "It's oke Honey! Aku akan mencari siapapun yang melukai Selsaku. Ayo biarkan aku mengobati punggungmu."
Membantu Selsa untuk kembali duduk, Fabian dengan hati-hati tak ingin perempuannya mengeluh kesakitan, Terkadang tangan besarnya mengusap banyak luka juga memar beberapa kali. Untung saja Selsa mengenakan baju yang mempunyai resleting dibagian belakang, jadi Fabian dengan mudah mengoperasikan salep dipunggung mulus Selsa.
__ADS_1
Untuk kedua kalinya ia menyaksikan punggung halus Selsa, pertama di Club dengan jarak terlampau jauh dan kedua tepat didepan matanya. Bagaimanapun Fabian adalah lelaki normal yang juga mempunyai hasrat untuk bisa disalurkan, namun dengan cepat lelaki itu menggeleng menepis pikiran buruk yang bisa menghacurkan hidupnya. Tangannya mulai beroperasi, mengusap punggung halus itu dengan hati-hati. Kurang ajar, umpatnya dalam hati. Pasalnya ia melihat memar berwarna ungu kebiruan disana, dan itu pastinya sungguh sakit.
"Jangan ditekan Fab, sakit."
"Iya sayang, ini punggung kamu memang memarnya parah. Kita kerumah sakit saja, bagaimana?"
"Tidak usah, sebentar lagi juga hilang memarnya. Paling hanya dua atau tiga hari juga lukanya kering."
Menutup salep dan menyimpannya dilaci nakas, Fabian pandangi memar yang dengan kurang ajar singgah dipunggung tanpa cacat itu. "Ini yang aku tidak suka dari kamu, terlalu menyepelekan luka. Sayang bagaimana kalau lukanya semakin parah? Bagaimana kalau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan?"
Mengucapkan syukur dalam hati, perasaanya sangat menghangat mengetahui memang Fabian seperduli ini padanya. Hatinya tak lagi ragu, "Sayangku Fabian, ini tidak apa-apa. Ini hanya luka kecil, dan kamu yang seharusnya jangan berlebihan seperti ini. Percaya aku baik-baik saja."
"Percuma memang sekarang kalau kita berdebat. Kalau dulu yang selalu menang aku, ini giliran kamu." Ditutupnya resleting baju Selsa dirapikannya kembali baju perempuannya dan membantu untuk berbaring.
"Kamu tidur saja, aku akan mencari makan malam untuk kita."
"Bukannya kamu lebih suka kalau aku yang masak?"
"Aku tidak buta dan aku masih punya nurani, kamu habis kecelakaan Selsa."
Selsa tersenyum haru, tangannya menangkup pipi Fabian dan mengusapnya pelan. Ditariknya lembut dan dikecupnya pipi itu mesra, "Terima kasih untuk semuanya, hati-hati."
"Bibirku tidak?" Otomatis Selsa melepaskan tangannya berganti mencubit pipi Fabian keras. Memang mesumnya sudah sampai DNA, Selsa rasa butuh deterjen untuk membersihkan otak Fabian yang kotor.
"Sudah sana pergi, aku tidak ingin mati kelaparan jika terus mendengar kata mesummu."
Fabian mengangguk, mengecup kening Selsa sebentar dan berjalan meninggalkan kamar. Sebelum benar-benar menghilang wacana Fabian membuat Selsa tergelak tawa.
"Aku pergi dulu, aku mencintaimu sayang." Percayalah Selsa itu tidak tuli, apartemen juga hanya dihuni dua orang, jadi kenapa Fabian harus berteriak lantang seperti itu? Sungguh ini perbuatan gila yang pernah dilakukan orang jika sedang jatuh cinta.
__ADS_1
Aku juga mencintaimu sayang, lebih.