
Di umurnya yang semakin matang, Samuel didampingi sang istri ketika menghembus lilin dengan angka dua puluh enam. Riuh tepuk tangan itu menghiasi malam yang semakin larut. Pesta yang diadakan Samuel dalam rangka ulang tahun bisa dikatakan sukses dan menghibur banyak pihak. Berbagai ucapan selamat serta doa-doa yang dipanjatkan, Samuel dapati sepanjang acara.
Pesta terus berjalan tanpa memperdulikan waktu, memutar musik hiphop dengan kencang dan teman-teman Samuel menari tanpa malu. Tidak, ini tidak terpengaruh bahkan tidak ada alkohol sama sekali. Mereka hanya menari biasa menikmati alunan musik hihop.
Pribadi Kaniva itu dalam hati membatin ingin juga ikut serta menari dibawah sana, tapi lelaki yang ada di sampingnya dengan posesive melarang dan juga membawanya ke dalam rumah Samuel dan tepatnya di lantai dua. Katanya ini tidak bagus, dirinya seorang perempuan dan tidak boleh berada disana; diantara para lelaki yang sedang menari. Selsa tidak buta, dia juga melihat perempuan yang tak kalah banyak dari lelaki sedang menari juga dibawah sana.
"Aku ikut mereka ya?" bujuknya sekali lagi.
Jawabannya tetap sama, mengangkat tangan yang terdapat gelas berisi jus lantas meneguk habis, "disini saja. Menari seperti itu tidak ada manfaatnya."
Apa? tidak ada manfaatnya? Selsa terus mengulangi dalam hati. Sial saja dikata tidak ada manfaatnya, Selsa justru sering melakukannya dulu ketika di London. Hampir setiap malam perempuan itu menghabiskan waktu di salah satu Bar, bersama dengan teman-teman sejawatnya. Selsa sendiri yang merasakan, kalau sensasai begitu beda kala menari bersama beberapa orang disekitarnya.
"Aku nanti tidak sampai ke tengah, aku dipinggir saja. Ya Fab, boleh ya?" rayunya masih sama, bersikukuh ingin ikut menari.
Fabian menatap penuh Selsa yang berdiri disampingnya, "sebenarnya apa tujuan kamu ingin menari bersama mereka?" tanya Fabian serius. Tatapannya begitu dalam, membius Selsa yang terdiam ditempatnya.
"Y-ya se-sekedar hobi," jawabnya terbata ketika ditatap penuh Fabian.
"Sekedar hobi? Kalau kamu butuh pelampiasan masalah ataupun beban, aku selalu siap. Tidak perlu sama seperti mereka, kita duduk disini dan kamu menceritakan semuanya. Itu sama seperti menari, menghilangkan stress."
Demi apapun Fabian berubah beribu-ribu derajat. Kenapa pribadi wardhana ini setenang mungkin? Selsa masih tidak menyangka akan perubahan Fabian ini.
Kebetulan saja didekat jendela ada satu kursi panjang yang bisa Fabian dan Selsa duduki. Namun sebelum itu, Fabian melepaskan jas yang dipakai malam ini untuk diletakkan di kaki Selsa bagian atas; sedikit terbuka. Lelaki itu duduk disamping Selsa, dengan tenang siap mendengarkan cerita Selsa sampai selesai.
"Sebenarnya tidak ada apa-apa Fab, aku hanya ingin mengulang kebiasaanku di London. Karena hampir setiap malam, aku, Jesy dan juga Maura menghabiskan waktu disalah satu Bar disana. Kami menari, terkadang sampai pagi dan orang suruhan Mina yang membawaku pulang."
"Aku tidak terkejut karena aku cukup tau disana seperti apa, tapi ini bukan London Sa, ini Indonesia. Kamu harus merubah sifatmu yang suka seperti itu, lakukan saja hal positif, mengunjungi anak panti dan menghabiskan waktu disana misalnya. Bukan menyalahkan kamu, aku juga memakluminya."
Tangan Selsa terangkat mengusap kepala Fabian sayang, "Kenapa sedewasa ini sih? Fabianku sudah sangat berubah ya," lirih Selsa bangga.
"Waktu yang merubahku, membuatku seperti ini. Hanya karena aku ingin pantas bersamamu."
Selsa meringkuk merapat pada Fabian, menyenderkan kepalanya dipundak Fabian dengan tangan lelaki itu yang merangkulnya dari samping. Keduanya memandangi langit malam yang semakin pekat, dihiasi beberapa bintang yang sinarnya begitu terang, ada juga yang terangnya lebih dominan.
"Kamu tahu tidak kalau di sana aku lebih liar dari biasanya Fab," jelas Selsa tiba-tiba.
"Waktu itu teman Jesy mengadakan pesta, aku tidak kenal, tapi Jesy mengajakku dengan alasan aku sahabatnya. Otomatis aku mengiyakan, dan ternyata apa yang kamu tahu, disana ternyata sedang melakukan pesta alkohol. Pulang tapi terlalu jauh dari tempat Mina, kalau disana juga aku takut diapa-apakan, tapi akhirnya aku pasrah dan tetap disana. Wine, Vodka, Sampanye, Beer dan beberapa jenis alkohol semuanya ada disana, aku disuruh memilihnya satu,"
Cerita Selsa msih berlanjut, dengan Fabian yang diam saja dan Selsa yang terus menceritakan apa yang terjadi dengan dirinya dulu di negara orang.
Fabian tak hanya diam saja, tentu tangannya bekerja dengan mengusap-usap pipi sels ayang semakin gembil saja. Terkadang mencubitnya pelan membuat Selsa meringis sakit.
__ADS_1
"Terus kamu pilih apa?" tanya Fabian disela cerita Selsa.
"Aku pilih air putih, tapi seketika di tertawakan teman-teman Jesy. Karena malu, akhirnya aku milih Vodka yang waktu itu tidak tahu kalau kadar alkoholnya lebih tinggi. Aku mabuk, dan lagi-lagi orang suruhan Mina yang membawaku pulang. Aku diawasi sedemikian rupa oleh Mina dan Vano, tapi tetap saja aku masih membangkang karena ketagihan keluar malam." Papar Selsa mencapat cubitan keras di pipinya.
Fabian terkekeh gemas, "Mau marah tapi bagaimana lagi, sudah terlanjur, dan tidak bisa merubah keadaan juga. Tapi kalau disini aku sampai tahu kamu seperti itu, jangan harap bisa melarikan diri. Aku hukum lagi nanti," ancamnya setengah bercanda.
"Disiram air shower lagi? Terus setelah itu memelukku dan meminta maaf?" sindir Selsa sedikit kesal mengingat perlakuan Fabian dulu.
Tawa kecil Fabian terdengar merdu di telinga Selsa, "Tentu tidak. Aku akan memberikan hukuman yang lebih manis dan sulit dilupakan." Ungkapnya membuat pipi Selsa merona.
Selsa refleks menutup wajahnya malu.
"Astaga aku tahu arah pembicaraan kita, sudah berhenti dari pada semakin tidak jelas." Pungkasnya lalu mencubit perut Fabian keras.
Langkah yang semula mantap dan tegas itu berganti lunglai dan sedikit bimbang. Badannya yang mungil sedikit bersembunyi dibalik tubuh gagah semula berdiri disampingnya, perasaanya kembali takut mengingat kejadian beberapa tahun lalu.
Disana, jarak beberapa meter, berdiri sepasang kekasih yang entah sudah menikah atau belum. Terakhir kali melihat sewaktu dirinya di Indonesia dan bertengkar hebat disuatu ruangan yang begitu laknat, berakhir saling meninggalkan dan tak lagi bertegur sapa. Selsa tercengang sesaat dengan kepala yang sedikit pening, juga dengan debar ketakutan.
Samuel mencoba memberi penjelasan, pada Fabian maupun Selsa, karena diam-diam lelaki itu beserta istrinya mengundang dua orang yang sebelumnya bermasalah dengan Fabian maupun Selsa. Demi apapun ini kejutan, yang mungkin tidak Selsa inginkan selama apapun, karena dia pun juga sedikit takut akan perubahan sikap Fabian ketika bertemu dengan perempuan itu.
Renald dan Nadia maju beberapa langkah hingga hanya berjarak sekitar satu meter dengan Fabian dan Selsa, juga Samuel dan Indy yang berdiri disana.
Rupanya Fabian menyadari apa yang Selsa rasakan, otomatis Fabian menggenggam tangan milik Selsa erat dan berkata kalau tidak akan terjadi apa-apa. Lelaki itu menggiring Selsa agar berdiri disampingnya, tidak perlu takut apalagi dengan Nadia yang menunjukkan raut baik-baik saja disana.
Tentu, untuk pertama kalinya Fabian terkejut melihat Nadia bersama Renald di tempat Samuel. Ini sudah tahun ketiga juga dirinya tanpa Nadia, jika tahu Nadia sudah sembuh dan bahagia seperti ini, Fabian juga turut bahagia.
"F-Fabian," itu satu kata yang keluar dari bibir Nadia. Menyebut nama Fabian tentu dengan pandangan nanar.
Selsa otomatis melepaskan genggaman, namun Fabian tak mau, justru semakin mengeratkan dan mencegah Selsa agar tidak pergi kemanapun. Disaat yang bersamaan, Nadia memeluk dirinya didepan Selsa, Fabian membiarkan dan tak mencoba membalas, sampai Nadia melepaskannya dan kembali disamping Renald.
"Fab aku baik-baik saja," kata Nadia pelan.
Fabian mengangguk mantap, ia tahu Nadia baik-baik saja karena Renald.
Selsa tak berani menatap apapun, hanya menunduk dengan tangan yang masih digenggam Fabian, mulutnya pun ikut bungkam tak mau menanggapi. Binar bahagia yang dijaga sejak kembali ke Indonesia seketika dihilangkan karena adanya Nadia, perempuan itu seperti racun dalam hidup Selsa. Walaupun Selsa tidak banyak melihat ia berulah, tapi jika sekali berulah efeknya sukses selalu mematikan Selsa.
Sorot Nadia berganti pada Selsa, menatap Selsa penuh intimidasi dan tidak bersahabat. Ya itu Selsa, Selsa yang dikenalnya beberapa tahun itu dan menjadi kekasih Fabian.
Semua orang tahu kini sorot Nadia mengamati Selsa, mengamati perempuan yang semakin menunduk disamping Fabian dengan ketakutan. Tapi untuk setelahnya, raut yang semula mengintimidasi itu berganti dengan senyuman paling tulus dari seorang Nadia. Bahkan perempuan itu menghampiri Selsa yang ketakutan disamping Fabian, memeluk Selsa membuat semua orang yang ada disana tercengang.
__ADS_1
"Terima kasih Selsa, maaf karena aku ada diantara kalian." Gumamnya lirih disertai mata berkaca-kaca.
Selsa tentu tak kalah terkejut, belum memberikan respon apapun untuk Nadia yang kini memeluknya. Ini terlalu tiba-tiba dan Selsa tidak bisa mengendalikan sisi emosionalnya, rasanya marah tapi tetap ada rasa ingin tahu juga kenapa Nadia seperti ini.
"Renald sudah menceritakan semuanya. Aku mencekik dirimu dan juga melayangkan kata kalau aku akan melukaimu, maaf untuk perasaanku pada Fabian yang memang pada awalnya sudah salah."
Sadarnya kembali kala Fabian mengusap lembut tangannya. Genggaman itu masih belum terlepaskan, namun tangan Selsa yang lain digunakan untuk membalas pelukan Nadia. Walaupun bibirnya nampak kaku, tapi tetap digunakan untuk tersenyum. Kepalanya mengangguk walau ragu.
"Y-ya Nad. A-aku juga ingin meminta maaf soal penculikanku waktu itu, aku sudah menuduhmu yang tidak-tidak." Ungkap Selsa yang tak tertahan.
Nadia melepaskan pelukannya, "Bahagialah bersama Fabian, karena pun aku juga sudah bahagia bersama Renald. Aku sadar, perasaanku pada Fabian bukanlah cinta, melainkan obsesi yang semakin lama semakin menjadi." Tangannya terulur mengusap kepala Selsa sayang.
Mau tak mau Selsa mengangguk bersamaan dengan setitik air mata bahagia, kini giliran dirinya yang memeluk Nadia agak lama. Hatinya ikut lega, bebannya berkurang dan rasa bahagianya seketika membuncah. Ini yang dimaksud Samuel waktu itukan? Dirinya dan Nadia saling memaafkan, ya Samuel berhasil. Ungkap Selsa dalam hati.
"Nad tugasku menjagamu sudah selesai, sekarang sudah ada Renald. Tolong tetap jaga dirimu sendiri sebaik mungkin, dan aku juga ingin menanyakan bagaimana bisa kamu pulih?" tanya Fabian ditengah rasa haru.
Nadia sebelumnya sudah berdiri disamping Renald, mengamati wajah lelaki yang sudah membantu melupakan semua kejadian pahit dalam hidupnya. Tangannya merengkuh pundak Renald dan menguatkan pegangannya disana, "Ceritanya panjang. Intinya dia selalu ada disampingku saat terapi, dan juga memberikan semangat untuk hidupku yang abu-abu." Tuturnya bangga.
Renald hanya tersenyum ditempatnya, itu semua bukan apa-apa karena Renald tulus membantu Nadia. Rasa cintanya begitu besar, hingga beberapa bulan yang lalu janji sucinya sudah diutarakan dengan lantang. Nadia sudah menjadi miliknya, dan kebahagiaan Renald semakin bertambah besar.
"Dia suamiku, Fabian. Aku dan Renald sudah menikah, lima bulan yang lalu." Beber Nadia membuat Fabian, Selsa, Samuel maupun Indy terkejut.
Fabian tercengang melongo, "Kenapa tidak memberiku kabar di hari bahagiamu Nad?" tanyanya kesal.
Nadia terkekeh lucu, "Fab aku tidak ingin ada ke salah pahaman lagi, cukup sudah aku mengurus semuanya bersama Renald. Sekarang aku hanya ingin meminta maaf padamu dan Selsa, karenaku hubungan kalian renggang dan juga terpecah. Dan untuk Samuel dan Indy juga terima kasih sudah mengundangku,"
Ucapan syukur itu tak pernah berhenti. Selsa tersenyum begitu lebar ketika tahu akhirnya sebahagia ini, kalau akhirnya dirinya dan Fabian akan tetap bersama. sebuah ide melintas dipikirannya, namun itu memicu decakan sebal Fabian dan juag beberapa protes dari lelaki yang masih sibuk menggenggam tangannya itu.
"Bagaimana kalau kita pergi ke Restoran Korea yang baru saja buka beberapa hari ini? Aku dengar Kimchi disana enak, kita juga bisa mencoba Sojunya yang begitu nikmat." Ajak Selsa.
Fabian mencibir, rupanya Selsa masih belum bisa lepas dari minuman seperti itu. Nadia, Renald, Samuel, dan Indy hanya memberi respon tertawa namun juga menyetujui. Mereka juga suka dengan kimchi, jadi tidak salah untuk menikmatinya bersama orang terdekat. Sekaligus untuk merayakan hari ulang tahun Samuel yang tinggal beberapa jam lagi habis.
Semoga saja setelah ini kehidupan mereka terlepas dari namanya ke salah pahaman yang rumit, obsesi yang menjadi dan juga kebohongan manis yang terlalu sulit dibeberkan.
Benar kata Selsa, Tuhan selalu mempunyai jalan terbaik. Sejauh apapun menghindar, jika sudah takdirnya pun akan tetap dipertemukan.
Benar kata Fabian, sejauh apa berlari, masalah tidak akan berhenti mengejar. Bukan melampiaskan dengan menghabiskan minuman beralkohol tinggi yang memabukkan, tapi cukup dengan duduk dan menyelesaikannya dengan kepala dingin.
Benar kata Nadia, kalau perasaannya yang begitu menggebu bukanlah cinta, melainkan obsesi yang semakin lama menikam dirinya sendiri.
Dan benar juga kata Samuel, kalau menurunkan ego dalam suatu hubungan itu penting karena hubungan dibangun bukan hanya soal mencintai di cintai, tapi saling percaya dan mempercayai. Samuel mengajarkan banyak hal pada Fabian, begitupun Selsa. Dan harapan lelaki itu untuk Fabian dan Selsa adalah selalu hidup bahagia tanpa ke salah pahaman lagi, saling terbuka dan mempercayai satu sama lain juga yang terpenting saling menurunkan ego. Terlepas dari siapapun nanti yang mempunyai salah.
__ADS_1