My (Ex) Boyfriend

My (Ex) Boyfriend
Sembilan Belas


__ADS_3

Relasi antara Selsa dan Fabian semakin hari semakin membaik, penuh peningkatan, tidak seperti beberapa minggu atau bulan yang lalu. Tuhan seolah ingin dua mahluk beda jenis itu kembali menikmati manisnya romansa yang memabukkan tanpa adanya pembelotan. Menghabiskan waktu tanpa perduli laksana sekitar, hanya berdua dan cukup berdua, Selsa dan Fabian seakan sama-sama angkat bicara untuk tidak menambahkan rongga walau hanya untuk satu orang.


Perlahan juga Selsa sedikit lebih menerima akan perlakuan manis Fabian, terhanyut dalam pesona yang dimiliki Fabian yang semakin hari semakin tampak dipermukaan. Nuraninya sedikit luluh dengan celoteh gulali yang Fabian berikan, menghangat tanpa sadar dipenuhi bunga yang bermekaran; membuncah bahagia. Ingat selesai berbelanja tempo hari, sepanjang jalan anak Wardhana itu menghujaninya dengan sabda yang menyedapkan hati. Mengantarkan Selsa menghadiri acara peresmian juga kembali membawa Selsa pulang tepat waktu. Patut diacungi jempol memang usaha Fabian untuk kembali pada Selsa, dengan segala usaha juga kata yang penuh bujuk rayu yang membuat Selsa kadang tersipu.


"Malam ini masak apa?." Tanya Fabian.


Selsa mengalihkan atensinya, diletakkan ponsel yang sedari tadi digunakan, Selsa mengusap wajahnya beberapa kali. "Aku malas, kamu delivery saja ya." Ujarnya malas.


"Tapi aku ingin makan masakanmu Sa, masak ya, buat aku." Fabian merajuk sudah seperti bocah saja, memang. Padahal diluar sana banyak makanan enak yang bisa disantap Fabian kapan saja, tapi kenapa lelaki itu masih setia menelan masakan yang menurut Selsa sungguh biasa saja dan tidak layak dimakan.


"Tidak! Aku malas Fab."


Fabian melepaskan jas kerja yang digunakannya seharian, meletakkan sembarang arah dan menggaet tangan Selsa yang masih bermalas-malasan disofa. "Tidak ada malas, ayo masak, kutemani! Bagaimana mau menjadi nyonya muda Wardhana kalau masak saja malas."


"Memangnya aku mau menjadi nyonya Wardhana?" Ujar Selsa yang masih mengikuti Fabian dengan malas.


"Siapa yang bisa menolak Fabian ini sih? Tampan iya, pekerja keras iya, tanggung jawab iya, kaya juga iya, aduh Tuhan memang maha adil karena menciptakan lelaki seperti diriku." Lihatlah tingkat kepercayaan dirinya melambung sampai langit paling pertama. Kalau boleh ayo Selsa pimpin untuk menertawakan kepercayaam diri Fabian yang melangit.


"Player juga iya, kalau kamu lupa." Ejek Selsa yang membuat Fabian mendengus. Benar juga apa yang dikatakan Selsa, pikir Fabian.


Selsa mulai berkutat dengan beberapa peralatan dapur. Menyiapkan alat penggorengan juga panci penggorengan yang sudah dituang minyak goreng, kali ini ia hanya menggoreng beberapa sosis juga telur untuk Fabian santap. Sebenarnya ada bahan masakan, cuma saja Selsa terlalu malas untuk meraciknya, mungkin sudah jam malam. Dan untung saja persediaan sosis juga telur masih banyak di kulkas.


Fabian tersenyum menyaksikan Selsa yang sibuk dengan teman dapurnya, mendudukkan diri di kursi meja makan yang sekarang dibelakangi Selsa. Bersama Selsa kenapa sebahagia ini, tanyanya dalam hati. Padahal rasa dihatinya mungkin sudah beberapa tahun yang lalu, namun sepertinya masih sama. Andai saja Fabian lebih berani lagi, meminta Selsa agar mau menjadi miliknya, memaksa Selsa agar mau menikah dengannya saat ini juga, lagi-lagi andai Fabian seberani itu. Sayangnya tidak, Fabian tidak ingin merusak momen mahal ini dengan mengatakan ini dan itu yang membuat Selsa tak nyaman. Biarkan ini berjalan seperti layaknya, dan Fabian sebisa mungkin akan mengikutinya dengan hati-hati.


"Nasinya seberapa? Banyak atau sedikit?"


"Cukup untuk dua orang."

__ADS_1


"Aku tidak makan."


"Pokoknya untuk dua orang, ambil saja yang banyak. Aku ingin makan denganmu malam ini."


Selsa kembali dengan sepiring nasi, dimeja sudah ada sosis juga telur buatan nya tadi. Selsa duduk disamping Fabian, dan tentunya ini peruntah Ya Mulia Fabian.


"Mau aku suapi?"


"Tidak, aku tidak makan." Tolak Selsa.


Fabian menjauhkan piring kearah Selsa, "Yasudah kalau begitu kamu menyuapi aku." Pungkasnya tanpa bantahan.


"Makan sendiri Fabian, kamu sudah besar."


"Aku tidak ingin makan kalau begitu." Lihatlah lelaki yang sudah berumur lebih duapuluh tahun ini lebih terlihat seperti bocah bukan?.


Mungkin ini pekerjaan baru Selsa yang ternyata mempunyai basic sebagai seorang pengasuh bayi, apalagi untuk bayi sebesar Fabian. Kalau tidak mengenal dosa juga karma mungkin Selsa akan mencampurkan racun kedalam nasi Fabian, habisnya sifat manja Fabian semakin menjadi kepadanya. Dengan titah yang katanya ingin minum, Selsa kembali membawa segelas air mineral yang disodorkan kepada Fabian.


"Kamu sudah pas Sa," tangan Fabian mengisap pelan pucuk kepala Selsa, tanpa ijin mengecupnya pelan. Tentu saja membuat Selsa terkejut, jangan tanyakan jantungnya karena sudah berdebar tak karuan. Sial, ini semua karena Fabian.


"P-pas apanya?" Tanya Selsa gugup.


Fabian menampilkan senyum gulalinya, menyingkirkan tangannya dari kepala Selsa dan berganti dengan bertopang dagu. Meneliti Selsa dengan masih menampilkan binar dimatanya, "Pas menjadi istri Fabian, ayo menikah."


"Kamu kira menikah semudah itu, otakmu terlalu kecil makannya tidak bisa berpikir jauh kedepan." Meraup kesal wajah Fabian, Selaa meneguk air mineral sisa Fabian. Tenggorokannya menjadi kemarau panjang, entah kenapa, Selsa juga tidak tahu. Menikah tidak segampang itu menurutnya.


"Sa kenapa kamu semakin hari semakin cantik? Repot tahu karena aku belum juga bisa move on dari kamu."

__ADS_1


Selsa terkekeh, pengalihan perhatian Fabian cukup menarik minatnya. Dengan sombong dikibaskan rambut blonde kebanggaannya, "aku memang cantik, kamu saja yang tidak menyadarinya." Jawabnya jemawa tak lupa diselingi tawa merekah.


"Tuhkan tambah cantik kalau lagi tertawa, jangan cantik-cantiklah Sa, perasaan aku semakin repot nantinya. Memangnya kamu mau tanggung jawab?."


Sumpah ini rayuan prevalensi para buaya darat yang sering digunakan untuk menjerat wanita, tapi Selsa masih saja tersipu. Lihat saja pipi Selsa bersemu bak tomat masak, Fabian memang keparat yang selalu membuat pertahanan Selsa selalu goyah. Tunggu saja pembalasan Selsa, Fabian akan dibuatnya pingsan karena mendengar godaan Selsa.


"Hentikan modus sialanmu Fab, ini receh sekali Astaga." Tawa ringan tak bisa Selsa sembunyikan, terang-terangan Selsa menjawab dengan pipi bersemu dan mata menyipiy karena tertawa.


"Aish sudah kubilang hentikan tawamu, ini jantungku semakin tidak sehat. Berdebar kencang dan aku tidak tahu cara menghentikannya." Air wajah Fabian dibuat seolah kesal, padahal nyatanya dalam hati menahan gemas ingin mencium Selsa. Sungguh, perempuannya kenapa cantik sekali.


"Kalau begitu aku akan membantumu menghentikan debaran itu," Selsa membenarkan duduknya, merapikan anak rambut yang berantakan, tangannya mengenggam tanah Fabian. Keduanya berhadapan sekarang, "Tatap mataku." Sambungnya memasang wajah serius, demi Mina yang sentar lagi akan menikah dengan Vano, Selsa ingin menyemburkan tawanya sekarang juga.


"Calon istriku sungguh bodoh sekali, justru itu akan menambah debarannya. Semakin luar dan sulit diatasi."


Tak bisa disembunyikan lagi, tawa keduanya merebak mengudara. Tangannya masih saling bertaut mesra, atmosfer seakan tahu jika malam ini keduanya kembali dipenuhi romansa. Selsa tidak akan berbohong, jantungnya juga sama bergetarnya dengan Fabian. Dengan harap Fabian tak mendengarkan barang sedegup saja, Selaa bisa malu nantinya.


"Yasudah kalau begitu kita sama. Aku juga berdebar," ujar Selsa tersipu.


Fabian menghentikan tawanya sebentar, menatap cengo Selsa, lalu kembali tertawa. Keduanya tertawata tanpa beban, binar bahagia semakin jelas terlihat. Jadi teruntuk seseorang yang masih berambisi akan ada ruang diantara relasi Fabian dan Selsa, lebih baik lipurkan saja.


Fabian mendekap Selsa erat, menyandarkan kepala Selsa didada bidangnya. Mengusap kepalanya pelan dan berkalu-kali mencium pucuk kepala wanita yang amat disayanginya. Lantas berbisik pelan, "Kalau begini bagaimana bisa aku melupakanmu, melepaskanmu dan menghilang begitu saja. Rasaku padamu semakin hari semakin membuncah sayang."


Selsa masih bimbang akan keputusannya, takut kembali terluka juga dikecewakan. Namun kemudian intuisinya berkata yakin dan tuturnya yang lolos baru saja membuat jantung seseorang semakin berdebar tak karuan. Sialan memang Selsa.


"Satu peluang untukmu juga, sayang."


Dan sedetik setelahnya milyaran rasa terimakasih Fabian panjatkan. Ini bukanlah mimpi untuknya, ini realita yang harus Fabian laksanakan. Dan malam ini Selsa kembali mempercayakan hatinya kepada Fabian, baiklah untuk peluang kali ini Fabian akan menggunakan sebaik mungkin.

__ADS_1


__ADS_2