
"Bangun atau kusiram menggunakan air panas?."
"Lima menit lagi."
Menggeram pelan ditempatnya Selsa berkeinginan untuk menyiramkan air panas, yang baru disiapkannya untuk Fabian. Menguliti Fabian yang susah sekali jika dibangunkan.
"Kalau kamu masih belum mau bangun, aku akan pergi sendiri." Ancam Selsa yang sukses membuat Fabian bangun dari tidurnya, dengan wajah kusamnya lelaki itu mengumpat pelan.
"Iya-iya aku bangun."
Merapihkan anak rambut yang sempat berantakan, Selsa kembali menguncir rambut blonde asal. Menarik selimut kasar ketika melihat Fabian akan kembali berbaring. "Mandi dan aku tunggu dibawah." Ujanya kesal
Dengan mata yang masih terpejam Fabian mendesis aneh yang sukses membuat Selsa ingin memotong mulut lelaki itu. "Mandikan aku,"
"Hentikan rengekan menggelikanmu itu, aku jijik mendengarnya. Dan ingat kalau ini masih pagi, gunakan otakmu untuk berpikir positif dan tidak mesum."
"Aku serius Sa,"
"Lebih dari satu jam, aku akan berangkat sendiri." Ujarnya lantas berjalan meninggalkan kamar Fabian.
"Iya ish kamu ini memang paling bisa. Kalau sampai kamu sampai pergi sendiri, kamu akan kuhabisi diranjang."
Sesampainya diambang pintu Selsa menoleh, menampilkan senyum culas nan mengejek. Entah kenapa naluri berkata kalau ia senang menggoda Fabian dan mendengar teriakan tak terima anak Wardhana itu. "Memangnya aku takut? Jelas aku akan menelfon kekasihku untuk meminta tolong."
"Aku akan turun tangan dan memanggil bodyguard untuk melawan kekasihmu itu."
"Dan kalau sampai kekasihku kenapa-kenapa aku tidak akan mau seatap denganmu lagi," Selsa menarik nafas lalu menghembuskannya kembali, tersenyum penuh makna yang membuat Fabian merinding. "Lima menit dari sekarang. Kalau tidak kau akan melihat mantanmu yang cantik ini berkencan dengan kekasihnya. " pungkasnya menutup pintu lumayan keras.
"Selsa yang memang sialan dan sungguh sialannya lagi aku yang selalu menginginkannya." Teriak Fabian membalas ucapan Selsa. Ia tak marah, berniat membalas candaan Selsa yang menurutnya memiliki selera humor yang rendah.
-
-
-
Entah siapa yang memulai lebih dulu, kedua tangan berbeda ukuran itu terpaut saling menggemggam. Berjalan santai memasuki pusat perbelanjaam terbesar di ibu kota, Selsa dan Fabian. Malam tadi selesai Selsa menangis Fabian menawari untuk pergi jalan-jalan, sekaligus membeli hadiah untuk pernikahan Vano dan juga Mina. Selsa menyetujui dengan akhir keduanya telah sampai beberapa menit yang lalu.
"Menurutmu Mina dibelikan apa?."
"Sepatu? Tas? Baju? Aksesoris? Atau apapun yang bermerk pasti suka."
__ADS_1
"Ish kamu kira temanku itu matre apa?," Selsa berdecak sebal. Dikira semua perempuan senang apa dikasih barang berlebihan seperti itu?.
"Kan biasanya perempuan memang begitu, dikasih yang mulus sedikit langsung senang."
"Tidak berlaku untukku dan juga Mina, Fabian."
Keduanya masih berjalan mengitari pusat perbelanjaan dengan tangan yang masih tertaut, sesekali dengan iseng Fabian mencium Selsa lantas membuat Selsa memekik karena terkejut.
"Bagaimana kalau dibelikan Piyama saja? Atau tidak beberapa gaun yang Mina suka."
"Ah ide bagus, kalau Vano, kamu ingin membelikan hadiah apa?."
"Aku tidak usah repot-repot membelikannya, cukup kuberi alat kontrasepsi saja dia sudah senang," Belum genap ucapannya, Selsa memukul lengan Fabian belan. Kesal dengan otak mesum Fabian yang tidak bisa dikondisikan.
"Aw kenapa kamu memukulku?." Ringis Fabian kesakitan.
"Bibirmu itu memang tidak bisa ya barang sehari tidak berbicara mesum. Ini tempat umum dan jaga ucapanmu." Ujarnya kesal.
Fabian terkekeh dan dicubitnya pelan pipi Selsa yang membulat, "Iya sayang,"
"Sayang sayang, sudah ayo kita cari piyama untuk Mina."
Keduanya kembali melangkah menyusuri isi pusat perbelanjaan, mencari apapun yang memang mereka butuhkan. Terliht seperti sepasang kekasih yang begitu cocok dan klop, namun dibalik itu keduanya hanya sebatas mantan kekasih yang saling mencoba untuk berpulang ketempat semestinya. Tapi ego juga gengsi masih saja mendominasi perasaan keduanya.
Selsa memberhentikan langkah, menggaet Fabian menuju toko fashion disana. Tangan Selsa siap terlepas, berbeda dengan Fabian yang justru semakin mngeratkannya. Seolah takut Selsa akan pergi meninggalkannya.
"Lepaskan dulu, aku akan memilih beberapa gaun juga piyama untuk Mina."
"Tidak bisa Selsa, tetap genggam tanganku dan ini perintah!" Titahnya tak terbantahkan.
Selsa berdecak, Fabian masih menggiringnya menuju tempat kemeja Pria. "Fabian ada apa dengan dirimu sih? Aku dan kamu masih berada dalam jarak yang dekat, tolong lepaskan dulu."
"Aku tidak mau. Ayo cepat kita pilih kemeja untuk Vano dulu."
"Astaga Fabian kenapa menjadi kekanakan seperti ini? Lebih baik kamu cari kemeja untuk Vano saja dan aku akan mencari untuk Mina."
"Tidak mau sayang. Ayo kita lihat gaun yang ada didalam."
"Berhenti memanggilku sayang Fabian, ish semakin menyebalkan saja." Kesal Selsa yang tak didengarkan Fabian.
Fabian menghentikan langkahnya sebentar, menatap jenaka Selsa yang mendelik kesal, "Diam atau kucium ditempat umum."
__ADS_1
"Baiklah Tuan Wardhana dan segala titahnya."
Menenteng kemeja berwarna Putih dan Hitam bergantian, Fabian menunjukkannya pada Selsa yang masih terlihat kesal. Bagaimana tidak, jelas lelaki itu kesusahan memilih kemeja dan masih tidak mau melepaskan genggamannya. Ish ini sama saja seperti anak remaja yang baru merasakan indahnya jatuh cinta, menggelikan, pikir Selsa.
"Sayang bagaimana kalau pilih warna hitam saja, atau putih?."
Selsa diam. Mengingat beberapa menit lalu ucapan Fabian yang menyuruhnya diam, dari pada dirinya dicium ditempat umum. Sebenarnya Selsa tak menganggap ini serius, tapi untuk kali ini ia ingin sedikit bermain-main dan menggoda Fabian yang sudah pasti akan dibunuh kesal.
"Selsa," tegur Fabian.
"Katanya disuruh diam." Jawab Selsa dengan raut polosnya.
"Ya maksudku diam-, sudahlah."
Kalau tidak berada di tempat umum, Selsa pasti akan mengudarakan tawanya. Melihat raut kesal Fabian yang seperti saat ini sungguh lucu. Bibir memgerucut sebal dan pipi mengembung yang selalu menggoda untuk dicubit.
"Menurutku yang putih saja, bisa digunakan Vano bekerja juga kan? Atau kamu beli dua-duanya tidak apa-apa."
"Terlalu sedikit kalau dua sayang, bagaimana kalau aku membeli sekalian pabriknya?." Rautnya tak lagi kesal, berubah menjadi senyuman cerah yang menghangatkan hati Selsa. Lantas dengan jemawanya Fabian menuturkan katanya itu.
"Kamu ish bercanda terus, sudah cepat ayo. Nanti malam aku ada acara."
"Acara apa, kencan dengan kekasihmu?."
Selsa menggeret Fabian yang menenteng dua kemeja Hitam juga Putih, menuju tempat gaun terjejer rapih. Dirinya masih ingat dulu ketika Mina menginginkan gaun berwarna putih juga biru dengan hiasan bunga yang melingkar diarea pundak, dan kebetulan saja hari ini Selsa melihatnya. Tapi hanya untuk warna biru saja, Selsa tak menemukan warna putih disana.
"Bukan, kekasihku sedang berada di luar negeri. Ada peresmian suatu tempat yang harus aku hadiri."
"Kelab malam?." Tebak Fabian karena mengingat pertemuannya kembali tempo lalu, disebuah kelab malam Fabian melihat Selsa melenggang dengan eloknya. Dipandangi puluhan mata yang seakan menelanjangi, Fabian berandai mempunyai kekuatan untuk mencolok mata setiap mata yang memandang lapar kepunyaannya itu.
"Tidak Fab, kenapa kamu penasaran sekali sih?."
"Aku tidak akan megijinkanmu pergi ke kelab malam seperti waktu itu. Memakai dress mini yang ingin sekali ku hancurkan,"
"Really? Kenapa posesif sekali Tuan Wardhana ini?" Godanya jenaka, "Lepaskan sebentar, aku kesulitan mengamati gaun ini." Dan ajaib, tautan tangannya terlepas. Selsa menghembuskan nafas lega dan beralih meneliti gaun yang akan diambilnya.
"Posesif karena kamu sulit diberi tahu menggunakan hati, dan selalu mudah diatur jika meggunakan emosi. Dasar Selsa,"
"Oh begitu ya, baiklah aku akan lebih menggunakan hati sekarang." Ujarnya yang masih meneliti beberapa gaun. Niatnya hanya bercanda, namun pribadi Wardhana menganggapnya serius. Oh maafkan Selsa Sakti, karena mulut Selsa selalu lancang jika bersama Fabian.
"Apa ini sebuah lampu hijau untuk bisa kembali padamu?"
__ADS_1
"Jangan harap Tuan Wardhana, ayo kita kekasir aku sudah mendapatkan gaunnya." Titahnya jenaka, lantas berjalan mendahului Fabian dengan menenteng gaun yang akan didedikasikannya untuk Mina.