My (Ex) Boyfriend

My (Ex) Boyfriend
Lima Puluh Tiga


__ADS_3

"Sebelumnya maaf kalau memang ini akan menyinggungmu, dimana nuranimu Re? Nadia hamil anakmu dan disaat kondisinya sedang down, kamu menghilang seolah tidak terjadi apapun. Sebagai lelaki, dimana rasa tanggung jawabmu?"


Renald hanya menunduk menerima omelan dari Mina. Memang, efek sedang hamil juga mungkin jadi sedikit sensitif, sejak beberapa jam dirinya sampai di rumah sakit ini. Renald juga sudah menjenguk Nadia, dimana perempuan itu sedang bersenandung kecil dengan pandangan kosong juga tengah mengusap perut datarnya. Benarkah ini Nadia yang didambakannya, itulah pertanyaannya dalam hati.


"Sekarang semuanya sudah terjadi begitu saja, Nadia seperti ini juga karenamu, merepotkan banyak orang saja." Gerutu Mina tak terima. Memang semenjak munculnya Nadia, kehidupannya dan Selsa semakin rumit.


"Sayang jangan berbicara seperti itu," tegur Vano.


"Memang benar kan? Sebelum Nadia hadir semuanya baik-baik saja, aku, kamu dan juga Selsa. Apalagi munculnya masalah Nadia hamil, semua semakin rumit dan tidak ada satupun dari kita menemukan titik terang."


Renald semakin menunduk, sesekali matanya terpejam ketika setiap kata yang meluncur dari bibir Mina menghunus hatinya, "T-tolong berhenti menghakimiku. Fine, aku akan tanggung jawab! Aku akan merawat Nadia sampai dia kembali seperti dulu." Pintanya dengan kepala yang sudah menatap Mina dan Vano.


"Terus kalau kamu sudah merawat dan bertanggung jawab, Bahagia Selsa akan kembali? Bawa perempuan itu pergi sejauh mungkin, hindarkan dengan Selsa, kalau perlu bawa Fabian sekalian."


Mina memang seperti itu sifatnya, selalu menggebu jika sedang emosi, karena rasa kesal pada Nadia sudah menyebar luas pada setiap penjuru tubuhnya. Perempuan itu sudah membuat ulah tapi enggan untuk bertanggung jawab, Mina seolah ingin mencekiknya hidup-hidup.


"Aku tidak bisa kalau membawa Fabian, tapi aku akan membawa Nadia. Tidak perduli orang tuaku merestui atau tidak, aku akan membawanya ke psikiater ternama ditempatku." Tekad Renald bulat.


"Ucapanmu selalu ku pegang Re, cukup sudahi semua masalahnya disini. Tapi sebelum pergi, kamu dan Nadia harus bertemu Selsa juga Fabian untuk membicarakan semuanya baik-baik."


"Tolong hubungi Selsa sekarang, sore nanti aku akan membawa Nadia. Jangan lupa Fabian juga,"


Tanpa basa-basi Mina merogoh tas mencari ponselnya yang kemudian menghubungi Selsa, memaksa perempuan itu ke rumah sakit saat ini juga karena sebelumnya perempuan itu menolak keras dengan alasan tidak mau bertemu Fabian.


...---...


Pergerakannya gelisah sedari tadi, membuat lelaki yang duduk disampingnya itu mengerut heran. Lima menitnya habis digunakan untuk memandangi pergerakan perempuan dihadapannya, tidak penting, tapi penasaran.


"Ada apa lagi?"


Hembusan nafas gusar terdengar samar-samar, sesekali perempuan itu menggeleng resah dan menatap ponselnya berkali-kali, "Mina menyuruhku datang ke rumah sakit?"


"Sungguh? Tapi kenapa kamu setegang ini, segelisah ini?" Tanyanya diiringi kekehan lucu.


Tangannya diangkat mengusap wajah berkali-kali, "Ada Fabian-" gumamnya pelan.


Sontak itu memacu tawa seorang Samuel. Benarkah yang didengar? Ini lucu, Selsa seperti menderita pobia baru yaitu takut bertemu mantan kekasihnya. Lihatlah, wajah perempuan itu pucat pasi, beberapa peluh juga menghinggapi kening juga nafas yang sedikit tidak teratur.


"Ini lucu, bertemu mantan saja takutmu luar biasa. Sa mantanmu itu tidak berbahaya sama sekali." Candanya diirngi tawa yang belum berhenti.


Selsa kesal dibuatnya, melempar Samuel bantal Sofa yang ada didekatnya.


"Sam asal kamu tahu, perasaanku selalu goyah jika bertemu Fabian. Memangnya si bajingan satu itu membawa jampi-jampi jenis apa sampai membuatku seperti ini?"


"Bukan jampi-jampi, itu hanya sugesti dari dirimu sendiri, menyuruhmu selalu mencintai Fabian. Seharusnya sugestinya bukan seperti itu, coba sugesti dirimu kalau bertemu lelaki itu anggap saja dia tidak pernah terlibat hal apapun dalam hidupmu."


"Tetap saja tidak bisa, aish Sam, berbicara memang semudah membalikkan telapak tangan." Rengeknya lucu.


"Sulit kalau kamu tidak melakukannya dengan baik. Kendalikan perasaanmu kalau tidak mau terjebak lagi, Ingin bahagia kan?"


Selsa otomatis mengangguk.


"Maafkan saja semua yang pernah terjadi. Setelah kamu memaafkan, sugesti dirimu sendiri kalau kamu seolah memulai hidup baru, tanpa Nadia, tanpa Mina dan Vano, tanpaku juga tanpa Fabian. Bisa?"


"Really? Aku harus melakukan itu? Oh God, aku sepertinya tidak bisa." Teriaknya kesal.


"Setiap ku nasehati dan ku beri masukan, kamu selalu saja bilang tidak bisa. Come on Selsa, you can do it! Jangan jadi pribadi yang lemah!"


Sebuah suntikan energi baru untuk Selsa dari Samuel. Lelaki, dengan tahi lalat yang ada disudut mata, itu menampakkan senyum kharisma yang tak pernah luntur. Untuk sesaat Selsa termenung, memikirkan hal apapun yang diutarakan Samuel. Ada benarnya juga, Selsa harus mensugesti dirinya sendiri agar hidupnya lebih baik dan tidak ada beban, ya harus.

__ADS_1


Setelah itu, dua anak manusia yang namanya sama-sama berawalan S itu bergegas menuju rumah sakit. Disertai keheningan, hanya menyaksikan lalu lalang beberapa kendaraan disekitarnya juga dengan bising yang mendera. Lumayan lama, jarak Apartemen Samuel dengan rumah sakit lumayan jauh. Butuh waktu kurang lebih satu jam untuk sampai ditempat itu.


Tak butuh melakukan hal yang tidak penting, diluar tujuan, Samuel bersama Selsa berjalan tergesa menuju ruang inap dimana Nadia dirawat. Sebelum sampai disana, Samuel maupun Selsa melancarkan aksinya terlebih dulu, saling bergandeng tangan dan terlihat mesra bagaimanapun caranya. Ini sedikit kikuk, tapi Selsa menepisnya dan berusaha seprofesional mungkin. Mereka tak lepas dari pandangan iri seisi penghuni rumah sakit, pasalnya mereka terlihat begiti cocok dan klop.


Bisa dilihat, didepan ruang rawat inap Nadia sudah ada Mina, Vano, Renald dan tunggu, Fabian. Lelaki itu yang paling pertama menyadari kehadirannya, disana, menatap Selsa dam Samuel dengan tajam. Begitu pandangan Fabian turun, Selsa merasa sebuah peluru mengarah pada genggaman tangannya pada Samuel. Dipaksa terlepas namun tetap saling bergenggaman. Begitu langkahnya mendekat, Mina, Vano ditambah Renald menatap heran Selsa.


"Sa darimana saja? Aku dan yang lain sudah menunggu lebih dari satu jam." Kesal Mina.


"M-maaf aku telat karena menemani Samuel dulu mencari beberapa kemeja." Alasannya membuat salah satu diantara mereka memanas.


Sialan, lelaki itu semakin menjadi saja.


Fabian tak melepaskan tatapannya dari Selsa, sekalipun, lelaki itu seolah ingin membunuh Selsa dengan tatapan yang super tajamnya.


"Ini kenapa kok tangan kalian saling bergenggaman?"


Selsa terkejut bukan main, dengan reflek genggamannya terlepas begitu saja. Bergerak gusar dengan nafas yang sedikit tak beraturan.


"M-mina ada apa menguruhku ke rumah sakit?"


"Aku akan memberi ruang untuk kalian berempat, Selsa, Fabian, Renald dan Nadia. Tolong selesaikan masalah ini dengan cara baik-baik, Sa selesaikan semua masalahnya tanpa sisa! Jangan lagi memberikan ruang untuk satu masalahpun, paham?"


Selsa mengangguk, begitupun Fabian yang sudah memutus kontak mata sejak tadi. Renald memasuki ruang inap Nadia, diikuti Fabian kemudian Selsa. Ruangannya sedikit gelap, mempertontonkan perempuan yang tengah meringkuk dipojok ruangan dengan wajah yang sempurna tertutup.


"Nadia-" panggil Renald pelan namun tidak dibalas oleh si pemilik Nama.


"Ini aku Renald, aku menemuimu lagi."


Masih belum ada sahutan, hingga tiga pasang kaki itu sejajar menatap tubuh yang semakin kurus. Mereka melihat perempuan itu menangis, tapi tetap tidak menyahut apapun yang ditanyakan.


"Nad- Nadia, i-ini aku Fabian," panggil Fabian lirih.


Nasib Nadia yang begitu malang, sangat tragis hingga berakhir ditempat yang sangat Nadia benci. Fabian gagal, padahal tekadnya saat itu hanya menyembuhkan Nadia.


"Ini Selsa, Nad-" ucapan Selsa terhenti ketika melihat respon cepat Nadia.


Perempuan itu awalnya menatapnya benci namun setelah beberapa saat berganti tatapan kosong, menatap nanar Selsa diiringi beberapa air mata.


"Kamu yang sudah merebut Fabianku kan? Kamu yang sudah membunuh anakku kan? Kamu si penjahat itukan?" Tanyanya berulang dengan intonasi tajam.


Hatinya bergetar takut, Selsa memundurkan langkahnya sebanyak dua kali.


"B-bukan Nad-"


"Aku akan menghancurkanmu, aku akan membuatmu menyesal! Aku akan mendapatkan Fabian dan anakku kembali,"


Ini sinting, Selsa merasa atmosfer berbeda dari beberapa menit yang lalu. Tangis yang semula bergema itu bergantikan suara tawa yang begitu kencang dan mengerikan. Bisa Selsa lihat, Renald menenangkan Nadia yang sedang sesat akal.


"Nad tolong tenang, mari bicarakan semuanya secara baik-baik. Tolong, mari kita akhiri semua yang begitu rumit." Ucap Fabian panik.


Nadia semakin tak terkendali, perempuan itu menendang perut Renald hingga lelakinya terpental kesakitan. Sedangkan Fabian juga dipukul menggunakan nampan yang sebelumnya berisi makanan, hingga Fabian meringis kesakitan. Langkahnya menghampiri Selsa, semakin mendekat dan kembali melakukan hal mengerikan seperti malam itu.


Respon tubuh Selsa terkejut, langkahnya dipaksa mundur tapi tidak bisa hingga tangan Nadia kembali mendarat di lehernya dan mencekiknya kuat.


Renald dan Fabian beranjak menghampiri Nadia yang semakin kuat menjerat leher Selsa, wajah perempuan itu terlihat merah dan sudut matanya mengeluarkan air mata.


Renald berusaha berbicara selirih mungkin untuk mengembalikan kesadaran Nadia, mengeluarkan semua kata yang mampu membuat Nadia ingat akan sesuatu, hingga jeratan itu mengendur Renald menarik tangan Nadia agar terlepas. Memeluk perempuan itu kuat dengan hati yang sedikit ngilu, tangannya mengusap punggung Nadia menenangkan.


Sedangkan Selsa masih mengatur nafasnya yang terengah-engah, menghirup udara lebih banyak dan menetralkan degupnya yang berpacu dua kali lebih cepat. Bukan, ini bukan saatnya untuk jatuh cinta, Selsa takut dengan kondisi Nadia.

__ADS_1


"Baik-baik saja?" Tanya Fabian panik, netranya memancarkan kehawatiran pada Selsa. Tangannya mengusap pundak Selsa pelan.


"Ya." Jawabnya setengah berbisik.


Untuk kedua kalinya Selsa terancam karena Nadia, untuk kedua kalinya Selsa akan terbunuh oleh Nadia dan untuk kesekian kalinya Selsa tercenung karena Fabian.


...---...


Renald kembali pada posisinya, didepan Fabian dan Selsa, ketika selesai menempatkan Nadia pada pembaringannya. Perempuan itu sudah tertidur akibat bius yang disuntikkan tadi, "Aku mempertemukan kalian disini untuk merundingkan sesuatu, ah bukan merundingkan tapi ada yang ingin kusampaikan." Ujar Renald memecah keheningan.


"Aku akan membawa Nadia pergi bersamaku, aku janji akan bertanggung jawab dan merawatnya sampai kembali seperti dulu." Imbuhnya yakin dengan keputusan yang diambil.


Fabian tertawa sinis dan mengejek,"Sinting, sudah keguguran dan kamu baru ingin tanggung jawab? Diaman otakmu Re? Semuanya sudah terlambat." Lantas lelaki itu bereriak, Fabian tidak terima.


"Aku tahu ini semua sudah terlambat, tapi aku akan menebus semua kesalahanku padanya Fab! Ijinkan aku membawa Nadia, aku janji, sumpah aku akan menjaganya."


"Jika terjadi sesuatu dengan Nadia, konsekuensi apa yang harus kamu tanggung?" Tanya Fabian datar.


Selsa mengalihkan perhatiannya pada Fabian, menatap lelaki itu tanpa minat, "Sudahlah Fab biarkan saja dia membawa Nadia! Re juga berhak atas Nadia, hak kamu dibanding Re jauh lebih besar Re!" Kesalnya karena Fabian semakin mengulur waktu.


"Tapi aku sahabatnya Sa, aku yang selama ini menjaga Nadia, Aku yang selama ini ada bersamanya, a-"


Protes Fabian terhenti, ketika Selsa membuatnya tak berkutik.


"Itu sama sekali bukan urusanku! Aku disini tidak membela siapapun, tapi menurutku Re lebih berhak. Kamu tahu anak siapa yang Nadia kandung saat itu? Jadi tolong biarkan Re membawa Nadia, tidak usah khawatir, Re mencintai Nadia sama seperti Nadia mencintaimu, jadi aku rasa dia bisa menjaga Nadia dan menepati ucapannya." Bentak Selsa yang sudah sangat amat kesal.


"Re memang berhak karena sudah menghamili Nadia, tapi bajingan satu itu meninggalkan Nadia setelah tahu Nadia hamil Sa. Seharusnya kamu tahu perasaan Nadia karena sesama perempuan." Bantah Fabian.


Renald menyaksikan semakin bingung sendiri, lelaki itu tahu perdebatan Fabian dan Selsa tak luput juga dari penglihatan Renald tadi; Selsa dan Psikiater.


"Buat apa aku tahu perasaan Nadia kalau Nadia saja tidak mau tahu perasaanku! Fab aku yakin Re punya alasan logis saat meninggalkan Nadia, jangan egois, Nadia bukan hanya milikmu." Sindir Selsa telak.


Fabian semakin menatap Selsa tak suka, "Kenapa kamu senang sekali Re membawa Nadia sih Sa? Kamu senang karena tidak ada yang mengusik kehidupanmu lagi? Atau kamu takut jika Nadia disini, dia akan merebutku darimu." Ujarnya percaya diri.


Seketika tawa Selsa menggema.


"Heh apa ini? Astaga aku lupa, urat malumu memang terputus dan tidak bisa disambung kembali. Pertama aku sedang tidak bersenang-senang atas apa yang menimpa kalian disini, aku juga berempati atas apa yang terjadi dengan Nadia. Yang kedua, terima kasih, aku sama sekali tidak takut jika sampah sepertimu direbut oleh Nadia. Dimanapun tempatnya, barang bekas memang selalu dibuang!" Lagi, Selsa meledeknya tanpa ampun.


Fabian mengangkatt tangannya menyanggah, "Koreksi, yang pertama kamu memang bersenang-senang. Nyatanya pergi dengan psikiater yang menangani Nadia, kalian berkencan dan-"


"Itu sama sekali bukan uusanmu Tuan Wardhana dan ini tidak ada hubungannya dengan kondisi Nadia! Aku berkencan dengan siapapun sama sekali tidak ada hubungannya dengan dirimu, paham?" Sela Selsa dengan alis yang menukik tajam.


Selsa mengalihkan atensinya pada Renald, wajahnya kebingungan dan Selsa paham maksud lelaki itu.


"Huft, sudahlah! Re bagaimanapun kita tidak akan pernah bisa damai dengan masa lalu. Kalau kamu ingin membawa Nadia dan menyembuhkannya, it's oke, aku percaya padamu. Dari pada aku membuang semua tenagaku untuk berdebat, lebih baik aku keluar saja." Ujarnya pada Renald.


Suasana menjadi canggung, hanya meninggalkan Renald dan Fabian diruangan besar ini. Renald merasa Fabian menguncinya dengan tatapan super tajam milik lelaki itu, namun kemudian ucapan dari lelaki itu membuatnya terkejut.


"Sampai telingaku mendengar Nadia celaka, aku orang pertama yang memotong-motong tubuhmu dan memberinya kepada paus lapar." Pungkasnya lantas menghilang.


Fabian mengejar Selsa, menarik lengan perempuan itu hingga langkahnya terhenti. Netranya memandang jauh kedalam mata Selsa, mengunci dan tak membiarkan perempuan itu pergi kemanapun.


"Apalagi? Apalagi yang kamu inginkan?" Tanyanya lirih.


Tanpa perintah Fabian menangkup sisi wajah Selsa, mendekatkan wajahnya dan bibir keduanya saling bersinggungan. Fabian menciumnya, astaga, si Sialan itu selalu bertindak tiba-tiba.


Hanya dibatasi tirai, dibalik pintu kamar inap Nadia, Fabian mencium Selsa dengan pelan. Demi apapun, kalau Fabian selembut ini Selsa akan ikut terbuai untuk menikmatinya. Menciptakan decakan aneh juga membutuhkan beberapa udara untuk dihirupnya agar tidak kehabisan nafas.


Fabian melancarkan aksinya ketika Selsa memberinya ruang, memperdalam pagutannya dan membuat Selsa terbang tinggi. Keduanya sama-sama menutup mata, saling menikmati pagutan satu sama lain. Hatinya sama berdebar dan telinga mereka dipaksa tuli untuk tidak mendengar apapun.

__ADS_1


Bukankah semua orang berhak mendapatkan kesempatan kedua?


Tapi ini bukan kesempatan kedua, ini kesempatan yang kesekian kalinya!


__ADS_2