My (Ex) Boyfriend

My (Ex) Boyfriend
Sebelas


__ADS_3

"Sempat tinggal di Amerika selama beberapa tahun. Kembali ke Indonesia karena ingin bergabung dengan Agensi besar dan juga menurut sumber dia belum bisa melupakan sang Mantan."


"Jadi dia di Indonesia hidup sendiri?."


"Tidak, dia bersama sahabatnya. Mina."


Senyum miring tercetak jelas diraut wajah ayunya. Tak salah dugaannya, ia yakin dengan gampang menghancurkan seorang Selsa. Kembalu bermain jahat untuk bisa membuat perempuan itu menderita.


"Kembali cari Informasi sebanyak-banyaknya. Aku ingin tahu banyak tentang perempuan itu." Perintahnya dengan tegas.


"Tidak semudah itu Nona. Kau juga harus mengirimkan aku banyak uang agar tugas itu lancar."


Perempuan itu berdecak sebal, lalu mengangguk sebagai jawabannya. "Jangan banyak bicara. Aku akan mengirimkan banyak uang jika kerjamu bagus. Bila tidak seperti yang ku mau, jangan harap uangku mengalir direkeningmu."


-


-


-


Seperti biasanya, Nadia selalu berkunjung hampir setiap hari ke Kantor Fabian. Namun hari ini ia tak membawakan makanan kesukaan lelaki itu, dengan alasan kebetulan hanya ingin mengunjungi Fabian saja.


"Bi nanti malam bisakah kamu menginap di apartemenku?."


Memijit keningnya pelan, lelaki itu sepertinya tak enak untuk menolak. Namun disatu sisi ada Selsa yang harus ia jaga perasaannya. Haruskan ia menyetujui permintaan Nadia dan membiarkan Selsa tidur di apartemennya sendiri?.


"Nad memangnya kenapa aku harus ke apartemenmu? Bukannya kau terbiasa sendiri?."

__ADS_1


Nadia mematung di tempatnya, apa baru saja ia mendengar penolakan halus dari Fabian?.


"Tidak biasanya kamu menolak permintaanku," merasa curiga, Nadia berujar sedikit kecewa, namun ia tetap menunjukkan senyum khasnya. "Ada yang kamu sembunyikan dari aku Bi?." Sambungnya bertanya.


Menelan ludahnya susah payah, Fabian menggeleng cepat. Wajahnya pucat pasi, jangan sampai Nadia tahu keberadaan Selsa di apartemennya. Dia akan memberitahu, tapi tidak sekarang. "Tidak, aku tidak menyembunyikan apapun."


Perempuan itu mengangguk, namun matanya mencoba menelisik kebohongan Fabian lewat tatapan mata lelaki itu. Dan hebatnya Nadia menemukan secarcik kebohongan disana. Tawa getirnya terbit sekilas, ia berpikir, apakah Fabian tak memganggapnya penting karena lelaki itu tidak menceritakan apapun padanya.


"Bian-,"


Fabian yang berdiri didekat jendela ruang kantornya menolah, alisnya bertaut. "Ya?."


Nadia berjalan kearahnya, melingkarkan tangan cantik itu ke lengan kekarnya juga menyenderkan kepala disana. "Kalau ada apa-apa cerita sama aku, jangan dipendam sendiri ya Bi."


Fabian tercekat. Tak ingin meninbulkan rasa curiga, lelaki itu hanya mengangguk sebagai jawabannya. Sejujurnya Ia tidak bisa dan tidak tega membohongi perempuan yang ada disampingnya ini, namun apalah daya-, keadaan yang memaksa.


"Dua hari lagi."


"Baiklah. Nanti kamu tidak perlu ke apartemenku. Aku yang akan ke tempatmu."


Lagi-lagi Nadia merasa aneh, ada apa dengan Fabian sebenarnya? Apa yang disembunyikan lelaki itu? Tak biasanya mencegah Nadia untuk datang ke Apartemen.


Aku harus cari tahu, apa yang terjadi dengan kamu Fab.


-


-

__ADS_1


-


Duduk manis di ranjang berukuran besar, Selsa memgedarkan pandangannya. Matanya menelisik apa saja yang ada didalam ruangan yang lumayan besar ini. Sudah sejak pukul sepuluh Selsa berada diruangan ini. Tak sendirian, ia bersama seorang laki-laki. Tak merasa takut jika terjadi sesuatu, Selsa percaya jika laki-laki itu akan menjaganya.


Pintu Walk in Closet terbuka, menampilkan laki-laki yang hanya mengenakan boxer dengan telanjang dada menatap kearah Selsa. Tersenyum dan mendekat lalu duduk ditepi ranjang, sebentar ia mengecup kening Selsa.


"Aku kira kamu sudah pulang."


Selsa menggeleng, wajahnya sedikit bersemu melihat laki-laki didepannya bertelanjang dada. "Pakailah bajumu Sakti!."


Tak mendengarkan ucapan Selsa, Sakti justru mendekatkan tubuhnya kearah perempuan itu. Entah setan dari mana, bibirnya mengecup mesra bibir Selsa. Mencecapnya dan menikmati rasa dari lipgloss yang dipakai Selsa.


Membiarkan Selsa mengambil banyak oksigen, Sakti melepaskan pagutannya. "Maafkan aku yang terbawa suasana Selsa." Ujarnya lirih.


Selsa tersenyum dan menggeleng, "Lanjutkan Sakti. Aku tidakpapa jika hanya sebatas berciuman, tinggalkan jejak dan buktikan jika aku hanya milikmu."


Sakti membelalak tak percaya. Ia laki-laki normal, mendapat perintah seperti itu yang membuat adrenalinnya terpicu. Sakti melanjutkan pagutannya dengan lembut. Sedangan ditempatnya Selsa hanya pasrah dan membalas pagutan mesra sang kekasih. Tak apa, ia rela jika Sakti yang menciumnya dari pada Fabian. Sakti pacarnya dan Fabian hanya seorang mantan untuknya.


Sekitar lima belas menit lebih mereka melakukan pagutan mesra itu. Jika Sakti tidak mengakhirinya lebih dahulu, mungkin keduanya akan bertindak jauh lebih dari ini, Itupun Sakti meninggalkan bekas merah dileher juga pundak Selsa. Sakti tidak mau, ia suda berjanji akan menjaga Selsa. Jika hanya sebatas Ciuman mesra akan sakti berikan, namun lebih dari itu, Sakti tidak akan melakukan apapun yang membuat Perempuannya menderita.


"Aku akan memesan makanan, selesai itu aku akan mengantarkanmu pulang. Karena aku tidak menjamin keselamatanmu jika terus berada disini."


Selsa mengangguk, ia condongkan wajahnya guna mengecup pipi Sakti. "Terima kasih. Aku mencintaimu."


"Jangan coba-coba menggodaku Darl." Bisik Sakti yang mengundang tawa Selsa.


"Sudah sana pesankan aku makanan. Aku lapar,"

__ADS_1


Pundaknya terdorong oleh Selsa yang mencoba mengusirnya. Dengan wajah sumringah, Sakti berjalan kearah lemari besarnya. Mengambil kaos santai lalu beranjak untuk memesan makanan untuknya juga Selsa.


__ADS_2