My (Ex) Boyfriend

My (Ex) Boyfriend
Empat puluh delapan


__ADS_3

"Ini kesekian kalinya aku penasaran, sebenarnya siapa yang hamil, Selsa?"


Mulutnya mengumpat kata 'sialan' begitu tubuhnya memberi respon tercengang, ketika mendapati sebuah pertanyaan. Dari suaranya saja dia paham, untuk apa orang itu menanyakan, haknya apa?


Tubuhnya memutar menghadap penuh orang yang melayangkan ekspresi penuh tanda tanya, "Urusannya denganmu apa ya?" Ucapnya balik bertanya, dengan intonasi tidak suka.


"Apa itu anak dari-"


"Hentikan mulut sialanmu, jangan pernah mengeluarkan asumsi yang tidak-tidak, aku sama sekali tidak pernah berhubungan dengan bajinganmu." Sela Selsa berapi-api.


Batinnya tersinggung dan tentunya perempuan itu tahu apa yang akan diucapkan lawan bicaranya.


"Seharusnya aku yang menanyakan keadaanmu selama ini Nadia, kamu hamil dan mirisnya kekasihmu tidak mau bertanggung jawab. Setimpal dengan penderitaanku selama ini, bukan?" Suara tawa Selsa terdengar nyaring dan mengejek.


Sedangkan perempuan yang disapa Nadia itu seketika menghilangkan senyum yang sedari tadi bertengger, wajahnya berganti datar dan bisa didengar geraman kesalnya disana.


Nadia maju selangkah, hanya berjarak beberapa senti tetap didepan Selsa, tubuh Selsa otomatis mundur dan menabrak rak yang dipenuhi susu ibu hamil.


"Jangan macam-macam denganku Selsa, aku bisa melakukan apapun untuk menyingkirkanmu dari hidup Fabian, dan ini permintaanku yang terakhir; pergi dari Jakarta atau perlu ke luar negeri, masalah biasaya aku yang akan menangung."


Lagi, Selsa tidak menampakkan ekspresi ketakutan atau apapun. Perempuan itu justru mengejek dengan tawa juga seringaian licik.


"Jadi ini sifat asli seorang Elena Dianti yang selalu dibela Fabian? Ah seharusnya aku menyiapkan alat perekam tadi, merekam semua perkataanmu, dan aku akan mengirimkan kepada Fabian."


"Sialan-"


"Elena Dianti yang begitu tergila-gila dengan kekasihku-ah maksudku mantan pacarku-" seringaian licik terbit diwajah Selsa, Nadia otomatis memberi jarak dengan mengambil langkah mundur, "cukup tergila-gila sampai orangnya pun menjadi gila, dengarkan aku, sama sekali aku tidak perduli dengan ancamanmu, lakukan saja apa maumu dengan itu tidak akan kuperdulikan." Ketusnya dengan tatapan tajam dan intonasi sengit.


Plak!

__ADS_1


Ini benar-benar terkejut! Selsa baru saja ditampar Nadia, dan begitu Selsa mengalihkan tatapan untuk kembali menatap Nadia, gurat gusar dan cemas ada disana. Perempuan itu sedikit bergetar tangannya, dan Selsa hanya memberi respon tidak perdulinya.


"Seharusnya kamu membawa Fabian ketempat ini Nadia, agar lelaki itu tahu perempuan yang dibela dan dilindungi mati-matian kelakuannya seperti ini."


Selsa bahkan tak mau emmbalas perlakuan Nadia yang begitu keterlaluan.


"A-asal kamu tahu, rasanya aku ingin membunuhmu dan mengubur jasadmu ditempat yang tidak akan ada orang yang tahu. Hidupmu terlalu menyebalkan untukku Sa, semua orang kamu rebut termasuk Fabian." Pekiknya tidak terima, tentunya dengan nafas yang menggebu-gebu.


"Bukannya aku sudah bilang, kalau kamu ingin Fabian, ambil saja Nadia. Aku sekarang tidak perduli, bahkan aku setengah tahun ini mencoba sabar dan hidup normal tanpa gangguan apapun. Nyatanya lelaki yang kamu inginkan terus mengirimiku bunga, terus mengirimiku pesan yang sering kali kuabaikan. Seharusnya kamu cegah dia sialan, jangan sampai dia kembali padaku."


Yang ia tahu, darahnya membeku seketika mendengarvpernyataan Selsa. Jadi Fabian menyenbunyikan ini semua selama enam bulan, dan hanya menyimpannya sendiri?


"A-apa? Fabian selama ini mengirim bunga untukmu?" Tanyanya ulang, tidak percaya.


"Ya! Terkejut? Tapi sayangnya itu sudah tidak berarti apa-apa, tolong katakan padanya, berhenti atau aku bemar-benar menghilang dan tidak akan kembali lagi." Tangannya kembali meraih sekotak susu berukuran besar di rak, langkahnya perlahan meninggalkan Nadia.


"Tunggu-" cegahnya cepat membuat Selsa menghentikan langkah, "mari lakukan kesepakatan!" Ajaknya setengah lirih.


"Tinggalkan Fabian, aku akan kirim berapapun uang ke rekeningmu, asal kamu mau meninggalkan Fabian. Jangan lagi muncul dihadapan Fabian maupun diriku, pergi yang jauh Selsa. Berapapun yang kamu inginkan akan aku kirim." Pinta Nadia dengan nada memohon.


Selsa tidak tahu ekspresi Nadia seperti apa, yang jelas dugaannya, pasti sangat menyebalkan dan penuh keangkuhan. Berasa mempunyai hak lebih untuk memiliki Fabian, si bajingan gila.


Membalikkan badan, Selsa menatap Nadia tanpa minat. Sorotnya datar dan lebih jemawa.


"Wah terima kasih banyak Nadia, ini sangat menguntungkan bagiku, tapi tidak usah repot-repot dan terima kasih. Uangku jauh lebih banyak darimu," jedanya sebentar, menarik nafas dan menghembuskannya pelan, "tanpa kamu perintah juga aku sudah menjauhi Fabian. Ternyata benar, peran orang ketiga ternyata se-miris ini, aku kira seperti dalam Drama kesukaanku, peran orang ketiga selalu diutamakan. Nyatanya nasib orang ketiga begitu na'as dan mengenasakan." Imbuhnya lantas berjalanen meninggalkan Nadia yang cengo.


Disetiap langkahnya meninggalkan Nadia, yang terbengong-bengong ditempatnya, Selsa sesekali mengusap pipinya yang perih dan masih terasa panas. Tamparan Nadia begitu keras, mungkin efek emosional perempuan itu hingga ini akibat yang harus ditanggung. Sial, rasanya kenapa ingin menangis juga?


Aku tidak akan kembali luluh dengan semua permohonanmu Nad, aku ingin kamu merasakan apa yang aku rasakan. Ambil Fabian, aku sudah tidak butuh.

__ADS_1


...---...


Brak!


Begitu keluar dari super market, mengabaikan fokusnya berjalan, tubuhnya terpental ketika bertubrukan dengan seseorang. Ini kesialan Selsa, selalu saja bertubrukan dengan seseorang di super market, mungkin karena terfokus pada barang yang akan dibeli, tapi ini sedikit berbeda; diluar dan tepatnya pas sekali dengan pintu masuk. Mau tidak mau harus menanggung malu, apalagi dia sendirian.


"Maaf saya tidak sengaja," ujar orang yang menabraknya tadi setelah membereskan semua belanjaannya.


Selsa menerima beberapa belanjaan yang sudah di rapikan, "Em- tidak apa-apa, saya juga salah karena tidak fokus."


Merapikan bajunya dan berdiri, begitu mendongak, Selsa mengernyitkan keningnya merasa asing. Tapi tak dipungkiri, ia sempat menberikan senyum tipis begitupun lawan bicaranya.


Orang yang menabraknya menyodorkan sebuah kartu nama, berwarna putih biru, diatas sana tertera nama dan beberapa digit angka yang bisa dihubungi.


"Sekali lagi maafkan saya, saya tidak sengaja, kalau butuh apa-apa kamu bisa hubungi saya." Orang itu terus menunduk meminta maaf, sampai Selsa tidak enak.


"Baiklah, tap-"


Sebelum Selsa melancarkan kalimatnya, lawan bicaranya pamit begitu saja. Mungkin memang ada hal yang benar-benar penting, jadi Selsa membiarkannya begitu saja. "Maaf saya harus pergi, jangan lupa hubungi saya kalau perlu sesuatu. Permisi."


Samuel Wiliam Pratama.


Selsa tersenyum singkat membaca Nama yang tertera disana, mengalihkan tatapannya mengamati lelaki yang semakin juah didepannya. Tangannya memasukkan asal kartu nama itu dalam dompetnya yang berwarna hitam.


"Terima kasih, saya akan menghubungi kamu." Teriak Selsa membuat orang disekitar menatapnya aneh.


Perempuan itu tersenyum kikuk, ketika tak sengaja menatap lelaki yang baru bertabrakan dengannya tadi, Selsa melihat lelaki itu tersenyum sebelum memasuki mobil dan mengemudikan-nya cepat.


Tak memperdulikan orang-orang yang menatapnya aneh, Selsa berjalan menuju tempat dimana mobilnya terjejer. Mengendarai dengan kecepatan standar, sesekali bibirnya bersenandung lucu juga merdu. Dirinya seketika melupakan sakitnya tamparan Nadia karena bertemu seorang lelaki yang menabraknya tadi. Tidak, Selsa tidak akan jatuh cinta secepat atau sesingkat itu, Selsa hanya terkekeh lucu ketika mengingatnya.

__ADS_1


Mengingat bagaimana lelaki itu memberesi belanjaannya, bagaimana cara lelaki itu berbicara, bagaimana cara lelaki itu meminta maaf dan bagaimana cara lelaki itu menatap. Ini benar-benar lucu, Selsa tidak akan pernah melupakan peristiwa selucu ini.


__ADS_2