
Tubuhnya dipaksa semangat walau tak memungkiri rasa lelah yang setengah mati menikamnya. Tangannya beberapa kali memijat pelan pangkal hidung juga pelipis kala kepalanya pening karena berputar tak karuan. Kebetulan Dokter Riris dipindah tugaskan di salah satu rumah sakit terkenal yang ada di Luar Negeri, jadi untuk sementara Nadia yang menangani hanya Dokter umum. Harus menunggu pagi untuk bertemu dengan Dokter baru yang menggantikan Dokter Riris.
Kalau Nadia sadar, mungkinkah akan mempunyai malu dan meminta maaf pada Selsa? Karena apa, sekarang didepan ruang rawat inapnya, Selsa, Fabian, Vano maupun Mina tengah berjaga dan berteman dengan larutnya malam. Mereka tidak perduli dengan beberapa kali orang berlalu lalang didepannya, mereka juga tidak memperdulikan punggung yang jika digerakkan terasa ngilu karena terlalu lama duduk dikursi sana, yang sekarang mereka pikirkan adalah Nadia, bagaimana kondisi janinnya juga bagaimana mental Nadia untuk saat ini.
Sedangkan Vano sedari tadi memaksa Mina untuk pulang dan istirahat, Vano tidak ingin istrinya kelelahan dan berakibat pada kandungan sang istri, namun Mina bersikeras untuk menemani Selsa. Sebenarnya dalam hati selalu berujar tak sudi jika harus menunggu perempuan tidak tahu diri itu sadar, tapi hatinya sedikit luluh karena Selsa yang notabennya sudah disakiti, mau menunggui Nadia sampai sadar.
Dan untuk Selsa maupun Fabian, keduanya sama-sama belum berbicara sejak kedatangan mereka beberapa jam yang lalu. Hening menguasai walau duduk bersebelahan, Fabian dengan wajah yang menunduk dan beberapa kali mengacak-acak rambutnya kasar, dan Selsa menatap ke berbagai arah dengan tangan yang saling bertaut dan memainkan kukunya yang sedikit panjang.
Hanya perlu menunggu hitungan jam, sekitar delapan jam atau sembilan jam, Dokter yang menggantikan Dokter Riris datang. Mereka sedikit was-was karena menunggu kedatangan Dokter yang begitu lama, sedangkan didalam sana Nadia belum sadar dari semalam.
Ketukan sepatu yang menapak pada lantai terdengar semakin nyaring menuju ruang rawat inap Nadia, begitu sampai didepan ruangan, Dokter melihat empat orang tengah berjaga didepan sana.
"Permisi, saya akan memeriksa Nadia terlebih dahulu." Kalimat pertama kali yangembuat Fokus kermpatnya teralihkan.
Suara itu, yang didengarnya beberapa hari lalu.
Selsa mendongak menatap Dokter yang baru saja menumpahkan kalimatnya, matanya membelalak sempurna ketika melihatbsiapa yang ada disana. Begitupun Dokter yang berdiri didepan Fabian itu.
"S-samuel?" Tanya Selsa memastikan.
"Oh Hai, iya saya Samuel. Senang bisa bertemu denganmu lagi," jawab Samuel ramah.
Selsa hanya mengangguk kikuk. Sedangkan Mina, Vano dan Fabian terheran ketika melihat Selsa sepertinya begitu kenal dengan Dokter baru.
Samuel memasuki ruang rawat inap Nadia, untuk beberapa saat memastikan kondisi Nadia yang masih belum sadarkan diri. Samuel sendiri adalah psikiater yang dipindah tugaskan di Jakarta, dan secara kebetulan bertemu dengan perempuan yang ditabraknya beberapa hari lalu.
"Kondisi pasien belum sadar dari semalam, jadi saya belum bisa memastikan bagaimana kondisi mentalnya. Setelah sadar saya akan kembali memeriksanya," begitu keluar dari ruangan Nadia, Samuel kembali menemui empat orang yang berjaga didepan ruang inap Nadia.
"Untuk kandungan Nadia bagaimana Dok?" Tanya Fabian cepat.
Mina dan Vano mengumpati Fabian bodoh, sudah tahu Dokter baru adalah Dokter khusus kejiwaan tapi malah dintanyai tentang kandungan.
"Maaf sebelumnya, masalah kandungan tolong konsultasikan dengan Dokter khusus saja. Semalam sudah bertemu dengan Dokter khusus kandungan kan?" Jawab Samuel.
__ADS_1
"Sudah tapi tidak mengucapkan apapun,"
Samuel setengah terkejut, "Benarkah? Setelah ini saya akan menemuinya di ruang Dokter," kata Samuel Ramah. Fokusnya teralih pada Selsa yang juga menatapnya, "Saya ingin ajak kamu ke Kantin sebentar, boleh?" Tanya Samuel pada Selsa.
Selsa tergagap, semua menatapnya aneh. Walau ragu, tapi perempuan itu mengangguk, "boleh." Jawabnya pelan.
"Baiklah, mari ikut saya." Selepas kepergian Samuel, Selsa berjalan mengikutinya, namun baru mengambil langkah beberapa kali, Fabian menahannya.
"Kemana? Temani aku disini Sa!" perintahnya setengah memaksa.
"Aku akan bertemu Dokter Samuel, ada yang harus ku selesaikan." Jawab Selsa tegas.
"Apa urusanmu dengannya?"
"Kamu tidak perlu tahu Fabian, lepaskan tanganku." Paksa Selsa membuat Fabian seolah mati rasa.
Mau tidak mau Fabian melepaskan tangan Selsa dan membiarkan perempuan itu berjalan mengikuti Samuel. Seperti ini lah rasanya diabaikan? Fabian baru tahu, mungkin ini rasa balas dendam Selsa yang sudah ia campakkan beberap kali, eh ralat, berkali-kali. Matanya menatap nanar langkah Selsa yang semakin menjauh, hatinya sembiluan dan sesaknya membuat kelimpungan. Tapi tunggu, diam-diam ada yang retak dari anggota tubuh Fabian.
...---...
Samuel menyodorkan segelas capucino dingin dihadapan Selsa, sedangkan dirinya lebih memilih Kopi panas yang siap diteguk beberapa kali. Tujuannya mengajak Selsa ke kantin rumah sakit adalah untuk meminta maaf kejadian beberapa hari lalu.
"Ah tidak apa-apa Dokter, saya juga tidak fokus waktu itu." Jawab Selaa tak enak.
"Jangan panggil saya Dokter, Samuel saja." Ujarnya membenahi.
"Ah baiklah, S-samuel."
Setelah itu keduanya sama-sama canggung. Samuel yang selalu menampilkan senyum ramahnya, sedangkan Selsa memilih untuk mengaduk-aduk capucino dinginnya dengan sedotan yang sudah disediakan. Beberapa kali pandangnya bertemu, hanya saling tersenyum dan mengangguk.
"Eh omong-omong, pasien tadi siapa kamu? Kakak?" Tanya Samuel penasaran.
Rasanya tidak sudi mempunyai kakak seperti Nadia, Sam.
__ADS_1
"Ah tidak, aku tidak kenal. Dia teman dari sahabatku." Kilahnya berbohong.
Samuel hanya mengangguk paham, "lelaki tadi sepertinya khawatir sekali ya dengan Nadia, kamu tahu dia siapa?"
"T-tidak, aku tidak tahu. Kebetulan disana aku hanya kenal dengan perempuan yang hamil juga Vano, suaminya, yang tadi berdiri dibelakangku." Kata Selsa yang terus berbohong.
"Ah baiklah, em-dimana rumahmu? Akan kuantarkan pulang." Seru Samuel membuat Selsa terkejut.
Dia selalu berterus terang.
Selsa sedikit gugup, dengan itu dirinya sesekali membenarkan anak rambutnya yang sedikit berantakan, "Aku tinggal bersama sahabatku, jadi tidak usah."
"Tidak apa-apa, sebagai permintaan maafku karena menabrakmu waktu itu." Paksa Samuel halus.
"Sungguh, itu bukan masalah yang besar. Aku bisa pulang bersama sahabatku nanti."
Smauel tertawa ringan, satu hak yang baru disadari Selsa, Samuel mempunyai lesung pipi yang membuatnya lebih terlihat manis, "Serius Selsa, aku tidak apa-apa. Boleh ya?" Paksanya sekali lagi.
"Baiklah, siang nanti antarkan aku pulang." Selsa tak bisa menyembunyikan senyumnya, mengangguk menyetujui dan kemudian saling melemparkan tawa.
"Siap. Em- boleh aku berteman denganmu?"
Selsa mengangguk, "kamu bukan orang Jakarta ya?" Tanya Selsa yang diangguki Samuel.
"Aku asli Surabaya, tapi dipindah tugaskan ke Jakarta, jadi aku sama sekali belum mempunyai teman."
Setelah itu tangannya mengangkat gelas kopi dan ditegaknya sekali kemudian kembali diletakkan.
"Benarkah?"
"Iya Selsa, kamu teman pertama saya disini."
Teman pertama, entah kenapa terdengar asik sekali. Selsa tergagap lantas mengangguk gugup, "Em- I-iya, hehe."
__ADS_1
Setelah itu mereka berdua dilibatkan dengan obrolan-obrolan ringan, entah itu alasan kenapa Samuel dipindah tugaskan ke Jakarta, entah itu kenapa saat itu Samuel menabraknya atau entah kenapa Samuel bertanya siapa orang terkasih Selsa.
Pertanyaan yang mampu mengejutkan hati dan pikiran Selsa, namun karena akting yang negitu bagus, Selsa mampu mengendalikan semuanya.