My (Ex) Boyfriend

My (Ex) Boyfriend
Delapan


__ADS_3

Menghempaskan Tubuh Selsa ke ranjang besar milik nya, Bian menatap Selsa berapi-api. Jengah rasanya melihat sifat keras kepala Selsa yang tak pernah berubah sejak dulu, sama seperti dirinya. Berdiri agak jauh dari tempat Selsa, Bian melihat bahwa perempuan itu seperti nya ketakutan.


"Kenapa kamu keras kepala sekali Selsa? Aku hanya meminta kamu menjadi model ku, apa susah nya?." Teriak nya seakan memaki Selsa.


Selsa tetap diam, ia bertekad tak akan menangis jika berhadapan dengan Bian. Bahkan tadi ia sudah mengusap air matanya.


"Dari pada kau bekerja memamerkan tubuh mu, lebih baik kau kerja bersama ku. Brand yang kau pakai tidak seperti di tempat mereka yang menyuruh mu memakai Bikini sialan dan hampir telanjang itu."


"Memang kenapa aku Telanjang, ada urusan nya dengan mu?." Tanya nya sarkas. Matanya menatap tajam Bian.


Bian mendekat kearah Selsa yang masih diduk di atas Ranjang. Ia berjongkok di depan Selsa, tatapan nya melembut.


"Aku tidak suka melihat tubuh mu dinikmati orang lain Selsa. Kau tidak seharusnya melakukan ini. Mana Selsa yang dulu?."


Selsa juga menatap Bian yang sudah melunak, hati nya sesak mengingat kejadian dulu dimana dirinya dan Bian harus berpisah. Matanya berkaca-kaca menatap manik mata Bian.


"Selsa yang dulu sudah tidak ada Bian. Aku muak menjadi Selsa yang dulu, di permainkan, di bohongi dan juga di campakkan. Dan tentunya Selsa yang dulu beda dengan Selsa yang sekarang." Lirih nya.


Tangan Bian terangkat untuk mengenggam tangan Selsa, "Berhenti menjadi orang lain. Ini bukan Selsa yang ku kenal."


"Kamu yang harus nya berhenti. Kita sudah tidak ada hubungan apapun dan kamu masih mencampuri urusan pribadi ku."


"Aku masih mencintai kamu Selsa! Aku masih ingin bersama dengan kamu, apa itu salah?."


Selsa menggeleng, dilepaskan nya genggaman tangan Bian. "Aku tidak bisa Bian. Kita sudah tidak bisa bersama-sama lagi, kamu fokus saja di kehidupan kamu begitupun aku."


"Tidak Selsa. Aku tidak suka penolakan, Mulai sekarang kamu tinggal di apartemen ku. Aku membebaskan mu tidak lagi menjadi model ku, asal kau mau menyetujui persyaratanku yang ini. Aku juga memberimu kebebasan membawa Mina kemari, tapi jangan pernah kau membawa laki-laki manapun kesini. Atau ku pastikan laki-laki itu akan habis olehku."


Selsa menatap nyalang Bian. Dada nya kembang kempis karena kehabisan stok udara. Ternyata Bian seegois ini kepada nya.


"Kamu Egois Bian. Kenapa kamu melakukan ini? Aku sudah tidak mencintai kamu lagi Bian, sadarlah. Aku sudah mencintai orang lain, dan kamu tidak berhak membatasi pergaulanku bersama laki-laki manapun." Ujarnya beralibi.


"Persetan dengan laki-laki lain, Kau tetap berada disini. Jangan bawa laki-laki manapun kesini, dan Jika kau ingin pergi, pergilah bersama Sopir yang sudah ku sediakan."


Bian berdiri, berjalan meninggalkan Selsa yang masih mendengus sebal.


-


-


-


Tidak ada yang bisa Selsa lakukan kecuali hanya berbaring diatas Ranjang besar milik Bian. Ini hari pertama nya berada di apartemen Bian, tak berniat beraktivitas, Bian pun nampak nya sudah menyediakan sarapan pagi untuk Selsa. Namun perempuan itu tak ada minta untuk menyentuh makanan nya sedikit pun.


Berbicara soal apartemen, Bagaimana dengan Mina sekarang. Mina pasti sendiri di apartemen Selsa. Memikirkan itu sukses mengembalikan kemurungan wajah Selsa. Ah iya, Bukan kah kata Bian ia bebas Mengajak Mina ke apartemen ini? Ya dia akan menghubungi Mina sekarang.


"Halo Mina-," ujar nya membuka percakapan ketika Ponselnya terhubung.


[Ada apa Selsa? Tumben menelfonku]


"Mina bisa ke Apartemen Bian sekarang? Temani aku,"


[Aku tidak mau Bian memarahi ku nanti nya. Pasti dia akan marah kalau tahu aku kesana]


Selsa menghembuskan nafas nya, "Tidak Mina. Bian sudah bicara semalam, dia memberi ku Ijin untuk membawa mu kesini."


Selsa mendengar Mina menghebuskan nafas nya juga di seberang. [Baiklah, aku akan kesana sekarang. Aku juga ingin membicarakan sesuatu kepada mu]


Selsa mengangguk walaupun Mina tak akan mengetahui nya. Ia memutuskan sambungan ponsel nya. Menyimpan nya di samping ia tidur.


Sambil menunggu kedatangan Mina, Selsa berjalan menuju Walk in Closet untuk sekedar membersihkan diri. Ia lupa bertanya kepada Bian, dimana laki-laki itu menyimpan pakaian nya dan juga barang-barang nya yang lain. Tanpa minat berpikir keras, Selsa berjalan menuju Lemari besar yang ada di sisi Kiri Ranjang. Membuka lemari itu dan memilih beberapa Baju, walaupun ia tahu itu adalah kumpulan pakaian Bian. Namun ada satu baju yang menyita perhatian Selsa. Ia tidak salah dan masih ingat betul, Bian paling tidak suka melihat warna Pink atau mengoleksi apapun yang berwarna Pink. Tapi ini- Selsa menemukan sebuah kaos berkerah V yang bertuliskan Famous dan berwarna Pink terletak disana. Pikiran nya seketika melayang jauh, namun tak jauh dari teman kencan Bian.


Pasti punya temen kencan nya. Siapa perduli, suruh siapa tak memberitahu dimana letak pakaian ku.


Selsa melepas kaos nya dan berganti dengan kaos pink yang nampak cocok di tubuh nya. Melipat kaos kotor nya di Walk in Closet, Selsa berjalan meninggalkan kamar Bian. Bel Apartemen berbunyi, Senyum nya mengembang. Mina.


"Mina," Selsa antusias menyambut Mina, "Ayo masuk. Katanya kamu ingin berbicara kepada ku." Ujar nya riang. Mood nya kembali hanya dengan bertemu dan bersama Mina.


Selsa membawa Mina duduk di sofa apartement Bian. Bahkan di depan Sofa itu terletak sebuah Televisi besar, kemungkinan besar keduanya akan menghabiskan waktu untuk menonton film.


"Ada apa kau menyuruhku kemari?."


"Mina bantu aku keluar dari sini. Aku tidak mau terus-terusan tinggal bersama laki-laki bodoh itu."


Mina menggeleng, "tidak Selsa! Aku sudah berjanji dengan Bian kalau aku akan membiarkan mu tinggal bersama Bian."

__ADS_1


Selsa membelalak. Menatap tak percaya Mina, wajah nya berubah kesal.


"Kenapa kamu tega sekali dengan sahabat mu Mina?," Selsa mengehentakkan kaki nya kesal. "Bagaimana kalau aku di apa-apakan Bian? Aku tidak mau Mina-, Kau tak dengar waktu itu aku bercerita tentang dia yang menanyakan harga ku semalam?. Ayolah Mina bantu aku keluar dari sini." Rengek Selsa.


Mina tetap menggeleng tegas. Ia percaya bahwa Bian tidak akan melakukan hal jahat kepada Selsa, Bian masih mencintai Selsa dan Mina yakin Bian akan menjaga Selsa, Bukan merusak Selsa.


"Apa kamu tidak melihat ketulusan laki-laki itu Selsa?,"


"Aku sudah tidak percaya dengan Dia Mina. Bahkan dia sudah menghancurkan kepercayaan ku sejak tiga tahun yang lalu."


"Bukan nya kamu yang memutuskan pergi dari Dia?."


"Tapi aku pergi ada alasan nya Mina. Tidak mungkin aku pergi begitu saja kalau tidak ada sebab nya."


"Kalau begitu jelaskan padaku, apa sebab nya waktu itu kau pergi?."


Selsa tercenung. Ia memalingkan wajah nya. Kenangan nya tiga tahun yang lalu kembali hidup, mengingatkan kebersamaan nya dengan Bian. Selsa menggeleng, kembali menepis jauh-jauh.


"Lupakan Mina. Oh iya katanya tadi kamu ingin berbicara kepadaku? Berbicaralah!." Ujarnya mengalihkan pembicaraan.


Sebelum berbicara, Mina mengambil banyak udara agar nanti ia tak kaku ketika meluncurkan kalimat nya. Menghembuskan nafasnya lalu kembali berucap, "Sakti semalam ke Apartemen mu."


Selsa membelalak, menepuk jidat nya dan menggeram kesal. Ia lupa, semalam ia ada Janji dengan Sakti. Laki-laki yang enam bulan belakang ini dekat dengan nya.


"Mina aku melupakan nya," teriaknya histeris. "Aku sudah janji untuk pergi makan malam, tapi semalam si bodoh Bian mengajak ku bertengkar." Lanjutnya kesal.


Mina terkekeh di tempat nya, "Sudahlah kamu lupakan Sakti dan kembali dengan Bian. Aku yakin Bian adalah laki-laki yang tepat untuk mu,"


Selsa berdecih, "Sejak kapan kau mulai mendukungku dengan laki-laki sialan itu? Bukan kah kemarin kau mengusirnya? Berbicara ingin memecahkan kepalanya, mengambil otaknya dan memindahkan ke kepala Gorila, Dan tiba-tiba sekarang kau malah mati-matian mendukung jika aku bersama nya."


"Sejak aku tahu beberapa alasan yang di beberkan Vano, sahabat Bian."


"Hah, Vano? Mina jangan sampai aku mendengar kabar kalau kau dekat dengan laki-laki buaya itu, katakan tidak Mina!."


Mina tertawa di tempat nya, Selsa lucu sekali ternyata ketika berada di situasi seperti ini. "Kalau aku dekat dengan Vano memang nya kenapa? Sudahlah kamu tidak perlu memikirkan aku dan Vano. Pikirkan dirimu dan bagaimana nanti hubungan mu dan Bian."


Selsa menggeleng tidak terima. Satu kalimat meluncur dari bibirnya membuat Mina menganga tak percaya, "Malam ini kau harus membantuku Dinner dengan Sakti. Sudah lama aku tidak bertemu dengan laki-laki itu."


"Tidak mau! Bisa di penggal kepala ku nanti sama Bian."


Sudah seperti ini Mina tak bisa menolak, ia tak tega jadi Mina menghembuskan nafas kesal nya. "Baiklah aku akan membantumu kali ini."


Selsa tertawa senang. Memeluk Mina sebentar lalu mengucapkan kata beribu-ribu terimakasih pada sahabat nya itu.


-


-


-


"Semalam aku ke Apartemen mu. Tapi aku hanya bertemu Mina disana,"


"Oh iya hehe-, Aku sedang menginap di tempat saudara ku. Maafkan aku karena aku melupakan Makan malam kita,"


Makan malam romantis disalah satu Restoran yang bernuansa Aesthetic adalah salah satu keinginan yang ada di catatan panjang Selsa dan Sakti mengabulkan nya malam ini. Restoran nya tak cukup mewah, hanya kesan sederhana yang mampu mewakili Restoran ini.


Setelah siang tadi Mina berpamitan untuk pulang, Selsa mencegah nya dan memutuskan untuk mengikuti Mina. Tak membawa apa-apa, nanti fikirnya Selsa akan meminjam baju Mina untuk Makan malam Romantis nya.


Sakti meraih kedua tangan Selsa yang ada diatas meja. Diganggam nya tangan Halus Selsa. Ia tersenyum, begitipun Selsa. Walaupun Selsa tahu kalau dirinya belum mencintai Sakti, Selsa akan belajar dan nampak nya laki-laki di hadapan Selsa ini sungguh-sungguh untuk mendapatkan nya. Jadi tak ada Salah nya Selsa mencoba, ia membalas genggaman tangan Sakti.


"Aku merindukan mu Selsa. Sudah lama kita tidak bertemu," ujar nya lembut dan sungguh menenangkan Hati. Tak seperti Bian yang sering berkata pedas dan membentak nya.


"Aku juga merindukan mu Sakti,"


Sakti lagi-lagi tersenyum mendengar penuturan Selsa. Malam ini ia tak menyangkal bahwa dirinya sungguh bahagia karena bertemu Selsa. Apalagi sejak Sakti mengurus Cabang bisnis nya yang ada di luar kota, jadi jarang sekali dia bisa bertemu Selsa. Bahkan hampir tidak pernah.


"Selsa berjanjilah kepadaku bahwa kau tidak akan meninggalkan ku."


Tercenung sebentar, wajah nya sedikit cengo. Namun dengan Cepat Selsa menetralkan nya. Dia tersenyum agak kikuk kepada Sakti. Rasa Aneh menjalar di dada nya, dan tiba-tiba nama Bian muncul di pikiran nya.


Bian-Bian-Bian.


"Selsa kamu kenapa?." Tanya Sakti ketika menyadari perubahan wajah Selsa.


Selsa menggeleng, ia kembali tersenyum. "Aku berjanji Sakti. Kau juga harus berjanji bahwa kau tidak akan meninggalkan ku, apapun keadaan nya."

__ADS_1


Karena aku takut kalau kamu tahu masalalu ku kamu yang akan meninggalkan ku Sakti.


"Tidak pernah, aku tidak akan pernah meninggalkan mu. Kecuali kalau kau yang meminta untuk ditinggalkan," tuturnya kalem. "Dansa-?,"


"Hah-apa? Dansa-?."


"Iya Darl,"


"Boleh-," Selsa sedikit berpikir, ia malu untuk mengatakan nya. "ajari aku." Sambungnya malu-malu.


Sakti, tipikal laki-laki kalem dan menerima apa adanya. Selsa beruntung bertemu Sakti, laki-laki tak banyak menuntut dan menerima Selsa apa ada nya. Walaupaun Selisih usia Dua tahun, Sakti dua puluh Empat dan Selsa dua puluh Dua, Selsa nyaman berada di samping Sakti.


Sakti bergeser dan menarik tangan Selsa. Keduanya berdiri berhadapan, membawa Selasa dalam jarak yang lumayan dekat dengan nya. Ia meletakkan kedua tangan Selsa diantara pundak nya, lalu ia meletakkan kedua tangan nya di pinggang ramping Selsa. Mengikuti alunan musik kalsik, kedua nya seketika menjadi sorotan sekitar. Bahkan diam-diam ada yang memotret Selsa dan Sakti karena dia tahu Selsa adalah Model Sensasional.


Dalam jarak sedekat ini Selsa maupun Sakti merasakan hembusan nafas masing-masing, keduanya masih tak memperdulikan suasana sekitar. Masih tetap melanjutkan Dansa nya. Selsa terssenyum tulus begitupun Sakti, "Terimakasih Sakti, Malam ini kamu membuatku bahagia."


-


-


-


Selsa memasuki Apartemen Bian dengan santai. Melenggang memasuki kamar Bian dengan raut bahagia. Masa bodoh dengan aturan yang di buat Bian, Begitupun ia harus tinggal di apartemen Bian, asalkan Selsa masih bisa bertemu Sakti. Satu-satu nya laki-laki yang mengerti Selsa dan menuruti semua kemauan Selsa. Dan Sakti juga sedikit membantu Selsa melupakan Bian, walaupun hanya sedikit.


"Dari mana saja kamu?." Tanya Bintang ketus. Bian muncul dari balik Walk in Closet. Laki-laki itu sempat melihat jam dan menunjukkan pukul sepuluh.


Selsa tak menjawab, tak tahu sejak kapan ada meja rias dikamar Bian, Selsa duduk di kursi rias tersebut. Melepaskan aksesoris yang dipakai nya dan tak lupa membersihkan sisa make up yang masih ada di wajah nya.


"Dimana kamu menyimpan baju dan barang-barang ku? Aku lelah dan ingin cepat berganti pakaian."


Bian masih tidak puas. Ia duduk di ranjang besar nya dan menghadap Selsa yang masih menghapus sisa make up nya. Meneliti penampilan Selsa malam ini.


"Kamu tidak menjawab pertanyaan ku? Dari mana saja Selaniva?."


Masih sama jawaban nya. Perempuan cantik itu tak bergeming. Ia menatap lurus pantulan dirinya yang ada di cermin. Dari dalam tas kecil yang ia pakai tadi Selsa mendengar ponsel nya berbunyi. Dengan cepat meraih dan membaca sebuah pesan masuk untuk nya, dan tentunya dari Sakti.


Terimakasih juga untuk malam ini. Aku mencintaimu.


Selsa tersenyum, ingin mengetikkan balasan namun ponselnya di rampas paksa oleh Bian yang sudah berdiri di samping nya.


"Oh jadi kamu habis pergi dengan Kekasih mu?."


Selsa berdiri ingin merebut ponsel nya, namun lagi-lagi Bian menghalangi nya.


"Apa yang kamu lakukan Selsa?"


"Bukan urusan mu. Kembalikan ponsel ku."


"Tidak mau. Sebelum kamu mengatakan, darimana saja kamu hari ini."


Selsa menggeleng jengah. Ia mulai berkeringat karena selain AC yang ada di kamar Bian mati, pakaian yang di pakainya menggunakan bahan yang anti serap keringat. Dres berbahan sifon dengan panjang dibawah dengkul, namun dres tersebut tak berlengan. Jadi pundaknya bebas terbuka.


Selsa berniat tak memperdulikan Bian yang masih memegang alih ponsel nya. Berjalan menuju Walk in closet namun Bian kembali menghadang nya.


"Pantas saja wajah mu bahagia, ternyata kau menemui kekasih mu."


Huft! Selsa lagi-lagi menatap Bian jengah. Pertanyaan dan pernyataan yang sama diungkapkan Bian kembali. Buang-buang waktu saja.


"Benar, aku pergi Dinner bersama kekasihku. Salah?."


"Salah! Kamu tidak seharusnya pergi tanpa seijinku Selsa. Kau harusnya bilang padaku terlebih dahulu. Ditambah kau tidak mau mengenakan jasa Supir pribadi ku."


Selsa tertawa remeh di tempatnya, begitupun memandangan Bian dengan remeh. "Memangnya kamu siapa? Kenapa juga aku harus meminta ijin kepada mu? Ini privacy ku jadi jangan pernah mencampurinya."


Tangan Bian terkepal, bahkan ia masih menggenggam ponsel milik Selsa. Matanya menatap tajam Selsa yang ada di samping nya.


"Kali ini aku maafkan mu karena pergi tanpa sepengetahuan ku. Jika lain kali aku melihat nya bahkan mengetahui nya dari orang lain, aku tidak segan-segan untuk menghabisi laki-laki itu di depan mata kepalamu sendiri."


Selsa yang membelalak sekarang, merasa tak terima dengan ucapan Bintang. Kenapa laki-laki ini berubah menjadi pshyco yang ingin menghabisi orang lain.


"Dasar sialan. Kau tidak seharusnya ikut campur urusan pribadiku Bian. Pergi dan cari wanita jalang yang bisa kau tiduri, habiskan malam ini dengan wanita itu supaya pikiran mu jernih."


Bian mencekal tangan Selsa ketika perempuan itu hendak melanjutkan langkah nya. Menundukkan wajah nya ke pundak Selsa, mencium pundak itu sebentar. Ia merasakan tubuh tegang Selsa, mungkin karena kaget, ia tersenyum melihat wajah cengo perempuan dihadapan nya.


"Aku hanya akan menidurimu, bukan wanita jalang manapun! Paham dengan ucapanku sayang?."

__ADS_1


Bian pergi dari hadapannya dengan senyum kemenangan. Bahkan Selsa mengumpat dalam hati melihat binar kemenangan Bian, ini yang dikatakan Mina bahwa Bian akan menjaga nya? Bullshit, Hanya omong kosong yang keluar dari mulut Bian. Tapi tunggu-- entah kenapa sejak tadi Jantung Selsa tak berhenti untuk berdegup kencang. Apakah pengaruh kecupan Bian yang mendarat di pundak nya? Ah Selsa tak perduli, ia akan tetap membenci Bian.


__ADS_2