
Lelaki dengan banyak lebam di wajahnya, menatap lekat perempuan yang tengah terbaring di Brankar. Sentilan di hatinya terasa menyakitkan, hatinya sembiluan, tangannya menggenggam pelan tangan kecil yang terpasang infus itu.
Matanya menangkap sesuatu yang mmebuatnya menggernyit, luka samar yang ada di area pergelangan tangan, tangannya tergugah untuk meneliti dan mengusap perlahan. Jantungnya berdebar untuk kesekian kalinya, mungkinkah Nadia melakukan ini semua sejak dulu?
Begitu mata yang awalnya terpejam itu terbuka perlahan, senyum kecil diperlihatkannya. Tangan yang semula mengusap dialihkan dengan genggaman erat, sangat erat, seolah meminta kekuatan dan saling menguatkan.
"Nadia, bagaimana, sudah mendingan?"
Binar dimata Nadia terlihat jelas, "Re kamu disini? Ini kenapa wajah kamu lebam-lebam seperti ini? Terus kenapa mata kamu merah seperti?" Ujarnya menghujani Renald banyak pertanyaan.
Renald tersenyum kecil, mencium tangan Nadia berkali-kali dengan bisikan kata 'maaf'. Sepertinya memang rasa bersalah semakin besar, namun pertanggung jawaban yang diinginkan Fabian dan Selsa sepertinya belum bisa Renald kabulkan.
"Aku tidak apa-apa, bagaimana bayi kita?" Tanyanya lembut dengan mata menatap perut yang masih datar.
"Baik-baik saja. Re, nikahi aku secepatnya!" Pinta Nadia membuat Renald tercengang.
Pegangan tangan terlepas ketika Renald mengusak rambutnya kasar. Merasa sensitif ketika mendengar kata menikah karena yang diharapkannya bukan seperti ini.
"Nad kamu pasti tahu jawabanku seperti apa. Aku belum bisa untuk saat ini, jadi-"
"Jadi kamu tidak akan menikahiku, begitu Re?" Selanya cepat dan datar.
"Bukan begitu Nadia, coba tunggu satu atau dua tahun lagi. Aku baru bisa menikahimu."
Nadia membelalak tak percaya, menatap penuh Renald dengan ketajaman. "Kamu gila? Kamu membiarkan anak ini lahir tanpa ayah? Kamu membiarkan anak ini menanggung malu karena cemooh-an banyak orang? Nikahi aku secepatnya Re!" Pekiknya tak terima.
"Aku tetap tidak bisa. Aku akan tetap menjalankan kewajibanku untuk membiayai semua kebutuhannya, tapi untuk menikah aku belum bisa."
"Aku tidak butuh uangmu, uangku rasanya lebih dari cukup untuk membiayai kebutuhannya, yang aku inginkan hanya pertanggung jawabanmu Re, dimana janjimu yang katanya akan menikahiku?"
Berdiri dari tempatnya Renald mencondongkan tubuhnya ke Nadia dengan mengusap pelan pucuk kepala perempuan itu,"Aku pasti akan menikahimu Nadia, pasti, tapi untuk satu atau dua tahun kedepan. Aku tidak ingin Ayah mencabut semua fasilitas perusahaan yang diberikan padaku," bisiknya mencoba menjelaskan.
Kepala Nadia ototmatis dijauhkan. Menghindari sentuhan Renald yang membuatnya bertambah kesakitan untuk kesekian kalinya.
"Berarti kamu lelaki brengsek karena lari dari tanggung jawabmu Renald. Lebih baik aku menggugurkannya saja dari pada harus menerima umpatan dan cemooh-an mereka nantinya." Desisnya kasar. Renald masih tidak mau mengerti.
"Aku tidak akan membiarkan kamu menggugurkannya, bayi ini tidak salah." Tolak Renald keras.
Tatapan tajam sepenuhnya dilayangkan, "Terus apa yang harus aku lakukan disaat kamu tidak mau bertanggung jawab? Kamu ingin membuatku gila karena mendengar umpatan mereka? Asal kamu tahu Re, Dokter mendiagnosis aku mempunyai penyakit mental, kamu ingin aku gila, hah?" Teriak Nadia dengan air mata yang sudah menenang di pelupuk mata.
"M-maksud kamu punya penyakit mental?"
"Distimia, aku mempunyai riwayat penyakit itu."
Renald otomatis menjauh dengan tatapan kosong, "Nad apa yang harus aku jelaskan dengan Ayah kalau kamu mempunyai penyakit seperti ini? Keluargaku pasti tidak akan terima mempunyai menantu dengan riwayat penyakit seperti itu." Kayanya setengah tidak percaya.
__ADS_1
Orang tuanya pasti akan keberatan dengan ini. Sebelum mengetahui keadaan Nadia seperti ini saja orang tuanya menolak keras, dengan alasan yang katanya tidak cocok, tidak seprofesi atau apapun lainnya. Renald terlalu takut untuk membantah orang tuanya, karena hidupnya hanya digunakan untuk berbakti pada Ayah juga Mama tercintanya.
"Secara tidak langsung kamu mengatakan kalau aku gila dan aku tidak bisa menjadi bagian dari keluarga kamu." Bisik Nadia frustasi.
"Aku tidak berkata seperti itu, kamu jangan sembarangan berbicara Nadia. Aku tidak ingin Fabian kembali menghajarku karena dia mengira kalau aku menyakitimu." Renald menatap penuh Nadia, mengusap air mata perempuan itu perlahan.
Nadia tetap saja tidak terima. Apa yang sudah diperbuat harus dipertanggung jawabkan juga.
"Re aku punya solusi yang tepat," jeda Nadia sebentar.
Renald menggernyit heran, "apa Nad?" Tanyanya penasaran.
"Nikahi aku secara diam-diam, dengan itu keluarga kamu tidak akan tahu dan fasilitas kamu tidak akan di cabut." Putusnya membuat Renald tidak mengerti, kepalanya pening.
"Sinting, itu tidak akan mungkin."
"Ya sudah kalau begitu, kamu pergi saja dari sini! Aku akan menggugurkan kandungan ini tanpa persetujuanmu."
"Jangan macam-macam Nadia."
Nadia meraung menangis kesakitan, emosinya yang sudah tidak bisa dibendung diluapkan dengan berteriak seperti orang gila.
"SUSTER!" Teriak Nadia dengan air mata yang membanjiri, "SUSTER!" Panggilnya lagi.
Renald menggeleng menahan Nadia yang meronta disana mencoba menenangkan, "Tenang Nadia, hei jangan terlalu banyak bergerak."
"Mbak coba tenang dulu, Mbak Nadia." Ujar salah satu suster yang mencoba menenangkan Nadia.
"Suster tolong suruh orang ini pergi, Suster tolong bawa orang ini pergi! Saya tidak mau melihatnya lagi." Teriak Nadia dengan kedua tangannya yang menutupi wajah.
Suster dengan tubuh agak berisi mencoba memberi penjelasan pada Renald, menatap Renald penuh permohonan.
"Mas tolong turuti permintaan pasien, saya akan pastikan semuanya baik-baik saja. Justru kalau dibiarkan seperti ini Mbak Nadia akan tambah kacau, tolong ya Mas!" Ujar Suster.
Dengan berat hati Renald meninggalkan ruang rawat Nadia, sebelum itu di sempatkannya mengecup pelan kepala Nadia dan entah membisikkan kata apa yang sejurus membuat Nadia tercengang.
...---...
"Sa-Sa tunggu dulu, kenapa pergi begitu saja?"
Fabian kembali mengejar Selsa yang pergi begitu saja. Setelah sampai di rumah sakit beberapa menit yang lalu, setelah Renald juga sampai disana, Selsa berlalu tanpa pamit; begitu saja.
"Ada apa lagi?" Tanyanya ringan.
"Kenapa langsung pergi? Kenapa tidak istirahat disana saja?" Tatapan Fabian heran, sedangkan Selsa masih menunjukkan raut santainya.
__ADS_1
"Tugasku sudah selesai Fabian, sesuai permintaanmu, aku hanya membantumu membujuk Renald menemui Nadia, sudah itu saja."
"Tapi kamu belum mendapatkan imbalan dariku Sa, katakan kamu menginginkan apa!"
Menyipitkan mata sebentar lantas menggerling setuju, "Oh imbalan?" Katanya menjeda, "Em- aku hanya ingin-"Imbuhnya ceria.
"Ingin apa Sa?" Sela Fabian cepatembuat perempuan itu mendengus.
Ditariknya nafas lantas dihembuskan santai, senyumnya tertarik lebar seolah tanpa beban.
"Menjauh dari kehidupanku, Jangan pernah menemuiku bagaimanapun caranya, dan juga hentikan semua bodyguardmu untuk memata-mataiku! Mulai sekarang kita benar-benar berpisah dalam artian yang sesungguhnya karena aku sudah tidak mau lagi berhubungan sedikitpun denganmu, paham?" Pintanya membuat Fabian cengo ditempat.
"T-ttunggu, maksud kamu apa?" Tanya Fabian tergagap.
Jantungnya seolah berhenti berdetak dan telinganya kembali pekak. Benarkah Selsa memintanya berhenti? Benarkah Selsa memintanya menjauh dan mengakhiri semuanya tanpa ada rasa bahagia? Sial, kenapa retakan terdnegar dari hati Fabian?
"Ya aku tidak perlu lagi menjelaskan secara rinci karena aku kira kamu sudah paham, harapanku semoga kamu menghargai keputusanku Fabian." Intonasinya tak sesantai tadi, Selsa berganti wajah serius dan menatap lurus satu objek.
Fabian menampilkan wajah tololnya, "Tapi kita bisa berteman Selsa, tidak harus menjadi sepasang kekasih." Kilahnya setengah tergagap.
"Aku sedang tidak mau berteman dengan siapapun, tolong hormati keputusanku! Lanjutkan hidupmu tanpaku, entah dengan Nadia atau siapapun perempuannya, aku juga akan melanjutkan hidupku tanpamu." Tegas Selsa tanpa bisa dibantah.
Hati perempuan itu seolah sudah tertutup rapat-rapat untuk seorang Fabian. Perempuan itu seolah sudah anti dengan lelaki yang bernama Fabian, karena beberapa ujarannya tadi terdengar jelas.
"Dengan lelaki lain?"
Mengangkat alisnya mantap lantas mengangguk tanpa ragu, "Tentu saja, kenapa tidak? Duniaku tidak semuanya tentang kamu Fabian," tandasnya membuat hati Fabian ngilu.
"Tapi kamu masih mencintaiku kan Sa?"
Percaya diri sekali kamu Fab.
"Iya, tapi itu dulu. Sekarang jangan harap aku mencintaimu, jangan kira aku berhenti dititik ini dan tidak bisa bergerak kemana-mana, nyatanya aku bisa melanjutkan semuanya tanpa hadirnya dirimu." Serunya enteng tanpa beban. Perempuan itu sukses membuat Fabian mati kutu dan kelabakan.
Genggaman erat ditangannya terasa jelas, karena Fabian yang begitu memohon, "Aku mohon jangan seperti ini, kenapa kamu berubah Sa? Kenapa kamu seperti ini, kamu baru saja memelukku tapi-"
"Memelukmu bukan berarti aku mencintaimu! Aku hanya kasihan dengan keadaanmu yang begitu kacau ketika mengetahui Nadia hamil." Serga Selsa cepat.
Perasaannya kesal sendiri mendengar Fabian yang terus memohon. Langkahnya juga selalu dihentikan, padahal sudah beberapa menit yang lalu niatnya meninggalkan rumah sakit dan kembali menemui Mina.
"J-jadi?"
Selsa melepaskan pelan genggaman tangan Fabian, sedikit tak enak untuk mengatakam yang sejujurnya, perempuan itu sempat meringis dan tertawa miris.
"Ya semuanya aku murni membantumu tanpa rasa sedikitpun."
__ADS_1
Pungkasnya, lalu menghilang.