
Jakarta, setelah enam bulan berlalu.
Seolah memang memiliki sihir untuk menghentikan semua perasaan yang mengganjal, juga sugesti yang selalu diutarakan rekannya selalu di laksanakan. Nyatanya tepat dan benar adanya, perlahan sosok yang selalu ada dipikirannya terkikis perlahan. Tapi curangnya, ketika ada yang mengingatkan maka nama itu sukar sekali hilang dari sarangnya.
Kehidupannya kembali berjalan normal, kembali seperti awal dan terlepas dari semua gangguan. Setelah perempuan yang dianggapnya teman itu pergi, rasa gelisah digantikan rasa lega. Bukannya jahat, tapi memang benar kebahagiannya seperti itu.
"SELSA TOLONG!"
Selsa menutup buku hitam yang sedari dibuatnya untuk menulis, meninggalkan kamarnya dan berlari menuju kamar Mina. Suaranya terdengar melengking dan setengah kesakitan. Dan begitu terkejut, Selsa menemukan Mina yang sudah terkapar dengan dara yang mengucur di seluruh kaki perempuan itu.
Panik mendera Selsa, menghampiri Mina berniat menyadarkan dan bertanya kenapa, tapi Mina justru memejamkan mata dan sudah tidak bersuara.
Selsa bingung, mencari cara bagaimana menyelamatkan Mina dengan pikiran kacau bukanlah hal yang tepat. Matanya menelisik mencari dimana ponsel Mina berada namun tidak ditemukan, langkahnya sudah melebar menggeledah seisi kamar Mina juga hasilnya sama. Begitu ingat, disaku dress se lutut yang dikenakan ada ponselnya, segera dia menghubungi entah siapa yang ada di ponselnya. Dirinya terlalu dikuasai gugup juga panik, selesai meminta bantuan Selsa kembali menghampiri Mina.
"Mina bangun Mina, jangan tinggalkan aku." Bisik Selsa menangis.
"Mina tolong bertahan, aku suda meminta bantuan orang lain untuk membawamu ke rumah sakit. Tolong bertahan!" Racaunya sedikit tegas, tentu air matanya masih mengalir deras.
Mina masih memejam dan tak bersuara, tapi darah segar itu terus mengalir di kaki Mina. Selsa sedikit tercekat, terisak, dirinya terlalu takut jika terjadi sesuatu dengan Mina.
Bibirnya memaki orang yang dimintai tolong, entah siapa, karena sedari tadi tak kunjung datang. Sedangkan tangannya digunakan untuk menepuk pipi Mina agar perempuan itu sadar dan setidaknya berbicara kalau dia baik-baik saja.
"Mina tolong bertahan, maafkan aku tidak menjagamu. Mina jangan tinggalkan aku,"
Sampai dikejutkan pintu yang dibuka keras, menampilkan sosok seorang lelaki yang sepertinya dihubungi Selsa tadi.
"T-tolong, bawa mina ke rumah sakit. Cepat! Tolong!" Pinta Selsa tertatih.
Lelaki itu mengangguk membawa Mina dalam dekapannya, dengan sedikit berlari menuju mobil, Mina seketika dilarikan ke rumah sakit terdekat.
"Terimakasih,"
...---...
"Aku tidak tahu harus meminta tolong pada siapa, tapi Vano kau adalah satu-satunya orang yang ku harapkan, tolong pertemukan aku dan Selsa."
"Untuk apa? Menyakitinya lagi?"
Vano harus mengumpat beberapa kali karena langkahnya dihadang beberapa kali oleh lelaki yang dianggapnya sudah gila. Fabian, lelaki itu tidak tahu malu karena bersujud didepan Vano hanya ingin dipertemukan dengan Selsa.
"Van aku mohon, tolong pertemukan aku dengan Selsa. Aku menyesal dan aku mengaku, disini aku yang salah." Pintanya kalut.
Vano berdecih tak suka, memandang Fabian dari atas sampai bawah, batinnya berujar kalau penampilan lelaki didepannya berubah drastis. Yang biasanya mengenakan jas kerja dengan rapih, bergantikan celana jeans hitam, kaos hitam dan jaket bomber putih.
"Memang kamu yang salah, kalau bukan siapa lagi? Selsa? Tolong mengaca di kaca yang paling besar, apa masih pantas seorang bajingan kelas kakap sepertimu mendapatkan Selsa, lagi?" Tanya Vano menggebu-gebu.
Fabian tidak merespon ucapan apapun, hanya mendengarkan dengan seksama makian dan umpatan tidak terima Vano. Dari awal memang ini salahnya, tapi apa boleh buat, nasi sudah menjadi bubur.
"Tolong mengaca di kaca yang paling besar juga, apa urat malumu sudah putus karena bersujud didepanku dan mengemis untuk di pertemukan? Huft, coba dimana Fabian yang selalu menjadi penguasa dan dapat melakukan apapun demi mendapatkan apa yang dia mau?" Tukas Vano setengah mengejek.
Mata lelaki itu terus menatap tajam Fabian yang menunduk malu, tapi memang pantas dipermalukan seperti ini.
"Dimana Fabian yang selalu mengarahkan semua bodyguardnya untuk mengawasi Selsa, mencoba menculik Selsa dan memasang pelacak di mobil yang di gunakan Selsa? Dimana? Kenapa menjadi lemah seperti ini, baru merasakan kalau Selsa itu lebih berarti di bandingkan sampah-sampah yang kau rawat setiap hari itu?" Hardik Vano semakin kesal dan emsoi menggebu, mengingat Selsa yang selama ini selalu menerima paksaan dan ketidak adilan.
Vano kembali berdecih, "Jangan diam saja, sejauh ini aku tidak mempunyai teman sebajingan dirimu. Cukup aku selalu memaklumimu dulu karena melakukan hubungan semalam dengan beberapa perempuan yang berbeda." Bebernya semakin membuat Fabian terpojokkan.
__ADS_1
Fabian mengangkat pandangannya, "Kamu tahu, aku selemah ini karena Selsa. Aku sudah tidak punya apa-apa lagi Van, perusahaanku di ambil alih Cucu kakek, dari istrinya yang sekarang." Jelasnya pelan dan tidak bertenaga.
Hidupnya memang semakin hancur, ketika semua orang meninggalkannya, Perusahaan yang dirintis Fabian selama ini diambil alih oleh orang lain.
"Dan kamu mencari Selsa untuk meminta bantuan agar perusahaanmu kembali? Aku tahu Selsa sedang tenar-tenarnya sekarang, tapi itu bukan berarti kamu bisa memanfaatkan ketenaran adikku. Ya aku menganggap Selsa sebagai adikku sendiri." Vano berhasil menebak, mengitarakan ketidak sukaannya pada cara lelaki itu.
"Sumpah demi apapun aku tidak pernah berfikiran seperti itu," kilah Fabian gusar.
Vano terus membantah, begitupun Fabian yang semakin memberikan alasan yang masuk akal. Namun ditengah perseteruannya, ponsel Vano yang ada disaku celana berbunyi.
Ting!
Vano merogoh sakunya, mengambil ponsel lantas membaca pesan yang baru saja diterima. Matanya membelalak terkejut, mengembalikan ponsel pada sakunya.
"Aku tidak ada waktu berdebat denganmu, tolong jauhi Selsa apapun alasannya. Permisi." Pungkasnya meninggalkan Fabian yang masih ingin meminta penjelasan.
"Van tunggu, ada apa?" Teriak Fabian ketika mengetahui Vano melintasi jalan raya yang begitu ramai.
...---...
Dalam hatinya bertanya cemas, Mina sedang bertaruh nyawa didalam sana. Kata Dokter, Selsa belum terlambat karena membawa Mina dalam keadaan seperti itu. Menurut penuturannya juga, kemungkinan Mina terpeleset lantai yang licin.
Didalam ruangan serba putih itu sudah ada Vano, menguatkan sang istri untuk melahirkan anak pertamanya. Memegangi tangan sang istri yang tengah berteriak menahan semua kesakitan, mata sayu yang Vano lihat membuatnya semakin tidka tega. Peluh perempuan itu membanjiri seluruh wajah Mina, dengan mata yang selalu beradu dengan Vano, Min mencoba sekuat tenaga untuk bisa bertemu dengan anaknya.
"Kamu kuat, coba lagi ya," bisik Vano menyemangati. Senyumnya dari tadi tak pernah luntur, sesekali mencium pelipis sang istri yang juga menangis.
"V-van-o, aku t-tidak kuat," katanya lirih dan ingin memejam.
Vano menggeleng kuat, "kamu kuat, Mina-ku kuat. Tarik nafas dan hembuskan, ayo sayang, kamu kuat! Jangan pernah menutup mata kamu, oke!" Katanya menenangkan.
Mina menggeleng pasrah, memang dirinya sudah tidak kuat lagi. Tenaganya habis tak tersisa dan sang Dokter masih berujar memberikan intruksi untuk Mina. Sampai detik-detik dimana Mina ingin menutup matanya, helaan nafas terdengar ketika suara tangis pertama kali oleh malaikat kecilnya.
"Dok istri saya tidak apa-apa kan?" Tanya Vano ketika menyadari Mina terpejam sedari tadi.
"Sepertinya tidak apa-apa, hanya kondisinya terlalu lemah dan itupun wajar untuk wanita yang selesai melahirkan." Jelas Dokter.
"Syukurlah, terima kasih Dok."
Dokter mengangguk, "Selamat ya Pak Vano, Putri anda begitu cantik sama seperti ibu nya." Ujar Dokter yang masih menggendong bayi milik Mina dan Vano.
"Iya Dok, terima kasih. Dia memang begitu cantik." Pandangnya haru pada sang bayi.
"Kalau begitu saya akan mengurusi semua persalinannya, anda boleh menunggu diluar."
"Baik Dok."
Vano meninggalkan ruang Mina, menemui Selsa yang berdir disana dengan khwatir. Vano juga melihat ada Samuel yang berdiri disamping Selsa, sama khawatirnya.
"Van bagaimana Mina? Baik-baik saja kan? Bayinya juga selamat kan?" Tanya Selsa beruntun.
"Sa kalau bertanya satu-satu," timpal Samuel.
"Mina baik-baik saja, kondisinya lemah karena melahirkan." Jawab Vano.
"Lantas bayinya?" Tanya Selsa lagi.
__ADS_1
"Bayinya selamat, perempuan."
"Syukurlah Tuhan, astaga aku akan mempunyai keponakan perempuan." Lirih Sela bahagia hingga menitikkan air mata.
"Selamat Van, senang mendengarnya." Ucap Samuel diangguki Vano.
"Terima kasih juga Sam, berkatmu dan Selsa istriku selamat sampai rumah sakit."
Samuel dan Selsa sama-sama tersenyum haru, batin keduanya cukup lega dan bahagia mengetahui keadaan Mina yang ternya baik-baik saja.
"Oh iya Sa, Fabian tadi menemuiku dan mengemis minta dipertemukan denganmu."
Deg!
Fabian, lelaki itu lagi.
"S-sumpah demi a-apa?" Tanya Selsa gagap.
"Dia bangkrut, sepertinya hidup Fabian benar-benar hancur."
Bangkrut? Kenapa bisa? Bukankah selama ini Fabian selalu hidup dengan kemewahan?
"V-van kamu tidak berbohong kan?" Selsa bertanya memastikan.
"Untungnya apa kalau aku berbohong? Fabian benar-benar menemuiku, dia sampai bersujud hanya untuk bertemu denganmu tapi aku pura-pura tidak mendengarkan dan tidak memperdulikannya." Jelas Vano semakin membuat Selsa gelisah.
Hatinya kembali resah mengingat satu nama itu.
"O-oh baiklah, kalau begitu aku pergi dulu."
Selsa berlalu, namun dicegah Vano. Memberi peringatan agar Selsa tidak kembali lagi pada Fabian yang notabennya Bajingan ulung, namun perempuan itu seolah tidak memperdulikan ocehan Vano.
"Kalau kamu kembali dengan Fabian, berarti kamu perempuan bodoh yang pernah aku kenal." Tutur Vano berhasil memukul mundur Selsa dimana Fabian menyakitinya.
"Van, kembali bersama mantan bukan berarti bodoh. Itu sama sekali tidak ada larangan, kalau masih cinta apa salahnya?" Kata Samuel membalas ucapan Vano, bukan Selsa.
Mungkin benar, beda orang beda prinsip, dan Prinsip Samuel jauh atau memang berbeda dari prinsip Vano.
Vano mengusap wajahnya gelisah, "Memang tidak ada larangan. Sam dia memang bodoh, sudah tahu sedalam itu di sakiti Fabian, masih saja dikejar dan ingin mendapatkannya. Masih kurang yang dulu?" Tanya Vano kesal.
"Menurutku tidak masalah Van, Selsa mencintai Fabian, begitupun Fabian yang juga mencintai Selsa. Setelah kejadian rumit ini mungkin keduanya bisa mengambil pelajarannya," Samuel lagi-lagi memberikan pendapat yang berbeda.
Selsa tercenung sebentar, mendengarkan perbedaan prinsip kedua lelaki yang ada didekatnya itu.
"Mengambil pelajarannya? Huft memang bodoh sekali, kelewat bodoh, kalau sampai kamu kembali Sa. Mau sampai kapan menjadi seperti ini karena Fabian? Masih banyak lelaki di luar sana yang menanti kamu, jangan-"
"Aku tahu. Aku tahu banyak lelaki diluar sana menantiku, tapi kalau hatiku tidak untuk mereka bagaimana Van? Semuanya tidak bisa dipaksakan begitu saja, aku juga sudah belajar melupakan masa lalu tapi tetap saja sulit," Selsa menyela ucapan Vano, menatap memelas dan meminta pengertian.
Hembusan nafas lelah Vano terdengar, mengambil dua langkah mundur, matanya yang sedikit kering dikerjapkan beberapa kali.
"Setelah ini aku dan Mina akan tinggal di London, ikutlah bersama kami, dengan itu kamu akan melupakan Fabian." Tawarnya pelan.
"A-apa? B-bagaimana bisa?" Kejut Selsa.
"Kalau kamu mengikuti kata-kataku hidupmu akan baik-baik saja. Tapi kalau kamu masih bersikukuh ingin mengejar dan mendapatkan Fabian ya terserah, kejar saja dan kalau ada masalah jangan pernah berlari kepadaku juga Mina." Tandasnya sadis.
__ADS_1
Kejam, biarlah, itu memang cara Vano agar Selsa bisa melepaskan semuanya. Tidak terus hidup dalam bayangan bersama Fabian yang semu, Vano ikut merasakan apa yang dirasakan sahabat istrinya itu.
Kenapa harus serumit itu kalau akhirnya seperti ini?