
"Untuk apa menemuiku?"
"Saya akan menjelaskan sesuatu, bisa kita duduk sebentar?"
Samuel mengalah untuk menemui Fabian, ini demi kebahagiaan Selsa, lelaki itu siap meminta maaf walau tidak tahu salahnya dimana. Menempuh jarak beberapa kilo dan memakan waktu hampir satu jam, Samuel mendapatkan alamat baru Fabian. Rumah yang tak begitu besar dan mungkin hanya muat untuk beberapa orang saja.
Sekarang dirinya duduk di kursi kayu yang sudah usang, dengan dua gelas air putih dihadapannya, Samuel menatap kondisi Fabian dengan jeli. Sangat memperihatinkan dan beda dari yang ditemui terakhir kali.
"Sebelumnya saya menemuimu ingin meminta maaf, maafkan saya atas kejadian di Restoran waktu itu." Sedikit malas sebenarnya Samuel mengatakan itu.
"Langsung menuju inti saja, untuk apa menemuiku dan apa maksudmu." Fabian berujar ketus.
Samuel sangat tahu jika kehadirannya sama sekali tidak diinginkan oleh Fabian, mengingat lelaki itu setengah mati membencinya karena tahu jika Samuel adalah calon suami Selsa, "Saya tahu kamu masih mencintai Selsa, bahkan saya tahu kamu begitu depresi ditinggalkan oleh Selsa. Ini bukan maksud saya ikut campur atau apa, menurut cerita dari Selsa yang saya dengar, sikap kamu yang membuat Selsa menjauh, benar?"
"Itu bukan urusanmu." Jawaban yang sama sekali tidak diinginkan Samuel.
"Kalau masih kukuh dengan egoismu, sampai kapanpun Selsa tidak akan kembali. Hubungan dibangun bukan hanya soal mencintai dan dicintai, tapi saling percaya dan mempercayai, terbuka satu sama lain dan saling melengkapi. Bukan maksud menggurui, saya pun juga masih awam, tolong ubah semua perilaku kamu yang membuat Selsa tidak nyaman." Sebisa mungkin Samuel mengatakan pelan dan tidak membuat pihak Fabian tersinggung.
"Tidak nyaman? Bagian mana yang tidak nyaman? Aku sudah memberikan semuanya untuk perempuan itu." Fabian menatap Samuel penuh dengan gurat kemarahan juga tak suka.
Samuel meringis mengusap keningnya yang sama sekali tak berkeringat, "Mungkin benar yang dikatakan Selsa kalau kamu ini Tempramental, sering berubah-ubah tanpa sadar, kemarin mengemis pada Vano untuk dipertemukan dengan Selsa dan sekarang menyebut namanya saja enggan. Kamu tidak pernah memberikan semuanya Fabian,"
"Kalau menemuiku hanya untuk memberiku ceramahan tidak penting, lebih baik pergi saja! Tahu pintu keluar dimana kan?" usirnya tanpa mau mendengarkan lagi.
"Turunkan gengsimu hari ini saja, kamu tidak ingin bertanya pada saya Selsa ada dimana? Atau kamu mengemis pada saya untuk mempertemukan kamu dengan Selsa? Saya akan menjawabnya dengan mudah asal dengan satu hal."
Fabian berdecih tak suka, enggan menatap Samuel yang menurutnya merasa jagoan dan merasa paling benar. Apalagi pengakuan Selsa yang katanya lelaki dihadapannya ini salon suaminya Selsa, rasa marah dan emosi seketika membumbung tinggi.
"Jangan pernah memancing emosiku, pergi!" usir Fabian mengulangi.
"Kamu akan menyesal kalau tidak mendengarkanku, yakin menyuruhku pergi?"
"Pergi sekarang juga!"
Samuel berdiri merapikan jas kerja yang sedikit tertekuk, melakukan body language lainnya supaya sedikit lebih lama disini, supaya Fabian mencegahnya dan menanyakan dimana Selsa berada. Samuel ingin Fabian menurunkan ego yang begitu besar dan mendengarkan hati kecilnya, kalau lelaki itu butuh Selsa hanya itu.
"Baiklah," putus Samuel berbalik, berjalan perlahan meninggalkan kediaman Fabian.
Justru bukan perasaan nyaman dan lega, Fabian semakin kepikiran dengan omongan Samuel. Berkali-kali menggunakan otaknya untuk berpikir sehat dan tidak gegabah, tapi tetap saja tidak bisa, Selsa duanianya dan itu tidak akan berubah sampai kapanpun.
Mengedarkan pandangan kepada Samuel yang semakin jauh meninggalkan pekarangan rumah kecilnya, Fabian beranjak dan berlari dari sana. Menghampiri Samuel yang sebentar lagi akan mengemudikan mobilnya, "Dimana?"
Senyum kemenangan Samuel tampakkan, sebelum berbalik, ucapan syukur berkali-kali Samuel tak terdengar jelas.
"Ah ya penasaran juga," candanya lucu, "katakan yang tulus dan sopan Fab!" titahnya berbalik menatap Fabian yang merengut sebal.
Fabian menggeram tertahan ditempatnya, mengubah wajah yang tertekuk menjadi senyum paksa, "Dimana Selsa?" tanyanya penasara.
"Aku akan memberitahumu, asalkan kamu berjanji satu hal padaku."
Fabian kembali berdecak sebal, "Apa?" sedari tadi Samuel terus mengulur waktu dan tak mengatakan apapun tentang Selsa.
"Jaga dan jangan pernah kecewakan Selsa lagi, apapun alasannya."
__ADS_1
Sialan. "Ya."
"Bandara, sekarang."
"A-apa?" kejutnya membelalak tak percaya.
Samuel memperhatikan jam dipergelangan tangannya dan beralih pada Fabian, "Jangan banyak tanya, pesawat take off lima belas menit lagi."
"K-kalau begitu aku akan ke bandara sekarang."
"Tunggu," cegahnya cepat, "Mau ke bandara menggunakan apa? kamu tidak akan diperbolehkan masuk menemui Selsa kalau tidak mempunyai tiket."
Teriakan tertahan ketika Fabian menyadarinya, hembusan nafasnya terdengar frustasi namun kembali lega karena Samuel menyodorkan sebuah berkas yang sudah lengkap didepannya. Senyum penuh ketulusan dan terima kasih tidak bisa disembunyikan, Fabian berkali-kali mengucapkan terima kasih pada Samuel.
"Masuk ke mobil sekarang, aku akan mengantarkanmu ke bandara."
Selsa tunggu aku!
...---...
Hatinya tidak bisa berhenti untuk tidak resah, netranya kelimpungan entah mencari apa, bibirnya bergumam tidak jelas dengan tangan saling bertaut gugup. Berat hati harus meninggalkan Indonesia dan kembali ke London seperti beberapa tahun yang lalu, mungkin memang belum selesai dan masih ada yang tertinggal, bahkan dua orang dengan satu yang menggendong bayi itu sudah beberapa kali menanyakan keadaannya yang sedikit terlihat kacau dan lebih mengkhawatirkan sesuatu.
Ini sudah hampir waktu dimana dirinya akan terbang menuju London, sekitar sepuluh menit lagi, tapi masih saja rautnya yang super tidak enak tak bisa disembunyikan. Dalam hatinya pun bertanya-tanya sebenarnya ada apa dengan dirinya sendiri, kenapa selalu berharap pada seseorang yang tidak tahu dan tidak akan pernah datang menemuinya.
"Kalau masih tidak yakin, kamu bisa membatalkan ini dan tinggal di rumah ku."
Selsa tergagap mendegar pernyataan Mina, kepalanya menggeleng disertai senyuman yang penuh terpaksa, "Tidak, aku akan tetap bersama kalian ke London." Jawabnya pasrah.
"Sebenarnya ada apa dengan dirimu? Kenapa segelisah ini meninggalkan Indonesia?" tanya Vano.
Mina meminta Vano untuk menggendong Alnira sebentar, perempuan itu duduk disebelah Selsa yang masih menangis. Mengusap pundak Selsa beberapa kali, "Stst!! Sudah Sa jangan menangis!" bisiknya pelan.
Namun Selsa tak menggubris, masih sesengukan dengan dua tangan yang menutup wajahnya rapat-rapat.
"Sa kalau memang berat meninggalkan Fabian, tidak apa-apa, aku akan pergi bersama Vano dan Alnira saja. Sungguh, aku semakin sedih melihatmu seperti ini."
Tangisannya begitu hebat, tak lepas dari pandangan orang-orang yang ada disekitarnya, Selsa tidak perduli. Bahkan bibirnya saja kesulitan mengatakan sesuatu, dadanya begitu sesak dan tidak tahu lagi harus bagaimana lagi. Rasanya Selsa ingin segera mungkin mengakhiri semuanya yang bersangkutan dengan Fabian, tapi bagaimana lagi, hatinya tidak bisa bohong dan masih menginginkan lelaki brengsek itu.
"Mi-Mina," lirih Selsa ketika tangannya berhasil disingkirkan dari wajahnya.
"Maaf kalau keputusanku dan Vano membuatmu semakin sedih dan terpuruk, kami hanya ingin melihatmu bahagia Sa."
"Mina aku mencintai Fabian," isaknya memeluk Mina.
Mina mengusap punggung Selsa pelan, menenangkan Selsa agar perempuan itu berhenti menangis. Namun seolah hasilnya sia-sia, Selsa masih saja sesengukan.
"T-tapi kalau aku tidak pergi, hidupku akan terus seperti ini." keluh Selsa ditengah tangisnya.
"Waktumu hanya beberapa menit, pergi bersamaku atau kembali pada Fabian."
Selsa melepaskan pelukannya, mengusap air mata yang sedari tadi mengalir tanpa diminta, menghirup nafas dalam-dalam dan menghembuskannya pelan. Diulanginya beberapa kali hingga sesaknya hilang, senyuman yang sangat dipaksakan itu terbit, "Maaf tadi aku kelepasan, aku tetap akan ikut denganmu ke London." Pungkasnya pelan.
"Jangan dipaksa, aku tidak suka jika nanti disana masih melihatmu bersedih." Sambar Vano membuat Selsa tak enak.
__ADS_1
Selsa berdiri dari tempatnya, "Mari, pesawat akan berangkat sebentar lagi." Ajaknya diiringi senyuman yang Vano tahu itu sanat dipaksakan.
Vano dan Mina hanya mengikuti, namun sebelum itu dia membiarkan Selsa berhenti didepan sana sejenak. Menolehkan kepalanya melihat apa yang ada dibelakang perempuan itu, lagi-lagi si pemilik nama Selsa tidak bisa menghentikan laju air matanya. Tangannya terkepal kuat, namun sebentar, Selsa menghapusnya cepat.
Kakinya melangkah pelan, hingga dua langkah sempurna ia berjalan, tangannya dicekal kuat dari belakang. Tubuhnya merespon dengan jingkitan terkejut, sampai ia menunduk dan melihat sebuah tangan memeluknya dari belakang, merapatkan tubuh dan menyandarkan kepala di pundak Selsa.
Yang dirasakan Selsa hanya pundaknya basah, karena Selsa tahu siapa manusia dibelakangnya itu. Tak mau membalas dengan memegang tangan lelaki yang ada dibelakangnya, Selsa terdiam karena saking terkejutnya, ditambah dengan air mata yang sialannya tak mau berhenti.
"Jangan pergi," lirihnya setelah memberikan dekapan itu tiba-tiba.
Selsa membalikkan tubuhnya, menatap penuh Fabian yang menunduk diepannya. Lelaki itu sangat terlihat kacau, lebih kurus dari terakhir yang ditemuinya, dan juga Selsa lihat kantung mata yang semakin menebal.
"Maaf, aku harus pergi Fab."
Fabian mengangkat pandangannya, menggeleng pasrah, tangannya menggenggam erat kedua tangan Selsa, "No! Don't go, please! Tetap bersamaku!" pintanya memohon.
Selsa tak mampu lagi menahan isakannya, dibekapnya kuat bibirnya sendiri, menangisi Fabian yang begitu menyesakkan dada.
"Kalau memang kita ditakdirkan untuk bersama, Tuhan selalu punya jalan terbaik kedepannya."
Fabian menghempaskan tangan Selsa kecewa, "Kenapa kamu egois? Kenapa kamu tega meninggalkan aku lagi Sa? Kenapa kamu membiarkan aku menderita lagi untuk kesekian kalinya, kenapa? Seharusnya kamu tidak usah datang dari dulu, seharusnya kamu tidak usah menemuiku dan kembali membuatku jatuh cinta kalau akhirnya kamu meninggalkan luka sedalam ini." teriak Fabian tepat didepan wajah Selsa.
Tidak, ini bukan maksud Selsa. Selsa menggeleng tidak mengerti, diraihnya pundak Fabian dan memeluk lelaki itu yang terlihat seperti orang kesetanan. Pelukannya sangat erat, seolah tidak mau dilepaskan, keduanya sama-sama menangis. Begitupun Fabian memabals pelukannya tak kalah erat.
"Aku mohon jangan seperti ini," lirih Selsa.
"Tolong beri aku kesempatan, satu kali saja, dan aku janji tidak akan mengecewakanmu." Pintanya menderita.
Selsa sama sekali tak menggubris ucapan Fabian, tetap memeluk lelaki itu erat dengan mengingat dimana mereka berdua msih baik-baik saja.
"Terima kasih, saat masa sekolah dulu dan kemarin, Fab aku sudah cukup bahagia. Terlepas dari pertemuan kita yang selalu bertengkar, jauh dalam lubuk hatiku aku masih menyimpan rasa untukmu."
"Kalau begitu tetap disini, jangan pernah meninggalkan aku." Jawab Fabian cepat.
"Tidak bisa, aku tetap akan pergi. Cukup sampai disini saja, aku tidak ingin membuat banyak pihak kecewa dan terluka." Tandas Selsa menimpali.
"Dengan sikap kamu seperti ini juga membuat aku kecewa dan terluka Sa."
Tawa miris Selsa perlihatkan, "Aku tidak pernah menyangka kalau kamu bisa menemuiku ditempat ini, untuk yang terakhir, tolong bahagia Fabian. Lupakan semuanya dan bukalah kehidupan baru untuk kedepannya." Pinta Selsa sepenuh hati.
"Jangan pernah menyuruhku Sa, jangan pernah! Aku tidak akan bisa! Tolong, aku memohon sangat amat memohom untuk kamu tetap tinggal disini bersamaku."
"Tetap tidur tepat waktu dan makan dengan terarutur. Asal kamu tahu, tubuhmu semakin terlihat kurus, kantung matamu semakin tebal dan wajahmu menunjukkan kelelahan. Jangan bekerja sekeras itu kalau aku tidak ada Fab,"
"Maka dari itu aku membutuhkan kamu Sa, aku membutuhkan kamu untuk memperingatiku dan menjagaku."
Selsa melepaskan pelukannya, tersenyum, walau tidak dipungkiri air mata itu masih berlomba untuk berjatuhan. Tangannya beralih mengusap pipi Fabian yang semakin tirus, "Jaga dirimu baik-baik, aku pergi dulu."
"Selsa," lirih Fabian ketika Selsa membalikkan tubuhnya dan berniat meninggalkannya.
Selsa berhenti.
Kembali menatap Fabian sebentar, kemudian mengambil langkah menuju Fabian, tepat dihadapan lelaki itu. Dengan kaki yang sedikit jinjit, Selsa menempelkan bibirnya tepat pada bibir Fabian, awalnya hanya sekejap. Sebelum Fabian kembali menahan rahangnya dan memberikan beberapa pagutan yang tidak akan pernah dilupakan. Fabian marah juga kecewa dan semua rasa ada secara bersamaan, melampiaskan dengan pagutannya yang semakin menuntut pada Selsa, Fabian tidak perduli jika reputasinya semakin buruk dimata orang lain. yang jelas kebahagiaannya adalah nomor satu.
__ADS_1
Sampai sebuah suara menginteruksi dan Selsa otomatis melepaskan pagutannya sepihak. Nafas keduanya masih terngah-engah, namun Fabian sempatkan mencium kening itu lama. Sebelum benar-benar pergi, Selsa juga menyempatkan untuk mencium pipi Fabian, menampilkan senyuman yang dibuat sangat tulus dan mengikhlaskan, Selsa ingin Fabian juga tak berlama-lama dalam kesedihan. Tangannya juga terangkat mengusap rambut Fabian beberapa kali dan setelah itu benar-benar pergi dari hadapan Fabian. Meninggalkan Fabian yang sangat amat terluka, kecewa dan juga setengah mati menyesal. Tubuh lelaki itu meluruh ketika Selsa benar-benar hilang dari pandangannya, menangisi Selsa yang tidak ada gunanya sama sekali karena Selsa tidak akan pernah kembali.
Ini pelajaran baru untuknya, ditinggalkan orang yang sangat amat di sayang bukanlah hal yang mudah. Terlalu menyepelakan, Fabian akan berusaha sebisa mungkin untuk kuat dan bertahan dengan tidak adanya Selsa disisinya. Walaupun hatinya masih tidak terima, Fabian akan selalu mengingat ucapan Selsa, jika Tuhan selalu mempunyai jalan terbaik untuk keduanya. Fabian yakin Selsa hanya untuknya, dan dari itu Fabian akan menunggu waktunya tepat, ia tidak perduli seberapa lama. Asal Selsa kembali, Fabian siap.