My (Ex) Boyfriend

My (Ex) Boyfriend
Dua puluh enam


__ADS_3

Pandangan banyak orang dalam suatu hubungan haruslah didasari kepercayaan, saling terbuka satu sama lain apapun yang terjadi. Tidak saling memunggungi atau berlagak pekak telinga, ya akan tetapi memang kodratnya sudah seperti itu. Seperti yang dilakukan Selsa saat ini, hati dibuatnya biasa saja dan berpura-pura semuanya normal- walaupun dalam hening malam selalu diterpa ketakutan yang mendalam- menyikapi Fabian setiap harinya tanpa tuntutan lebih. Mulai saat ini Selsa akan menikmati alur yang diberikan lelaki itu untuk hidupnya, bermain dan menyusun puzzle bersama Nadia tentunya.


"Kamu tidak merindukan Daddy dan Mommy?"


Setengah terheran tentunya dengan pertanyaan Fabian, Selsa menggernyit sebentar, jelas ini bukan Fabian yang selalu mencegahnya ketika bertemu Daddy dan Mommy. Apa ini bentuk usiran halus agar Selsa memberi ruang sela agar Fabian bisa terbebas- pasalnya semenjak kejadian bersama Nadia, sikap Selsa lebih protektif- melakukan apapun tanpa gelisah akan dalih yang Selsa keluarkan.


Gadis mungil itu mengeratkan pelukannya dengan kepala yang semakin bersandar didada bidang Fabian, kaitan tangannya semakin mengerat dan tak ingin terlepas. Sumpah demi apapun ini sudah terlalu nyaman, bahkan Fabian rasanya sudah mengusir jauh-jauh nama Sakti dari pikirannya, Fabian juga mampu mematahkan janji atau sumpah yang pernah ia lontarkan bahwa tidak akan sudi kembali bersama lelaki itu. Tuhan, dirinya harus bagaimana?


"Kamu akan meninggalkanku lagi?" Tanya lirih Selsa.


"Tidak sayangku. Tiga hari kedepan aku ada pertemuan di luar kota, jadi lebih baik kamu bersama Mommy dan Daddy dulu. Atau mau bersama Mina?"


Selsa menggeleng cepat. Demi apapun sekarang perasaannya kembali gelisah, takut jika Fabian membohonginya dan diam-diam bertemu dengan Nadia. Oh God, pikiran macam apa itu Selsa?


"Kamu tidak berbohong?"


Tangan besar itu mengusap lembut kepala Selsa, mengusak rambutnya pelan dan tangan lain memainkan pipi juga bulu mata yang kelewat cetar, lelaki itu tahu kekhawatiran besar tengah melanda pujaan hatinya. Tapi memang ini sudah tugasnya, bertemu dengan rekan perusahaan lain yang mengajaknya bekerjasama. Tidak bohong, Fabian pun tak ingin rasanya meninggalkan Selsa. "Tidak sayangku, percayalah aku juga berat meninggalkanmu. Tapi mau bagaimana lagi, ini sudah menjadi profesiku."


"Atau aku ikut saja bersamamu, janji tidak akan merepotkanmu Fab." Tawarnya yang seketika tidak disetujui Fabian.


"No, No, No! Aku tidak ingin kamu kelelahan sayang, lagipula hanya tiga hari." Bisiknya pelan.


Melepaskan tautan tangannya, Selsa sedikit menjauh dari Fabian. Memiringkan tubuh diatas ranjang, tepat menghadap Fabian, Selsa menatap manik mata itu lama sekali. Ah ini Selsa yang tidak bisa melihat kebohongan atau lelaki itu yang terlalu pandai mengelabuhinya?


"Aku tidak tahu ini perasaan apa, tapi Fab setiap kali kamu menyuruhku pergi rasanya sulit sekali. Aku tidak berbohong dan mencoba jujur pada diriku sendiri, aku benar-benar sudah jatuh padamu, dan semoga saja kamu tidak begitu mudah menghancurkan semuanya."


Fabian mempersempit jaraknya dengan tangan yang mendarat pelan disisi kepala Selsa, kembali memberi usapan lembut yang menenangkan, ia berbisik. "Ini hanya sugesti akan relasiku bersama Nadia. Sayangku dengarkan aku, sudah berkali-kali aku mengucapkan ini; yang kupilih tetap kamu."


"Rasanya sulit, mengingat dulu-"


"Kalau begitu malam ini kita ceritakan semuanya padaku. Kenapa kamu dulu meninggalkanku tanpa sepatah katapun, mati-matian menghindariku dan memendam kebencian yang rasanya tidak bisa dihilangkan. Katakan sayang, aku siap mendengarnya!"


*Keparat, jalangmu itu memang tidak ada apa-apanya dibandingkan diriku.


Sudahlah kamu memang tidak berhasil menidurinya, nyatanya kamu yang justru berakhir di ranjang bersamaku. Bagaimana rasaku, lebih enak dari kekasihmu yang lugu itukan*?


Sialan! Keparat! Selsa tercekat ketika refleksi masalalu kembali menghantuinya. Bajingan kelewat bajingan, kalau bisa Selsa ingin selamanya hilang ingatan dan melupakan semuanya termasuk Fabian. Selsa lelah jika terus-terusan hidup dalam kubangan masalalu yang tiada akhirnya, bersama kenangan pahit yang semakin membuat nurani Selsa dililit banyak tambang; sesak.


"Kamu yang dulu sebajingan itu membuatku hancur."


Jantungnya sudah terpompa tak normal, tangannya digerakkan gelisah dikepala Selsa. Tak lupa Fabian membasahi bibirnya ketika akan berujar, apa maksud perempuan itu?

__ADS_1


"M-maksud kamu?" Tanya Fabian ragu.


"Aku tidak akan mengatakan lebih Fabian, biar kamu sendiri yang mengingatnya."


"S-sayang jangan buat diriku semakin penasaran, ayo katakan semuanya." Paksa Fabian yang jelas tidak turuti Selsa.


Selsa tak mengindahkan, disingkirkannya tangan Fabian dan beralih menjadi duduk bersandar di kepala ranjang diikuti Fabian. "Kamu lapar? Ayo ku masakkan." Ujarnya mengalihkan pembicaraan.


Fabian menggeleng cepat, menarik Selsa agar kembali berada disisinya. Dengan leluasa dipandanginya wajah narural tanpa tatanan apapun; sungguh sempurna. "Jangan mengalihkan pembicaraan Selsa,"


"Aku lapar sekali, ayo kita masak. Bukankah kamu selalu menyukaiku ketika sedang berkutat dengan alat dapur?"


"Katakan Sa."


"Mau dimasakkan apa? Kebetulan di kulkas ada beberapa brokoli dan sayuran lainnya, atau mau kubuatkan nasi goreng saja?"


"Aku mohon!"


"Oh atau menu yang-"


"SELSA KATAKAN!"


"Ssh, maafkan aku sayang. Aku tidak bermaksud membentakmu."


Sebenarnya ada gelenyar aneh dihati Selsa ketika Fabian membentaknya tadi. Sengatan menyesakkan muncul begitu saja sampai permukaan hingga tak bisa mengontrol air mukanya sendiri, Selsa ini bukan kali pertama dia membentakmu. "Fab jangan membentakku lagi, aku takut." Lirihnya disela pelukan hangat itu.


"Iya sayang, sekali lagi maafkan aku."


Selsa tersenyum lirih kala Fabian mengecup puncak kepalanya beberapa kali, dengan tangan yang mengusap peunggungnya lembut, ia melepaskan pelukannya sepihak. "Ayo kita masak! Mau kumasakkan apa?"


"Apa saja, ayo kutemani. Aku suka sekali ketika melihat perempuanku sedang memasak."


-


-


-


Si anak Wardhana sudah melesat jauh ke kota orang untuk menyelesaikan tugasnya, sedangkan perempuannya yang mungil bak boneka sudah dikembalikan untuk sementara waktu dirumah orang tuanya. Tak menyaksikan keberangakatn Fabian, Selsa beralasan tak enak badan dan memutuskan beristirahat saja dikamar pribadinya; memberi jarak. Namun selang beberapa saat perempuan mungil itu sudah rapih dengan jeans berwarna putihnya juga dipadukan dengan kemeja kedodoran berwarna hitam; kemeja milik Fabian yang waktu itu sempat dipinjamnya, hari ini pribadi Kaniva itu sudah ada janji untuk mengunjungi rumah Mina. Sekedar melepas rindu atau bergosip ria seperti yang sering dilakukannya dulu, dan tak butuh waktu lama perempuan itu mendarat selamat dikediaman Vano : cukup mewah.


"Tumben diperbolehkan keluar apartemen, biasanya dikurung seperti peliharaannya saja."

__ADS_1


"Dia ada tugas diluar kota, memulangkan aku ke rumah Mommy dan Daddy, perginya tiga hari." Jawab Selsa singkat.


"Terus mau apa kamu kesini?"


"Hell Mina, apa kehadiranku mengganggu waktumu bersana Vano? Baiklah kupergi sekarang."


"Ey tidak-tidak, duduklah kembali."


Dengan kesal Selsa mendaratkan daksanya paksa disofa panjang. Seperti rumahnya sendiri, Selsa berbaring sembarangan tak sopan disana; apa perduli Selsa. "Bagaimana perutmu, sudah ada isinya?" Tanyanya.


"Otak udang, perutku memang ada isinya dari dulu."


"Maksudku apa kamu dan Vano sudah memproduksi momongan?" Decak Selsa kesal.


"Kebetulan aku dan dia menundanya."


Selsa tertawa jenaka, "menundanya atau kau yang takut jika suatu saat nanti Vano akan meninggalkanmu?"


"Sudahlah Selsa berhenti berpikir buruk tentang suamiku!"


"Haha santi-santai Mina, aku hanya bercanda. Omong-omong kemana Vano? Aku tidak melihatnya seja tadi."


"Ada rapat mendadak hari ini dan dia sudah pergi sejak pukul tujuh."


Sudah, hanya itu. Setelahnya keheningan mendera keduanya. Mina mengamati Selsa yang berbaring seenaknya, beberapa kali perempuan itu mengece ponselnya. Ah ya Mina melupakan sesuatu, bertanya tentang Sakti.


"Sakti, dimana dia sekarang?"


Selsa termenung dibuatnya. Meletakkan ponsel dimeja dan menatap Mina sebentar. "Entahlah, sudah lama dia tak memberiku kabar."


"Lau bagaimana perasaanmu kepadanya?"


"Ya tetap sama Mina. Cuma Fabian sedikit kebih unggul saja."


"Putuskan semuanya Selsa, bersama Fabian atau Sakti! Jangan sampai karma menemuimu karena serakah mempermainkan dua hati lelaki yang tulus mencintaimu." Saran Mina.


"Segera Mina. Tunggu saja waktunya."


Namun tak lama setelah keduanya kembali hening, ponsel Selsa yang berada di meja berdering nyaring. Menampilkan nama yang baru saja dibicarakan karena lama tidak memberi kabar.


Sakti.

__ADS_1


__ADS_2